“APA?” Suara Sisil langsung meninggi tanpa sadar. Dhea yang sedang memasukkan keripik ke mulutnya langsung membeku seperti patung. Matanya membesar. Ia menunjuk ponsel di tangan Sisil dengan ekspresi panik sekaligus penuh rasa ingin tahu. Sisil menutup satu telinga sambil berdiri dari sofa. “Serius?” Nada suaranya berubah menjadi lebih rendah sekarang. Beberapa detik ia hanya mendengarkan. Dhea merangkak sedikit di sofa, mencoba mendekat seperti detektif amatir. Sisil meliriknya dengan tajam. Dhea langsung pura-pura menonton TV. Padahal televisinya bahkan tidak ia lihat. “Hah… sekarang?” tanya Sisil lagi. Dhea kembali menoleh cepat. Matanya berbinar. Sisil menghela napas pelan. “Iya… iya… tunggu sebentar.” Ia menutup mikrofon dengan tangan lalu menatap Dhea. Dhea langsung bers

