PC ~ Makan Malam

1556 Kata
Malam harinya. Setelah langit berubah gelap, baru Starla bangun. Dia membuka pelan matanya. Tidak perlu mengawasi sekeliling karena dia sudah tau dia berada di ruang tidur Bastian. Tidak perlu terlalu di pikirkan, Starla tau kalau Bastian adalah b******n yang masih memiliki sedikit hati. Atau bisa di katakan b******n yang tidak sepenuhnya b******n. Kalau b******n biasanya sifat brengseknya sudah seratus persen, tapi kalau Bastian stuck pada kisaran tujuh puluh persen. Mungkin kalau Bastian bisa menikah dengan orang yang tepat, Starla yakin Bastian bisa mengubah semua tabiat buruknya di masa lalu. Tapi, pertanyaannya adalah.. apa pria seperti Bastian memiliki keinginan untuk menikah? Dan itulah masalahnya. Starla memijit pelan ruang di antara alisnya. Sudahlah! Memikirkan diri sendiri saja, dia tidak. Lantas kenapa dia bisa menjadi sangat kurang kerjaan dan memikirkan orang lain? Benar benar orang yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, tidak seperti dirinya yang biasanya. Starla bangkit dan segera turun dari ranjang, lalu dia melangkah menuju pintu dan segera keluar. Begitu keluar, bau yang lezat segera menghampiri hidung. Starla menghirup aromanya lagi, aroma daging panggang dengan saus barbeque dan bau aroma lain segera menyusul seiring langkahnya kian dekat ke dapur dimana wajan dan spatula berdenting saling bertabrakan. "Selamat malam, Starla. Kamu sudah bangun?" -------• --• Setelah melihat Starla masuk ke kamar tidurnya, Bastian segera menelepon bagian pelayanan dan meminta agar koper Starla di antar sekarang. Dia juga ingin beberapa pelayan membantunya membersihkan kamar tidur Starla dan mengemas barang barang gadis itu agar gadis itu tidak perlu lelah saat bersama dirinya. Beberapa saat menunggu, petugas pelayanan kamar datang dan mulai merapikan barang bawaan Starla. Hampir semua yang Starla bawa, entah itu pakaian, jam tangan, sepatu, perhiasan, maupun hp dan laptop, semua adalah merk ternama kualitas baik. Dari sini Bastian bisa mengerti kalau pekerjaan Starla pasti sangat baik. Memang, Starla pernah mengatakan kalau dulu dia adalah seorang model dengan jam terbang banyak, tapi, saat dia bertemu Starla enam bulan yang lalu di Malibu, Starla mengatakan sudah merubah profesinya menjadi seorang Sekretaris. Meski gajinya tidak sebesar saat menjadi model, tapi Starla mengaku sangat nyaman dengan profesinya yang hanya Sekretaris. Itu juga yang membuat Bastian mengagumi Starla lebih dari apapun. Dia yang awalnya selalu mengagumi dirinya sendiri tanpa henti, sekarang berubah haluan jadi mengagumi Starla lebih dari apapun. Setelah mengomandani beberapa pelayan dari awal sampai akhir. Bastian memberikan uang tips dan segera mengusir mereka semua. Dia yang sekarang benar benar seperti suami siaga. Karena hari sudah gelap, Bastian berjalan ke dapur dan mulai mengeluarkan sayur sayuran dan daging segar dari kulkas. Meski talentanya dalam memasak tidak bisa di katakan luar biasa, namun keterampilannya tidak bisa di katakan tidak baik. Masakan Bastian rasanya berkelas dan pasti akan membuat wanita manapun yang mencicipinya akan terpesona, tapi sayangnya, sampai detik ini Bastian tidak berniat untuk menunjukkannya kepada siapapun. Dan nampaknya, wanita pertama paling beruntung yang akan menikmati masakannya adalah Starla, dan mungkin hanya Starla seorang. Masakannya hampir selesai. Bastian sudah memanggang daging kualitas medium dengan saus berbeque, salad with mayonaise sauce, dan juga lava cake. Sekarang saatnya dia merapikan meja, menyiapkan piring, mengambil koleksi wine mahalnya dari dalam lemari dan menuangkannya hingga setengah gelas. Kemudian baru Bastian menata piring piring masakannya dengan cekatan dan sangat cermat. Melihat pergerakan dari arah kamar tidurnya, Bastian menoleh dan mendapati Starla sedang berjalan ke arahnya. Penampilan Starla sangat sederhana. Hanya mengenakan kimono handuknya yang pastinya kebesaran, wajah bersih tanpa make up namun warnanya merah seperti Cherry yang baru merekah. Bibir tipis Starla berwarna merah muda dan mungkin sangat kenyal saat di cium. "Selamat malam, Starla. Kamu sudah bangun?" Bastian berkata dengan suara lembut. Starla menganggukan kepala. "Dimana pakaian ku? Aku ingin berganti pakaian." Memakai handuk seperti ini rasanya benar benar tidak nyaman. Rasanya seperti dia di lilit selimut yang sangat tebal saat cuaca panas. Membuat dirinya berkeringat sangat banyak. "Itu, ada di kamar tidurmu." Bastian menunjuk kamar Starla yang sudah layak di tempati. Semua di tata sesuai tempatnya. Bastian bahkan menambah beberapa gaun, sepatu hak tinggi, sneakers, pakaian santai untuk di pakai di rumah, dan masih banyak lagi. Karena dia pikir Starla membawa sangat sedikit barang. Kebanyakan barang yang Starla bawa adalah pakaian formal untuk bekerja. Blazer, kemeja, rok span, celana panjang, meski semua adalah barang barang limited edition, tapi jumlahnya bisa di hitung dengan jari. Bastian sebagai pria yang perhatian terhadap Starla, tidak bisa melihat Starla di bully di tempat kerjanya nanti. Jadi, dia akan berusaha yang terbaik untuk membuat Starla tidak di lecehkan di tempat kerja. "Baiklah, aku akan berganti pakaian dulu." Starla melangkah ke arah tunjuk Bastian tadi. Dia masuk dan mulai mengawasi sekeliling. Kamar tidur pilihan Bastian tidak mungkin mengecewakan. Dasar orang kaya, seleranya pun pasti bagus. Starla masuk ke ruang wardrobe, dan mulai memilih pakaian santai yang akan di kenakannya. Namun, saat melihat pakaiannya berkembang biak tiga kali lipat lebih banyak dari apa yang dia bawa dari Kampung Halaman, dia tidak bisa tidak menyipitkan mata. Starla tau Bastian adalah pria yang murah hati, tapi dia benar benar tidak mau menerima pemberian pria itu terus terusan. Dia tidak semiskin itu sampai tidak bisa membeli pakaiannya sendiri. Terlebih, Starla memang sengaja membawa sedikit barang agar tidak begitu menyulitkan. Dia tidak ingin repot, dan di pusingkan dengan barang bawaan yang dia pikir itu tidak penting. Lagi pula, hanya baju dan dia bisa membeli begitu dia sampai di Jerman. Pikirnya. Tapi, bukan Bastian namanya kalau tidak menyebalkan dan menyulut emosinya. Sudahlah! Starla mengambil dress bahan rajut yang dia bawa dari Rumah dan segera mengenakannya. Menolak dan mengembalikan semua pemberian Bastian, takutnya akan menyinggung dan membuat pria itu tidak nyaman. Jadi, dia akan berusaha untuk tidak mengenakan pakaian pemberian Bastian. Selesai berpakaian, Starla kembali ke meja makan. Melihat Starla keluar dengan penampilan yang sederhana, Bastian tidak bisa mengalihkan pandangannya. Meski sederhana tapi masih sangat cantik, itulah yang membuat Bastian sulit berpaling. "Wow, sangat cantik." Bastian tidak bisa mengedipkan mata. Dia yang sudah terpikat, sulit untuk terlepas dari jerat cinta Starla. "Jangan bicara omong kosong." Starla mendudukkan dirinya di balik meja makan. Dia mengambil gelas winenya, menggoyangnya sebentar, lalu mendekatkan gelasnya ke arah Bastian. "Untuk pertemuan pertama kita setelah enam bulan tidak bertemu." Bastian buru buru mengambil gelas dan mengangkatnya. "Untuk kita yang tinggal bersama. Bersulang!" Suara dentingan terdengar saat gelas milik Starla dan Bastian bersentuhan. Setelahnya terdengar tawa dari ke dua orang yang sudah meminum seteguk wine dan meletakan gelasnya kembali ke tempat semula. "Ayo, makan! Aku tau kamu pasti sudah lapar." "Kamu memasak sendiri?" Starla mengambil garpu dan mulai memakan saladnya. Bastian hanya mengangguk ringan. "Em.. sangat enak. Aku tidak tau kalau kamu bisa memasak?" Starla kembali menyuapkan salad buatan Bastian ke dalam mulut. Benar benar enak. Terlebih, Starla yang selalu mementingkan soal penampilan, lebih sering memakan sayur dan buah untuk menjaga bentuk tubuhnya. Sangat jarang dia memakan daging. Kalaupun makan, paling hanya beberapa potongan kecil. Bastian hanya tersenyum. "Aku akan menganggap ucapanmu sebagai suatu pujian. Ngomong ngomong, apa kamu tidak makan daging?" Dia yang hanya melihat Starla memakan sayur, sedikit menyernyit. "Makan, hanya saja tidak banyak." Starla tersenyum, menunjukan deretan giginya yang putih, rapi dan bersih. "Kamu itu sudah sangat kurus, kalau kamu tidak makan daging, kamu bisa sakit." Bastian mengulurkan piring berisi daging kepada Starla yang yang sudah dia potong potong. "Makanlah, itu rendah lemak. Tidak akan membuat gemuk." Starla tersenyum. Dia menerima uluran piring dari Bastian, lalu menggeser piring saladnya. Dan mulai menancapkan garpu pada daging yang sudah Bastian potong kecil kecil. "Medium, dan aku menyukainya." Starla berucap setelah melihat jenis dagingnya adalah medium, dan itu sesuai seleranya. "Aku tau kamu pasti menyukainya." Bastian berkata dengan percaya diri. "Ngomong ngomong, kamu akan bekerja di perusahaan mana?" "RC Group." Starla menjawab santai. "Bos lamaku mengirimku ke sini karena Sekretaris RC Group Jerman harus kembali ke Indonesia. Sementara bos lamaku akan kembali ke Manila, Philippines. Jadi, untuk perkembangan karirku ke depannya agar semakin baik, aku tidak mempunyai pilihan selain mengambil pilihan untuk berangkat ke Jerman." "Oh begitu." Bastian menganggukan kepala. "Aku yakin karirmu akan semakin baik kalau menjadi Sekretaris bos besar dari RC Group Jerman. Selain karena nama RC belakangan sedang melejit, RC juga membuka bisnis bisnis baru seperti pada bidang Security, Otomotif, dan masih banyak lagi." Bastian menjelaskan sedikit tentang apa yang dia tau dari RC Group. "Aku hanya berharap, semoga saja bos baruku tidak begitu menyulitkan. Meski bos lamaku sering mengatakan kalau bos besar Jerman hanya sedikit rewel, tapi tidak tau kenapa instingku berkata kalau bos besar memiliki semacam gangguan mental." Starla mengatakan begitu saja apa yang ada di dalam kepalanya. Bastian terkekeh. "Itu tidak mungkin. Kalau bos besar RC gangguan mental, dia tidak akan mampu memenangkan banyak tender bernilai fantastis dan merajai perekonomian Jerman sejak bertahun tahun yang lalu sampai sekarang." Starla turut tertawa. "Oh ya?" Dia tidak menyangka kalau nama RC benar benar melejit di Jerman. Sampai sini, dia semakin penasaran dengan sosok bos besar yang sering Tuan Arka bicarakan. Seperti apa orangnya, seperti apa karakteristiknya, dan seperti apa sepak terjang orang yang begitu hebat seperti Tuan Aero? Starla benar benar sudah tidak sabar ingin bertemu. Bastian mengangguk. "Tentu saja. Tuan Aero itu sangat terkenal kehebatannya, usianya juga masih muda, belum menikah pula, tapi kamu tidak di izinkan untuk mencintainya." Bastian menekankan lima kata terakhirnya. Artinya sudah sangat jelas, yaitu Starla hanya boleh memandang, mengagumi, dan mencintai Bastian seorang. "Tentu." Starla mengangguk begitu saja. Dia malas berdebat dengan pria miskin kreatif seperti Bastian. Jadi, cukup di iyakan dan itu sudah selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN