Ethan hanya bisa menghela napasnya melihat tingkah laku Claire yang seolah wanita gila itu sudah hapal seluk beluk Penthouse-nya di Birmingham ini.
Begitu membuka pintu apartemen, Claire bersorak tanpa suara karena Ethan yang menyuruhnya untuk tetap diam.
Lalu Claire segera meletakkan tas-tas belanjaannya di bawah sofa dan kemudian wanita gila itu langsung berlari masuk ke kamar Ethan sambil membawa satu tas belanja dari merk fashion ternama.
Ethan tahu salah satu-nya. Yaitu Victoria Secret. Sepertinya Claire membeli lingerie atau semacamnya.
Tunggu. Ethan kemudian menyentakkan kepalanya. "Kenapa aku jadi memikirkan kearah situ?"
Sepertinya Claire sedang mandi, karena Ethan mendengar gemericik air di kamar mandi. Ethan kemudian memutuskan untuk ke ruang makan dan memindahkan ramen yang dia beli tadi ke mangkuk.
Ethan duduk di meja makan, pikirannya kembali pada saat dia membeli ramen. Niatnya Ethan ingin memakan ramen sendirian di salah satu restoran Jepang. Tapi, ingatan soal Claire yang berbicara pada Rey bahwa wanita itu kelaparan membuat Ethan akhirnya luluh dan memilih untuk membeli dua ramen untuk di bawa pulang.
"Seharusnya kau gunakan kartu kredit dariku untuk membeli makanan, bodoh." Ucap Ethan ketika melihat Claire yang sudah selesai mandi dan kemudian duduk di samping Ethan.
Diam-diam Ethan merasa deja-vu. Setelah sekian tahun lamanya, Ethan kembali merasakan seolah Kattnes berada di sampingnya.
Ethan kemudian menolehkan kepalanya, menatap rambut Claire yang masih setengah basah. Harum bau shampo Claire yang begitu mirip dengan milik Kattnes dulu membuat Ethan menarik napas dalam dan menghirup banyak-banyak aroma bau shampo bercampur sabun dan parfum yang Claire pakai.
Claire berkali-kali mengulum bibirnya, tergiur menatap ramen di hadapannya. Tapi kemudian Ethan melihat Claire memindahkan satu persatu udang yang ada di ramen milik Ethan dan memindahkannya ke mangkuk Claire.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ethan.
Bukannya menjawab, Claire malah menatap Ethan dan mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri.
Ethan kemudian menghela napas. Menatap dongkol kearah Claire. "Kau boleh berbicara sekarang."
Claire tersenyum, begitu manis di hadapan Ethan dan kemudian melanjutkan kegiatannya mengaduk-aduk ramen milik Ethan dan mengambil setiap udang yang di temukannya.
"Kau tidak boleh makan udang karena alergi. Jadi, kau makan ini saja." Claire memindahkan telur yang ada di mangkuk-nya ke mangkuk Ethan.
Ethan terpaku sejenak. "Darimana kau tahu?"
"Aku kan istri-mu, jadi aku tahu." Claire menepuk pipi Ethan dengan pelan. "Selamat makan!"
Hal itu makin mengingatkan Ethan pada mendiang Kattnes. Ethan memang menyukai udang, tapi Kattnes selalu melarangnya makan udang karena setiap makan udang kulit Ethan akan memerah dan Ethan bisa batuk-batuk ke esokan hari-nya.
Ethan mendecak malas, lebih memilih melanjutkan makan sambil diam-diam mengawasi Claire yang sedang makan dengan amat sangat lahap.
"Ah... ini enak sekali! Aku begitu lapar!"
"Hei! Jangan menyemburkan makananmu seperti itu, wanita gila!" Ucap Ethan memperingatkan.
"Aku tidak sengaja."
Ethan mendesah keras sambil mengusap muka-nya yang kali ini terkena semburan makanan Claire. "Jangan berbicara saat makan. Bicara ketika selesai makan."
Claire mengangguk riang dan melanjutkan makanannya. Tapi, baru tiga suapan, Claire kembali berbicara. "Uangmu belum habis. Masih ada banyak. Aku hanya membeli pakaian, dan tidak membeli makanan."
"Kalau kau lapar seharusnya kau beli makanan, bodoh."
"Kau hanya menyuruhku membeli pakaian. Maka, aku tidak membeli makanan." Jawab Claire dengan polos.
Ethan menghentikan makannya dan kembali menatap Claire yang masih fokus dengan ramen-nya. Ethan tidak menyangka bahwa Claire memiliki pikiran seperti itu.
"Jadi, apa yang membuatmu kembali menemui-ku?" Tanya Ethan sambil mengulurkan tangannya untuk membersihkan ujung bibir Claire yang penuh dengan sisa makanan.
Claire terdiam, kemudian dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Ethan yang hanya menatapnya datar. Claire kira, dia akan melihat Ethan yang sedang tersenyum. Tapi, kelakuan manis Ethan berbanding terbalik dengan wajahnya yang datar.
"Tentu saja karena aku istri masa depanmu. Jadi, aku harus membimbingmu untuk lebih baik untuk masa depan." Jawab Claire.
"Tolong jawablah dengan logis. Memangnya kau datang dari portal masa depan?"
"Ups, aku tidak bisa menjelaskannya." Claire menutup mulutnya, membuat ekspresi imut sedangkan Ethan memutar bola matanya malas. "Bahkan hari ini kau benar-benar berenang. Bagaimana? Segar, kan?"
"Segar darimananya?!" Sentak Ethan ketika teringat dengan kejadian memalukan tadi. "Lagipula bagaimana caranya kau mengetahui tentang apa yang terjadi padaku?"
"Kan sudah aku bilang, aku istri masa depanmu." Claire menghembuskan napas kesal dan meniup poni-nya. "Apakah ini lebam karena berenang tadi?"
"Argh!" Ethan meringis sakit ketika Claire memajukan tubuhnya dan menyentuhkan tangannya di tengkuk Ethan. Menekan kulitnya yang membiru karena terkena lampu untuk peralatan syutting tadi.
"Sakit?" Claire menekannya lebih keras untuk memastikan.
"Sakit!" Ethan mengerang kesakitan. "Hentikan!"
Bukannya memasang wajah bersalah, Claire malah terkekeh sambil melihat Ethan yang meninggalkannya dan berjalan ke dapur. Claire mengikuti-nya, melihat Ethan yang membuka kulkas dan mengambil apel dari dalam sana.
"Sini, biar aku bantu." Claire menyerobot Ethan yang sedang memegang pisau.
"Sial! Kau mengejutkanku! Aku sedang memegang pisau."
"Aku juga tahu itu pisau, bukan gunting."
Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya, melanjutkan memotong apel pertama. Sampai kemudian Ethan terkejut ketika dia merasakan Claire memeluknya dari belakang dan mencium tengkuk-nya, membuat tanpa sengaja potongan Ethan meleset dan pisau tajam itu mennggores telapak tangannya.
"Ah!" Ethan otomatis mundur dan mengibaskan tangannya.
"Astaga, Ethan! Kau berdarah!" Claire berteriak sambil menunjuk telapak tangan Ethan.
"Ap-apa?!" Dengan refleks Ethan menatap tangan kirinya, melihat cairan kental berwarna merah itu menetes dari telapak tangannya di susul dengan rasa perih yang luar biasa.
"Sini, aku obati." Claire menarik tangan Ethan dan Ethan langsung menariknya.
Claire melihat Ethan yang bergetar dan napas lelaki itu putus-putus.
"Ethan, tidak apa-apa. Aku akan segera mengobati-nya. Sini, berikan tanganmu." Claire hendak kembali meraih tangan Ethan, tapi kini Ethan bahkan sudah bersimpuh dengan dahi-nya yang meneteskan keringat di cuaca sedingin ini.
Claire kemudian tidak banyak bicara, segera mengambil mangkuk besar berisi air dan kain bersih yang ada di dapur. Claire lalu ikut bersimpuh di hadapan Ethan.
"Pejamkanlah matamu. Jangan lihat darah ini." Bisik Claire.
Ethan kemudian menuruti ucapan Claire, dia memejamkan matanya dan membiarkan Claire menghilangkan darah yang begitu dia benci.
Ethan mungkin begitu ketakutan melihat darah dari kecil. Bahkan ketika Kattnes melahirkan anak pertamanya yang bernama Edward secara normal, Ethan harus rela tidak menemani Kattnes setiap wanita itu melahirkan.
"Kau bisa membuka matamu, sekarang."
Ucapan dari Claire membuat Ethan membuka matanya dan melihat tangannya yang kini sudah dibalut perban putih.
Claire kemudian tertawa. "Mana ucapan terimakasihnya?"
Ethan terdiam, kemudian Claire berucap, "baiklah, sama-sama."
Senyuman manis di wajah Claire malah membuat Ethan makin menatapnya tajam. "Ramalanmu benar lagi, aku jatuh di danau dan aku berdarah."
"Kan sudah aku bilang, aku istri masa dep—“
"Keluar dari penthouse-ku sekarang juga."
"Apa?!" Claire melebarkan matanya, menatap Ethan dengan terkejut. "Tapi kenapa?!"
Tidak menjawab, Ethan lebih memilih menarik pergelangan tangan Claire dengan kasar sampai Claire memekik kesakitan dan Ethan terus menariknya sampai keluar dari penthouse-nya.
"Ethan, jangan! Semua baju baruku masih di dalam." Claire memasang wajah memelas-nya.
"Oh, baju barumu?" Ethan kemudian mendorong Claire dengan keras dan menutup pintu otomatisnya.
Claire melongo di depan penthouse Ethan sampai kemudian pintu terbuka lagi. "Aku yakin kau tidak akan tega membiarkanku."
Brak!!!
Claire kembali menatap Ethan tak percaya. Ethan membuang semua belanjaan Claire di hadapan wanita itu.
"Kau tadi baik padaku, kenapa sekarang kau kasar padaku?"
"Aku tahu kau sengaja. Membuatku lengah dan membuatku menggoreskan pisau ke tanganku sampai berdarah. Kau sudah melihat kelemahanku. Dan sekarang kau puas?!" Ethan berteriak kalap.
"Tapi aku benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi padamu." Claire maju selangkah, hendak menyentuh Ethan tapi Ethan makin menatapnya dengan bengis.
"Aku tidak perduli! Pergi dari sini sekarang juga!"
Kemudian pintu penthouse kembali tertutup, menyisakan Claire yang hanya diam menatap pintu itu dengan sorot mata kesedihan terlihat jelas di matanya.