Sa

1825 Kata
"Besok jadi kan Ra?" Hira yang sedang mengerjakan soal kimianya lantas mendongak dan menemukan Barata berada di depannya. Kemudian Gaby melirik penuh tanya ke arah Hira dan terlihat menahan sesuatu. Hira kemudian mengangguk dan disambut dengan senyuman Barata yang begitu menawan. Lalu Barata memilih pamit untuk pergi ke kantin.  "Lu udah baikan? kenapa nggak bilang aku sih?" cerocos Gaby langsung. Sedangkan Hira hanya bisa meringis. "Nah ketahuan kan? kamu ada hubungan apa dengan Bara?" "Apa sih Gab. Nggak ada apa-apa kok." Gaby lantas memutar bola matanya malas, "kamu jadi temenku berapa lama sih Ra? kamu bohong itu terlihat banget." "Iya iya. Aku sama Bara mau makan bareng nanti. Puas?" Gaby mendelik ke arah Hira karena merasa salah dengar. Apa kata Hira tadi? makan bareng? "Ngapain? Udah baikan atau gimana? atau jangan-jangan kalian," "Kita nggak ada hubungan apa-apa kok. Iya kita udah baikan. Nggak enak lama-lama nyimpen dendam Gab. Aku juga pengen hidup tenang tanpa bayang-bayang Bara yang begitulah. Lebih baik aku berdamai saja." ucap Hira bijaksana. Gaby mengangguk di tempatnya. "Benar juga. Syukurlah kamu udah bisa maafin Bara. Aku harap kalian baik-baik saja dan mungkin saja kalian jadian." Gaby terkekeh di akhir kalimatnya. Ia merasa lucu dengan kisah Hira dan Barata yang banyak dramanya itu. "Apaan sih Gab." "Aduh cie-cie, kamu juga suka Bara kan?" goda Gaby pada Hira yang nampak salah tingkah. "Au ah!" "Habis ini pasti ada yang jadian." Goda Gaby lagi. Sedangkan Hira sudah memerah mukanya karena kesal dan salting di goda terus oleh Gaby yang jahil. ***** Hari ini sekolah Hira pulang lebih awal yaitu sekitaran jam 12 siang karena ada rapat. Lantas hal itu membuat para siswa senang. Ayolah dulu ketika sekolah yang di tunggu adalah guru tak masuk, jam kosong dan pulang lebih awal. Ketiga hal itu bagai surga untuk anak-anak sekolah terutama anak SMA. Hira sudah di tunggu Barata di parkiran. Kemudian gadis itu menemui Barata di sana. Barata menyodorkan helmnya, "kita mau kemana sih Bar?" Barata tersenyum dan tak menjawab. "Udah ayo naik dulu." Kemudian Hira memilih naik sepeda motor Barata. Jika membayangkan sepeda motor Barata adalah sejenis motor sport itu salah. Kendaraan laki-laki itu hanyalah kendaraan matic dengan cc yang lebih tinggi. Padahal jika mungkin Barata seperti yang lainnya pergi ke sekolah menggunakan mobil atau motor sport pun bisa, tetapi remaja laki-laki itu tak seperti yang kebanyakan. Walaupun terlahir dari keluarga berada karena orang tuanya yang bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan minyak milik negara, Barata tak menyalahgunakan hal itu untuk sekedar menuruti gengsi. Hira pun tak memandang temannya dari segi materia. Gadis itu menganggap semua teman itu sama. Bahkan terkadang Hira lebih suka berteman dengan anak sederhana. Mereka lebih tulus dan tidak neko-neko dalam bersikap. Mereka lebih tampil adanya dan menerima dengan ikhlas apa yang telah di berikan kepada mereka. Sebelum ke tempat tujuan, Hira meminta Barata untuk mampir ke SPBU untuk mengganti pakaian. Hira tak suka berpergian dengan masih menggunakan seragam sekolah. Ia sudah membawa pakaian dari rumah sebab sudah tahu akan pulang lebih awal dan hendak pergi dengan Barata. Begitupun dengan Barata, laki-laki itu juga mengganti pakaiannya setelah sebelumnya di ingatkan oleh Hira. Hira mengatakan tak akan mau pergi jika tak berganti pakaian terlebih dahulu. Jadilah mereka sepakat berganti pakaian terlebih dahulu sebelum pergi. Setelah itu, Barata melajukan motornya kembali. Laki-laki itu menyusuri jalanan kota Semarang dengan kecepatan sedang. Motor Barata melaju ke arah Simpang Lima Semarang. Remaja laki-laki itu mengajak Hira makan siang ke salah satu kuliner di sekitaran Simpang Lima yang terkenal enaknya itu. Jika kebanyakan mengajak makan di restoran bergengsi, Barata justru mengajak Hira makan di kaki lima. Bukannya tak ada uang, tetapi jajanan di kaki lima lebih enak dan lebih nyaman begitu laki-laki itu beralasan. "Kita makan di sini nggak papa kan?" Hira mengangguk mengiyakan. Hira juga bukan tipe rewel ketika diajak makan. Hira manut saja asalkan enak dan harganya mudah dijangkau. Ia juga mikir-mikir untuk makan dengan harga hidangan yang bisa membuat kanker kantongnya. Lebih baik ia pergi ke kaki lima yang lebih murah dan enak pastinya. Akhirnya mereka memilih warung gongso yang sudah terkenal itu. Hira yang belum pernah mencoba pun menjadi penasaran. Selama ini Hira lebih banyak menghabiskan kulineran di sekitar rumahnya dan baru ini ia bisa menikmati kuliner khas di Kota Semarang. "Pernah makan di sini?" Hira menggeleng, "belum. Baru ini pertama kali." jujur Hira. Ia agak malu ketika tak pernah jajan di Simpang Lima padahal masih masuk sebagai warga Kota Semarang. "Syukurlah soalnya ini enak banget, kamu harus coba pokoke." Hira terkekeh mendengar nada antusias Barata. Ia seperti menemukan sosok Barata yang lain disini. "Bar, aku mau tau kenapa kamu ngajak aku makan disini?" tanya Hira di sela-sela menunggu makanan mereka siap. Barata yang awalnya sedang mengetikkan sesuatu lantas mendongak, "disini enak dan murah menurutku. Selain itu, makan di kaki lima lebih terasa sensasinya ketimbang di restoran. Eh, kamu nggak nyaman ya aku ajak kesini?" Barata tak sadar menanyakan Hira apakah gadis itu nyaman apa tidak, tetapi nampaknya Hira justru menikmati suasana yang ada. Hira menggeleng cepat, "bukan bukan, aku nyaman kok. Tapi bingung aja soalnya jarang ada yang mau juga makan di kaki lima begini. Paling mereka gengsi dan lebih memilih makan di restoran." "Tapi aku beda Hir, kalau kamu tanya makanan kaki lima yang enak di Semarang, aku tahu semuanya. Mungkin juga Kota Semarang bisa tahu makanan enak dengan harga yang murah. Hira mengerutkan dahinya, merasa kurang percaya, "beneran? kok aku nggak percaya." Barata lantas berdecak, "ngapain aku bohong ke kamu. Nggak ada untungnya Hira. Besok lagi aku ajak deh biar kamu percaya." Barat tak mau berdebat panjang dengan Hira. Hira tertawa kecil, "iya iya, aku percaya kok. Gitu aja mau ngambek, dasar baperan." Barata mendengus kecil, membuat Hira tambah tertawa. Tak lama kemudian pesanan mereka siap. Semarang yang nampaknya sedang cerah walaupun musim hujan pun menambah kesan mendukung untuk makan gongso hangat-hangat. Hira yang baru saja mencoba langsung ketagihan akan kelezatan gongso tersebut. Barata yang mengetahui jika Hira menikmati makanannya lantas tersenyum. Dengan melihat gadisnya yang cukup sederhana itulah yang membuat Barata jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan Hira. Gadis yang mampu membuatnya menjadi laki-laki bucin mungkin hingga kemarin bisa berkata manis ketika berada di Waduk Jatibarang. Padahal, Barata adalah orang yang sok jual mahal dihadapan cewek-cewek adik kelas. Setalah menikmati gongsonya, mereka langsung membayar. Hira yang hendak membayar lantas di tolak Barata, "biar aku Ra." Hira hendak menolak tapi kembali ditolak halus oleh Barata. Kemudian setelah makan, Hira meminta Barata untuk mampir ke masjid yang berada di dekat Simpang Lima. Mereka lantas menunaikan ibadah terlebih dahulu sebelum melanjutkan jalan-jalan mereka. "Mau kemana lagi?" tanya Barata setelah mereka selesai ibadah. "Terserah," jawaban itulah yang diberikan oleh Hira. Memang terkadang kata terserah bagi laki-laki itu membingungkan. Jadilah Barata berpikir keras untuk pergi kemana lagi. Lalu Barata meminta Hira untuk naik ke atas motor terlebih dahulu. Hira yang tak tahu menahu kemana mereka pergi pun memilih diam. Hira lalu naik ke atas sepeda motor. Motor Barata melaju ke arah jalan yang Hira ingat adalah jalan menuju salah satu wisata terkenal di Kota Semarang. Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan, "Klenteng Sam Poo Kong?" "Iya, aku bingung mau ajak kemana. Kalau aku ajak ke Ungaran, keburu sore, jadi aku ajak kesini saja." Hira tak berkomentar. Gadis itu hanya mengikuti Barata. Memang beberapa kali ia sudah kesini. Tetapi tak bosan juga. "Nggak papa kan aku ajak kesini? atau kamu keberatan?" Hira menggeleng, "Nggak kok. Sam Poo Kong tetap menawan sejak dulu." Gadis itu lalu tersenyum tipis. Hira menikmati suasana Klenteng Sam Poo Kong yang adem itu. Lalu mereka mengelilingi Sam Poo Kong dan sesekali berbincang mengenai banyak hal. Sampai pada akhirnya Barata mengajak duduk Hira di salah satu sudut yang ada bangku kosongnya. "Capek nggak?" Hira menggeleng. "Nggak terlalu. Enak disini." Barata mengangguk namun kemudian berdehem kecil,  "Ra, boleh aku ngomong sesuatu?" "Ngomong aja lah, kenapa harus izin?" jawab Hira santai yang justru membuat Barata gugup. "Emm begini, mungkin ini jauh dari kata romantis seperti yang kamu bayangkan. Tapi aku bersungguh-sungguh Ra. Mau nggak kamu jadi pacarku?" Sedetik kemudian Hira terdiam namun kemudian juga gadis itu tertawa. "Kamu lagi ngelucu ya Bar? nggak banget jokes mu itu." Barata lantas menggeleng keras, "nggak ra, aku serius." Namun Hira masih tertawa. "Nggak lucu Bar." Hira masih tertawa dengan ucapan yang dilontakan oleh Barata. "Aku emang lagi nggak ngelucu Ra. Aku serius. Aku suka sama kamu. Aku tertarik sama kamu. Mau nggak kamu jadi pacar aku?" Kemudian perlahan tawa Hira berhenti. Matanya menatap serius Barata yang nampak serius juga. Barata juga terlihat gugup. "Pacar? nggak salah denger Bar?" Hira memastikan kembali ucapan Barata yang ia anggap melantur itu. "Apa alasannya? dasar apa kamu ngajak aku pacaran?" tanya Hira serius. Entah mengapa mulutnya berkata sedemikian rupa, padahal pikirannya tak sejalan dengan mulutnya. Hira juga sama gugupnya dengan Barata. "Dari awal aku sudah tertarik sama kamu Ra. Ya meskipun aku pernah bodoh membuatmu kecewa tapi dari dulu perasaanku sama. Kamu tetap menjadi perempuan spesial untukku. Jadi gimana jawabanmu?" Hira terdiam. Ia mencerna ucapan Barata. Apa ia menerima Barata? ia bingung saat ini. Apalagi ia juga deg-degan ketika Barata mengutarakan perasaannya. Tapi ada hal lain yang membuatnya ragu dengan Barata. "Bar, sebenarnya,” "Sebenarnya apa? kamu udah ada pacar?" Hira langsung menggeleng cepat. "Bukan begitu. Tapi aku takut ayah tahu jika kita pacaran. Kamu kan tahu sendiri ayah seperti apa." Cicit Hira. "Jadi kamu menerima Ra?" tanya Barata antusias. "Hmm gimana ya?" "Diterima?" Hira mengangkat wajahnya yang awalnya tertunduk. "Maaf," "Kenapa? kamu nggak ada perasaan ya sama aku?" Tanya Barata lagi. Laki-laki itu agak kecewa dengan penolakan Hira. "Bukan begitu. Aku belum siap kalau misalnya pacaran. Aku masih takut, aku masih takut dengan spekulasi yang aku bangun sendiri. Tolong kasih aku waktu buat mikir bulat-bulat Bar. Kita jalani saja. Apa nggak terburu-buru kalau kita jadian?" Barata di tempatnya terdiam. Jika dipikir juga terlalu cepat Barata menyatakan perasaannya padahal mereka baru saja baikan setelah bersitegang kemarin. Hira juga nampaknya belum yakin dengan hubungan yang namanya pacaran. Gadis itu terlihat polos dan masih takut dengan ini itu, termasuk dengan sang ayah yang protektif. "Tapi jangan lama-lama Ra. Kata Nathan hati itu punya kadaluwarsa." Ucap Barata yang terdengar bercanda namun serius. Hira hanya bisa terdiam sambil menatap Barata yang masih nampak agak kecewa atas penolakan dirinya. Hira punya alasan yang tak bisa di jelaskan sekarang. "Mungkin aku akan berusaha lagi untuk itu Ra. Aku yakin kamu juga punya perasaan yang sama tapi ini bukan waktu yang tepat bagimu. Izinkan aku untuk berusaha mendapatkan hatimu." Ucap Barata lagi. Laki-laki itu tak akan menyerah selagi masih bisa berjuang. Tetapi namanya hati siapa yang tahu? "Kenapa kamu bisa seyakin itu Bar?" tanya Hira lagi. Gadis itu masih ingin tahu mengapa Barata ingin menjadikan dirinya sebagai kekasih. Padahal pikiran Hira hanya sebatas saling tertarik, belum kearah pacaran. Barata lalu menatap Hira, "bahasa cinta itu sederhana yang rumit itu hanyalah kata-kata." "Kamu nggak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu. Tapi jika lama menggantung perasaan itu juga akan kering, dalam artian pudar atau bahkan hilang. Semua punya batas dan porsi masing-masing." Ucap Barata yang kemudian tersenyum kecil. Perkataan Barata kembali seakan menampar Hira. Gadis itu kembali berpikir, apakah keputusannya itu benar dengan belum menerima Barata sedangkan hatinya berkata iya? Hira galau, ia tak tahu harus bertindak apa. "Aku harap kabar baik yang kamu sampaikan selanjutnya, " "Ayo aku antarkan pulang. Udah sore juga." Setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Hira maupun Barata tak berkata sepatah katapun hingga tiba di perumahan Hira. Mereka masih sama-sama membisu. .  .  . 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN