Ayah dan anak

2067 Kata
Setelah beberapa jam berkutat dengan serius bersama komputernya, Bryan keluar dari dalam perusahan. Dan seperti saat dia masuk tadi, semua orang yang melihatnya tidak bisa memalingkan pandangan dari dirinya. Jeratan visual Bryan memanglah sangat mematikan. Dia mampu menghipnotis banyak wanita hanya dengan melewati mereka. Bryan menatap sekilas ke tempat di mana Historia tadi pagi berdiri, dan sekarang dia sudah tidak menemukan sosok gadis itu di sana. Bryan yakin dia pasti telah mengundurkan diri karna malu dan tidak kuasa mendengar nyinyiran para karyawannya yang lain. Dan sejujurnya tebakan Bryan itu benar. Historia memang langsung melengos pergi dari perusahaan karna merasa tidak kuat mendengar komentar-komentar pedas dari para rekan-rekan kerjanya. "Akhirnya satu hama berkurang di perusahaan ini," batin Bryan seraya menunjukkan sedikit smirk dan tatapan devilnya tanpa sadar. Sebenarnya ada alasan lain kenapa Bryan menegur Historia tadi pagi, yaitu karna wanita itu sejujurnya bukanlah bagian dari perusahaan nya, jadi dia harus mengusirnya secara halus dengan membuat Historia sendiri yang memilih pergi dari perusahaan ini lewat karyawan-karyawan tercintanya. Historia Yui, dia adalah anak salah satu konglomerat di Indonesia. Wajahnya tersembunyi dari publik selama ini karna dia belajar di luar negeri dan menyembunyikan identitasnya. Sebulan setelah kembali ke tanah air dia meminta kepada ayahnya untuk mencarikan koneksi di perusahaan Bryan agar dia bisa menjadi karyawan di sana dan menggaet Bryan ke pelukannya. Sejujurnya Bryan tidak terlalu mengenal Historia, dia pertama kali melihat gadis itu lewat sebuah foto yang di tunjukkan oleh ayahnya Historia yang notabenya salah satu rekan kerjanya. Beliau ingin menjodohkan mereka berdua tapi Bryan menolak mentah-mentah hal tersebut. Bryan kira mereka sudah menyerah, tapi saat dia melihat sosok Historia yang asli di perusahaannya, barulah Bryan menyadari kalau dia salah. Keluarga itu masih terus berusaha untuk menikahkan dirinya dengan putri mereka. Dan tentu saja Bryan tidak akan hanya tinggal diam dan menyaksikan. Dia perlu memberi efek jera kepada mereka agar mereka berhenti mendambakan dirinya beserta harta yang dia punya. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Bryan pun sampai ke mobilnya. Sambil mendengarkan musik klasik kesukaannya dia melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, saat ini jalanan kota Jakarta memang cukup legang, jadi dia merasa bebas untuk mengebut sesukanya. Sejujurnya Bryan merasa sangat malas untuk keluar. Tapi, karna dia sudah terlanjur memiliki janji temu dengan salah satu klien yang sangat penting bagi perusahaan, dia terpaksa melakukannya. Bryan menghela nafasnya setelah sampai di depan sebuah restoran ternama di Jakarta. Disini lah dia akan bertemu dengan rekan bisnisnya. "Mari selesaikan ini dengan cepat," gumamnya kepada diri sendiri seraya keluar dari dalam mobil. Sejujurnya, jika bukan karna proyek ini sangat penting dan sangat menguntungkan bagi perusahaan mereka, dia tidak akan pernah mau menemui orang yang akan dia temui di dalam nanti. Dengan langkah yang terasa berat Bryan masuk ke dalam. Dan seperti biasa, semua wanita yang ada disana tidak bisa mengalihkan pandangan dari dirinya. Saat dia masuk, sudah ada pegawai yang menunggunya di depan kasir dan menuntun Bryan ke salah satu ruangan yang ada di sana. Bryan menurut saja, dia masuk ke dalam ruangan yang di tunjuk dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. "Bryan, Kenapa kamu se-kaku ini sama ayah sendiri?" ujar orang yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Orang yang akan dia temui untuk urusan bisnis memanglah ayah kandungnya. "Ayah? maaf, tapi alasan saya datang ke sini itu untuk bertemu dengan klien saya, bukan dengan ayah saya. Jadi tolong sadari posisi anda dan tolong bersikap profesional bapak Edward yang terhormat," sahut Bryan dengan dingin dan penuh penekanan. Beliau menghela nafas, hatinya terasa sakit mendengarnya, "Maaf karna sudah lancang terbawa suasana di pertemuan kita ini, saya pasti sudah semakin tua sehingga melupakan sejenak jenis hubungan apa yang kita miliki. Untuk kedepannya saya akan bersikap lebih profesional lagi. Tidak seharusnya saya bersikap seperti seorang ayah di saat alasan kita bertemu adalah sebagai rekan bisnis," jawab beliau dengan raut kecewa dan terluka di wajahnya. "Memang seharusnya seperti itu. Dan karna anda terlihat sudah menyesali perbuatan anda, kali ini saya akan memaafkannya, tapi jika lain kali anda bersikap seperti tadi, tidak akan ada lagi kata maaf untuk anda," jawab Bryan yang masih setia dengan ekspresi datar dan dinginnya. Dia benar-benar merasa muak melihat wajah ayah yang sangat dia benci. "Terima kasih karna sudah memakluminya, usia saya sudah tua. Jadi saya sering menjadi bingung," beliau mencoba memaksakan senyumannya. Mata Bryan semakin menajam dan raut kebencian terlihat jelas di wajahnya saat melihat senyuman beliau, "Dalam urusan bisnis, tua tidak bisa di jadikan alasan untuk sebuah kesalahan. Jika anda merasa sudah tidak mampu lagi bersikap profesional, saya sarankan anda untuk mundur dari posisi anda. Itu adalah jalan yang terbaik yang bisa anda ambil sebelum anda menghancurkan perusahaan anda di masa depan karena masalah faktor usia," jawabnya. Senyuman itu belum hilang dari wqjah ayahnya, "Saya masih merasa mampu untuk memimpin. Tapi jika semisal anak saya mau mengambil alih perusahaan dan membiarkan ayahnya ini untuk beristirahat dengan tenang maka saya akan dengan senang hati untuk mundur. Terima kasih karna sudah perduli." Bryan terdiam mendengarnya dan bersikap seolah tuli. Dia merasa enggan untuk menjawab dan melanjutkan pembahasan ini. Suasana hening tercipta selama beberapa saat di antara mereka. "Saya sudah melihat proposal yang anda ajukan dan saya merasa cukup tertarik akan hal itu, tawaran yang anda berikan terasa sangat menguntungkan bagi perusahaan kami, jadi saya memutuskan untuk menyetujuinya terlepas dari seburuk apa hubungan yang kita miliki," ujar Bryan membuka obrolan kembali dan mengubah topik pembicaraan. "Saya memang sengaja melakukan hal itu agar bisa bekerja sama dengan perusahaan yang kamu pimpin," ayahnya terkekeh saat mengatakan hal itu. "Jadi kapan kita bisa mulai bekerja sama?" tanya Bryan to the point, dia sama sekali tidak perduli dengan alasan apa yang ayahnya punya. "Secepatnya, saya sudah menyiapkan kontrak untuk kerja sama ini dan sekretaris saya sudah terlebih dahulu mengirimkannya dalam bentuk email, jadi saya rasa kamu sudah membacanya sebelum datang kesini. "Ya, saya sudah membacanya jadi mari kita segera langsung tanda tangan saja," jawab Bryan. Terlihat jelas kalau dia tidak ingin berlama-lama dengan ayahnya. Ayahnya mengambil kontrak yang mereka bicarakan dari dalam tas yang dia bawa. Harusnya beliau tidak perlu melakukan hal semacam ini karna para bawahannya dapat melakukannya. Beliau seharusnya hanya berduduk santai di kursinya dan menikmati hasil kerja dari para bawahan terpercaya nya. Tapi, karna beliau merasa sangat ingin bertemu dengan putranya, dia terpaksa melakukan semua ini. Sebab Bryan tidak akan pernah mau menemuinya jika dia tidak memberikan kesepakatan yang bagus seperti yang dia lakukan saat ini. "Ayah ingin pensiun dan ayah ingin kamu yang mengelola perusahaan ayah", ujar ayahnya tiba-tiba saat Bryan hendak menandatangani kontrak yang sedang dia pegang. Untuk sesaat Bryan hanya diam dan fokus kepada kontrak yang ada di tangannya, setelah dia menandatanginya barulah dia menatap ke arah ayah yang sangat tidak di cintai nya tersebut. "Saya tidak butuh perusahaan besar yang anda miliki karna saya sudah memiliki hal yang semacam itu," tolaknya dengan dingin. "Tidak bisakah kita mulai memperbaiki hubungan yang sudah retak selama puluhan tahun?" lirih ayahnya, tidak ada seorangpun selama ini yang pernah mendengar beliau berbicara dengan nada seperti itu. Bryan langsung bangkit dari duduknya, berniat pergi dari sini karna dia merasa sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi. Tapi, saat dia sudah mencapai pintu, langkahnya terhenti. "Hubungan yang kita miliki sudah putus dan hancur sejak mama pergi! jadi berhenti bersikap seolah-olah kita memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan bisnis!" deliknya tajam dengan suara yang lagi-lagi dingin kemudian pergi dari sana meninggalkan ayahnya yang menatap pilu kepergiannya. Ini semua terjadi karna salah ayahnya, hubungan mereka hancur seperti ini karna ulah beliau, dan beliau dengan sangat jelas mengakui hal tersebut. Sekarang beliau menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan, tapi sayang semuanya sudah terlambat. Rasa benci Bryan sudah terlampau besar untuk memaafkannya. Ayahnya sudah mencoba memperbaikinya sejak belasan tahun yang lalu, tapi rupanya luka di hati Bryan terlalu besar sehingga beliau tidak pernah berhasil akan hal itu, ini adalah salah satu kegagalan terbesar dalam hidupnya, tidak dapat membawa anaknya pulang kembali ke rumah yang seharusnya mereka tinggali bersama. Bryan berjalan keluar dengan ekspresi yang tidak dapat dibaca di wajahnya, sesampainya di dalam mobil dia menempelkan keningnya di setir kemudian menutup mata, ini adalah hal yang selalu dia lakukan saat merasa sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan di lain tempat sekolah Agustin telah membunyikan bel terakhirnya yang menandakan kalau pelajaran telah berakhir dan para siswa sudah boleh pulang ke rumahnya masing-masing. Dan tentu saja hal itu membuat Agustin merasa sangat kegirangan seperti biasanya. Karna bel yang paling dia tunggu dan sukai hanya dua, yaitu saat bel istirahat dan juga saat bel pulang berbunyi. "Hey Gus, kali ini mau ikut kita ke clubing ngga?" Ajak salah satu teman kelasnya, dia tidak begitu dekat dengan mereka tapi mereka selalu mendekatinya dan dia yakin mereka punya maksud tertentu dalam hal itu. Agustin langsung menunjukkan senyum palsu yang biasa dia tunjukkan, "maaf yah tapi neneknya tetangga gue lagi lahiran, dan gue sebagai tetangga yang baik dan ramah harus pergi nengok beliau. Jadinya gue ngga bisa ikut kalian. Sekali lagi gue minta maaf yah, padahal kalian udah berbaik hati ngajakin gue pergi main, dan jujur gue juga pengen banget pergi main sama kalian. Tapi gimana yah? gue bener-bener ngga bisa. Neneknya tetangga gue yang lagi lahiran lebih penting dari kalian," tolaknya dengan alasan yang nyeleneh. Mereka semua tertawa garing mendengar alasan konyol yang di berikan Agustin tersebut. "Haha, iya ngga papa kok Gus, kita bisa pergi main bareng lain kali, titip salam yah sama neneknya tetangga lo. Dan tolong bilang ke beliau kalo dia hebat. Udah nenek-nenek tapi masih kuat buat lahirin anak," sahut salah satu dari mereka. "Iya, pasti bakalan gue sampein kok," balas Agustin. "Yaudah kita pergi dulu yah, bye," pamit mereka. "Iya, have fun ya guys!" "Dasar cewek sombong, mentang-mentang dia yang paling populer di sekolah ini, dia jadi seenaknya nolak ajakan kita!" gumam mereka saat sudah jauh dari Agustin. Tapi meskipun begitu, Agustin tetap bisa mendengar gerutuan mereka. "Dasar kaum peng iri bermuka dua! depan gue tersenyum manis di belakang gue malah ngata-ngatain!" gumam Agustin, berbicara kepada dirinya sendiri. "Lo kenapa sih ngga pernah mau ke tempat gituan?" tanya Niko menghampiri meja Agustin. Dia mendengar sedikit obrolan mereka tadi. "Males, disana sumpek, gelap, berisik, dan gue ngga suka." "Bukannya lo suka keramaian ya?" "Tapi gue ngga suka sama tempat semacam itu." "Aneh lo." "Lo bego yang aneh, orang ngga suka clubing di bilang aneh, kan g****k!" delik Agustin. "Ya seenggaknya kalo ngga suka, kasih alasan yang logis kek." "Eh alasan neneknya tetangga gue ngelahirin tuh logis woy! emangnya ngga boleh yah kalo nenek-nenek ngelahirin, hmm?! perasaan ngga ada pasal dan hukum yang ngelarangnya tuh!" "Iya-iya, serah lo deh, suka-suka lo! lagian kapan sih cowok pernah menang kalo adu debat sama cewek? apalagi kalo ceweknya itu lo. Buang-buang tenaga doang tau ngga karna endingnya udah pasti berujung kekalahan." "Nah itu lo tau, dan karna lo udah tau hal itu, dimohon untuk berhenti ngebuang-buang waktu lo dengan berdebat sama gue, karna itu sama sekali ngga guna," Agustin menepuk pundak Niko saat mengatakannya. "Lain kali gue ngga akan ngelakuin hal itu lagi, gue bakalan cari hal lain yang lebih bermanfaat buat ngebuang-buang waktu gue daripada berdebat sama lo." "Sipp," Agustin mengacungkan jempolnya. "Oiya, terus abis ini lo mau pergi kemana? Beneran pulang nengok neneknya tetangga lo yang lahiran atau gimana?" tanya Niko. "Ya ngga lah! yakali. Lagian tetangganya gue udah ngga punya nenek kali, jadi gimana bisa lahiran coba?" "Terus, kalo gitu lo mau pergi kemana?" "Gue mau nemuin seseorang, eh dua orang deh bukan satu, dan mereka berdua sangat spesial buat gue," jawab Agustin dengan senyuman yang tiba-tiba merekah di wajahnya. "2 orang yang spesial? Siapa?" tanya Niko dengan bingung pada awalnya, tapi setelah itu dia langsung mengerti akan maksud perkataan Agustin tersebut, "Tapi kok tumben lo kesana? mau gue temenin?" lanjutnya seraya menawarkan diri. Agustin menggeleng, "Ngga perlu, gue bisa pergi sendiri naik ojek online dari sini, dan lagian emangnya kenapa, hah?! ngga boleh boleh gue ketemu mereka?! Kenapa lo bilang tumben?! gue kan ngga jarang nemuin mereka! lo nya aja yang ngga tau!" delik Agustin lagi, mengomelinya. "Iya-iya maap, gue yang salah, maapin gue", Niko langsung meminta maaf, dia tidak mau memperpanjang perdebatannya dengan Agustin karna pemenang dari perdebatan mereka ini sudah dapat terlihat dengan sangat jelas. "Yaudah gue cabut dulu, keburu sore ntar. Kan gue kudu olahraga dulu buat bisa sampe ke depan gerbang, bye...," Agustin langsung pergi dari sana sambil berlari seperti biasanya karna untuk bisa keluar dari sekolahan mereka memang sama capeknya seperti saat dia masuk ke dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN