Di lain tempat terlihat seorang pemuda di usia pertengahan dua puluhan sedang keluar dari sebuah mobil sport mewah di depan salah satu perusahaan ternama dunia dan Indonesia.
Seluruh mata tertuju padanya, apalagi para wanita. Mereka seperti di hipnotis rasanya karna begitu melihat wajah pemuda itu mereka benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan mereka meski hanya sedetik darinya.
Semua wanita yang melihatnya selalu menatapnya dengan tatapan lapar, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mencoba merayunya secara terang-terangan. Akan tetapi meskipun begitu dia tidak pernah sekalipun merasa tertarik untuk menanggapi para wanita yang di anggapnya murahan itu.
Dia adalah Agustian Bryan Richard, orang-orang akrab memanggilnya dengan nama Bryan dan orang-orang terdekat nya memanggilnya dengan nama Agus. Dia adalah seorang pengusaha muda yang kaya raya dan juga seorang pewaris tahta perusahaan ternama milik keluarganya, lelaki tampan yang dingin namun bisa membuat gadis manapun meleleh saat melihat nya.
Tingkahnya yang arogan dan dingin membuat gadis-gadis tertantang untuk memiliki nya. Tapi sayang, sejauh ini belum ada satupun dari mereka yang mampu mencairkan kebeku-an di dalam hatinya.
Dia memang tidak suka berurusan dengan wanita, bahkan dia terkesan membencinya. Tapi bukan berarti dia tidak punya hasrat kepada mereka alias dia bukan gay, sama sekali bukan. Dia punya alasan tersendiri kenapa bersikap sedingin dan se benci itu kepada makhluk yang bernama wanita, sehingga sejak dia lahir sampai sekarang dia sama sekali belum pernah berpacaran atau berhubungan dengan wanita manapun. Bahkan dia belum pernah berciuman.
Jika pengusaha muda lain memiliki hobby untuk mengunjungi club malam dimana disana mereka banyak menyediakan wanita penghibur kelas atas, dan juga alkohol terbaik, berbeda dengan Bryan, dia sama sekali tidak suka tempat ramai semacam itu.
Dia adalah tipikal laki-laki yang menyukai ketenangan, sehingga waktu luangnya hanya dia habiskan di dalam kamar sambil membaca buku. Kadang, jika dia merasa bosan dengan hal itu dia akan beralih ke depan televisi untuk menonton beberapa film yang dia suka.
Bryan juga suka bertraveling ke alam, entah itu ke lautan untuk memancing atau pergi ke pegunungan. Dan tentu saja, dia melakukan semua perjalanan itu sendirian.
Terlihat monoton memang, tapi asal tau saja, dia sangat merasa bahagia dengan kehidupan monoton yang dia jalani itu.
Banyak orang yang menganggapnya gay karna dia tidak pernah terlihat berhubungan dengan wanita dan selalu menolak mereka, sehingga para lelaki pun kadang mencoba mendekatinya karna mempercayai rumor tersebut.
Bryan sama sekali tidak mau memperdulikan rumor yang menyebar tentang dirinya itu, dia mengabaikan semua rumor tentang dirinya, karna menurutnya hal itu sama sekali tidak berguna dan yang menggosipkan nya pun tidak pernah berbicara secara langsung dan terang-terangan kepadanya. Jadi lantas kenapa dia harus menanggapi para pengecut seperti itu? itulah yang ada di dalam fikiran Bryan saat mendengar banyak rumor yang sama sekali tidak benar tentangnya.
Dia berjalan masuk ke dalam perusahaannya, walau banyak yang mengiranya seorang Gay, para wanita sejengkal pun tidak pernah mundur untuk mendapatkan nya atau berhenti menganguminya. Menurut mereka Bryan adalah perwujudan iblis berwajah malaikat yang sebenarnya, dimana dia memiliki wajah yang mampu membuat orang-orang terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari dirinya, dan di sisi lain dia adalah laki-laki dingin yang sering kali tidak punya perasaan dan juga kejam kepada para musuh-musuh nya.
Dengan wajah datar dan dingin yang selalu di tunjukkannya setiap hari, Bryan berjalan melewati lobby perusahaannya.
Dan seperti biasanya, tidak ada satu wanita pun yang bisa mengalihkan pandangan mereka dari dirinya.
"Jangankan jadi kekasih, jadi one night stand si pak boss aja gue udah seneng!" pekik seorang karyawan dengan wajah rupawan dan bibir merah menggodanya kepada orang di sampingnya saat melihat Bryan berjalan melewatinya.
Bryan yang tidak sengaja mendengar itu langsung berhenti. Terlihat jelas karyawannya itu sedang mencoba menggoda nya. Buktinya saat dia masuk kancing baju bagian atas wanita itu terbuka sampai memperlihatkan belahan dadanya, dan dia dengan lancang menatap Bryan dengan tatapan menggodanya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Saya tidak keberatan kamu mau berdandan seperti apa saat datang ke kantor, tapi tolong jaga etika. Saya tidak menganggap wanita berpakaian terbuka dengan berbibir merah itu buruk, karna saya percaya moral dan seseorang itu tidak dapat dinilai hanya dari cara berpakaiannya saja. Jadi jangan buat saya merasa kalau penilaian saya itu salah, kamu di sini itu untuk bekerja, bukan untuk menggoda atasan seperti saya, paham?!" delik Bryan dengan dingin.
Dia memang sering membiarkan para w*************a melakukan aksinya, tapi sesekali Bryan sama sekali tidak bisa membiarkan para karyawannya melakukan hal semacam itu di perusahaannya ini.
Karyawan yang dia omeli itu bukannya merasa takut dan menunduk malah terlihat seperti menantang Bryan.
"Maaf jika saya membuat bapak salah faham. Tapi sebelum itu boleh saya tau bapak salah faham karna apa? apa karna pakaian saya? bibir merah saya? atau mungkin wajah saya?" sahut wanita itu.
"Jika ini semua adalah karna cara berpakaian saya, saya rasa bapak tidak boleh memprotes karna bapak sendiri yang membolehkan para karyawan untuk memakai pakaian apapun yang mereka sukai. Dan begitu juga dengan dandanan saya. Bapak memberi kami kebebasan dalam berpenampilan," lanjutnya.
"Pasti dia karyawan baru yang ngira kalo pak Bryan itu kayak tokoh-tokoh fiksi di dalam buku dan film, di mana si dingin akan jatuh cinta ke wanita yang punya karakter tangguh dan pembangkang," bisik salah satu karyawan ke karyawan lainnya.
"Bener banget. Cara dia terlalu klasik dan dari mana dia dapat kepercayadirian itu? dasar anak baru, dia pasti ngira kalo wajah cantiknya itu bakalan berhasil luluhin pak Boss," sahut temannya.
Seketika orang-orang yang ada disana langsung berbisik-bisik untuk membicarakan mereka.
Bryan terdiam, dia tidak memiliki bukti nyata untuk melawan wanita itu dan dia sedang di kejar waktu saat ini.
Sekilas dia melihat nametag Karyawan tersebut, "Historia yui, kalau memang begitu saya minta maaf karna telah salah faham. Tapi lain kali kebiasaan menggigit bibir bawah dan menatap orang dengan tatapan wanita penggodanya tolong dihilangkan jika sedang berada di kantor," jawab Bryan dengan wajah datarnya seraya melanjutkan langkah.
Tapi, baru satu langkah dia pergi, Bryan kembali berhenti, "ahh... dan satu lagi, saya rasa AC di ruangan ini sangat berfungsi dengan baik, jadi anda tidak perlu membuka kancing atas anda dengan sengaja. Dan kali ini saya tidak salah faham akan hal itu karna tadi saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, jika anda masih mencoba menyangkal kita bisa cek CCTV, dan komentar anda barusan benar-benar sangat tidak pantas rasanya untuk seseorang yang statusnya di terima di perusahaan saya. Orang-orang di sini itu terhormat, mereka terpelajar, jadi jangan kotori perusahaan saya dengan komentar semacam itu di sini. Jika ingin, silahkan melakukannya di luar tanpa menggunakan id card perusahaan di leher anda," lanjutnya.
"Saya menantikan progres dari kamu di perusahaan saya, dan terima kasih karna berkat kamu sepertinya saya harus merevisi peraturan perusahaan tentang bagaimana cara berpakaian," Bryan mengakhiri perkataannya dan pergi dari sana dengan aura dinginnya.
Karyawan bernama historia itu terdiam, dia tau mendekati Bryan itu tidak mudah dan dia sudah menyiapkan banyak rencana untuk menggaetnya, termasuk dengan tingkahnya tadi. Tapi dia tidak menyangka kalau akan sesusah ini.
Para targetnya selama ini selalu sukses dia taklukkan dengan cara-cara semacam ini, jadi dia benar-benar merasa percaya diri saat beradu argumen dengan Bryan.
"Wake up to reality Historia! jangan harapkan kisah CEO tampan nan kaya raya jatuh cinta ke karyawannya di perusahaan ini. Sekalinya pun itu kejadian, jangan berharap kalo orangnya itu adalah lo," cerca salah satu karyawan kepada Historia.
"Dia kira dia keren karna udah ngelawan argumen pak Bryan, padahal faktanya dia keliatan bodoh di mata orang-orang yang ngeliat. Keliatan jelas soalnya kalo dia lagi nyoba buat nge goda si boss tadi."
" Kebebasan berpenampilan emang dibolehin di perusahaan ini, tapi baru kali ini gue ngeliat ada cewek yang dateng kerja ke kantor pake lipstik merah dan baju ngetat, gue kira hal itu adanya di film-film kantoran dengan tema karyawan penggoda doang," timpal yang lainnya.
Salah satu fakta perusahaan ini, orang-orang di dalamnya memiliki mulut yang tajam dan tidak akan segan-segan mengkritik seseorang secara langsung.
Historia yang pada awalnya memiliki tingkat kepercayadirian yang tinggi kini menjadi malu sendiri karna ulahnya.
Bryan masuk ke dalam lift khusus dimana hanya dia saja yang boleh dan dapat menggunakan lift tersebut.
Setelah menekan tombol ke arah tujuannya, pintu lift pun tertutup. dia hanya seorang diri di dalamnya dan selalu seperti itu di setiap hari nya.
Bryan memejamkan mata, mencoba menikmati suasana tersebut sembari menunggu pintu lift terbuka kembali. Dia sangat suka ini. Tenang dan damai.
Setelah beberapa menit dia berada di dalam, pintu lift pun terbuka kembali dan menunjukkan meja sekretaris nya yang berada tepat 6 meter dari lift.
Hanya ada mereka berdua di lantai ini.
Si sekretaris yang tadinya sedang duduk langsung bangkit dari kursinya setelah melihat sosok Bryan, "pagi pak," sapa sekretaris itu sambil tersenyum lebar ke arahnya.
Bryan sama sekali tidak menanggapinya, dia terus saja berjalan lurus dengan wajah datarnya menuju ke arah ruangannya.
Mereka memang tidak terlalu banyak bicara, keduanya hanya berinteraksi seperlunya dan berbicara secukupnya.
Dan dari semua karyawan yang ada di perusahaan ini, pekerjaan sekretaris lah yang paling mengalami tekanan batin. Sebab dia harus menghadapi Bryan secara langsung beserta aura mengintimidasinya. Di tambah dia harus menghadapi ke-3 teman Bryan yang suka berkunjung ke kantor dan memiliki sifat yang berbeda satu sama lain. Dia pulalah yang harus mengurus segala jadwal Bryan, dan dia tidak boleh melakukan kesalahan lebih dari 3 kali. Sekecil apapun kesalahannya, jika sudah terjadi 3 kali maka siap-siap saja menerima surat pemecatan.
Banyak yang merasa kasihan kepada sekretarisnya, dan ada banyak pula gadis yang ingin berada di posisi tersebut. Bahkan meskipun mereka tau kalau konsekuensi dari posisi itu harus menghadapi boss yang super duper dingin dan kejam seperti Bryan. Mereka sama sekali tidak perduli. Alasannya pasaran, yaitu sebagian dari mereka terlalu banyak membaca cerita romance dimana CEO tampan yang kaya raya dan berhati dingin jatuh cinta kepada sekretaris nya dan mereka berdua hidup bahagia selamanya.
Mereka tidak tahu saja kalau kenyataan terkadang benar-benar berbanding terbalik dengan ekspektasi yang ada. Karna jangankan memiliki kisah romance bersama Bryan, mendapat balasan ucapan selamat pagi darinya saja pun itu sudah terasa sangat mustahil bagi sekretaris nya.
Dan sejauh ini tidak ada satupun sekretaris Bryan yang tidak membutuhkan seorang psikolog. Sekali sebulan mereka harus chek up ke psikiater karna tekanan serta aura yang laki-laki itu beri dan keluarkan terasa sangat merusak kejiwaan.
Tapi meskipun begitu, sulit rasanya bagi para sekretaris nya untuk meninggalkan jabatan tersebut mengingat seberapa menggiurkannya gaji yang mereka terima setiap bulannya. Di tambah mereka juga dapat melihat wajah Bryan dari jarak yang dekat setiap harinya. Itu adalah nilai plus dari jabatan ini.
Bryan memang boss yang kejam dan dingin tapi dia bukanlah boss yang jahat, dia selalu membayar seluruh karyawan nya dengan nominal yang fantastis, namun tentu saja dengan tuntutan bahwa seluruh karyawan harus bekerja dengan baik dan benar di posisinya masing-masing.
Dan jika mereka tidak bisa melakukannya, mereka akan langsung di keluarkan. Dan Bryan juga tidak pernah membiarkan karyawannya lembur. Karna baginya ke disiplinan waktu itu sangatlah penting, sehingga tidak pernah ada jam lembur di perusahaannya. Setiap jam pulang ruang kantor sudah harus selalu kosong. Jikapun harus ada yang lembur maka itu adalah para atasan perusahaan termasuk dirinya, karna mereka adalah kepala dan otak perusaahan dan itu sangat jarang sekali terjadi.
Menjadi karyawan di perusahaan nya ini sangatlah sulit, dan dia juga tidak memperdulikan pendidikan. Yang dia perdulikan hanyalah kemampuan, sebab menurutnya sekolah tinggi tidak akan bisa menjamin otak menjadi tinggi juga, kadang ada orang yang tidak mampu sekolah namun punya skill hebat dan orang seperti itulah yang Bryan cari.
Jika ingin masuk ke perusahaan, kita harus bisa fasih berbahasa inggris untuk semua posisi kecuali OB, dan untuk test masuk mereka akan langsung mengadakan praktek langsung di depan komputer dengan materi-materi yang tentu dibuat sangat sulit untuk menguji para pelamar. Biasanya dari 1000 pelamar yang lolos hanya akan 10 orangan, bahkan kadang ada yang lolos lebih sedikit dari itu.
Bryan duduk di kursinya setelah sampai ke dalam ruangannya yang berada di lantai paling atas bangunan ini.
Saat dia mulai menyalakan komputer nya, terdengar suara ketukan di pintunya yang menandakan ada seseorang yang mencoba untuk masuk.
Dia diam tidak menjawab, pandangannya terus fokus ke arah layar komputer yang baru saja dinyalakannya.
Orang yang mengetuk pintu itupun masuk meskipun belum mendapat izin darinya karna hal itu memang tidak di perlukan. Setiap orang yang ingin masuk hanya perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Pak, tadi saya dapat email dari klien, katanya dia ingin mengadakan meeting untuk membahas kerja sama siang nanti," terang si sekretaris.
"Kirim ke saya rinciannya," jawab Bryan.
Sekretaris nya mengangguk, "Baik pak."
Setelah mengatakannya dia langsung pamit undur diri.
Percakapan mereka memang selalu hanya sebatas ini, sekretaris nya datang untuk mengkonfirmasi jadwalnya dan selebihnya mereka akan berinteraksi lewat sss.