3. Meet The Crazy Woman, Again

1700 Kata
  "Jadi nanti kau harus mendayung perahu ini sampai di ujung sana. Lalu kembali lagi untuk pengambilan scene berikutnya."   "Tapi kalau aku sudah melakukannya dengan baik?"   "Kau tetap harus melakukannya lagi." Ethan berujar cuek dan lalu meninggalkan Josh yang menatapnya dongkol sambil memegang skrip di tangannya.   Melihat Josh yang menatap dongkol Ethan, Clark kemudian mendatangi pemeran utama pria dalam film garapan Ethan ini.   "Yah, kau tidak boleh marah. Kau harus bersyukur menjadi aktor pilihan Ethan Jasper." Ucap Clark sambil memberikan Josh secangkir kopi panas.   "Kau benar, di saat para aktor dan aktris ingin sekali bekerja sama dengan Ethan, mereka begitu bekerja keras. Sama seperti aku yang harus menghadapi sutradara introvert seperti dia." Dengan santai Josh kemudian meminum kopi panasnya.   "Josh! Aku mendengar kau sedang membicarakanku!" Josh terpaku dan Clark tertawa puas ketika Ethan berteriak dari jauh dan masih saja dapat mendengar ucapan Josh. • • •   Ethan dan para crew berhasil mendapatkan terik matahari di tengah-tengah musim salju yang dingin ini di Birmingham City.   Suasana di danau ini hening, para crew terdiam ketika kamera mulai merekam adegan yang dilakukan Josh dan Gwenn diatas perahu kayu kecil yang di dayung perlahan oleh Josh.   Berkali-kali Ethan menatap televisi kecil di hadapannya, melihat akting Josh dan Gwenn dari tepi danau dan kemudian berdiri melihat akting mereka berdua secara langsung.   Ketika perahu itu sudah berada di tengah danau, Josh memulai dialog-nya. Mengungkapkan kata-kata romantis sesuai di skrip pada Gwenn dan perlahan-lahan posisi mereka berdua semakin dekat. Josh memajukan kepalanya hendak mencium Gwenn. Keduanya sudah memejamkan matanya sampai kemudian teriakan Ethan mengacaukan segalanya.   "Cut!”   Semua crew menghela napas kasar, ada yang menatap bingung kearah Ethan dan ada juga yang menatap marah kepada Ethan.   "Apa ada yang salah? Dialog dan akting mereka sudah bagus tadi." Fredie—asisten sutradara Ethan angkat bicara mewakili para crew lainnya.   Ethan membiarkan tatapan tak suka yang di lontarkan padanya, lalu kemudian Ethan menatap tajam kearah Josh dan Gwenn yang berada diatas perahu.   "Gwenn, kenapa bahu-mu bergetar ketika Josh hendak menciummu?" Ucap Ethan dengan suara agak berteriak.   Gwenn merapatkan jas musim dingin yang dia pakai. "Aku kedinginan, tidak bisakah kalian memberi-ku mantel?"   Dengan cepat Fredie menatap layar monitor hasil rekaman mereka tadi. Dan benar saja, di saat semua crew menganggap tadi adalah momen yang tepat, Ethan sudah bisa menangkap kesalahan kecil yang akan terlihat aneh apabila ada orang teliti yang menontonnya.   Fredie menghela napas, kemudian mengusap wajahnya. Dia tidak akan bisa mengalahkan seorang Ethan Jasper. Lelaki itu begitu kuat dalam bidang-nya saat ini dan begitu bersinar.   "Lanjutkan take ke dua. Dan kau, Gwenn." Gwenn mengangguk kaku ketika Ethan menunjuknya dari jauh. "Tahan dulu rasa dinginmu. Dan jangan pikirkan diri sendiri, karena disini kita semua juga kedinginan." Ucap Ethan dengan ketus.   Semua crew hanya bisa gigit jari ketika mendengar Ethan yang berbicara ketus pada Gwenn.   Hei, Gwenn adalah aktris ternama di Inggris dan dia sudah merambah sampai beberapa film Hollywood.   Dan semua crew di film ini sudah tahu bahwa Gwenn mengincar Ethan sebagai mangsa-nya. Untuk menjadi kekasihnya dan membuat Gwenn makin menampilkan sensasi dan dapat makin terkenal.   Tapi melihat sifat ketus Ethan pada Gwenn, sepertinya hal itu tak akan terjadi.   "Take two!" Clark memegang sebuah kotak tipis berwarna putih dan hitam yang menampilkan tulisan otomatis berwarna merah. "Camera, rolling, and... action!"   Adegan di mulai kembali, dan Ethan kali ini berdiri di tepi danau sambil memegang skrip sambil sesekali membaca-nya. Mencocokan dengan kalimat yang keluar dari mulut Josh.   Sampai kemudian, Ethan merinding ketika merasakan angin musim dingin yang berhembus menusuk tulang-nya.   Dan tanpa Ethan sadari, sebuah lampu untuk keperluan syutting yang menyala di samping-nya bergoyang-goyang akibat hembusan angin.   "Ethan, watch out!"   Teriakan dari beberapa crew di belakangnya terlambat. Karena pada saat itu juga, para crew sudah melihat lighting kamera yang menyala itu jatuh dan menimpa tubuh Ethan bahkan sampai mendorong tubuh Ethan jatuh ke danau.   Byur!!!   "Argh!" Ethan berteriak keras karena terkejut dan juga kedinginan.   Para crew sudah berkumpul di tepi danau, berusaha mengulurkan tangannya pada Ethan. Ethan juga masih berusaha berenang ke tepi danau dengan tubuh yang gemetaran karena dia merasa tubuhnya sama seperti tersengat listrik ketika tercebur di air es.   Pada saat itulah ucapan wanita gila itu kembali terngiang di pikirannya;   "Mau mendengar suatu ramalan, Ethan?" Kemudian wanita itu tersenyum. "Kau akan berenang pada hari ini."   "Kau gila! Siapa yang mau berenang pada kondisi sedingin ini, bodoh!"   "Astaga! Kenapa bisa kesialan ini menimpamu, dude?" Clark dengan cepat meraih tubuh Ethan, membantunya naik ke daratan.   Bersamaan dengan itu, salah satu crew yang lain memberikan Ethan satu jubah mandi dan tiga lapis handuk.   Ethan hanya terdiam sambil menundukkan kedua kepalanya dengan kaki yang tertekuk di depan d**a.   Ethan menyesal karena telah mengabaikan ucapan gadis gila itu. Dan juga, Ethan merasa dirinya sebagai sutradara paling bodoh di dunia ini.   Seorang sutradara yang telah memarahi aktor dan aktris-nya, malah terkena getahnya sendiri dalam waktu yang singkat, dengan menjadi pusat perhatian di sini dan semua orang dapat melihat Ethan yang sedang dalam titik terlemahnya. Yaitu mengalami tubuh yang bergetar hebat karena menggigil. •••   Syutting pada hari ini berjalan biasa saja. Di bilang lancar bisa, dan di bilang tidak lagi sangat bisa.   Setelah insiden Ethan yang menggigil, suasana di lokasi syutting tidak kondusif dan John serta Gwenn sampai harus kembali menunggu scene mereka di undur besok karena waktu sudah menuntut mereka untuk pindah lokasi menjadi ke tengah kota Birmingham.   Dan Ethan kembali lagi ke gedung apartemennya pada tengah malam. Ethan sudah menginjakkan kaki-nya di lobby apartemen miliknya. Baru saja Ethan melangkah melewati lobby, tiba-tiba Rey sudah menghadang-nya.   "Ethan! Ethan!" Panggil Rey sambil berlari melambai-lambaikan tangan kearahnya, tersirat raut wajah panik pada muka Rey.   Ethan menghentikan langkahnya, menatap Rey yang bersembunyi di balik meja lobby.   "Apa apa? Kenapa kau bersembunyi seperti oknum kriminalitas, huh?" Ethan mendekati meja lobby sambil terkekeh kecil.   "Ini semua karena istri-mu itu!" Rey bergumam rendah.   "Istri? Tapi maaf, Rey. Bila kau lupa, istri-ku sudah meninggal."   "Lalu dia siapa?!" Rey menunjuk kearah lobby apartemen yang sudah sepi dengan takut-takut.   Ethan mengikuti kemana telunjuk Rey mengarah. Dan pada saat itu juga Ethan membelalakan matanya ketika mendapati wanita gila itu sedang duduk disana dan membelakangi-nya!   "Dia wanita unik yang, ehm, terlalu unik." Rey berbisik pada Ethan. "Hari ini, dia mengajak semua orang berkenalan. Tapi dia tidak mau mengenalkan namanya dan dia menjelaskan pada semua pelayan apartemen tentang apa saja yang dia beli hari ini."   Ethan menyipitkan matanya, menatap banyaknya tas kertas berlogo merk-merk ternama yang ada di sekitar kursi wanita gila itu. Ethan tahu, pasti kartu kredit-nya sudah limit karena dipergunakan untuk membeli hal-hal yang tidak penting oleh wanita gila itu.   "Dan sebaiknya kau membawa dia pergi, Ethan. Dari tadi dia bertanya padaku kau pulang jam berapa dan dia terus mengoceh bahwa dia sangat lapar. Dia sampai memintaku untuk mengantarkannya ke tempat kerjamu." Rey bergidik ngeri.   "Itu tugasmu, Rey. Kau yang harus menyingkirkan wanita itu dari hadapanku." Ethan mendecak sebal. "Hei, apakah dia tertidur?"   Rey menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, dia tertidur setelah aku membelikannya s**u cokelat hangat. Katanya, dia akan menunggumu datang dan dia yakin kau akan membawakan makanan untuknya." Mendengar hal itu, sontak Ethan mendengus keras. "Singkirkan wanita penuh khayalan itu, Rey. Sekarang."   Kemudian, bukannya masuk ke apartemennya, Ethan malam memilih kembali keluar dari gedung apartemen. Dirinya jengah terlalu lama melihat wanita itu, wanita berwajah Kattnes. •••   Claire sedang tertidur diatas sofa single empuk ini dengan kaki yang dia luruskan diatas meja marmer ini.   Tak peduli bahwa pada saat tidur, kaki Claire tanpa sengaja menendang vas bunga kecil yang bertabur kristal sampai pecah.   Tapi, walaupun begitu, tidak ada staff yang berani membangunkannya sama sekali. Mereka bersyukur karena Claire tertidur.   Setengah hari ini mereka lelah menghadapi wanita yang begitu cantik tetapi juga begitu gila seperti Claire.   Saking cantiknya, para pemilik apartemen yang kebanyakan pria yang datang dengan para wanita murahannya sampai melupakan w************n yang mereka bawa dan langsung mendekati Claire yang tetap tampil fashionable di saat musim dingin ini.   Para lelaki hidung bilang itu tak jarang langsung memeluk pinggang Claire, ataupun menggoda Claire dengan rayuan mereka. Tapi respon dari Claire? Claire langsung menggigit tangan pria-pria nakal yang berani menyentuh tubuh seksi-nya.   Dan hal itu membuat lobby apartemen ramai setiap tiga puluh menit dan membuat para staff kewalahan. Niatnya ingin mengusir Claire, tapi para staff laki-laki dan para security mau tak mau berhenti karena terpesona oleh rayuan maut Claire.   Sedangkan staff wanita, tidak jadi mengusir Claire karena Claire selalu memberikan mereka lipstick bermerk terkenal pada mereka semua yang hendak mengusir-nya.   Maka dari itu, mereka semua pasrah dengan apa yang akan dilakukan Claire sampai kemudian Claire terus merajuk lapar dan ingin segera bertemu dengan Ethan. Dan para staff bersyukur karena Claire sudah tertidur pulas di sofa berwarna merah menyala itu.   Sampai kemudian para staff kembali tegang ketika seorang lelaki kembali mendekati Claire. Berusaha membangunkan Claire dengan cara menempelkan plastik yang sepertinya berisi makanan berkuah panas ke pipi Claire.   "Aw!" Claire terlonjak dan langsung membuka matanya dengan tangan yang langsung mengusap pipi-nya yang seperti terselumut bara api. "Dasar! Tidak tau sopan san...tun"   Claire menyeringai tanpa rasa bersalah ketika mendapati pangerannya yang memiliki iris mata biru itu berdiri di hadapannya.   "Apakah kau bawa makanan? Aku lapar..." Rengek Claire sambil langsung memeluk Ethan dengan erat dan sampai membuat Ethan terlonjak kaget.   Ethan mendesah kesal seraya melepaskan pelukan Claire. Wajah Claire terlihat lemas dengan mata yang memerah karena lelah.   "Perjalanan dari masa depan pastilah membutuhkan banyak makanan untuk mengisi tubuhmu." Ethan mengangkat plastik putih itu. "Kau mau? Ini ramen."   "Aku mau!" Claire berdiri diatas sofa, membuat Ethan meringis malu sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.   "Diam." Ethan menunjuk Claire dan dengan patuhnya Claire juga diam. "Nah, tetap diam dan makan di Penthouse-ku. Setelah itu, kau harus benar-benar pergi dari hadapanku."   Claire hanya mengerutkan dahi-nya tapi kemudian tetap mengikuti langkah Ethan memasuki lift pribadi-nya. Dan tak lupa , Claire menjinjing semua tas belanjaannya yang bisa sampai sepuluh tas kertas dari merk ternama.   Ethan hanya diam sambil melirik claire yang berdiri di sampingnya dengan kerepotan.   Yang tanpa Ethan ketahui, Ethan menundukkan wajahnya dan kemudian tersenyum tipis, senang karena dapat melihat Claire yang menuruti ucapannya. Dan Ethan mungkin tertular gila, karena dia malah membelikan makanan dan mengajak Claire makan di penthouse-nya.   Entahlah, melihat Claire kelaparan dan kelelahan, Ethan seperti sama ketika melihat Kattnes kelelahan dan kelaparan.   Dan Ethan, tak akan membiarkan dia melihat ekspresi wajah sedih Kattnes pada wajah Claire.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN