"Makasih bang," ujar Agustin kepada mamang ojek online yang dia pesan setelah sampai ke tempat tujuannya.
Dia memang lebih merasa nyaman naik motor daripada naik mobil karna suatu alasan.
Dengan helaan nafas besar serta bunga yang tadi sempat dia beli di jalan saat hendak kemari di tangannya, dia berjalan masuk ke area yang bertuliskan Pemakaman di depan gerbangnya.
Satu persatu dia susuri jalan makam tersebut hingga akhirnya sampai lah dia di depan kedua makam orang yang sangat dia sayangi namun telah lebih dulu pergi meninggalkan diri nya.
Agustin langsung mencoba memaksakan senyum lebarnya setelah sampai di depan kedua makam tersebut. Dia tidak mau kalau sampai mereka melihat nya menangis.
Dan oleh sebab itu, dia harus dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak ada yang keluar tanpa permisi dari dalam sarangnya.
Kedua makam tersebut adalah milik kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Tapi meskipun telah bertahun-tahun mereka pergi, entah kenapa Agustin masih saja belum bisa merelakannya. Dan tentu saja tidak ada yang tau akan hal tersebut termasuk om dan tantenya. Karna Agustin memang sangat pintar dalam menyembunyikan kesedihannya.
Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri. Dan setelah dia sudah sedikit bisa mengendalikan perasaanya, diapun berjongkok di antara kedua makam tersebut.
"Hi mom, hi dad, maaf yah kalo akhir-akhir ini Agus jarang ngunjungin kalian, Agus banyak tugas banget soalnya di sekolahan. tapi Agus janji deh, kalo mulai sekarang Agus bakalan sering-sering lagi dateng kesini kayak dulu, cuman....," Perkataannya tiba-tiba saja terhenti, sekuat apapun dia mencoba menahan perasaannya, tetap saja dadanya perlahan menjadi sesak karna tidak bisa menampung semua kesedihan yang dia rasakan saat ini.
Dia begitu merindukan mereka yang telah lama pergi. Dan kenangan demi kenangan dengan kurang ajarnya mengambil alih fikirannya dan memutar semua moment-moment indah yang dia lalui bersama mereka di dalam kepalanya seperti kaset rusak.
Air matanya pun perlahan menetes tanpa sadar, nafasnya tersengal dan dadanya masih sangat terasa sesak saat ini.
Dengan kasar dia mengusap setiap air mata yang berjatuhan di pipinya, berharap hal tersebut mampu menghentikan mereka. Tapi sayang, semakin dia mengusap air matanya dengan kasar, semakin deras pula air mata yang keluar dari dalam sarangnya.
"Cuman..., cuman Agus masih aja ngerasa ngga kuat nahan air mata Agus kalo ketemu sama kalian," dengan air mata yang masih terus berhamburan keluar dari dalam sarangnya, Agustin mencoba tersenyum. Hatinya terasa sangat pilu saat berbicara dengan kedua makam tersebut.
Kadang Agustin suka merasa iri kepada orang-orang yang memiliki keluarga yang utuh, dia iri kepada mereka yang memiliki seseorang yang bisa dipanggil dengan sebutan ibu dan ayah. Dia merasa sangat iri, dan saat perasaan itu timbul di dalam hatinya, dia akan mulai membenci dirinya sendiri sampai perasaan tersebut menghilang dengan sendirinya.
Agustin tau dia terkesan tidak tau diri, dia memiliki om dan tante yang sangat menyayanginya dan memberikannya kasih sayang yang berlimpah, mereka mencukupi segala kebutuhannya entah itu dari segi emosional maupun materi layaknya ibu dan ayah pada umumnya. Mereka mencoba mengisi posisi orang tuanya dengan sebaik mungkin, tapi dia masih saja menginginkan lebih.
Tapi mau bagaimana lagi? perasaan iri itu tiba-tiba saja timbul di dalam hatinya tanpa permisi dan dia tidak bisa mengusirnya semaunya sendiri. Bahkan jujur, Agustin juga sebenarnya tidak suka ini, dia benci perasaan iri.
"Padahal Agus kan bukan anak cengeng ya mom, dad. Tapi kenapa kalo udah sampe kesini bawaannya Agus pengen nangis aja? kan nyebelin!" lanjutnya.
Dia terdiam lagi untuk sesaat, dadanya terasa semakin sesak dan Agustin mulai merasa kesulitan untuk bernafas.
Hal semacam ini selalu terjadi setiap kali dia datang berkunjung ke sini.
Luka karna di tinggalkan oleh mereka yang sangat dicintainya masih membekas dengan hebat di dalam hatinya. Dan hal tersebut selalu sukses membuat dadanya sesak sampai kesulitan bernafas setiap kali dia melihat makam keduanya.
Jujur, otak Agustin masih belum bisa menerima kepergian mereka, jadi saat dia melihat makam keduanya, otaknya tanpa sadar menciptakan sebuah perasaan emosional yang terasa pilu untuk di rasakan dan membuat dadanya terasa nyeri tidak karuan.
Iya, Agustin tau, tidak seharusnya dia datang ke sini di saat mentalnya belum pulih sepenuhnya. Tapi mau bagaimana lagi? dia sangat-sangat merindukan mereka.
Perlahan Agustin bernafas lewat mulutnya, "Agustin rindu kalian," gumamnya dengan lirih. Setiap kali dia datang ke sini, kata ini selalu terucap dari bibirnya.
Dan di waktu yang bersamaan di lain tempat, Bryan yang sedang merasa acak-acakan tiba-tiba saja merindukan mamanya yang telah tiada, dan hatinya pun seolah-olah menyuruhnya untuk pergi menghampiri beliau karna dia memang sudah sangat lama tidak pergi berkunjung ke sana.
Mungkin sudah ada 5 tahun sejak terakhir kali dia menemui pusara mamanya.
Setelah berfikir cukup lama dan menimbang-nimbang, dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu mampir sebentar ke toko bunga untuk membeli bunga kesukaan beliau.
Dan tanpa dia sadari sejak tadi ada 2 mobil yang terus saja mengikutinya dari belakang.
Bryan keluar dari dalam toko dan melanjutkan perjalanannya dengan di ikuti oleh mobil yang sejak tadi mengintainya.
Setelah sampai di tempat tujuannya, dia pun keluar dari dalam mobil dan pergi berjalan menyusuri area pemakaman menuju ke tempat pusara mamanya berada dengan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya dan sebuket bunga di tangannya.
Area pemakaman ini terlihat sepi, dia hanya melihat satu anak remaja yang sedang menangis saat dia sedang menuju ke tempat mamanya berada.
Sesampainya dia di depan sebuah makam yang bertuliskan nama mamanya, Bryan hanya diam tanpa kata sambil berjongkok menatapi makam tersebut setelah menaruh bunga yang dia bawa di atas makam.
Ekspresi wajahnya benar-benar sulit untuk di artikan saat ini, entah apa yang ada di dalam hatinya, tidak ada satu orang pun yang tau kecuali dia dan tuhan.
Bryan terus diam selama 10 menit, dan di menit ke 11 dia bangkit sambil mengatakan, "Agus pergi dulu ya mah".
Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang. sejak tadi sepatah kata pun tidak ada yang dia sampaikan. Dan sekalinya dia berbicara, dia hanya pamit.
Bryan memanglah tipikal manusia yang sulit untuk mengungkapkan perasaan lewat perkataan, dan mungkin saja dia sudah mengatakan semua hal yang ingin dia sampaikan kepada mamanya lewat hatinya. Lagipula Bryan selalu yakin kalau Mamanya pasti akan bisa mendengar dan memahaminya meskipun dia tidak mengatakan apa-apa lewat mulutnya.
Setelah mengatakan hal tersebut dia langsung pergi dari sana. Bryan memang selalu seperti ini, datang ke sini hanya dengan diamnya serta dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa di artikan oleh siapapun yang melihatnya.
Dan setelah berdiam lama seperti tadi di samping makam mamanya, dia akan pamit untuk pergi.
Baru saja dia ingin membuka pintu mobilnya. Tapi, tiba-tiba saja sekitaran 20 orang datang untuk menghadangnya.
Mereka terlihat seperti sekumpulan preman yang mengenakan jas rapih seperti orang kantoran. Dan dari situ Bryan sudah dapat menebak dan menyimpulkan kalau mereka semua adalah orang suruhan yang berasal dari sebuah perusahaan jasa yang di sewa oleh seseorang untuk menangkap ataupun mencelakai dirinya.
"Siapa orang gila yang masih ngegunain cara rendahan kayak gini buat ngehajar gue?" batinnya saat melihat mereka semua.
Wajahnya masih saja datar, hanya saja tatapannya sedikit menajam saat melihat mereka.
"Ikut kita secara baik-baik atau kita bawa secara paksa?!" bentak salah satu dari mereka dengan nada tegas sambil menunjukkan tampang sangarnya, hal itu memang sangat di perlukan dalam bidang tersebut.
Bryan hanya diam dan menatapnya malas seolah tidak perduli dengan ancaman yang orang itu lontarkan. Terlihat jelas di wajahnya kalau dia meremehkan mereka semua.
Dan tentu saja hal tersebut sukses membuat harga diri orang itu terluka.
"Jadi mereka dateng ke sini buat nangkep gue?" batinnya lagi. Dia kira mereka datang untuk membunuh atau sekedar membuat hidupnya sekarat, tapi ternyata dia salah.
"Sialan Lo! Kayaknya lo emang ngga bisa di ajak bicara baik-baik! kalian semua! ringkus dia!" suruh orang itu kepada teman-teman nya.
Bryan yakin, orang itu adalah boss nya disini.
"Ternyata mau apapun pakaiannya preman tetap aja preman yah," komentar Bryan tajam dengan nada yang merendahkannya.
Emosi mereka sontak menjadi semakin tersulut saat mendengar komentar Bryan tersebut.
Dengan penuh emosi mereka semua langsung berlari ke arah Bryan untuk meringkusnya. Tapi sayang, tidak semudah itu bagi mereka untuk bisa meringkus dirinya, karna Bryan memang tidak selemah itu orangnya. Dia bisa ilmu bela diri dan dia cukup handal dalam hal itu.
Sehingga tidak butuh waktu lama, mereka semua yang tadi mencoba meringkusnya dengan tangan kosong kini sudah terjatuh ke tanah dan meringis kesakitan.
Dia harusnya menang melawan mereka jika di lihat dari hasil yang sekarang. Tapi sayangnya tidak, karna mereka bermain curang.
Rupanya mereka masih punya satu anggota yang sedari tadi bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang Bryan dengan sebongkah kayu di tangannya sebagai senjata.
Dengan pelan-pelan orang itu menghampiri Bryan dari arah belakang, seolah-olah dia sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Dan saat posisinya sudah benar-benar berada di belakang Bryan, orang itu langsung memukul tengkuk Bryan dengan bongkahan kayu yang ada di tangannya sehingga Bryan jatuh tersungkur ke tanah karna serangan tiba-tiba yang dia dapatkan.
Bryan tidak kehilangan kesadarannya. Hanya saja, pukulan itu terlalu keras sehingga membuatnya kesulitan untuk bangkit dan berdiri kembali.
Sepertinya dia harus pasrah kali ini dan melihat siapa dalang di belakang ini semua, karna dia yakin mereka pasti akan membawanya ke hadapan orang tersebut.
Tapi, di saat dia sudah yakin dengan fikiran dan niatnya. Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri mereka.
"Woy! jujur gue sama sekali ngga mau ikut campur sama urusan kalian, tapi dari yang gue liat tadi, ini adalah pertarungan yang sama sekali ngga adil, dan kebetulan gue lagi ngerasa bosen karna udah lama ngga keluar, jadi bisa ngga kalian sekarang main-main nya sama gue? toh lawan kalian juga udah jatuh ke tanah dan udah keliatan nyerah," ujar orang tersebut, menawarkan diri.
Bryan mencoba melihat ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang berbicara tadi adalah seorang gadis remaja yang masih SMA, dan setelah dia mencoba melihat lebih jelas seragam yang di kenakannya, dia rasa dia tau gadis itu bersekolah dimana.
"Hei anak manis, kamu seriusan mau main-main sama kita? yaudah kalo gitu ayo sini. Kita semua akan dengan senang hati temenin anak manis yang cantik kayak kamu untuk bermain," goda orang yang mengajak Bryan berbicara tadi, alias pemimpin dari mereka semua.
Matanya berbinar dan langkahnya maju tanpa sadar untuk mendekati gadis remaja itu.
Gadis itu tersenyum penuh arti seraya berjalan mendekat ke arah mereka, "bener ya om? om ngga boleh loh tarik kata-kata om tadi," sahutnya antusias.
"Iya, om beneran. Om ngga bakalan tarik kata-kata om tadi, Jadi kamu tenang saja anak manis om akan temani kamu untuk bermain-main, jadi sekarang cepat, ayo kamu katakan mau main apa sama om? pasti semuanya akan om turutin," jawab orang itu, dia terus berjalan mendekat ke arah gadis tersebut.
"Om seriusan kan? ngga bakalan nyesel kan?" tanya anak itu lagi, mencoba memastikan.
"Mana mungkin kami akan menyesal karna bermain-main dengan orang secantik kamu anak manis, malahan kami akan merasa sangat beruntung karena hal itu," jawabnya dengan nada suara yang terdengar semakin genit, dia benar-benar terlihat seperti om-om yang suka menggoda anak remaja untuk dijadikan sugar baby.
Gadis itu menyeringai saat mendengarnya, "Oke," ujarnya dengan nada bahagia seraya langsung menginjak salah satu lutut dari mereka yang sedang terkapar di tanah akibat ulah Bryan tadi dengan kencang.
Dia tersenyum lebar saat mendengar suara teriakan kesakitan dari si pemilik lutut.