David Tom Jeremy

2098 Kata
Dia sesekali menatap gadis remaja yang sedang tertidur lelap di dalam mobilnya ini, Bryan tidak tau gadis itu memang benar-benar sedang tertidur atau malah pingsan dan kehilangan kesadaran. Karna jika di lihat dari luka yang dia dapatkan di pahanya dan banyaknya darah yang terbuang percuma karna lukanya, hal itu terasa sangat mungkin untuk terjadi. Ini kali pertama Bryan mengizinkan seorang wanita berada di dalam mobilnya, tidak ada satu wanita pun selama ini yang berhasil menduduki kursi yang sedang di duduki oleh gadis yang bernama Alexa tersebut. "Kenapa dia ngga bangun-bangun? apa jangan-jangan dia mati?" batin Bryan yang mulai merasa cemas karna Alexa tidak kunjung sadar. Dia bahkan sampai mengehentikan mobilnya untuk memastikan. Dengan gerakan yang ragu-ragu Bryan perlahan mencoba mendekatkan tangannya ke bawah hidung Alexa untuk memastikan apakah nafasnya masih ada atau tidak. "Syukurlah dia belum mati,"  Bryan bernafas lega setelah merasakan nafas Alexa berhembus di jarinya, dia tidak ingin ada orang yang mati di dalam mobilnya. Untuk sejenak Bryan mencoba menenangkan diri dengan menenggelamkan wajahnya di setir kemudi, hari ini benar-benar terasa luar biasa baginya. Banyak ragam hal yang dia temui hari ini, mulai dari bertemu gadis murahan di kantornya, bertemu ayah yang sudah dia benci selama belasan tahun, bertemu sekumpulan preman suruhan orang, dan sekarang bertemu dengan gadis remaja aneh yang sedang pingsan sampingnya. "Apa yang ada di otak gue saat ngajak dia masuk ke mobil gue?" gumam Bryan seraya melirik ke arah Alexa. Selama ini dia tidak pernah membiarkan satu wanita pun menduduki kursi mobilnya, dan sekarang dia malah dengan mudahnya membiarkan Alexa, sang gadis remaja aneh yang kakinya berlumuran darah untuk duduk di kursi itu. Dan jujur Bryan benar-benar merasa aneh dengan gadis di sampingnya ini, karna bagaimana tidak? Alexa tiba-tiba saja datang menolongnya dengan alasan yang aneh kemudian menghajar mereka secara brutal seolah-olah dia benar-benar menikmatinya. Dan karna hal tersebut, rasa percaya diri Bryan yang tidak tau tempat dan kenal waktu pun seketika menjadi muncul ke permukaan karnanya, dia mulai berpikir kalau Alexa sama seperti para gadis yang mendekatinya selama ini. Dia merasa kalau gadis remaja di sampingnya ini melakukan semua itu untuk modus kepada dirinya. Iya, Bryan tau kepercayadiriannya ini sangat-sangat tidak beralasan, tapi mau bagaimana lagi? dia sama sekali tidak dapat memikirkan alasan lain selain alasan tersebut. Karna faktanya, memang bukan hanya orang dewasa saja yang mencoba merayu dirinya melainkan anak remaja juga. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau gadis yang sedang tertidur di sampingnya ini sama dengan mereka. Itulah yang dia pikirkan sejak tadi. Tapi, setelah dia mencoba berfikir ulang rasanya hal itu sangat tidak mungkin, karna terlihat jelas di mata Alexa kalau dia sama sekali tidak tertarik kepada dirinya. Tatapan Alexa berbeda dengan para gadis yang biasa mendekatinya sehingga dia langsung menepis jauh-jauh pemikiran tersebut. Bryan merasa sedikit frustasi. Gadis kecil yang baru di kenalnya ini dengan sukses mengacaukan pikirannya. "Kita pikirin itu nanti," gumamnya kepada diri sendiri sembari memejamkan mata dan menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dan setelah melakukan hal tersebut dia kembali melajukan mobilnya. Masih ada hal lain yang harus dia prioritaskan saat ini, yaitu luka Alexa. Jadi dia harus menyimpan segala tanda tanya dan kebingungan serta rasa frustasinya untuk nanti, setelah luka gadis itu selesai ditangani. Sesampainya di depan rumah sakit dia mencoba membangunkan Alexa dengan cara menoel-noel lengannya sambil menyuruhnya untuk bangun. Tapi sayang, tidak ada jawaban sama sekali dan Alexa juga tidak bergerak. Sehingga lagi-lagi Bryan mengira kalau gadis itu sudah mati. Perasaan panik pun kembali menjalar di tubuhnya, dan dengan cepat dia langsung mengecek kembali hidung Alexa untuk mengetahui apakah gadis remaja itu masih memiliki nafas atau tidak seperti tadi. Bryan kadang memang suka bertingkah konyol tanpa sadar dan mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan. Dan ada satu fakta lagi tentang dirinya yang mungkin tidak ada satu orang pun yang tau di dunia ini, yaitu dia mudah merasa panik dan overthinking. "Syukurlah dia masih tetap bernafas," gumam Bryan seperti tadi seraya bernafas lega setelah memastikan bahwa nafas Alexa masih ada. Dan sekarang setelah dia selesai memastikan kondisi gadis itu, Bryan menjadi bingung karna tidak tau harus melakukan apa untuk langkah selanjutnya. dia tidak mungkin menggendong Alexa yang sama sekali tidak dia kenal untuk masuk ke dalam rumah sakit. Karna jika dia melakukan hal tersebut bisa-bisa akan ada skandal yang sama sekali tidak dia inginkan muncul di berita. Ketakutannya itu sama sekali tidak berlebihan. Hal itu mungkin saja terjadi mengingat tempat yang dia tuju ini adalah rumah sakit besar dan cukup ternama karna banyak artis dan pengusaha yang datang untuk berobat ke sini. Jadi, tidak menutup kemungkinan kalau akan ada reporter atau paparazi di dalam. Bryan mungkin bukanlah seorang artis. Tapi, dia adalah pengusaha muda yang terkenal, wajahnya selalu terpampang di majalah dan julukannya adalah pria dingin yang mempesona. Dia terkenal tidak pernah dekat dengan wanita manapun sehingga dia yakin, jika dia menggendong gadis di sampingnya ini ke dalam rumah sakit, pasti akan ada banyak berita yang tidak benar bermunculan. Bryan mungkin merasa tidak masalah akan hal itu, sebab dia memang sama sekali tidak memperdulikan nya. Yang dia perdulikan saat ini adalah privasi Alexa. Dia takut jika dia melakukan hal tersebut, akan ada banyak orang yang mencari informasi pribadi Alexa dan menganggu privasinya. Bryan tidak mau jika hal itu sampai terjadi. Lama dia berfikir, mencoba mencari jalan. Hingga pada akhirnya sebuah ide pun muncul di otaknya. Dengan segera dia merogoh kantong dan langsung menghubungi seseorang yang entah kenapa dia lupakan sejak tadi padahal orang tersebut adalah alasannya memilih rumah sakit ini dan dia yakin orang tersebut akan dapat membantunya. "Hey...., what's up bro! tumben lo nelfon gue? ada apa? jangan bilang lo kangen sama gue? karna kalo iya gue bakalan adain acara syukuran 7 hari 7 malem untuk itu," jawab seseorang di sebrang sana dengan girang saat menerima telfonnya. "Buruan ke parkiran rumah sakit, di mobil gue ada orang yang terluka jadi lo harus bawa kursi roda," sahut Bryan to the point dengan nada datarnya. "Orang yang terluka? di mobil lo? lo abis ngapain woi?!" dengan heboh orang itu menyeruakkan rasa penasarannya. "Buruan ke sini gue tunggu," Bryan yang merasa enggan untuk memberi penjelasan langsung mematikan telfonnya bahkan sebelum orang tersebut sempat memberikan jawabannya. Sekitaran 20 menitan Bryan menunggu dan pada akhirnya dia pun melihat sosok seseorang yang dia sangat kenali keluar dari rumah sakit sambil membawa kursi roda. Orang itu terlihat  ngos-ngosan tapi Bryan sama sekali tidak perduli. Sekejam itu memang dia kadang. Bryan membuka kaca mobilnya saat orang tersebut sudah berdiri di samping mobilnya. "Huuuhhhh.... Huuuhhhh...... gue.... gue ngga ngerti lagi kenapa gue bisa kuat temenan sama manusia dingin dan datar serta nyebelin kayak lo! dan... dan gue ngerasa sangat bangga kepada diri gue sendiri karna dia mampu bertahan dengan sikap dingin lo yang melebihi dinginnya es di benua Antartika!" protes orang tersebut dengan nafas yang ngos-ngosan. Keringat mengucur deras di keningnya saat ini karna berlari dari dalam rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin setelah Bryan menelfonnya. "Udah, nanti aja ngeluhnya. Mendingan sekarang lo buruan bawa dia ke dalam. Dia udah ngga sadarin diri sejak tadi," sahut Bryan yang sama sekali terlihat tidak perduli dengan protesan orang itu. Dan anehnya, meskipun orang itu menggerutu seperti tadi, dia tetap menurut kepada Bryan, konyol bukan? Orang itu berjalan ke arah pintu mobil Bryan yang satunya dan membuka pintu tersebut. "Gus! lo gila yah?! lo apain cewek ini sampe-sampe dia jadi kayak gini hah?!" orang itu sontak langsung terkejut saat membuka pintu dan melihat kondisi Alexa yang kakinya berlumuran darah. Bahkan saking terkejutnya ia, orang itu sampai jatuh terjerembab di lantai parkiran rumah sakit yang beralaskan aspal. "Ceritanya panjang, buruan obatin dia sebelum dia mati kehabisan darah," jawab Bryan. Dia menurut, perlahan dia mulai memindahkan gadis yang bernama Alexa itu ke dalam kursi roda yang dia bawa dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit agar lukanya dapat segera di obati. "Lo utang penjelasan sama gue! inget itu!" delik orang itu sebelum masuk ke ruang ICU bersama Alexa. Bryan menunggu sendirian dengan sabar di depan ruangan tersebut. Dan setelah sekitar 30 menitan berlalu, orang itu keluar dengan helaan nafas yang lega seraya menatap ke arah Bryan. "Dia udah baik-baik aja sekarang, tadi dia kehilangan banyak banget darah tapi udah kami tanganin," terangnya. Bryan hanya diam, tapi meskipun begitu dapat terlihat jelas di wajahnya kalau dia merasa lega setelah mendengarnya. "Kok dia bisa kayak gitu sih? dan siapa dia? kenapa gadis secantik itu bisa terluka parah kayak gitu sampe dia kehilangan banyak darah dan kena luka tembak? lo lagi ngga punya hobby baru yang anti mainstream dan libatin dia di dalamnya kan?!" tanya orang itu secara beruntun. Bryan menggeleng, "gue ngga tau dia siapa, gue cuman tau namanya Alexa, udah itu doang. Dia tadi udah nolongin gue dari sekumpulan orang suruhan yang gue ngga tau siapa pengirimnya," jawab Bryan, memberikan penjelasannya. "Dan penyebab dia punya luka tembak di kakinya itu karna dia di tembak oleh orang yang mau nyulik gue," lanjutnya, dan tentu saja Bryan menyembunyikan cerita tentang kebrutalan Alexa dan fakta bahwa luka si pelaku penembakan lebih parah dari gadis itu. Bryan tadi dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana Alexa menendang-nendang si pelaku seperti layaknya sebuah karung bekas yang berisi kapas. "Wait, lo mau di culik sama orang? seriusan?! oh come on man! orang gila macam apa yang mau nyulik pria dewasa yang sehat dan bugar kayak lo?! dengan nyewa preman lagi!" komentar orang itu dengan nada tidak percaya. "Gue ngga tau, tapi itu adalah faktanya," jawab Bryan dengan ekspresinya yang biasa. Orang itu menghela nafas melihatnya, "Bisa ngga sih lo sesekali kayak gue yang punya banyak ekspresi ini, hah?" gerutunya yang mulai jengah dengan ekspresi Bryan yang selalu saja sama. "Pelit banget sih sama hal gituan padahal ngga bayar! gue yang ngeliatnya capek tau ngga! 10 tahun gue kenal lo dan satu kalipun gue belum pernah liat wajah lo tersenyum! gila ngga sih?! coba lo bayangin sefrustasi apa gue selama ini ngeliat muka datar lo itu!" lanjutnya. Dia adalah David Tom Jeremy, biasa di panggil dengan nama David oleh orang-orang sekitarnya. Salah satu sahabat yang Bryan miliki sejak 10 tahun yang lalu. Ya, mereka sudah bersahabat sejak masa remaja sampai sekarang. Dan meskipun Bryan memiliki sikap yang dingin, dia masih tetap memiliki beberapa sahabat yang dia percayai dan salah satu nya adalah David, mereka berdua punya karakter yang sangat berbeda dan hampir bertolak belakang. Tapi meskipun begitu mereka berdua sangatlah dekat. Perbedaan karakter tidak menghalangi persahabatan mereka. Dan mereka masih memiliki 2 orang sahabat lagi. Mereka berempat adalah 4 serangkai yang sudah bersama walaupun tidak secara fisik selama satu dekade ini. Umur mereka semua sama, dan profesi David adalah seorang dokter, awalnya dia tidak ingin bekerja di bidang itu. Tapi karna keluarganya memiliki berprofesi sebagai dokter sejak turun temurun jadi dia juga harus melakukannya. Itu adalah sebuah kewajiban di dalam keluarga mereka. Dan imbalan yang dia dapatkan karna menjadi anak penurut dan berbakti seperti itu adalah rumah sakit milik keluarganya yang megah ini. Tapi, bukan hanya ini saja yang dia miliki, ini hanyalah salah satu di antara harta yang dia punya. David memiliki wajah yang tampan dan sikap yang ramah serta pandai mencairkan suasana, dia juga hebat dalam membuat lelucon. Dengan kata lain, David itu orangnya humoris dan lucu serta Flamboyan. Dia juga adalah tipikal manusia yang mudah berbaur dan bergaul dengan siapapun. Dan sama seperti Bryan, David juga sangat terkenal di kalangan wanita. Banyak dari mereka yang menyukai David dan David juga menyukai mereka semua tetapi hanya sebatas memberi harapan saja. Dibalik senyuman dan kata-kata manisnya, David adalah seorang iblis yang berwajah malaikat, sama seperti Bryan. Mereka mendapat julukan itu dari orang-orang karna sikap mereka sangat berbeda dengan wajah mereka, alias menipu. Hanya saja berbeda dari Bryan yang secara terang-terangan menyakiti hati wanita dengan cara menolaknya, David lebih suka membuat mereka nyaman kemudian menghempaskannya. Dia bukanlah seorang playboy, dia juga sangat tidak suka di sebut seperti itu. Dia hanya bersikap baik saja kepada semua wanita yang di temuinya. Dan saat mereka berharap lebih kepada dirinya, dia akan langsung menyadarkan mereka kepada kenyataan bahwa mereka semua bukanlah tipenya. "Jangan paksa orang lain buat berubah jadi orang yang bukan dirinya karna semua orang punya karakternya masing-masing dan mereka nyaman akan hal itu," jawab Bryan. "Yayayaya serah lo deh yah, suka-suka lo, gue yang ganteng dan sempurna ini diem. Dan oiya, gadis itu udah bisa di bawa ke kamar rawat, lo mau tempatin dia dimana?" "Tempatin dia di VIP, itu adalah permintaan dia sebelum pingsan tadi. Lagian dia juga udah nyelamatin gue jadi gue rasa dia berhak buat dapetin itu," jawabnya. "Oke," David langsung pergi kembali masuk ke ruangan ICU untuk membawa Alexa ke dalam kamar VIP seperti yang di perintahkan oleh Bryan tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN