Bab 20 Baper Max

1140 Kata
Begitu pintu kamar kos tertutup, Sisil langsung bersandar di belakangnya. Tangannya masih memegang jas Lucas. Jantungnya belum turun dari tenggorokan. “Astaga…” Ia menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menjerit pelan ke telapak tangannya sendiri. “Aku dicium… aku dicium… AKU DICIUM!!!!” Ia melompat ke kasur, berguling, lalu memeluk bantal sambil menendang udara. “Gila gila gila gila gila—” Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dhea muncul dengan wajah datar sambil membawa semangkuk mie instan yang sudah jadi, siap makan dengan bau soto yang menyebar. Biasanya, Sisil akan selalu minta, sekarang, dia bahkan tidak peduli. “Kenapa? Ada kecoa atau lo kerasukan idol Korea?” Sisil langsung duduk tegak. Pipi merah. Rambut berantakan. Mata berbinar seperti lampu LED. Dhea menyipitkan mata. Radarnya aktif dengan cepat. "Anjayy, lo kayak habis dilamar." "Nggak, itu masih jauh, meski bukan berarti nggak mungkin," sanggah Sisil cepat. Dhea berpikir lagi sembari menyendok mie instannya sesuap. Sambil mengunyah, dia berpikit. “…lo habis ciuman ya?” Sisil membeku. Tebakan Dhea sangat akurat. Dhea menjatuhkan mie instan di mulutnya beberapa lalu meletakkan mangkuknya di ke meja agar tidak tumpah. Kabar dari Sisil beneran membuatnya merasa kehilangan kekuatan untuk memegang mangkuk. Kakinya bahkan gemetar tanpa sadar. “ANJIR BENERAN?!” Sisil menutup wajah lagi. Dhea langsung melompat ke kasur. “CERITAAAAA SEKARANG!!!” Sisil menggeleng heboh. “Gue malu, ih...” “LO YANG DATENG KE RUMAH SAKIT BUAT NGGODA ORANG SEKARANG MALU?!” “ITU BEDA!” “CEPET!” Akhirnya Sisil mengintip dari sela jari. “…Om Lucas nyium gue.” Dhea menjerit tanpa suara, memukul bantal. “OM DOKTER COLD CEO VIBES ITU???” Sisil mengangguk kecil. “Pelan, dalam dan manis… di mobil… terus dia bilang turun sebelum dia nyulik gue…” Dhea langsung menutup mulut. “YA TUHAN INI BUKAN DRAMA KOREA INI DRAMA FTV. SO SWEET!!!” Dhea meraih kedua bahu Sisil. “Gimana rasanya?!” Sisil menatap kosong ke depan. “…hangat.” “HANGAT??? LO KIRA MIE AYAM?” Dhea kesal karena jawaban Sisil tidak sesuai ekspektasi dan yang jelas tidak masuk akal. “Kayak… kayak strawberry. Bibirnya lembut, rasanya manis dan kayak jantung gue mau keluar tapi gue nggak pengen berhenti. Saat dia mundur, gue kayaknya mau narik dia lagi, tapi malu.” Dhea menatapnya seolah baru melihat spesies langka. “Lo baper maksimal, GILA.” Sisil langsung jatuh ke kasur lagi. “BANGET. INSANE, bukan gila lagi,” ralatnya sembari memeluk jas Lucas. “Malah ini gue bawa pulang…” Dhea menarik jas itu, melihat labelnya. “MAHAL BANGET YA ALLAH” “BALIKIN!” “Lo cium juga ini jasnya?” Sisil langsung merampas. “NGGAK LAH!” Diam bentar, mereka tatapan mata lalu Sisil kayak malu-malu. “…sedikit.” Dhea memekik lagi. “PSIKOPAT CINTA LO!!!” Sisil cuma ketawa lalu ekspresi Sisil berubah. Dia jadi lebih tenang dan lembut. Dhea juga jadi langsung mode serius dan siap nyimak apapun yang akan sahabatnya katakan saat ini. Jika Sisil tiba-tiba bilang mau nikah dan pindah, dia akan setuju dan membantunya pindahan detik ini juga. “…Dhe.” “Hm?” “Menurut lo… dia beneran suka gue nggak sih?” Dhea menatap Sisil serius. “Dia nungguin lo pulang kerja selama ini, kan? Meski dia bilang cuma nggak sengaja lewat.” “Ya.” “Dia beliin kopi dan setuju saat kamu ajak kencan.” Sisil mengangguk. “Dia juga ngasih lo tas 400 juta, ngajak lo ke restaurant makan dan nge-kiss duluan. Benar?” Sisil ngangguk. “Kalau itu bukan tanda dia suka sama lo atau nanti cuma bilang teman tapi romance, gue bakal pindah planet.” Sisil menggigit bibir. “Tapi dia kan Om-Om rasional… mungkin dia cuma kasihan…” Dhea memukul bantal ke wajahnya. “YA AMPUN SISILLLL. LO BUKAN REMAJA LABIL. SIAL!!!” Dhea rasanya greget banget sama Sisil yang masih insecure padahal jelas, semua yang dilakukan Lucas menunjukkan bahwa pria matang itu sudah jatuh hati pada sahabatnya. “Lo tahu cowok dingin tuh susah disentuh.” “Iya, sih." “Kalau dia sampai nyium lo, itu artinya dia udah kalah.” Sisil menatapnya pelan. “…kalah?” “Iya. Sama lo.” Pipi Sisil langsung merah lagi lalu tiba-tiba ia panik. “Dhe.” “Kenapa?” “Gue terlalu agresif nggak sih selama ini?” Dhea menatapnya datar. “Lo?” “Iya…” “Lo literally ngegodain om pacar mantan lo di ruang praktik.” “…iya juga sih.” “Tapi dia tetep cium lo.” Sisil kembali menutup wajah. “Gue takut…” “Takut apa?” “…gue keburu sayang eh ternyata dia cuma kebawa suasana.” Nada suaranya kecil. Nyaris tidak terdengar. Dhea langsung melunak. Ia menepuk kepala Sisil. “Ya udah sayang aja. Kalau terbawa suasana, dia nggak bakalan masih sewaras itu ngantar lo pulang.” “Kalau dia nggak serius gimana?” Sisil masih khawatir. “Gue tabok dia.” “Dhea, kasihan tauk.” "Anjir, lo malah belain dia." Sisil nyengir. "Btw, lo berarti udah jadian, dong?" Hening sebentar. "Dia belum bilang suka sama gue, hehe." Dhea langsung meringis. "Gila beneran lo. Jadi, lo dicium tapi belum jadian?" Sisil nyengir lagi, "Aneh gak sih?" "Hm... banyak yang gitu, sih, tapi kayaknya om-om gitu bakal gengsi kalau harus nembak ala remaja." "Kan... jadi ini bisa dibilang jadian secara nggak langsung ya?" "Maybe. Lo harus konfirmasi begitu kalian ketemu nanti." Sisil tiba-tiba tersenyum sendiri. Konyol, bahagia dan agak bodoh. “Gue pengen ketemu dia lagi segera.” Dhea mengangkat alis. “Baru juga sejam.” “YA KAN KANGEN.” Dhea memegang dadanya dramatis. “Fix. Temen gue udah tenggelam.” Sisil mengambil ponselnya. Layar menyala. Tidak ada pesan baru. Ia menatapnya beberapa detik lalu menghela napas panjang. “Kenapa dia belum chat…” Dhea langsung menunjuk. “JANGAN OVERTHINKING MODE ON, DEH. KALI AJA DIA BARU PULANG ATAU LAGI GANTI BAJU.” “Ya gimana dong. Gue pengen dichat...” Beberapa detik kemudian… TING. Ponsel Sisil berbunyi. Dhea langsung meloncat. “BUKA BUKA BUKA!” Sisil gemetar membuka layar. Pesan dari Lucas. “Lagi apa?” Sisil menutup mulut. “Mati gue.” “BALAS CEPET!” “Gimana jawabnya?!” “JANGAN PANJANG-PANJANG! COOL GIRL!” Sisil mengetik: “Kangen, Om.” Dhea langsung pura-pura mual. Sisil cuma ketawa kuda. Sepuluh detik pesan dibaca, belum dibalas. Typing di detik ke dua belas muncul. Dhea dan Sisil saling cengkeraman. Pesan baru masuk: “Bagus. Met istirahat.” Sisil menatap layar. “…cuma itu?” Dhea mengangguk bijak. “Classic Om-Om kematangan, Sil. Sabar.” Sisil mendesah. “…tapi gue seneng seenggaknya dia bilang bagus.” Dhea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Maklum dengan orang kasmaran. Sisil memeluk ponselnya. Senyumnya tidak bisa ditahan lagi. Di dalam hatinya, satu kalimat terus berulang: Kami akhirnya ciuman dan yang paling berbahaya, gue tidak ingin itu menjadi yang terakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN