Kabur

1777 Kata
Kini hanya ada Bryan dan Alexa di ruangan VIP yang dia pesan tadi karna David mengatakan kalau dia memiliki sedikit urusan di ruangan lain jadi dia harus pergi meninggalkan mereka. Lagipula Alexa juga masih terbaring tidak sadarkan diri di ranjangnya dan Bryan juga bukan tipikal lelaki b******n seperti dirinya, jadi David merasa aman untuk meninggalkan mereka berdua di sini. Karna dia yakin, tidak akan ada yang terjadi meskipun keduanya bersama dalam satu ruangan. Alasannya sederhana, yaitu karna baginya Bryan tertarik kepada wanita adalah sesuatu hal yang sangat-sangat mustahil terjadi mengingat sudah sebanyak apa gadis remaja serta wanita dewasa yang mencoba merebut hatinya selama ini tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil. Bahkan kadang jika otaknya sedang eror David suka meragukan sahabat yang sudah dia kenal selama 10 tahun tersebut, kadang dia suka mengira kalau Bryan memang tidak menyukai wanita sehingga dia sama sekali tidak menunjukkan rasa tertarik kepada mereka semua selama ini. Tapi tentu saja jika dia bertanya secara terang-terangan kepada Bryan, Bryan akan langsung membantah. David tau kalau Bryan adalah lelaki normal, dia menanyakan pertanyaan semacam itu hanya saat otak nya sedang geser sedikit. Tapi jujur, dari lubuk hati David yang paling dalam, dia merasa kalau Bryan itu aneh. sahabatnya itu terlihat seolah-olah tidak pernah merasa terangsang saat melihat wanita manapun padahal semua orang yang mendekatinya memiliki body dan wajah yang berada di atas rata-rata. Jadi wajar saja kalau pemikiran-pemikiran aneh timbul di otaknya. Dan bukan hanya wanita saja yang mendekati Bryan, David juga sangat sering melihat para lelaki tampan yang memiliki kelainan s*x yang menyimpang mendekati sahabatnya itu. Tapi tentu saja Bryan mengabaikan mereka semua, dan bahkan kadang David sering melihat sahabatnya itu bergidik ngeri saat digoda oleh mereka sang lelaki tampan namun menyukai sesama jenis dan lelaki tampan yang suka berpenampilan seperti wanita alias bencong. Dan jujur David benar-benar menyukai hal itu. Dia merasa antusias setiap kali Bryan digoda oleh mereka. Karna bagi David, menyaksikan hal semacam itu seperti memiliki hiburan tersendiri untuknya, iya dia tau kalau dia kejam karna teetawa bahagia di atas penderitaan sahabatnya sendiri. tapi ya mau bagaimana lagi? dia tidak pernah bisa menyembunyikan tawanya saat Bryan digoda oleh laki-laki lain. Bahkan kadang David sendiri lah yang melemparkan Bryan kepada mereka dan memberikan sedikit kebohongan dengan mengatakan kalau Bryan ingin bersama mereka. Dan tentu saja konsekuensi dari perbuatannya itu mengerikan. Bryan dengan tatapan membunuhnya akan datang ke ruang penyimpanan David dan menghancurkan action figure langka kesayangan David. Dia memang pengoleksi benda-benda semacam itu. Dan saat Bryan menghancurkan barang-barang kesayangannya David akan menangis dan menghilang selama seminggu untuk menangis di pojokan kamar serta depresi. Tapi Bryan sama sekali tidak perduli itu sebab di hari ke 8 David akan kembali normal. Mereka berdua sering bertengkar tapi tidak pernah benar-benar musuhan. Sudah hampir dua jam Bryan duduk di samping Alexa sambil sesekali menatap ke wajah gadis itu, dia tidak tau kenapa dia melakukannya. hanya saja sulit rasanya bagi Bryan untuk mengalihkan pandangan dari gadis yang baru pertama kali dia temui dan hanya dia ketahui namanya itu. Bryan tidak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya, jadi dia merasa aneh dan bingung karnanya. Tatapan Bryan beralih ke arah seragam sekolah Alexa yang di letakkan di atas meja di samping ranjang bersama dengan benda-benda milik kepunyaan dari gadis itu . Bryan sangat mengenali seragam tersebut karna dia juga lulusan dari sana. Dan jujur dia juga masih sangat tidak menyangka kalau ada murid yang modelannya seperti ini di sana, karna setaunya para siswa yang diterima di sekolah tersebut berasal dari golongan menengah ke atas yang tentu saja para siswi perempuannya rata-rata feminim dan berkelas, sedangkan gadis yang ada di hadapannya ini terlihat sama sekali tidak masuk ke dalam kriteria tersebut. Dan setau Bryan pada umumnya gadis kaya itu lemah secara fisik karna mereka selalu di manja, sedangkan gadis yang ada di hadapannya ini sangat jauh dari kata itu. Alexa lebih terlihat seperti seorang preman yang kasar dan menakutkan. Jadi dia sedikit meragukan status sosial Alexa karnanya. "Apa dia masuk ke sekolah itu lewat jalur beasiswa?" batin Bryan. "Tapi ngga mungkin. Buat masuk ke sana lewat jalur normal aja sulit, apalagi beasiswa. Dan setau gue sejak sekolah itu di bangun cuman 1 orang pertahunnya yang lolos beasiswa, bahkan kadang ngga ada yang lolos saking sulitnya test yang di ujikan. Dan dari penampilan gadis ini, dia sama sekali ngga keliatan kayak anak yang rajin belajar," batinnya lagi. Fikirannya berkecamuk hanya karna memikirikan hal itu. Setelah cukup lama menatap seragam Alexa, Bryan kembali menatap ke arah wajah gadis itu. Alexa terlihat sangat manis dan damai saat tidur sehingga membuat Bryan sulit melepaskan pandangannya dari sana. Cukup lama dia melakukannya hingga pada akhirnya diapun tersadar dan kembali ke kenyataan. "Lo udah gila ya gus?!" omelnya kepada diri sendiri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya karna dia merasa kalau saat ini sedang ada yang salah dengan otaknya. Dia memang suka bertingkah konyol tanpa sadar saat tidak ada yang melihat. Dan di saat dia tengah kebingungan seperti itu tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menandakan ada telfon yang masuk. Bryan merogoh kantongnya untuk melihat siapa yang menelfon, Tertera nama sekretaris nya di sana. Dia menghela nafas sejenak kemudian pergi dari ruangan ini untuk mengangkat panggilan tersebut, Bryan merasa tidak akan ada masalah yang terjadi jika semisal dia meninggalkan Alexa yang sedang tidak sadarkan diri untuk sebentar. Pasti ada sesuatu hal yang mendesak, makanya sekretarisnya menelfon. Jadi Bryan tidak mungkin mengabaikan panggilan tersebut. Dan beberapa menit setelah dia menutup pintu, tiba-tiba saja Alexa terbangun. Dengan tenaga yang lemah gadis itu menggeliat tidak jelas seolah-olah dia baru bangun tidur. Tapi, seperdetik kemudian matanya langsung terbelalak kaget saat merasakan sakit di pahanya dan merasa kasur yang dia tiduri ini tidak seperti kasur miliknya. Lagi pula ingatan terakhir yang dia ingat adalah dia sedang menangis di makam kedua orang tuanya, bukan sedang berada di kamar tidurnya. Dia langsung bangkit dari ranjang dan mengamati keadaan sekitar, "Gue di mana?" gumamnya dengan bingung. Dia sama sekali tidak mengenali tempat ini. Setelah selesai mengamati setiap sudut ruangan, pandangannya pun beralih ke pakaian yang dia kenakan saat ini. "Lah kok gue malah jadi pake pakaian pasien gini sih?!" Kagetnya, terdapat banyak tanda tanya di dalam otaknya. Dan setelah dia melihat pakaian yang dia kenakan tersebut barulah dia sadar kalau saat ini dia sedang berada di sebuah rumah sakit. "Awww.....!" ringisnya tiba-tiba saat dia menggerakkan kakinya. Dengan rasa yang penasaran dia menarik baju pasiennya untuk melihat apa yang sudah terjadi kepada kaki mulus dan indahnya tersebut. Matanya tertutup sambil sesekali mengintip, dia takut menerima kenyataan. Dan dengan gerakan yang perlahan dia menarik bajunya. Setelah sampai paha baju itu terangkat, matanya langsung terbelalak kaget, karna bagaimana tidak? kaki yang selama ini dia jaga baik-baik kini tengah diperban. Perasaan marah terlihat dengan jelas di wajahnya. Emosinya terasa mendidih sampai ke ubun-ubun saat melihat perban yang menempel di kakinya tersebut. "Arghhhh.....!!!!! sialan!!! kenapa sih lo harus ngelukain tubuh mulus yang di irikan banyak orang ini, hah?! lo bener-bener kurang ajar tau ngga! kalo gini caranya gue bener-bener benci sama lo!!! dasar ngga tau diri!!! udah ngga bayar sewa di tubuh gue dan sekarang lo malah biarin gue terluka!!! liat aja!!! gue bakalan kasih lo pelajaran!!!" omelnya kepada diri sendiri seolah-olah dia sedang berbicara dengan orang lain. Setelah sekitar 10 menit mengomel kepada diri sendiri, diapun akhirnya diam dan termenung. Dengan rasa yang frustasi karna melihat paha malangnya tersebut serta perasaan bingung karna dia tidak tau ini di mana, diapun mengacak-acak rambutnya. Dia butuh solusi saat ini, dan disaat rasa frustasinya sudah mencapai tingkat maksimal, tiba-tiba saja pandangannya teralih ke atas meja, di mana semua barang-barang nya di letakkan. Setelah melihat hal itu, dengan segera dia langsung menarik jarum infus yang ada di tangannya kemudian mengambil semua barang-barang nya. Jujur, dia sudah biasa seperti ini, terbangun di tempat yang tidak dia ketahui dan sering berakhir dengan jarum infusan di tangannya dan ini semua terjadi karna penyakit yang dia miliki. Dia mencoba menghubungi seseorang untuk menjemputnya lewat ponsel yang untungnya saja tidak hilang sembari memasukkan seragam sekolahnya ke dalam tas miliknya. "Halo?", Ujar seseorang di sebrang sana. "Ko, ko plis ko jemput gue ko, gue ngga tau sekarang gue lagi ada di mana, gue bakalan share lock ke lo sekarang dan pokoknya gue ngga mau tau di mana pun lo berada, dalam waktu 15 menit lo harus sampe ke sini!" paksanya. "Woy Lo gila yah?! gimana kalo semisal ternyata lo lagi ada di luar kota?! yakali gue bisa sampe ke sana dalam waktu 15 menit! lagian gue juga lagi nongkrong di jauh," protes orang tersebut. "Bodoamat! Pokoknya kalo lo ngga sampe dalam waktu segitu gue bakalan ngambek dan ngga mau ngomong sama lo selama seminggu!" ancamnya. "Lagian masa lo tega sih ko biarin gue di sini sendirian dan lo sibuk nongkrong sama temen-temen lo! gimana kalo gue kenapa-kenapa?! gue bener-bener ngga tau tempat ini di mana, dan ngga ada orang lain yang bisa gue mintain tolong selain lo, jadi plis ko, bantuin gue," lanjutnya, kali ini suaranya terdengar sedikit bergetar saat mengatakannya. "Ish... Iya-iya! gue ke sana sekarang! dosa apa gue dulu sampe punya temen laknat kayak lo!" gerutu orang itu. Setelah mendengar suaranya yang sedikit bergetar orang itu langsung menurut. Dia tersenyum girang mendengarnya, jujur jika orang yang dia telfon ini menolak, dia sudah tidak tau lagi harus menghubungi siapa dan matanya sudah mulai berkaca-kaca saat ini. "Buruan! sama satu lagi, jangan bawa mobil, bawa motor aja!" titahnya dengan tidak tau diri kemudian langsung mematikan panggilannya tanpa mau repot-repot untuk menunggu jawaban dari orang yang dia hubungi tersebut, kadang dia memanglah se egois ini. Setelah dia sudah selesai mengemasi semua barang-barang nya, diapun mencoba kabur dari sana. Dengan perlahan dia membuka pintu dan menengok ke arah sekitar yang untungnya sama sekali tidak ada orang. Setelah memastikan kalau keadaannya aman, dia langsung pergi menuju ke arah lift dan turun ke bawah. Dia tidak tau saat ini dia berada di lantai ke berapa, yang jelas dia hanya perlu memencet tombol ke lantai paling bawah untuk menuju lobby rumah sakit. Setelah pintu lift terbuka, dia mencoba berjalan sesantai mungkin agar tidak ada yang memperhatikan dan curiga, tapi sayangnya David yang kebetulan berada di lobby rumah sakit ini tidak sengaja melihatnya. David mencoba memanggil namanya tapi dia sama sekali tidak menghiraukannya, seolah-olah orang yang di panggil bukanlah dirinya. David mencoba mengejarnya, posisi mereka berdua berjarak cukup jauh sehingga dia harus berlari untuk itu. Tapi sayang, dia kalah cepat dari langkah gadis tersebut sehingga dia kehilangan jejaknya. "Gue yakin itu gadis yang di bawa Bryan tadi, tapi kenapa dia malah kabur? apa Bryan yang ngusir dia karna udah siuman? tapi masa sih dia sekejam itu?" gumam David dengan bingung. "Arghh tau ah!!! mendingan gue tanya langsung aja ke orangnya biar ngga pusing dan overthinking!" lanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN