Alexa adalah sebuah kepribadian ganda

2107 Kata
Gadis itu menunggu di taman rumah sakit yang telah sepi karna memang sudah malam, "Arghhhh, si Niko lama banget sih!" gerutu nya sambil terus saja menatap ke arah jalan. Ini sudah hampir 15 menit dia disitu dan belum ada tanda-tanda kalau temannya akan datang, "satu menit lagi, awas aja kalo sampe satu menit lagi lo ngga munculin diri, gue bakalan bener-bener ngambek sama lo!" gerutunya lagi. Dia terlihat sedikit ketakutan saat ini karna sendirian di tempat asing yang belum pernah dia kunjungi. "Satu... dua...," dia mulai menghitung dari satu sampai enam puluh dengan harapan pada hitungan terakhir temannya itu akan muncul. Dan anehnya secara ajaib hal itu memang terjadi, pada hitungan ke 50 samar-samar dia melihat sosok temannya dari kejauhan. Gadis itu sontak melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil sambil memanggil-manggil nama temannya, dia benar-benar merasa girang, bahkan saking girangnya ia, dia sampai melupakan kakinya yang terluka. Melihat wajah temannya di tempat asing seperti ini bagaikan menemukan oasis di tengah gurun pasir baginya. "NIKO....!!!! WOY!!!! GUE DISINI KO!!!" teriaknya seraya melambai-lambaikan tangan. Orang tersebut sontak menghela nafas saat melihat tingkah lakunya yang seperti anak kecil itu, "Dosa apa gue dulu sampe bisa cinta sama manusia yang modelannya kayak dia?" gumamnya seraya berjalan mendekat ke arah gadis itu. Mulutnya memang menggerutu, tapi jujur hatinya terasa berbunga-bunga saat ini karna menjadi seseorang yang dicari oleh gadis itu ketika dia sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan. Langkah Niko semakin mendekat ke arah gadis itu. Dan ketika jarak di antara mereka hanya tinggal 60 cm, gadis itu langsung memeluk dirinya dengan erat, "Syukur deh ko lo beneran dateng, gue udah takut banget tau ngga di sini dari tadi karna ngga ada satu orangpun yang gue kenal," terangnya, meluapkan segala perasaan lega dan bahagianya. Niko tersenyum sembari mengelus pucuk rambutnya dengan lembut seraya membalas pelukannya, "Mana mungkin sih gue ngga dateng di saat cuman gue satu-satunya orang yang bisa lo andelin, hmm? gue ngga sejahat itu kali," sahutnya. Gadis itu hanya diam tidak menjawab. Dia tenggelam di pelukan Niko yang terasa sangat hangat dan menenangkan. Jujur, Niko ingin berlama-lama dalam posisi ini, tapi sayang dia harus menghancurkan suasana karna kakinya tiba-tiba saja merasa kram. "Gus, gue tau ini bener-bener ngancurin suasana banget, tapi bisa ngga kita duduk aja? kaki gue mendadak kram soalnya," pintanya. Gadis itu mengangguk setuju dan langsung melepaskan pelukannya. Keduanya pun pergi berjalan ke arah kursi taman yang berada tidak jauh dari lokasi mereka. "jadi gimana? apa yang terjadi sama lo sampe lo bisa berakhir di sini sebagai pasien?" tanya Niko langsung setelah mereka duduk. Gadis itu belum mengganti baju pasiennya sehingga Niko dapat menebak dan memastikan kalau beberapa jam yang lalu gadis itu adalah seorang pasien di rumah sakit ini. Dia menggeleng, "gue ngga tau. Ngga ada sedikit pun ingatan yang tertinggal di otak gue. Cuman yang jelas tadi gue itu lagi di makam kedua orang tua gue, dan gue sempet nangis di sana. Terus pas nangis d**a gue kerasa sesak banget. Saking sesaknya gue jadi bener-bener ngga bisa bernafas, dan abis itu gue pingsan," terangnya. "Terus?" Lagi-lagi gadis itu menggeleng, "gue ngga inget lagi apa yang terjadi setelahnya, karna pas gue bangun, gue udah jadi pasien di sini dengan luka di paha," terang nya seraya mengangkat sedikit bajunya ke atas untuk menunjukkan pahanya yang di perban itu. "Paha Lo kenapa?!" kening Niko langsung mengernyit saat melihatnya. Terlihat jelas raut khawatir di wajahnya. Dia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue ngga tau ko, kan gue udah bilang tadi, ingatan terakhir yang gue punya tuh saat gue lagi nangis di makam orang tua gue." Niko menghela nafasnya, "Pasti ini karna ulah mereka lagi yah?" tanyanya. Kali ini gadis itu mengangguk, "umm..., kayaknya dia ngambil alih tubuh gue saat gue nangis tadi, dan gue yakin yang muncul adalah Alexa, karna kalo yang lain nya yang muncul gue ngga bakalan punya luka kayak gini." Lagi-lagi Niko menghela nafasnya, dan helaan nafasnya kali ini terdengar sedikit gusar, "Harusnya tadi lo nurut apa kata gue Gus, harusnya tadi lo biarin gue nemenin lo ke makam orang tua lo, coba kalo lo nurut mungkin aja kejadiannya ngga bakalan kayak gini, dan untung aja gue lagi main di sekitaran sini jadinya gue bisa buru-buru buat jemput lo, coba kalo ngga?" omelnya. "Dan masih mending lo berakhir di rumah sakit dengan kondisi tubuh yang baik-baik aja kayak gini, coba kalo semisal lo bangun-bangun udah ada di tempat aneh kayak perdagangan manusia? siapa yang bisa bantuin lo di sana?" lanjutnya. "Iya ko iya, gue akuin gue salah. Tapi bisa ngga sih lo ngga usah ngomelin gue? gue juga mana tau sih ko kalo endingnya bakalan kayak gini? dan kata siapa tubuh gue baik-baik aja? lo ngga liat apa kaki gue kena perban?" bukannya introspeksi diri gadis itu balik mengomeli Niko. "Gue ngomelin lo karna gue khawatir Gus sama lo. Gue takut lo kenapa-napa. Dan pokoknya gue ngga mau tau, abis ini setiap lo mau pergi ke makam orang tua lo, gue wajib ikut! dan kalo semisal lo mau pergi ke tempat-tempat jauh, gue juga wajib ikut!  " Niko memberikan pembelaan nya. Gadis itu ingin membantah dan memprotes aturan Niko tersebut tapi sayang Niko langsung memotongnya. "Gue ngga mau denger kata penolakan dari mulut lo, karna asal tau aja ini bukan permintaan melainkan aturan. Dan gue sama sekali ngga butuh jawaban dari lo. Mau nolak itu atau terima gue akan tetap ikutin lo ke manapun lo pergi, mau lo marah, kesel, dan benci sama gue karna hal itu, gue sama sekali ngga perduli! karna apa? karna lebih baik gue di benci sama lo karna ngelindungin lo daripada gue harus ngebenci diri sendiri karna gagal jagain lo kayak gini!" tegasnya. Gadis itu langsung memeluk Niko, "Iya-iya dasar bawel," jawabnya. Entah kenapa dia merasa lucu setiap kali melihat Niko memarahinya seperti ini. Niko terdiam untuk sesaat, tubuhnya membeku karna mendapat pelukan yang tiba-tiba itu. "Makasih ya karna udah khawatir sama gue," lanjutnya. Saat Niko sedang meluap-luap seperti ini jalan terbaik yang harus di ambil adalah berpura-pura lunak dan mengiyakan semuanya. Karna akan percuma saja membantah, yang ada malah akan menjadi semakin runyam nantinya, sebab Niko tidak akan pernah berhenti mengomel sampai kita berkata iya dan bersikap patuh. "Bener yah!" nada Niko terdengar sedikit marah saat mengatakannya. Tapi tanpa ada satu orang pun yang bisa melihat, wajahnya sedang tersenyum saat ini karna mendengar perkataan gadis itu. "Iya bener," jawab gadis itu sembari menyilangkan jarinya, pertanda kalau dia sedang berbohong saat ini. Dia tidak akan mungkin membiarkan Niko yang kadang suka bersikap overprotektif itu mengawasinya. Mereka berpelukan cukup lama di cuaca yang mulai terasa dingin karna hari sudah semakin larut ini. "Ko." "Hmm?" "Engap gue ko, udah kayak Teletubbies kita lama-lama," ujarnya. Mendengar hal itu Niko sontak langsung melepaskan pelukannya. "Oiya, gimana kali lo? Masih kerasa sakit?" tanyanya dengan lembut untuk mencairkan suasana agar tidak canggung. Dia mengangguk, "Banget." "Yaudah, mau masuk lagi ke dalem buat di obatin?" tawar Niko. "Ngga usah, gue ngga mau. Gue mau pulang aja, pasti om sama tante udah khawatir dan nyariin gue karna gue belum pulang jam segini," tolaknya. "Tapi kan kali lo sakit Gus, bisa bahaya kalo didiemin." "Ngga papa ko, gue pasti bisa urus luka ini sendiri di rumah." "Tapi kan Gus..." Niko ingin membujuk lagi, tapi sayang perkataannya langsung terpotong oleh gadis itu. "Ngga ada tapi-tapian Ko, ayolah hargain keputusan gue. Dan sekali pun gue harus di rawat, gue ngga mau di rawat di sini. Gue ngga tau kenapa gue bisa ada di sini. Dan bisa aja orang yang ngebawa gue adalah orang jahat atau korban Dari Alexa, dan gimana kalo semisal mereka ketemu sama gue terus abis itu ngasih gue pelajaran karna ngira gue Alexa? otak gue tuh penuh dengan keparnoan tau ngga sekarang, jadi mendingan sekarang ayo kita pergi dari sini," pintanya. "Kenapa harus Alexa sih yang muncul?!" gerutu Niko. "Lo tanya ke gue terus gue tanya ke siapa ko?! gue juga udah ngerasa capek sama ini semua. Gue pengen idup normal tapi ngga bisa!" sahutnya. Niko mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, setiap kali Alexa muncul dia memang selalu mendatangkan masalah untuk mereka. Dan yups sebenarnya Alexa itu bukanlah orang melainkan sebuah alter ego. Dia adalah salah satu kepribadian ganda yang di miliki oleh seorang gadis yang bernama lengkap Silvia Agustina Valentine, seorang gadis remaja yang sangat terkenal di sekolahnya karena kecantikannya, dan itulah rahasia terbesarnya yang hanya Niko serta keluarganya yang tau. Orang yang sejak tadi bersama Bryan pun adalah dirinya, hanya saja tubuhnya sedang di ambil alih oleh salah satu kepribadian gandanya yang bernama Alexa itu, kenapa di sini di katakan salah satu? sebab Agustin memang tidak hanya memiliki satu kepribadian ganda saja melainkan ada 3 termasuk dirinya yang asli. Dan mereka semua sangat bertolak belakang karakternya, mereka biasanya terpacu untuk keluar saat Agustin merasa sangat sedih sampai jantungnya menjadi kesulitan bernafas seperti saat dia di makam tadi. Salah satu dari mereka akan muncul dan menggantikan posisinya saat hal tersebut terjadi, dan na'asnya saat ini malah Alexa sang kepribadian yang brutal serta penikmat rasa sakit yang muncul, dan saat dia yang muncul, biasanya Agustin akan mendapatkan masalah setelah kesadarannya kembali. Mulai dari tersadar di kantor polisi, di tempat sekumpulan anak geng motor dan menjadi orang yang sangat dihormati di sana, di rumah sakit, dan di tempat-tempat aneh lainnya. Agustin sudah memiliki penyakit D.I.D atau lebih akrab dikenal dengan nama kepribadian ganda, sejak kedua orang tuanya meninggal, dan hal itu tidak dapat hilang sampai sekarang padahal mereka sudah mengunjungi banyak dokter psikologi.  Setiap dokter yang mereka temui selalu menyerah di tengah jalan karna ulah Alexa, tidak ada yang berani dengan kepribadian itu. "Yaudah kalo emang itu mau lo, gue nurut. Ayo sekarang kita pergi," sahut Niko. Agustin mengangguk, dan mereka berduapun bangkit dari duduknya. "Oiya Ko, baju seragam gue banyak darahnya, terus roknya juga robek, kita bisa mampir ke butik dulu ngga buat beli seragam baru?" pinta Agustin. "Yaudah ayo kita ke butik sekarang, mumpung mereka belum tutup," jawabnya seraya melirik jam tangan miliknya. "Lo kuat ngga buat jalan?" lanjutnya. "Gue masih kuat kok ko, tenang aja." "Beneran? lo ngga bohong kan?" tanyanya lagi dengan nada tidak percaya. "Iya, beneran. Ngapain juga coba gue bohong? lagian emangnya kenapa kalo semisal gue ngga bisa jalan hah? lo mau nge gendong gue?" "Kalau emang itu harus, gue bakalan lakuin itu," jawab Niko dengan serius. "Guenya yang ngga mau lo gendong ko," Agustin langsung meletakkan tangannya di pipi kanan Niko dan mendorongnya ke samping agar dia tidak melihat wajah serius itu. Dia tidak mau suasana menjadi canggung di antara mereka karna Niko terlalu menunjukkan perasaannya. "Udah ah ayo cabut, keburu hari makin malem," lanjutnya seraya berjalan mendahuli Niko. "Kenapa lo ngga mau gue gendong?" tanya Niko yang ikutan berjalan di belakangnya. "Ya ngga mau aja." "Ya kenapa?" tanya Niko lagi. "Ya karna lo itu sahabat gue, bukan pacar gue. Dan lo juga udah punya cewek, jadi gue harus ngejaga perasaan cewek lo, gue ngga mau kena karma. Gue ngga suka laki masa depan gue ngegendong cewek lain selain gue jadi gue juga ngga boleh gitu ke laki orang lain" jawabnya asal. "Telat lo kalo mau ngejaga perasaan cewek gue. Tadi lo peluk-peluk gue, maksa gue jemput lo setiap kalo lo ada masalah, dan dengan kata lain secara ngga langsung lo nyuruh gue buat prioritasin lo dari hal apapun termasuk cewek gue, dan sekarang lo mau sok-sokan jagain perasaan dia?" goda Niko dengan nada bercanda. "Ya kan gue lakuin itu karna ngga ada pilihan lain, ah udah ah, ngapain sih bahas hal ginian, ngga guna tau ngga!" Agustin menggerutu untuk mengakhiri pembahasan mereka ini. Niko terkekeh pelan mendengar gerutuan Agustin itu. "Eh tapi tunggu deh, btw itu motor yang lo bawa motor siapa?" tnya Agus tiba-tiba setelah melihat motor yang di bawa Niko. "Motornya temen gue, dan tau ngga? gara-gara lo gue jadi tukang palak dadakan tadi di tempat tongkrongan!" jawabnya pura-pura menggerutu. "Hehehe, lo emang sahabat gue yang paling baik deh ko, jadi makin sayang gue jadinya sama Niko," Agustin berbalik badan dan langsung menunjukkan cengiran bodohnya kepada Niko. "Kalo ada mau nya aja di bilang sayang kalo ngga ada ya di kata-kata in, dasar manusia." "Yaudah sih Nik terima aja, udah takdir lo kali kayak gitu." "Takdir lo bilang? takdir macam apa itu woi yang kayak gitu?!" gerutunya. "Takdir untuk selalu jadi penolong gue saat gue susah." "Dan saat lo seneng lo malah sama yang lain, iya kan" "Ahh engga ah, perasaan lo doang kali kayak gitu," kilah Agustin seraya memukul lengan lengan atas Niko sambil tersenyum aneh. Niko langsung memutar bola matanya balas seraya memegangi lengannya yang mulai merasa nyeri karna pukulan Agustin itu. "Udah ah ayo kita pergi dari sini," ujar Agustin. "Iya-iya ayo pergi." Niko lagi-lagi menurutinya, dan terlihat jelas bukan bagaimana situasi cintanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN