Malam sudah cukup tenang di kontrakan kecil itu. Lampu ruang tamu menyala terang. Televisi hidup tapi volumenya kecil. Sebuah drama Korea berjalan tanpa benar-benar ditonton oleh siapa pun. Di sofa—Dhea duduk bersila dengan tangan menyilang dan wajah sangat serius. Di meja depan sudah ada dua gelas teh dan sebungkus keripik yang bahkan belum disentuh. Suasana itu terasa seperti ruang interogasi. Pintu depan akhirnya terbuka. Sisil masuk sambil melepas sepatu. Begitu melihat posisi Dhea—Ia langsung berhenti. “…kenapa lo duduk kayak hakim pengadilan?” Dhea tidak menjawab. Ia hanya menepuk sofa di depannya. “Duduk.” Sisil menghela napas. Dia tahu kalau Dhea pasti akan melakukan ini. “Drama banget.” Namun ia tetap berjalan mendekat dan duduk. Baru saja punggungnya menyentuh sofa— Dh

