Setelah selesai menjawab panggilan telfon dari sekretarisnya, Bryan masuk kembali ke dalam ruangan gadis yang dia ketahui bernama Alexa, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati ruangan tersebut telah kosong tak berpenghuni.
"Kemana dia?" batin Bryan bingung. Bahkan kening di wajahnya yang selalu datar itu sampai mengernyit di buatnya.
Dia sudah mengecek kamar mandi serta setiap sudut ruangan, tapi dia tidak juga menemukan gadis itu.
"Gus! Kok lo malah biarin cewek itu pergi tanpa seizin gue yang notabenya adalah dokter penanggung jawab dia sih?! diakan masih harus di rawat beberapa hari di sini!" protes David yang tiba-tiba datang dengan nada jengkel menghadap Bryan.
David memang sangat tidak suka jika pasiennya pergi begitu saja, karna jika hal itu terjadi dia akan merasa kalau dia seperti sedang di abaikan dan dia sangat benci itu.
"Gue ngga biarin dia pergi, dia yang kabur sendiri," jawab Bryan datar seraya membalikkan badannya menghadap David.
"Dan sebelum lo nyalahin gue, harusnya lo nyalahin diri sendiri karna sebagai dokter ngga mampu buat cegat pasien yang kabur bahkan di saat lo ngeliat kepergiannya dia!" lanjutnya, melimpahkan semua kesalahan kepada David.
"Kok lo malah nyalahin gue sih gus?! eh di sini itu lo yang paling salah yah bukan gue! kalo aja lo bisa jaga dia dengan baik ngga mungkin dia bisa pergi ke bawah dan kabur!" protes David yang tidak mau mengalah begitu saja karna dia merasa salah Bryan lebih banyak daripada kesalahannya.
"Gue tadi pergi sebentar buat angkat telfon dari sekretaris gue saat dia masih belum sadarkan diri, dan saat gue datang dia udah hilang, gue ngga tau kalo dia bakalan sadar secepat itu makanya gue tinggal," Bryan mencoba menjelaskan situasinya.
"Dan kenapa lo tinggalin dia gitu aja?! kenapa lo ngga jawab panggilan itu di ruangan ini aja?! toh ngga ada siapa-siapa! dan seperti yang lo bilang tadi, dia belum sadar saat lo dapet telfon dari sekretaris lo, jadi ngga mungkin dia bakalan bisa denger obrolan kalian! ruangan ini juga ngga di sadap! jadi lo bisa bebas bahas hal-hal yang bersifat rahasia di sini!" mencak David, meledak-ledak.
"Ini semua salah lo tau ngga! lo yang teledor karena udah ninggalin dia! dan lo sama sekali ngga ada hak buat nyalahin gue yang udah berusaha ngejar dia!" lanjutnya, dia benar-benar merasa sangat kesal saat ini.
Bryan menghela nafasnya, dia sangat kenal betul bagaimana sifat David dan dia juga sangat tau kalau sahabatnya itu sangat benci jika ada pasiennya yang kabur atau pergi tanpa seizinnya. Dan dia pun juga tau semarah apa David saat ini kepada dirinya karna telah membiarkan Alexa yang notabenya pasien David, kabur begitu saja.
tapi, meskipun dia sangat tau hal itu, Bryan benar-benar bersikap seolah-olah tidak memperdulikan nya, "yaudah gue ngaku salah, ini semua salah gue, seperti yang lo bilang tadi gue ngga becus jagain dia. udah puas kan? kalo iya gue mau pulang," jawabnya singkat mengakhiri perdebatan.
Berdebat dengan David yang sedang meledak-ledak adalah salah satu hal yang ingin Bryan hindari dalam hidupnya, karna rata-rata perdebatan yang terjadi di antara mereka hanya murni membuang-buang waktunya, tidak ada sedikitpun keuntungan yang bisa dia dapatkan di dalamnya.
Ingin rasanya David membunuh Bryan saat ini.
"Apa?! pulang?! bisa-bisanya lo bilang mau pulang ke gue disituasi ini!" delik David.
"Urusan gue udah selesai. Dia udah pergi dan gue udah ngaku salah sama lo. Jadi untuk apa lagi gue di sini?" tanya Bryan dengan wajah datarnya.
David mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin rasanya dia membelah d**a Bryan dan memastikan sendiri apakah sahabatnya itu benar-benar memiliki hati atau tidak.
"Oke relax Vid, relax.... dia emang manusia tanpa hati jadi ngga seharusnya lo ngerasa aneh lagi di saat dia nunjukin sikap ngga berperasaannya. Lo udah kuat di sisi dia selama 10 tahun jadi harusnya lo bisa ngatasin ini. Sabar Vid, anggap aja ini ujian buat lo, hidup lo terlalu mulus jadi lo perlu kerikil semacam dia buat ngasih sedikit kepahitan di dalam hidup lo yang sempurna dan bahagia ini," ujarnya kepada diri sendiri sambil mengelus-elus d**a dengan intonasi suara yang biasa agar Bryan dapat mendengarnya.
Berulang kali David menghirup nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya lewat mulut untuk menenangkan fikirannya yang sedang berapi-api itu, setelah dia berhasil melakukannya dia pun kembali menatap ke arah Bryan yang benar-benar mau pergi dari sana seperti yang dia katakan tadi.
"Dasar hati batu!" gerutunya saat melihat langkah Bryan yang berjalan ke arah pintu.
Dengan langkah yang cepat dia mengejar Bryan. Dan setelah jarak di antara mereka tinggal 2 jengkal, David langsung menepuk pundak Bryan dan meremasnya dengan kencang.
"Gus! pokoknya gue ngga mau tau! lo harus cari pasien gue itu sampe ketemu karna lo sendiri yang minta gue buat ngobatin dia! lo tau gue kan?! gue adalah dokter yang ngga mau setengah-setengah, gue harus pantau kondisi pasien gue secara berkala sampe mereka sembuh! jadi gue ngga mau tau, gimana pun caranya lo harus cari dia dan bawa dia ke sini lagi atau gue bakalan beneran marah sama lo, lo ngga punya pilihan lain selain nerima perintah gue ini, karna kalo sampe lo nolak, gue sendiri yang bakalan nyari dia, dan tentunya dengan cara gue sendiri pula! lo ngga mau kan hidup seseorang hancur gara-gara lo? jadi selamat mencari, gue bakalan pantau hasilnya mulai dari besok," Ujar David, mengancam Bryan.
Setelah mengatakannya, David tersenyum lebar kemudian pergi dari sana, meninggalkan Bryan yang tadinya ingin meninggalkan dirinya.
Lagi-lagi Bryan menghela nafasnya, jika dia tau gadis itu akan kabur seperti ini dia tidak akan mungkin memilih rumah sakit David sebagai tempatnya di rawat, atau jika sekiranya dia memilih tempat ini pun dia tidak akan pernah meminta David yang menjadi dokter penanggung jawabnya.
Karna memang begitulah David, dia adalah dokter gila yang tidak akan mengizinkan pasiennya pergi sebelum mereka sembuh total, atau jika semisal si pasien tersebut ngotot untuk meminta pulang pun hal itu harus meminta izin dari David terlebih dahulu, dan si pasien harus membiarkan serta mengizinkan dia untuk memantau kondisi mereka secara berkala dengan cara mengunjungi mereka 2 kali seminggu sampai si pasien benar-benar sembuh. Dan jika mereka menolak, David tidak akan mengizinkan mereka untuk pulang sampai kondisi mereka membaik.
Dan untuk pasien rawat jalan, di mana sang pasien tidak perlu menginap di rumah sakit, tentu beda lagi ceritanya. David tidak akan mengekang mereka, dia juga tidak akan mengunjungi mereka secara pribadi asal mereka selalu datang di setiap waktunya check up.
Dia adalah dokter yang perhatian kepada pasiennya, itulah alasannya, tapi hal tersebut juga menjadikannya terlihat seperti dokter gila di satu sisi.
Dia terlihat seperti terobsesi kepada para pasiennya, dia tidak akan pernah mau melepas mereka sampai mereka sembuh total. Bahkan dia tidak akan mempermasalahkan biayanya, kesembuhan mereka adalah hal yang paling utama baginya.
David tidak pernah memiliki pasien yang kabur seperti ini sebelumnya, Agustin adalah manusia pertama yang melakukan hal tersebut.
Dan karna ini adalah kali pertama bagi David, dia menjadi sangat murka dibuatnya.
Selama ini David tidak pernah kehilangan satu pasien pun, karna bagaimana mungkin para pasiennya mau melakukannya disaat David memiliki pesona yang dapat membuat siapapun tidak mau pergi dari dirinya?
Dan jika semisal pasien tersebut adalah seorang lelaki dan pesona David tidak mempan kepada mereka, mereka tetap tidak akan berani kabur. Kenapa? karna mereka tidak ingin mencari gara-gara dengan dirinya. David adalah anak dari seorang keluarga pengusaha yang beroperasi di bidang kesehatan, mereka tidak hanya memiliki banyak rumah sakit, melainkan mereka juga memiliki banyak bangunan kesehatan lainnya, jadi mencari gara-gara dengan dirinya sama saja dengan mereka menghancurkan bisnis mereka sendiri alias bunuh diri.
Seluruh dokter dan perawat di rumah sakit ini tau wataknya, dia adalah dokter ramah nan baik hati namun disisi lain memiliki sisi yang gila. Dia sangat baik dalam merawat para pasien. Dia telaten, perhatian, dan bisa menjadi teman bagi para pasiennya. Bahkan setiap kali dia mengunjungi mereka, David tidak pernah lupa membawakan oleh-oleh berupa makanan.
Dan jika kebetulan yang dia rawat adalah orang dari golongan bawah dan tidak mampu membayar biaya pengobatan, David akan meloloskannya dari biaya administrasi. Pasiennya tidak perlu membayar nya sepeserpun. Mereka cukup membayar dirinya dengan kesembuhan dan senyum bahagia di wajah mereka.
Dia adalah pemilik rumah sakit ini, jadi dia bisa bebas bersikap semaunya.
David adalah dokter yang kompeten, tapi meskipun begitu dia tidak memiliki banyak pasien sejauh ini, sudah bertahun-tahun dia berprofesi sebagai seorang dokter tapi pertahunnya kadang dia hanya memiliki 1 pasien saja, paling banyak pasien yang dia dapatkan dalam setahun itu hanya 5. Karna meskipun dia seorang dokter, David tidak akan asal memilih pasiennya begitu saja, hanya orang-orang yang dia rasa mampu bertahan dengan sikapnya yang akan dia obati. Dan untuk orang-orang yang dia rasa tidak akan mampu menghadapi sikapnya, mereka akan David alihkan ke dokter-dokter lain yang ada di rumah sakit ini.
Semua dokter di dalam rumah sakit ini adalah dokter-dokter yang kompeten, rata-rata dari mereka lulus dari universitas dengan nilai terbaik, dan rumah sakit mereka ini terkenal akan kehebatan para dokternya dalam menangani pasien, jadi setiap orang yang David eliminasi dari daftarnya tidak perlu berkecil hati karna dia mengalihkan mereka ke dokter-dokter lain yang sama kompetennya dengan dirinya, bahkan sebagian dari mereka memiliki kemampuan yang berada jauh di atasnya dalam bidang mereka masing-masing.
David juga mendapat julukan iblis berwajah malaikat, sama seperti Bryan. Tapi meskipun begitu mereka berdua memiliki perbedaan yang terlihat sangat mencolok dan bertolak belakang.
Jika di umpakan, Bryan itu ibarat musim hujan yang mendung dan gelap sedangkan David itu adalah musim semi. Mereka bagai es dan mentari.
Bryan masih terdiam di tempatnya, dia benar-benar merasa tidak bisa mengabaikan ancaman yang di berikan David tadi.
Tapi, se-khawatir apapun Bryan saat ini, dia rasa dia harus mengabaikannya untuk sejenak dan harus segera pulang ke rumah karna tubuhnya benar-benar sangat membutuhkan mandi dengan air panas untuk menyegarkan fikiran serta membersihkan tubuhnya yang penuh debu dan sedikit kotor.