Restoran itu tenang. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke meja-meja kayu mahal yang tertata rapi. Aroma kopi dan makanan hangat bercampur di udara. Namun bagi Kristian, suasana itu terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di meja dekat jendela bersama Anne, tapi pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Matanya beberapa kali melirik ke arah lorong yang mengarah ke ruang privat. Kosong. Tidak ada orang keluar atau masuk. Tadinya dia mau pergi, tapi berubah pikiran dengan makan siang di restoran yang sama meskipun di ruang umum, bukan privat. Anne memotong steaknya dengan santai. “Babe, kalau terus menatap ke sana, pelayannya bisa mengira lo sedang menunggu seseorang keluar dari kamar mandi.” Kristian tidak menjawab. Anne mengunyah makanannya, lalu berkata lagi dengan

