Ruang VVIP restoran itu tenang. Pintu kayu tebal meredam suara dari luar. Hanya ada lampu gantung kecil di tengah ruangan yang memancarkan cahaya hangat, membuat meja makan tampak lebih intim daripada seharusnya. Lucas duduk dengan punggung tegak seperti biasa. Sikapnya tetap rapi dan tenang. Nyaris tidak berubah dari Lucas yang dikenal semua orang—dingin, terkontrol, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi berlebihan. Namun di seberang meja, Sisil sama sekali tidak memperhatikan itu. Gadis itu sedang sibuk melihat menu dessert. “Kok mahal banget sih ini harganya, Om?” gumamnya pelan. Lucas memperhatikannya. Matanya tidak berpindah. Ia sudah selesai makan sejak beberapa menit lalu, tapi tidak berniat menghentikan waktu makan malam itu. Ia hanya duduk, menatap Sisil yang tampak jauh

