Berkali-kali Ethan mencoba memejamkan matanya dengan berbagai macam posisi tidur, lelaki itu merasa percuma karena tak bisa kunjung tertidur.
"Ah, sialan!" Ethan kemudian terduduk sambil mengacak-acak rambutnya.
Dia terdiam sejenak, mengamati satu persatu ornamen yang terdapat di kamarnya yang begitu gelap ini. Hanya cahaya dari gedung sebelah yang memenuhi cahaya kamarnya karena Ethan membuka lebar-lebar gordennya.
Hanya satu yang memenuhi pikiran Ethan pada saat itu.
Claire.
Ethan menatap salju yang turun dan membayangkan betapa dinginnya di luar sana. Ethan yakin wanita itu bisa menyewa kamar hotel untuk dirinya sendiri. Tapi, Ethan tidak yakin bila Claire akan menginap di hotel. Karena pikiran Claire tidak bisa ditebak hingga saat ini.
Kemarin saja Ethan memberi Claire kartu kredit dan mempersilahkan wanita itu belanja sepuasnya—asal tidak menganggu Ethan lagi. Tapi di luar dugaan, Claire hanya membeli baju seperti perintah awal Ethan. Maka dari itu Ethan yakin Claire tidak akan menginap di hotel dengan kartu kreditnya dan bisa saja Claire kedinginan di luar sana.
"Sial! Kenapa dia tak kunjung pergi dari pikiranku?" Ethan mengusap wajahnya.
Dan dia merasa sudah tidak waras ketika dia malah bangkit dari kasur dan mengambil mantel tebal lalu memutuskan untuk pergi keluar untuk mencari Claire.
Baru saja pintu otomatis Ethan terbuka dan Ethan melangkah satu langkah dari depan pintu penthouse-nya, langkahnya sudah terhenti ketika dia tersentak kaget saat melihat wanita gila itu ada di samping pintu penthouse-nya.
Anehnya, Ethan menghembuskan napas lega karena Claire masih berada di sekitar sini.
Ethan seharusnya tidak perduli, tapi Ethan kemudian mendekati Claire yang terduduk di lantai sambil menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya yang terlipat diatas kaki-nya yang tertekuk.
Rambut panjang Claire yang berwarna cokelat menutupi seluruh wajah wanita itu. Ethan kemudian ikut berjongkok dihadapan Claire yang tertidur.
Ethan tahu, tidur Claire bukan dalam posisi yang nyaman. Dan sialnya, rasa bersalah memenuhi relung hati Ethan begitu saja. Apalagi setelah Ethan dengan perlahan mengambil sebuah obat berbentuk gel yang terdapat di dalam botol kecil yang di genggam Claire.
Hati Ethan terenyuh ketika membaca tulisan di botol tersebut. Itu adalah obat oles pereda rasa nyeri untuk luka lebam seperti yang terdapat pada tengkuk Ethan.
"Apa kau pergi ke toko obat dulu untuk membeli ini, huh?" Tanya Ethan sambil berbisik. Dia ingin berbicara pada Claire tanpa membangunkan wanita itu. "Aku tidak menyangka di balik sikap bodohmu kau perhatian juga padaku."
Ethan tertawa kecil sambil mengusap pelan rambut Claire yang terasa halus ketika menyentuh telapak tangannya.
Kemudian, tanpa pikir panjang Ethan pertama-tama mengambil seluruh paperbag belanjaan Claire dan memasukkannya kembali kedalam penthouse. Lalu di susul Ethan yang perlahan menggendong Claire dan membawa-nya masuk.
Pada saat Ethan membaringkan Claire di kasur, dia menatap lama wajah Claire yang pulas tertidur.
Ethan kemudian tertawa kecil, "dalam posisi tidur tidak nyaman pun kau bisa tidur nyenyak. Sepertinya kau memang gelandangan sejati."
Tapi Ethan langsung memejamkan matanya rapat-rapat dan menyesali ucapannya yang baru saja dia katakan. Rasanya, meledek Claire sama saja meledek Kattnes -mendiang istri-nya.
Di sentuhnya pipi Claire perlahan dan Ethan merasakan pipi Claire yang dingin ketika di sentuhnya.
Dengan cepat Ethan lalu menarik selimut tebal dan menyelimuti Claire sampai ke dagu.
Dilihatnya Claire yang menggeliat lalu tersenyum dengan matanya yang terpejam. Menandakan bahwa wanita itu kini sudah nyaman dalam tidurnya.
Ethan lalu teringat pada obat oles yang ada di saku mantelnya dan kemudian mengambil obat itu.
Dengan perlahan-lahan Ethan mengoleskan pada luka lebamnya. Ethan meringis kesakitan ketika harus menyentuh lebam yang ada pada tengkuk-nya. Tapi rasa dingin dari obat oles yang dia pakai membuat Ethan merasa sedikit lebih baik.
Kemudian Ethan hanya terdiam menatap wajah Claire yang tertidur. Lalu berucap dengan tulus, "goodnight, Claire."
• • •
Ethan kira, ketika dia terbangun nanti, dia akan melihat Claire yang masih tertidur di kasurnya yang besar, nyaman dan empuk.
Tetapi kasur itu sudah rapi dan Claire sudah tidak ada disana.
Ethan memilih tidak perduli, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal karena dia harus kembali tidur di sofa. Walaupun tidak perduli, tapi Ethan tak bisa memungkiri, rasa khawatir ketika Claire tidak ada di dekatnya kembali muncul.
Tapi Ethan kembali mengindahkan rasa khawatir itu dan memilih untuk segera berangkat pagi ke lokasi syutting. Selesai mandi, Ethan berjalan keluar kamar sambil memakai jaket tebalnya. Tapi langkahnya terhenti ketika dia mencium bau sedap dari ruang makan.
Ketika Ethan masuk ke ruang makan, disana sepi. Hanya tersedia sepiring penuh sandwich berisi sayur dan daging serta s**u putih dan jus jeruk.
Persis seperti sarapan yang sering dibuatkan Kattnes untuknya dulu.
Ketika Ethan memutuskan untuk duduk di meja makan, dia baru sadar ketika ada sticky note yang tertempel di gelas jus jeruknya.
Aku tahu kau khawatir dan takut aku meninggalkanmu kemarin, kan? Aku kan sudah bilang, kau tidak akan bisa hidup tanpaku. Aku senang kau menggendongku ke kamar. By the way, kau tersenyum dalam tidurmu ketika aku memberikanmu morning kiss tadi.
"Ugh!" Ethan yang sedang meminum jus jeruknya sampai tersedak ketika membaca sebaris kalimat akhir di note yang dia pegang. Dengan cepat Ethan mengusap-usap bibirnya. "Tidak, tidak mungkin aku tersenyum ketika dia mencium... bibirku." Ethan kembali membaca Note itu.
Dan tertulis; with love, your future wife, beautiful Claire Jasper.
Walaupun rasa sandwich ini tidak seenak buatan Kattnes, Ethan bisa tertawa kecil ketika kembali membaca Note tersebut.
• • •
"Good morning, Rey."
Rey sampai terpaku ketika Ethan menyapa-nya di pagi hari. "Morning, sir. Kau sudah sarapan?"
"Sudah." Ethan menjawab semangat, tanpa sadar ada senyum terbit di bibirnya.
"Sounds good. Anda terlihat bersemangat pada hari ini."
Ethan mengangguk. "Selamat bekerja, Rey." Kemudian Ethan meninggalkan Rey yang hanya mengangguk perlahan sambil menatap Ethan yang biasanya selalu terburu-buru ketika hendak berangkat ke lokasi syutting.
Sesampai-nya di basement, Ethan bersiul-siul sambil membuka pintu mobilnya.
"Astaga!"
"Good morning, sugar."
Ethan menggeram rendah, menatap heran seseorang yang sudah ada di dalam mobilnya bahkan sebelum Ethan membuka pintu. "Claire."
"Ah, aku senang sekali kau akhirnya menyebut namaku!" Claire bersorak riang. "Coba, sebut lagi. Aku mau dengar."
Claire memajukan tubuhnya dan mengarahkan kupingnya kearah Ethan yang sudah duduk di sampingnya.
"Kenapa bisa kau ada disini bahkan sebelum aku membuka kunci-nya?" Tanya Ethan sambil mendorong kepala Claire agar menjauh dari dirinya. "Padahal tadi pagi aku sudah senang kau tidak ada di penthouse. Aku senang akhirnya kau pergi juga tanpa kau paksa."
"Ehm..." Claire terlihat berpikir, lebih tepatnya ber-akting berpikir. "That's magic. Aku kan dari masa depan!"
"Oh, that's bullshit." Balas Ethan sambil memutar kedua bola matanya. "Keluar dari mobilku sekarang. Aku mau bekerja."
"Nah, aku ingin ikut denganmu. Aku ingin melihat tampannya suamiku ketika menjadi seorang sutradara."
"Tidak, Claire. Kau tidak boleh ikut. Lagipula aku bukan suamimu."
"Dan membiarkan Gwenn Harold gencar menggoda-mu? Tentu saja aku tidak akan membiarkan wanita sok seksi itu." Claire mengibaskan rambutnya dan Ethan langsung bisa menghirup harum shampo rambutnya. "Lebih seksi aku kemana-mana, kan?"
"Astaga, Claire." Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat Claire yang membusung-busungkan d**a-nya kearah Ethan.
"Iya, kan? Aku lebih seksi dari dia."
Ethan terdiam, menatap seluruhnya kearah Claire. Menamati Claire yang sedang bergaya sok seksi ala model Victoria Secret dan yah, Ethan harus mengakui kalau Claire lebih seksi dari Gwenn Harold.
"Jadi, bagaimana? Aku seksi, bukan?"
"Biasa saja." Ethan mengalihkan tatapannya, tapi langsung menyalakan pendingin walaupun sedang musim dingin. Karena tiba-tiba Ethan merasakan hawa mobilnya menjadi panas. Ethan kemudian membuka mantelnya. “Huft, efek global warming, cuaca jadi panas disaat musim dingin, ya?”
"Cih, menyebalkan. Kau akan memohon padaku nanti malam bila kau tidak aku beri jatah." Ucap Claire ketika Ethan mulai menjalankan mobilnya. Tentu saja Claire tidak cukup peka pada sifat Ethan tadi yang salah tingkah karena melihat pose seksinya itu.
Memang benar kata Claire, lelaki yang berada di dekatnya selalu mudah tertarik olehnya dan segala sifat ajaibnya. Yah, kecuali Ethan yang sok jaga image.
"Jatah apa yang kau maksud?"
"Tentu saja jatah paket panas bersama Claire Jasper." Jawab Claire.
Sebenarnya itu terdengar aneh, tapi keanehan itulah yang membuat Ethan tertawa. Kalau biasanya mobil yang Ethan kendarai terasa sepi, kali ini terasa cukup ramai oleh celotehan Claire dan kecapan mulut Claire ketika memakan sandwich.
"Apakah itu sandwich yang kau buat untukku tadi?" Tanya Ethan sambil masih fokus mengendarai mobilnya.
"Tidak, aku membeli-nya ketika aku selesai membuatkan sandwich untukmu. Kau mau?" Claire menyodorkan sandwich bekas gigitannya ke Ethan dan langsung di tolak oleh lelaki itu.
"Kenapa kau membeli kalau kau sudah membuat sandwich?"
"Karena sandwich buatanku tidak seenak yang dijual orang-orang. Lagipula, aku jijik karena sandwich yang aku buat tadi tanggal kadaluarsa mayonaise-nya adalah besok."
"Apa?!" Ethan langsung tersedak ludahnya sendiri dan terbatuk-batuk. "Lalu kenapa kau memberikannya padaku?!"
Claire menoleh sekilas kearah Ethan, lalu mengedikkan bahu-nya. "Sayang dibuang sebelum di gunakan.”
"Astaga," Ethan kemudian memijat pelipisnya yang terasa berdenyut ini. "Kalau aku sampai keracunan maka kau—hei! Apa yang kau lakukan? Aku sedang menyetir."
Claire hanya diam sambil memegang telapak tangan Ethan yang terbalut perban.
"Kau gila, bagaimana bila nanti kita kecelakaan?" Sungut Ethan.
"Kita akan mati bersama." Jawab Claire dengan polosnya. "Happy ever and after. Seperti Romeo dan Juliet yang mati bersama. Romantis, bukan?”
Ethan hanya bisa berdecak kesal. Ucapan Claire seolah wanita ini tidak takut atau ragu akan kematian dan musibah.
Claire kemudian dengan perlahan melepas perban Ethan yang belum lelaki itu ganti. Luka bekas sayatan pisau tadi terlihat memerah. Lalu Claire menempelkan plester pada luka itu.
"Nah, sudah."
Ethan tersentak ketika Claire mengecup telapak tangannya yang terdapat bekas luka.
Claire hanya tertawa melihat ekspresi kaget Ethan. "Agar cepat sembuh jadi aku cium."
"Lalu apa maksudnya plester dengan motif hati ini?" Ethan menatap sekilas dengan risih plester berwarna pink dengan motif hati yang menempel di telapak tangannya.
"Itu mewakili cinta Claire yang mengobati luka Ethan." Jawab Claire.
"Ucapanmu begitu aneh." Ethan menyentakkan kepalanya.
Membiarkan Claire yang bersenandung riang sambil terus menggenggam tangan kanan Ethan. Membuat Ethan hanya menyetir dengan tangan kirinya.
“Twinkle twinkle little star...” Claire bernyanyi makin keras. “Ayo lanjutkan, sugar!”
Ethan mendengus geli dan menggelengkan kepalanya, tidak berminat melanjutkan lagu anak-anak itu.
Claire lalu melanjutkan, “twinkle twinkle litte star... i’m gonna hit you with my car! Ayo tabrak saja mobil di depan jalannya lama!”
“Claire!” Ethan menyentak Claire, menatap wanita itu tidak habis pikir karena mengganti lirik lagu sesukanya.
Tapi bukannya merasa bersalah, Claire malah terbahak riang.
Dan anehnya, Ethan merasa nyaman dengan genggaman tangan wanita ini dan suara tawa renyah Claire. Bila Ethan merasa aneh, maka Ethan akan kembali menganggap bahwa yang sedang menggenggam tangannya adalah Kattnes, bukannya Claire.
"Ponselmu berbunyi." Ungkap Claire.
Ethan baru menyadari ponselnya yang berbunyi. Kemudian Ethan menekan tombol otomatis di mobilnya yang langsung menyambungkan dengan panggilan telepon.
"Ada apa Christ?" Orang yang menghubungi Ethan kali ini adalah Christian—tangan kanannya yang memegang production house milik Ethan di London selagi Ethan menggarap berbagai macam film garapannya di luar London.
"Anda harus pulang ke London sekarang, sir!" Suara Christian terdengar panik.
"Tidak bisa. Aku baru kembali ke London satu bulan lagi. Aku percaya padamu, Christ. Apapun yang terjadi kau harus—“
"Taman belakang rumah Anda terbakar, sir." Christian mengambil napas dalam sebelum melanjutkan. "Dan ini adalah ulah mereka."
"Astaga, Ethan!" Claire memekik ketika Ethan menginjak rem secara mendadak.
Dan di susul debuman keras di mobilnya ketika dirasakan sebuah mobil lain menabrak bagian belakang mobilnya di susul dengan klakson berbunyi nyaring dari pengendara lainnya.
"Sialan! Ulah anak-anak lagi?!" Ethan tak memperdulikan apa yang terjadi dengan kemacetan sekitar karena Ethan menghentikan mobilnya di tengah jalan. "Dimana pengawas mereka semua?! Aku sudah memberi mereka delapan pengasuh sebelum aku berangkat ke Birmingham."
"Mereka semua mengundurkan diri, sir."
"Sial, kenapa lagi kali ini?!"
"Banyak hal yang anak-anak lakukan agar para pengasuh mereka mundur. Dan kebakaran ini sudah saya atasi. Hanya saja, sedang ada dokter di sini untuk mengobati luka bakar di kaki Zack." Jelas Christ.
Ethan menarik napas dalam sebelum menghembuskan napasnya perlahan. "Nanti malam aku akan sampai di London, Christ. Pergilah ke kantor dan biar aku yang menghadapi anak-anak."