Ethan langsung memakai kacamata hitamnya begitu dia turun dari jet pribadi-nya yang mendarat di private airport di London.
"Hua... dingin sekali!"
"Astaga, Claire!" Ethan otomatis tersentak ketika Claire memeluk dirinya secara tiba-tiba.
"Dingin, sugar." Claire makin mengeratkan pelukannya sambil menatap Ethan dengan tatapan andalannya. Tatapan puppy eyes yang sialnya hampir sama seperti tatapan Zoe—anaknya yang berumur sepuluh tahun.
Ethan melanjutkan langkah kaki-nya dengan Claire yang kini sudah naik ke punggung Ethan, membuat Ethan mau tidak mau menggendong Claire.
"Aku senang kau mengajakku ke London." Bisik Claire dan setelah itu mencuri kesempatan dengan mengecup pipi Ethan.
"Oh, God! Bukan aku yang mengajakmu tapi kau yang mengikuti seperti orang gila dan menangis di bandara Birmingham ketika aku tidak memperbolehkanmu ikut." Ucap Ethan mengingatkan.
Betapa malu-nya Ethan tadi ketika Claire terus mengikutinya dari penthouse ke bandara. Lalu ketika Ethan tidak memperbolehkan Claire untuk ikut, wanita itu langsung terduduk di lantai. Menangis tersedu-sedu dan semakin penuh drama.
Membuat semua orang yang melihat Claire merasa kasihan dan semuanya kompak memberi tatapan menuduh pada Ethan.
"Kau mempunyai bakat akting, Claire." Sindir Ethan.
Claire menggelengkan kepalanya dengan mantap. "No, no! Aku tidak mau menjadi artis dan kemudian menjadi wanita yang penuh drama."
"Tanpa jadi artis pun kau sudah penuh drama." Ethan mendesah kesal.
"Aku kan hanya ingin menjadi istrimu dan ibu dari anak-anak kita." Ucap Claire.
"Lagipula tidak ada yang menawarimu untuk menjadi artis. Kau tidak cocok." Ethan menghentikan langkahnya ketika sampai di lounge dan kemudian menurunkan Claire dengan paksa. "Turun!"
Claire kemudian turun dari gendongan Ethan dengan wajah berseri-seri. "Suatu saat nanti, kau akan menawariku untuk menjadi istrimu."
Mendengar itu, Ethan tertawa sakartis. "Never!"
"Mobil sudah siap, sir."
Ethan dan Claire sontak menoleh ke sumber suara. Dihadapan mereka berdua berdiri seorang lelaki dengan setelan jas kerja yang lengkap. Lelaki itu terlihat lebih muda beberapa tahun dari Ethan dan masih terlihat tampan.
Apalagi dengan rambut berwarna cokelat kehitaman dan bola mata abu-abunya yang menatap datar namun sarat ketegasan.
"Chirstian." Ucap Ethan sambil menjabat tangan Chris—tangan kanan Ethan.
Namun ketika tatapan Christ berserobot dengan tatapan Claire, Ethan dapat menangkap sorot mata terkejut di tatapan mata Chris yang biasanya selalu menatap datar.
"Ms. Kattnes?" Christian menatap Claire dengan heran.
Claire balik menatap Christian dengan tatapan aneh. "Siapa Kattnes? Aku Claire, Ethan Jasper future wife."
"Ah, iya." Chris mengangguk-anggukan kepalanya sambil menjabat tangan Claire. "Saya tidak tahu kalau di Birmingham anda telah menikah, sir."
Mendengar itu, Ethan menyentakkan kepalanya. "Biarkan saja wanita gila ini mengoceh, Christ. Ayo kita segera ke rumah. Aku rindu dengan anak-anak."
Christian berdeham dan hanya menganggukkan kepalanya.
Ada rahasia yang di simpan Christian sebelum lelaki itu menjemput Ethan. Yaitu, sebenarnya anak-anak Ethan tidak ada rasa rindu sama sekali dengan Ethan. Dan malah ke empat anak itu sebal ketika mengetahui Ethan akan pulang ke rumah. Oh mungkin, kecuali si kecil Paris yang paling menurut.
• • •
"Senang bisa kembali ke rumah." Claire mendesah lagi sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Ethan hanya melirik Claire ketika wanita itu mengatakan bahwa rumah besar ini bagaikan rumahnya sendiri. "Apa maksudmu, Claire? Bahkan kau belum pernah tinggal disini."
"Di masa depan, aku tinggal disini, sugar." Ucap Claire. "Dan kita akan hidup bahagia dengan tujuh anak kita."
"Tujuh?!" Ethan sontak menghentikan langkahnya dan mencekal lengan Claire.
"Iya, tujuh. Intinya tujuh, aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Karena ini bersangkutan dengan masa depan dan—“
Prang!!!
Ethan dan Claire yang sedang berada di tengah-tengah anak tangga kemudian melongokkan kepalanya kearah sebuah pintu besar berwarna putih.
Ethan tahu, ada hal yang tidak beres yang terjadi di dalam sana. Sedangkan Claire, hanya menatap bingung.
Dengan cepat Ethan menarik tangan Claire melewati pintu besar berwarna putih itu dan membawa Claire melintasi sebuah jembatan di lantai dua ini yang mengarah hanya pada satu pintu.
"Wow, ada jembatan di dalam rumah? Kenapa tidak ada air terjun sekalian, agar kita berdua bisa mandi bersama disana." Ucap Claire sambil terkikik.
"Rumahku bisa banjir bila ada air terjun di dalam rumah. Kau ini bodoh sekali." Ethan kemudian membuka pintu itu dan mengajak Claire memasuki ruangan itu.
Claire kemudian terkesiap ketika dia sadar bahwa Ethan mengajaknya ke kamar pribadi Ethan dengan cat dominan abu-abu dan putih. Kamar ini begitu mewah dengan ornamen-ornamen klasik.
"Kau sudah tidak sabar denganku, ya?" Goda Claire sambil membuka mantel-nya.
"Tidak." Ethan menatap tegas kearah Claire dan kemudian mendudukan Claire di kasurnya. "Dengar, Claire. Aku ada urusan dengan anak-anak. Dan apapun yang terjadi, apapun yang kau dengar, jangan keluar dari kamar ini."
"Kenapa? Aku juga ingin bertemu dengan anak-anakku."
"Mereka bukan anakmu, Claire. Mereka anakku dengan mendiang istri-ku."
"Siapa? Kattnes?"
Ethan terdiam, meneguk saliva-nya ketika dia menatap kedalam mata Claire.
Claire kira, dia akan mendapati Ethan yang menjawab sesuatu. Tapi lelaki itu kemudian menegakkan tubuhnya dan berbalik meninggalkan Claire.
"Bila aku diam, apakah aku boleh meminta hadiah?" Ucap Claire sambil sedikit berteriak.
"Asal kau diam disini dan tidak bertemu anak-anakku, Claire." Jawab Ethan.
"Baiklah, sugar." Claire mengangguk mantap. "See you!"
Ethan kemudian menutup pintu kamarnya sambil menghela napas. Sejenak, Ethan hanya diam sambil menatap pintu kamarnya. Ethan hanya tidak ingin anak-anaknya bertemu dengan Claire dan membuat anak-anak kembali terngiang dengan mendiang Kattnes.
• • •
Ethan kali ini berada di depan sebuah pintu putih besar yang di dalamnya terdengar suatu suara-suara gaduh.
Di dalam pintu ini adalah sebuah ruangan keluarga, ruangan bermain yang menjadi ruangan pusat dan di dalam ruangan ini terdapat empat pintu yang masing-masing adalah kamar pribadi ke empat anaknya. Hal ini mengharuskan anak-anaknya akan masuk ke ruang keluarga ini dulu setelah mereka keluar dari kamarnya.
Dengan sekali hentakan, Ethan membuka pintu putih itu dan seketika kepalanya pening ketika melihat suatu kekacauan di hadapannya.
"Padamkan!!!"
Ethan otomatis mundur satu langkah ketika Zack—anak lelaki-nya yang berumur sepuluh tahun berteriak bersamaan dengan sebuah asap dari tabung pemadam kebakaran yang di semprotkan oleh Edward kearah adiknya itu.
"Dimana pusat kebakarannya, kapten?!" Kali ini Ethan terbelalak ketika melihat putra tertuanya, Edward yang berumur tujuh belas tahun sedang berlari di belakang Zack sambil membawa tabung pemadam api.
"Disini! Disini!" Zack menunjuk sebuah pohon natal yang tidak terdapat hiasan natal apapun karena memang belum waktunya natal.
"Tapi tidak ada api disana, kapten!" Seru Edward.
"Siapa yang membutuhkan api?!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring perempuan yang keluar dari sebuah pintu, dan itu adalah Zoe—anak perempuan Ethan yang berumur sepuluh tahun, saudara kembar Zack.
Zoe berlari mendekati Edward dan Zack dengan gaun berwarna merah menyala dan bandana berwarna merah juga. Belum lagi lipstick yang berwarna begitu merah yang entah Zoe dapatkan dari mana.
"Aku adalah peri api, hahaha!" Zoe mengeluarkan sebuah lilin merah dan korek api secara bersamaan dengan wajah sangarnya.
"Peri api! Kami membutuhkanmu!" Edward dan Zack bersorak bersamaan sambil bersimpuh di hadapan Zoe.
Zoe tertawa keras sambil menyumutkan api ke lilin merahnya. "Jiahahaha! Api abadi akan menyala!"
Ketika Zoe hendak menyulutkan api ke daun pohon natal itu, Ethan langsung mencekal tangan Zoe dan otomatis Zoe terkesiap sampai lilin itu jatuh dan masuk ke tong sampah berisi kertas yang begitu banyak.
"Kau pikir yang kau lakukan ini benar, Zoe?!" Ethan tak sadar bahwa suaranya sampai menggelegar di penjuru ruangan.
"Daddy, aku... aku—“ Zoe menatap Ethan takut-takut. Sampai kemudian ada api menyala begitu besar dibelakang Ethan.
"Kyaaa! Ada api sungguhan!" Zack berteriak keras.
Sontak, Ethan, Edward dan Zoe terlonjak kaget ketika tong sampah di sebelah mereka mengeluarkan api.
"Ed, padamkan itu sekarang!" Ethan berteriak sambil menarik Zoe ke belakang punggungnya.
"O-okay, dad." Edward kemudian langsung mengarahkan tabung pemadam di tangannya dan dengan cepat langsung memadamkannya.
Setelah api padam, suasana kemudian hening. Ethan menatap sekitar ruangan keluarga ini. Tiga dari lima vas bunga yang besarnya setinggi tubuh Zack dan Zoe pecah, bungkus makanan berserakan dimana-mana, ada banyak kaleng alkohol dengan kadar rendah di sekitar sofa dan ada selimut serta bantal-bantal yang berantakan.
"Edward."
"Ya?" Sontak Edward menegakan postur badannya.
"Apa kau memberi adik-adikmu berkaleng-kaleng alkohol tadi malam?" Tanya Ethan.
"Tentu saja tidak. Mereka minum coke saja sudah kembung." Ed memberikan tatapan mengejek kearah Zack dan Zoe.
Zack dan Zoe tidak terima di efek seperti itu, lalu melakukan pembalasan.
"Tadi malam Ed mengajak teman-temannya kemari, dad." Adu Zack.
Edward membelalakan matanya kearah Zack dan nyaris memukul kepala Zack bila saja tidak ada Ethan di samping Zack.
"Oh ya? Laki-laki atau perempuan?" Ethan berusaha tenang. Karena masih kecil, Zack dan Zoe adalah informan yang akurat.
"Dua laki-laki dan tiga perempuan." Jawab Zoe. "Dua laki - laki dan dua perempuan itu masuk ke kamar Ed dan tidur disana sampai tadi pagi. Sedangkan Ed, tidur bersama wanita yang lain di sofa itu."
"Tidak! Itu tidak benar, dad! Mereka mengarang cerita!" Edward berusaha membela diri dan menatap tajam kearah Zack dan Zoe.
Ed benar-benar merasa terkhianati oleh kedua kembar nakal ini. Ed sudah rela menyuruh teman-temannya pulang di pagi hari agar dia bisa bermain bersama ketiga adiknya. Tapi setelah mereka menjadi sekongkol dan kompak, setelah Ethan datang, Ed merasa langsung di jadikan sebagai umpan.
"Kita tidak bohong, dad! Bahkan Ed dan wanita itu tidur tidak memakai baju!" Zack berseru semangat.
Edward gelagapan sendiri dan Ethan langsung menatap tajam Ed. "Edward Jasper, duduk disana."
Edward hanya bisa memejamkan mata menahan kesal dan kemudian melangkah menuju kursi kayu di pojok ruangan. Zack dan Zoe mengulurkan lidahnya kearah Ed yang mengacungkan jari tengah kearah mereka berdua.
"Kalian berdua juga, Zack dan Zoe duduk di samping Ed."
"Tapi, dad—“ Zoe nyaris memunculkan puppy eyes andalannya.
"Tidak ada bantahan, Zoe."
Dengan langkah gontai, Zack dan Zoe melangkah dan duduk di kursi kayu yang berada di samping Ed.
Begitu kedua adik kembarnya duduk, Ed langsung menepuk kedua dahi mereka sampai Zack dan Zoe meringis kesakitan. Tapi mereka kembali diam ketika Ethan menatap mereka dengan tajam dan tangan bersedekap di depan d**a.
"Satu, dua, tiga... mana Paris?" Tanya Ethan.
Mereka bertiga saling lirik dan tak kunjung menjawab.
"Daddy, tanya. Mana Paris?" Ethan menanyakan putri terakhirnya yang berumur tujuh tahun itu.
Tiga bersaudara itu masih diam sampai Ethan kemudian mendengar suara gaduh dari dalam sebuah kotak besar yang ada di depan televisi.
"Ah, itu kado dari temanku, dad. Isinya kucing." Zack beralasan sedangkan Edward hanya diam karena dia memang tidak ikut campur apapun.
Ethan tidak menghiraukan ucapan Zack dan melangkah mendekati kotak besar itu. Sampai kemudian Ethan membukanya dan menghela napas kasar.
"Engh!!!"
Ethan melihat Paris di dalam sana. Gadis kecilnya itu ada di dalam kotak dengan mulut terplester dan tangan di ikat kedepan.
Ethan kemudian mengeluarkan Paris dari dalam kotak. "Kau baik-baik saja, sayang?"
Paris menggelengkan kepalanya sambil terisak. Ketika Ethan melepaskan plester di mulutnya dan ikatan di tangan Paris, gadis kecil itu menangis sambil memeluk Ethan yang bersimpuh dihadapannya.
"Zack dan Zoe mau mengirimku ke penjara, dad! Katanya aku penjahat! Katanya aku yang sudah membuat Mommy meninggal!" Paris masih menangis di pelukan Ethan.
Mendengar hal itu, rasa marah Ethan perlahan sirna.
Zack dan Zoe selalu menjahili Paris karena menggap Kattnes meninggal karena Paris. Itu semua karena setelah melahirkan Paris, Kattnes jadi sakit-sakitan dan kemudian meninggal.
"Zack, Zoe, minta maaf pada adik kalian." Ucap Ethan.
"Tidak mau!" Zack dan Zoe menjawab kompak.
Ethan kembali menghela napasnya sambil menggendong Paris. "Kalian bertiga, daddy hukum!"