Alexa

1818 Kata
Mereka semua yang ada di sana menatapnya dengan terkejut, tidak ada satupun dari mereka yang menyangka kalau gadis cantik itu akan melakukan hal semacam itu. Si pemilik lutut yang dia injak masih menjerit kesakitan saat ini, hal itu wajar. karna tadi gadis itu menginjak kakinya dengan sangat kencang, saking kencangnya, sempat terdengar suara bunyi tulang patah dari kaki korbannya. "Apa-apaan kamu?! apa yang kamu lakukan ke anak buah saya?!" delik orang yang menggoda nya tadi. "Mata lo buta ya om? ngga liat apa kalo gue lagi nginjek kaki dia?" jawab si gadis dengan ekspresi bahagianya, dia terlihat puas saat mendengar suara teriakan kesakitan dari orang yang dia patahkan kakinya. "Ya tapi kenapa kamu ngelakuin hal itu?!" tanya orang itu lagi dengan nada tidak percaya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau gadis remaja cantik yang terlihat lugu dan manis dihadapannya ini akan melakukan hal mengerikan seperti itu. "Kenapa? ngga boleh? Bukannya tadi om sendiri ya yang bilang kalo gue boleh bermain-main sama kalian? bahkan tadi om juga nanya mau gue apa, gue cuman ngasih jawaban atas pertanyaan om itu om, gue pengen dengerin jeritan kesakitannya dia, makanya kakinya gue injek sampe patah, kenapa om malah marah?" dia tersenyum aneh saat mengatakannya. Dari senyumannya itu, mereka dapat melihat jelas kalau gadis itu sangat menikmati jeritan rasa sakit yang dia dengar. Pemimpin dari para preman berjas itu mengernyitkan dahinya, "Bermain-main?! kamu bilang hal kayak gini main-main?!" deliknya dengan penuh emosi. Gadis itu mengangguk, "Umm... ngedenger kalian berteriak kesakitan dan ngeliat ekspresi rasa sakit di wajah kalian adalah hal yang sangat menghibur bagi gue," jawabnya. Suaranya terdengar sangat antusias, tapi matanya tidak memiliki ekspresi apapun di sana. Benar-benar seperti tatapan para psikopat yang menikmati waktu saat menyiksa para korban mereka. Mereka yang tadi sudah terkapar di tanah langsung berusaha bangkit kecuali Bryan, mereka takut bernasib sama seperti salah satu teman mereka tadi. "Jangan bilang om mau narik kata-kata om tadi dan ngga jadi mau main sama gue?" tanya gadis itu, ekspresinya berubah. Wajahnya terlihat seperti gadis imut yang sedang memohon sesuatu. Bibirnya dimanyunkan dan itu terlihat sangat menggemaskan. Hanya saja tatapan matanya masih saja terlihat kosong. "Saya tidak akan tertipu lagi dengan wajah menggemaskan kamu! saya fikir kamu adalah gadis yang manis! tapi ternyata kamu adalah iblis mengerikan yang berwajah malaikat! lihat saja! kamu pasti akan menerima balasan dari perbuatan kamu tadi! kalian semua ringkus dia! dia akan kita beri pelajaran karna sudah berani macam-macam dengan kita!" si boss dari sekumpulan preman itu mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan diri agar jangan sampai goyah karna melihat wajah menggemaskan gadis itu. Sudah satu anak buahnya yang menjadi korban, jadi dia tidak mau terperdaya lagi oleh wajah beracun yang mematikan tersebut. "KENAPA KALIAN MALAH DIAM?!!! AYO MAJU!!! TANGKAP DIA!!!" titahnya lagi kepada para anak buahnya yang terlihat takut untuk maju. "T-tapi boss..." sahut salah satu anak buahnya. "NGGA ADA TAPI-TAPIAN!!! SANA RINGKUS DIA!!! MASA SAMA ANAK BAU KENCUR SAJA KALIAN TAKUT?!!! DIA BERHASIL MATAHIN KAKI LUKMAN ITU KARNA LUKMAN LAGI DALAM POSISI DIAM!!! JIKA KALIAN MENYERANG DIA SECARA BERSAMAAN, GADIS ITU NGGA AKAN MUNGKIN BISA MENANG!!! AYO TUNJUKIN KEBERANIAN DAN KEKUATAN KALIAN!!! KALAU KALIAN NGGA BISA NGELAKUINNYA, RESIGN AJA DARI PEKERJAAN INI KARNA SAYA NGGA BUTUH ANAK BUAH YANG CEMEN DAN BERMENTAL MIE!!!" bentaknya berapi-api. "I-iya boss..." dengan setengah takut mereka semua terpaksa menuruti perkataan dari boss mereka. Semuanya berlari untuk menyergap gadis itu dengan senjata berupa balok di tangannya masing-masing. Sejujurnya mereka sudah sangat sering berada di tempat perkelahian, dan entah sudah berapa banyak pukulan dan tendangan yang mereka dapatkan di tubuh mereka. Tapi tetap saja, nyali mereka seketika menciut saat melihat gadis itu. Karna entah kenapa aura yang gadis remaja itu keluarkan terasa sangat menyeramkan, dan secara otomatis insting mereka mengatakan kalau dia berbahaya. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat langkah mereka yang semakin mendekat, tidak ada sedikitpun rasa takut yang terlihat di wajahnya, yang ada malah rasa antusias. Dan hal tersebut cukup membuat Bryan yang melihatnya menjadi terheran-heran. "Ada apa dengan gadis itu?" batinnya bertanya-tanya karna selama ini dia tidak pernah melihat ada anak gadis remaja yang modelannya seperti yang dia lihat saat ini. Dan hal tersebut sedikit membuat Bryan merasa tercengang. Apalagi saat dia melihat seragam yang di kenakan oleh gadis tersebut, ratusan tanda tanya langsung muncul di otaknya. Mereka semua maju secara bersamaan karna mereka merasa kalau dia tidak bisa di anggap remeh. Dan benar saja dugaan mereka, entah karna mereka yang memang sangat lemah atau si gadis yang terlalu kuat, mereka lagi-lagi jatuh tersungkur ke tanah seperti tadi. Bahkan tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menumbangkan mereka semua yang notabenya memiliki senjata. Gadis itu menghela nafasnya setelah berhasil menumbangkan mereka semua, "Asli, kalian bener-bener lemah. Yakin ngga mau ganti profesi jadi tukang cendol aja?" tanyanya dengan nada mengejek. "Tapi yaudah lah, anggep aja kalo gue maklumin kalian karna kalian udah tua dan kekuatannya udah terkuras habis di masa muda. Jadi sebagai ganti karna gue udah maklumin kalian, gue mau kalian ngehibur gue dengan jeritan rasa sakit yang kalian punya," lanjutnya yang lagi-lagi tersenyum lebar dengan wajah yang terlihat antusias namun dengan tatapan tanpa emosi. Dia mulai berjalan ke arah salah seorang dari mereka yang paling dekat dengannya setelah mengatakan hal tersebut. "Hidup atau mati?" tanyanya. "H-hidup...!" dengan cepat orang itu langsung menjawab, nada ketakutan terdengar sangat jelas dari suaranya. Dia menggeleng-menggelengkan kepalanya dan menatap orang tersebut dengan tatapan kasihan untuk menghinanya, "padahal mati lebih baik, karna seenggaknya lo ngga harus ngerasain sakit akan hal itu. Kalaupun harus ngerasain pasti cuman bakalan sebentar doang." "Tapi yaudah, kalo emang itu pilihan lo gue ngga bakalan maksa lo buat ngerubah keputusan yang udah lo ambil. Malahan sebaliknya, gue bakalan kasih lo sebuah hadiah rasa sakit. Gue harap lo bisa nikmatin hadiah gue ini sebagaimana gue menikmatinya, oke," lanjutnya, aura menakutkan terus saja keluar dari dalam tubuh nya. Gadis itu berniat melakukan hal yang sama dengan apa dia lakukan tadi kepada salah satu dari mereka. Tapi, belum sempat kakinya menginjak tubuh orang itu. Tiba-tiba saja suara tembakan pistol terdengar, dan sialnya tembakan tersebut tertuju dan mendarat ke kakinya. Dia melirik sekilas ke arah kaki yang tertembak itu. Rupanya pahanya yang terkena, dan bukannya meringis kesakitan, dia malah terlihat sangat marah saat ini. Dan hal itu benar-benar membuat Bryan yang masih saja terkapar lemah di tanah menjadi semakin tidak mengerti dengan gadis itu. Kakinya mulai mengeluarkan darah, dengan tajam dia langsung menatap ke arah si pelaku yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemimpin dari para orang suruhan yang sangat lemah ini. Tidak ada sedikitpun ekspresi kesakitan di wajahnya, dia terlihat baik-baik saja walaupun sudah tertembak. Bahkan malahan sebaliknya, si pelaku penembakan yang malah jadi merasa ketakutan. Dia merasa kalau gadis di hadapannya ini bukanlah gadis biasa dan sangat berbahaya. Bahkan untuk sekilas, dia merasa kalau gadis ini bukanlah manusia. Dengan gerakan yang cepat gadis itu langsung berlari dan meninju wajah si pelaku dengan kencang sehingga orang itu jatuh tersungkur ke tanah seperti para anak buahnya. Setelah dia terjatuh, gadis tersebut dengan brutal menendang-nendang perutnya menggunakan kakinya yang terluka itu. "Lo ngapain nembak gue sialan?! lo mau ngebuat tubuh gue punya bekas luka hah?! kurang ajar lo yah! awas aja kalo sampe kulit gue punya bekas luka! gue bakalan nuntut bales ke lo walaupun lo ngumpet di neraka sekalipun!" bentaknya sambil terus menendang-nendang perut si boss preman dengan brutal. Si boss preman tersebut meringis kesakitan dan gadis itu terlihat sangat menikmatinya. Hal itu berlangsung cukup lama, si preman menjadi pelampiasan rasa kesalnya. Hingga pada akhirnya, setelah beberapa menit berlalu, kaki si gadis mulai berlumuran darah karna tembakan dan peluru yang kini bersarang di pahanya. Gadis itu menghela nafas melihatnya, dia rasa dia harus menghentikan kesenangannya ini untuk sesaat karna lukanya itu. Lagi pula si boss preman juga sudah tidak sadarkan diri dan babak belur, jadi kenikmatannya sudah berkurang. Dengan sebelah kaki yang sudah berlumuran darah dia berjalan mendekat ke arah Bryan sambil menginjak tubuh dari para preman yang masih terkapar di tanah. Dia menginjak mereka seolah-olah tubuh mereka adalah karpet dan keset yang berfungsi untuk menjaga alas sepatunya agar tetap bersih. dia benar-benar terlihat seperti seorang psikopat sungguhan saat ini. "Bangun lo om! gue tau lo ngga selemah itu dan ini udah cukup lama buat lo untuk berbaring di tanah!" titahnya. "Segitu sukanya kah lo sama tanah ini om? kalo iya, gue bakalan dengan senang hati bikin lo menyatu sama hal yang lo cintai ini," lanjutnya karna Bryan tidak kunjung bangkit. Bryan yang mendengar ancaman gadis itu langsung bangkit dan berdiri, tubuh bagian belakang nya masih terasa sangat sakit akibat pukulan yang dia dapat tadi. Dia tidak pernah menerima pukulan seperti ini sebelumnya, jadi wajar saja kalau tubuhnya merasa tidak terbiasa akan hal itu. "Apapun niat gue yang penting gue udah urus mereka semua jadi lo harus balas budi, anter gue ke rumah sakit mahal dan biayain pengobatan kaki gue karna anak remaja kayak gue ngga punya uang sebanyak itu buat ngobatin luka ini. Gue tau lo tajir, baju lo dari atas sampe bawah buatan designer semua dan mobil lo juga bagus, jadi lo ngga boleh kasih alasan apapun buat nolak," titah nya langsung dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Dan anehnya, Bryan yang selama ini tidak suka di perintah oleh siapapun langsung menurut begitu saja kepada gadis ingusan di hadapannya ini. "Yaudah ayo masuk ke mobil," sahut Bryan. Gadis itu diam tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam mobil begitu saja. Bryan sedikit menghela nafas seraya ikutan masuk ke dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit terdekat yang tentu saja harus besar dan bagus seperti permintaan gadis itu tadi. Selama di dalam mobil mereka hanya diam, dan dalam keheningan yang menyelimuti mereka, gadis itu tiba-tiba merobek seragam nya sehingga membuat Bryan cukup kaget dan menjadi bingung karnanya. "Kamu mau ngapain?!" tanya Bryan sedikit panik. "Liat ke depan kalo lo ngga mau kita kecelakaan karna mata lo jelalatan sama anak SMA kayak gue om!" bukannya memberi jawaban gadis itu malah mengomelinya dengan sarkatis sehingga membuat Bryan tanpa sadar jadi merasa malu karna tertangkap basah melihat tingkah anehnya itu. Setelah merobek seragamnya sendiri dia langsung membalutkannya ke lukanya untuk memperlambat pendarahan. Tapi, sebelum dia melakukan itu dia terlebih dahulu memberi peringatan kepada Bryan. "Om, kalo om nengok ke arah gue sekali lagi gue jamin mata om bakalan kelepas dari tubuh om!" ancamnya dengan serius. Bryan terdiam dan menurut dengan pandangan yang menatap lurus ke depan. Dia merasa kalau anak kecil di sampingnya ini benar-benar telah salah paham kepadanya. Keduanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, Bryan menyetir dan dia sibuk membalut lukanya dengan seragam yang telah dia robek. "Gue mau tidur dulu om, nanti kalo kita udah sampe ke rumah sakit ngga usah bangunin gue. Dan kalo semisal pihak rumah sakit butuh nama pasien, bilang aja nama gue Alexa," ujarnya tiba-tiba setelah selesai membalut luka. Dan setelah mengatakan dia langsung memejamkan mata tanpa mau repot-repot menunggu jawaban dari Bryan terlebih dahulu. Bryan sukses dibuat kehilangan kata-kata mendengarnya. Baru kali ini dia diperlakukan seperti ini dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN