Hari ini Agustin datang tepat waktu ke sekolah.
Dengan langkah yang ngos-ngosan dia akhirnya bisa sampai ke dalam kelas. Butuh perjuangan dan tenaga baginya untuk bisa sampai di kelas tercinta nya ini.
Sesampainya di sana dia langsung terkulai lemas di kursinya, tenaganya benar-benar sudah terkuras habis karna berlari-larian dari gerbang utama.
"Tumben lo ngga telat," sapa seseorang menepuk pundaknya.
"Lagi dapet hidayah gue hari ini, " sahut Agustin dengan asal.
"Ko, bukain gue minum dong, gue udah bener-bener ngga sanggup lagi rasanya ngeluarin tenaga untuk buka botol," lanjutnya, menyuruh orang yang bernama lengkap Nikolas Robert itu untuk membuka salah satu botol minuman yang berada di atas mejanya.
Di mejanya saat ini memang tersedia banyak botol minuman dan banyak cemilan serta bunga. Dia sudah tidak merasa aneh dengan hal ini sebab setiap pagi dia memang selalu mendapatkannya. Dan tentu saja Agustin akan dengan senang hati menghabiskan itu semua kecuali Bunganya, dia sama sekali tidak menyukai bunga karna itu tidak bisa di makan dan di jual alias sama sekali tidak menguntungkan baginya.
Pemikiran yang aneh bukan untuk kalangan gadis menengah ke atas seperti dirinya? tapi memang begitulah faktanya, karna bukan Agustin namanya jika dia tidak aneh.
Dia memiliki banyak penggemar di sekolah ini dan mereka semua selalu menyiapkan air minum di atas mejanya setiap pagi karna mereka sangat tau kalau paginya Agustin itu selalu di awali dengan ngos-ngosan.
Agustin bisa saja menebeng ke mobil orang yang berpapasan dengan nya, bahkan beberapa siswa sering menawarkan tebengan langsung kepada dirinya, tapi dia selalu menolak mereka semua. Dia merasa lebih nyaman berjalan kaki daripada menebeng mobil orang lain selain Niko yang telah dia kenal lama, dan tentu saja dia punya alasan tersendiri tentang hal itu.
"Nih," Niko menyodorkan kembali minuman yang telah dia buka ke hadapan Agustin.
"Makasih ko," ujar Agustin sambil menunjukkan senyum lebarnya sambil meneguk dengan rakus minuman tersebut.
"Cih, dasar anak bocah," ledek Niko yang melihat ekspresi menggemaskan Agustin itu.
"Ngga papa, artinya gue imut kalo kayak anak kecil mah," balas Agustin tidak perduli.
Niko terkekeh pelan mendengar jawaban yang selalu saja sama dari mulut Agustin setiap kali dia menyebutnya anak kecil.
Nama lengkapnya adalah Nikolas Robert, dia biasa di panggil dengan nama Niko oleh orang-orang sekitarnya, dan untuk sebagian orang mereka memanggilnya dengan nama Robert. Berumur 18 tahun dengan tinggi 180cm, memiliki mata dan rambut yang berwarna coklat muda, berkulit putih dan salah satu idola di Rajawali Hight School karna ketampanannya.
Dia adalah seorang kapten basket yang selalu sukses mengharumkan nama sekolah, dan tentu saja hal itu semakin menambah popularitas nya di kalangan para siswi wanita, entah itu dari dalam sekolahnya maupun luar sekolah.
Seorang anak blasteran antara Inggris dan Indonesia, ayahnya asli London-Inggris dan seorang pengusaha sukses di Indonesia. Perusahaan mereka masuk ke dalam jajaran 300 perusahaan terbaik dan terkaya di dunia. sedangkan ibunya yang merupakan keturunan Jawa-Indonesia asli adalah salah satu desainer ternama dunia, keluarga mereka adalah keluarga yang sangat sempurna jika di lihat dari segi finansial.
Niko dan Agustin telah berteman sejak kecil karna ayahnya Niko adalah sahabat dekat ayahnya Agustin. Sedangkan ibunya Niko juga adalah sahabat dekat ibunya Agustin, bahkan Orang tua Niko juga telah menganggap Agustin sebagai putri mereka sendiri, dan persahabatan antara kedua orang tua mereka tidak akan pernah berakhir meskipun salah satu di antara mereka telah tiada.
Karna, yang telah pergi sejatinya tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan kita, dia akan selalu ada di dalam hati kita selama kita masih mengingatnya. Dan keluarga Niko tidak pernah melupakan kedua orang tua Agustin sehingga mereka tidak pernah benar-benar berpisah, keduanya terus hidup di dalam kenangan indah yang telah mereka lalui bersama.
"Lo masih ngga ada niatan buat belajar naik mobil yah?" tanya Niko dengan hati-hati setelah mengambil posisi duduk di samping Agustin.
Agustin menggeleng sambil menunjukkan senyum yang terlihat sedikit di paksakannya, "lo tau sendiri kan kalo gue belum berani," jawabnya dengan suara pelan.
"Kayaknya gue harus jemput lo lagi deh kayak jaman SMP biar lo ngga ngos-ngosan kayak gini tiep pagi," tawarnya.
"Dan ngebuat gue jadi semakin telat karna kita berdua adalah dua spesies manusia yang ngga bisa bangun pagi, iya?" cerca Agustin.
"Dan lo tau ngga sih? yang lebih parahnya lagi nih yah, gue pasti bakalan dapet tatapan kebencian dari para pacar-pacar lo itu karna lo lebih milih buat jemput gue daripada mereka. Kalo itu mau lo maap gue udah capek di cap jadi tukang rebut pacar orang dan di salah fahamin! dan lagian gue bener-bener ngga ngerti sama jalan fikiran mereka. Kenapa mereka semua selucu itu? kenapa mereka selalu ngira kalo gue punya niatan untuk ngerebut lo dari mereka? padahal kan selera gue ngga serendah itu. Wajah lo masih di bawah kkm buat bisa masuk ke hati gue, jadinya mereka harusnya ngga perlu khawatirin itu," lanjutnya.
"Dan di atas itu semua, masih ada penderitaan terbangsat yang harus gue alamin. Saat gue coba buat ngelurusin kesalahpahaman ini dan bilang kalo lo bukan tipe gue, mereka semua bakalan ngamuk ke gue dengan alasan gue udah ngerendahin ketampanan lo, kan kurangajar! heran gue kadang sama mereka, maunya mereka itu apa sih sebenernya? gue yakin nih yah kalo semisal gue bilang gue suka sama wajah lo sama kayak mereka, pasti reaksi mereka bakalan beda lagi. Dan alasan mereka untuk ngebenci plus nyalahin gue karna lo lebih prioritasin gue daripada mereka pasti bakalan lain lagi. Bahkan gue bakalan semakin di cap sebagai perebut pacar orang sama mereka kalo semisal gue kasih jawaban yang kayak gitu!" Agustin malah berakhir meluapkan segala uneg-uneg yang dia miliki selama ini karna sering di tuduh sebagai penggoda oleh para fans nya Niko.
Niko menghela nafas mendengarnya, mendengar seseorang mengatakan kalau kita bukan tipe mereka dan wajah kita masih berada di bawah rata-rata untuk bisa memenangkan hatinya memang cukup sedikit Afgan rasanya, "Gue harus jadi setampan apa lagi sih Gus agar bisa masuk ke dalam kriteria cowok idaman lo, hmm? lagian nih yah, kalo semisal ketampanan gue meningkat bisa-bisa gue bakalan di bilang Maruk nanti sama semua orang karna menjadi terlalu tampan," balasnya, inilah salah satu persamaan mereka, yaitu sama-sama mengakui kalo diri mereka berdua tampan dan cantik.
Agustin langsung menyalakan hp nya dan menunjukkan foto wallpaper nya kepada Niko seperti biasanya, "harus jadi setampan, selucu, se imut, se tajir, dan bagus dia suaranya," jawab Agustin dengan jawaban yang selalu sama seperti biasanya.
Niko menghela nafasnya, "lagi-lagi gue di kalahin sama plastik," dengusnya yang langsung mendapat pukulan kencang di kepalanya dari Agustin.
"Sembarangan lo ngatain dia plastik! eh asal lo tau yah BTS gue tuh ngga ada yang oplas! mereka mukanya real! emang cakep sejak lahir! bahkan dunia udah ngakuin itu! mereka menjadi idol nomor satu yang sama sekali ngga ngelakuin oplas! jadi ngga usah sotoy deh! dasar tukang iri! bilang aja lo ngga bisa kayak mereka jadinya lo berakhir dengan meng-irikan my honey bunny sweatty oppa V dan para Hyung gue yang lainnya! eh kalo pengen kayak mereka tuh harusnya berjuang! dan kalo emang ngga mampu yaudah diem! ngga usah ngelek-jelekin!!!" delik Agustin tajam, di memang sangat sensitif jika menyangkut soal bias. Dan ada salah satu kebiasaan Agustin dalam memanggil para biasnya, yaitu kata oppa hanya berlaku untuk bias yang sangat dia cintai alias hanya berlaku kepada Kim Taehyung tercintanya itu, sedangkan untuk para member lain dia memanggil mereka dengan sebutan Hyung yang artinya dia hanya menganggap mereka sebagai kakak dan idola, tidak lebih.
Seisi kelas sontak langsung menatap ke arah mereka. Ini sudah biasa terjadi, tapi tetap saja hal ini selalu sukses menjadi tontonan mencengangkan bagi para siswa-siswi. Karna sangat jarang rasanya bagi mereka untuk melihat perempuan yang memiliki kecantikan di atas rata-rata mengamuk kepada laki-laki yang ketampanannya sederajat dengan perempuan itu.
"Iya-iya maaf, gue salah karna udah ngata-ngatain bias kesayangan lo itu, tapi bisa ngga sih lo ngga usah ngelakuin kekerasan fisik ke gue di hadapan banyak orang kayak gini? wibawa gue bisa turun nanti di mata mereka!" protes Niko yang selalu mendapatkan kekerasan saat bersama Agustin dimana pun mereka berada.
"Halah persetan dengan wibawa, lo bikin gue kesel atau ngehina bias gue kelar lo gue bikin!" balas Agustin yang sama sekali tidak memperdulikan keluhan Niko tersebut.
"Dasar setan berwajah malaikat!" dengus Niko.
"Dan Lo adalah setan yang benar-benar berwajah setan ko," balas Agustin.
"Sialan lo!" maki Niko kemudian mereka berdua tertawa bersama setelah saling menghina satu sama lain.