PC ~ Berangkat Kerja

1772 Kata
Pagi harinya. Starla bersiap siap akan pergi ke perusahaan. Dia sengaja bangun sangat pagi agar bisa mempersiapkan diri dengan maksimal. Dia memang tidak berharap akan bekerja hari ini. Dia hanya akan melapor kepada petinggi RC bahwa Sekretaris baru yang Tuan Arka kirim, yaitu dirinya sudah tiba. Kira kira seperti itu. Merasa belum akan di pekerjaan hari ini, Starla hanya mengenakan kemeja berwarna putih bersih yang dua kancing atasnya tidak dia kaitkan, dengan lengan kemeja yang dia lipat hampir sampai siku. Rok span berwarna hitam dua inci di atas lutut. Sepatu pentofel lima inci berwarna sama dengan roknya. Sementara rambut, Starla hanya menggulungnya begitu saja. Dan untuk riasan, dia memakai riasan tipis bahkan terlihat natural, selalu menjadi gayanya tiap kali pergi ke Kantor. Starla keluar dari kamar tidurnya sembari merenggangkan tubuh, kemudian menguap. Pergi ke Jerman, seharusnya untuk liburan, siapa sangka kalau dia justru pergi ke Jerman untuk bekerja? Benar benar memuakkan. "Masih ngantuk?" Bastian yang sudah menunggu Starla di meja makan sembari sarapan, menghentikan pergerakannya. Dia mengenakan pakaian formal hari ini. Terlihat tampan dengan perawakan kekar dan tinggi. Starla mengangguk, dia memegang tengkuknya. "Entah kenapa aku merasa tidak nyaman tidur di apartemen mu." Ucapnya sembari mendudukkan diri di balik meja makan. Ada sebuah sandwich dan sedikit salad di atas piring yang Bastian siapkan untuk sarapannya pagi ini. "Mungkin karena kamu tidak tidur denganku." Bastian berceletuk seenak dahi. Dia mengusap mulutnya menggunakan tissue karena dia sudah selesai dengan sarapannya. "Omong kosong." Starla angkat bicara. "Ngomong ngomong, kenapa kamu begitu yakin kalau tidur denganmu bisa membuatku tidur nyenyak?" Starla mengarahkan garpu yang di pegangnya ke arah Bastian seperti sedang membidik. Dia memang hanya menggunakan garpu untuk menyuapkan sandwich dan salad ke dalam mulut. Mungkin kalau dia menggunakan pisau, adalah pisau yang akan dia arahkan kepada Bastian. "Itu sudah sangat jelas dan tidak perlu di tanyakan lagi." Bastian menjawab congkak. Servisnya selalu memuaskan dan setiap wanita yang berada di bawahnya pasti akan kelelahan dan tertidur pulas pada akhirnya. "Aish.." Starla mendesis. Dia tidak suka cara penyampaian Bastian yang menurutnya terlalu lugas. Dia tau kalau Bastian sudah tidur dengan banyak wanita, tapi Bastian tidak perlu menjabarkannya lagi, kan? Itu membuat selera makannya hilang. Starla mengusap mulutnya dengan tissue. "Aku sudah kenyang. Aku akan berangkat dulu." Setelah berkata, Starla bangkit dari duduknya, dia meraih tas lalu berjalan keluar dari Apartemen. "Hei, sarapanmu belum habis, kenapa kamu sangat terburu buru dan tidak menghabiskannya?" Bastian berteriak memanggil Starla, namun Starla terus melangkah dan tidak menghiraukan dirinya. Melihat piring Starla yang masih banyak isi, Bastian tidak berdaya. Hanya sepotong sandwich dan sedikit salad pun tidak di habiskan. Dasar wanita! -------• --• Starla sudah menunggu selama sepuluh menit, tapi tidak ada satupun taksi yang lewat. Dia melihat jam tangan dengan gelisah. Kalau seperti ini terus, dia bisa terlambat. Satu hal yang Starla lupakan adalah.. Apartemen elite seperti ini tidak akan ada taksi apalagi bus yang akan melewati jalan di depannya. Bodohnya dia yang mau di perdaya oleh Bastian. Bastian pasti sengaja membawa dirinya tinggal di tempat ini agar Bastian memiliki alasan untuk mengantar dan menjemput dirinya untuk bekerja. Tin tin. Starla menaikan wajahnya secara perlahan. Benar aja, ternyata dugaannya seratus persen akurat. Bastian benar benar b******n sejati. Baru muncul di asumsinya, dan sekarang orang yang asli sudah berada di depannya dengan wujud yang paling nyata. Bastian menurunkan kaca jendela mobilnya. "Mau berangkat bersama?" Starla bimbang. Dia ragu apakah dia harus berangkat dengan Bastian? Ingin bilang tidak, tapi dia sudah berada di jalan buntu. Dia tidak memiliki pilihan lain. "Baiklah, kalau kamu tidak ingin berangkat kerja, tidak masalah. Jadilah gadis yang baik, aku yang akan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Kamu tunggulah aku dengan patuh di rumah." Selesai berkata, Bastian menaikan kaca mobilnya lagi. Petuahnya mirip nasehat seorang Suami yang tidak menginginkan Istrinya pergi bekerja. Sangat menggelitik. Starla yang sudah tersudut, bergegas masuk ke dalam mobil dan mendudukkan diri pada kursi samping kemudi. "Hei, siapa yang bilang aku akan menunggumu di Rumah? Sayangnya, aku tidak sepatuh itu untuk diam di rumah dan mengandalkan seorang pria untuk menghidupi ku." Starla memasang sabuk pengamannya dengan wajah yang dia alihkan ke arah lain. Dia tidak ingin melihat Bastian yang menyebalkan. "Dan kebetulan aku menyukai sikapmu yang seperti ini." Bastian yang sudah meletakan kedua tangannya pada stir, menarik satu tangan yang kemudian dia letakan pada paha Starla. "Berhenti bersikap seperti seorang pria m***m!" Starla menghempas tangan Bastian agar tidak sembarangan menyentuh dirinya. "Apa kamu ingin melihat kelakuan pria m***m yang sebenarnya?" Bastian menatap Starla dengan kepercayaan diri tinggi sembari menyentuh kejantanannya yang mulai bereaksi. Hanya sentuhan kecil yang Bastian lakukan pada Starla, namun efek sampingnya benar benar besar. Mengakibatkan tubuhnya memanas dengan kejantanan yang sudah berdiri. Melihat sesuatu yang menonjol di balik celana Bastian, Starla bergidik ngeri. Pria ini benar benar monster. "Astaga, Bas. Aku akan turun di sini kalau kamu tidak menjalankan mobil dan menghentikan omong kosong ini!" Starla sudah melepas sabuk pengamannya. Dia tidak bercanda dengan apa yang dia ucapkan. Dia benci dengan perilaku Bastian yang sembarangan menunjukan batangan kaku itu. Menurutnya itu sangat tidak sopan. "Aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu seserius itu menanggapinya. Lagi pula, adik kecilku sangat sabar dan tidak akan sembarangan menerobos masuk ke lahan yang belum ada izin untuk memasukinya." Bastian mengusap kejantanannya dengan ekspresi berat menahan hasrat. Dia sudah berusaha yang terbaik untuk menekan keinginannya untuk b******a hanya demi wanita ini untuk menunjukkan keseriusannya. "Bas." Dilara mulai mengeluh. "Mau jalan atau tidak?" Bastian terkekeh. "Ini juga sudah mau jalan." "Kalau begitu, bergegaslah!" "Iya, sabar sedikit." "Astaga, Bas." "Iya." Bastian buru buru menjalankan mobilnya. Wanita selalu saja tidak sabaran. ----------• ---• Bastian menghentikan mobilnya di depan gedung bertuliskan RC Group, Technology and Communication. Dia menoleh ke arah Starla. "Kita sudah sampai." Starla menganggukan kepala. "Terima kasih." "Sama sama. Kamu berhati hatilah! Kalau pulang, hubungi aku, aku akan menjemputmu. Sini hpmu!!" Bastian menengadahkan tangan meminta hp Starla untuk dia pinjam. "Untuk apa?" Meski bertanya, tetapi Starla tetap mengambil hp dan menyerahkan kepada Bastian. "Nanti kamu juga tau." Bastian tidak mengeluarkan kartu SIM lama Starla, dia hanya membuka dan menambahkan kartu SIM baru nomor Jerman. Selesai memasang kartu SIM, dia menulis nomor hpnya sendiri lalu menekan simbol panggil. Bastian menunjukkan Hpnya yang berdering kepada Starla. "Nomor hp ku sudah ku simpan di kontakmu, kamu bisa hubungi aku kalau kamu sudah selesai bekerja." Bastian mengembalikan hp Starla dengan senyum cerah yang mengembang. Starla memasukan hpnya ke dalam tas kembali dan tidak mengeceknya lebih dulu. "Iya." Starla yang tidak merasakan bahaya apapun, hanya mengangguk. Dia tidak curiga atau berprasangka buruk kepada Bastian meski pria tampan itu tersenyum dengan sangat mengerikan. Menurutnya, Bastian cukup perhatian karena berinisiatif membelikan dia kartu SIM Jerman yang dia sendiri bahkan tidak pernah memikirkannya. Starla membuka pintu mobil. "Aku berangkat dulu ya?" Dia mengulurkan tangan kanannya kepada Bastian, Bastian menerima tangan Starla kemudian mengecupnya. "Kamu bekerjalah dengan hati hati!" Melihat Bastian tidak keberatan mengecup punggung tangannya, Starla tersenyum kecil. Kalau Suami Istri di Kampung Halamannya di Tanah Air adalah Istri yang mencium punggung tangan Suami. Tapi karena ini adalah Jerman, posisi mereka juga sedikit terbalik. Starla menarik tangannya lagi. "Baik, aku akan mengingatnya." Selesai beramah tamah, dia segera turun dari mobil. Dia menyaksikan saat mobil Bastian melaju kembali di jalan raya hingga siluetnya menghilang. Starla menghela nafas panjang saat melihat gedung RC Group Technology and Communication yang berdiri di depannya. Sejujurnya dia sangat gugup. Berada di perusahaan besar sekelas RC, dirinya merasa bukan siapa siapa. Sulit untuknya menerima kenyataan kalau dia akan menjadi Sekretaris Bos Besar di perusahaan ini. Selesai merenung, Starla melangkahkan kaki memasuki pintu masuk perusahaan, dia menghampiri resepsionis dan menunjukan berkas yang di bawanya dari Indonesia sebagai persyaratan untuk menjadi Sekretaris Pribadi yang resmi di rekomendasikan oleh Adik kandung Tuan Aero. "Silahkan anda tunggu sebentar! Saya akan menghubungi Asisten Tuan Aero untuk menjemput anda di sini." Resepsionis berkata dengan sopan. Starla hanya mengangguk. Perusahaan yang baik, yang berhasil, adalah yang bisa menanamkan budaya sopan santun kepada para pegawainya. Nampaknya, Bos RC adalah orang yang bisa di andalkan. Terbukti dari resepsionisnya yang berperilaku baik dan tidak menyebalkan seperti pada perusahaan lain yang dia pernah mendaftar kerja sebelum masuk ke RC Group. Selesai Resepsionis menelepon, beberapa saat kemudian lift khusus eksekutif terbuka. Menampilkan sesosok pria tampan yang berjalan dengan gagah ke arah Starla. "Apa anda Nona Starla?" Pria itu yang tidak menemukan orang lain selain Starla, bisa menebak kalau wanita yang berada di depannya adalah Sekretaris baru yang akan menggantikan Nona Aruna yang di rekomendasikan oleh Tuan Arka. Berdasarkan pengamatan mata lelakinya, di lihat dari penampilannya, Starla sangat menarik. Rapi, formal, tinggi, cantik, tidak berlebihan, percaya diri, dan itu sesuai dengan selera Tuan Aero dalam menentukan standar untuk jabatan Sekretaris pribadi. "Iya, itu adalah saya." Starla menjawab cepat. Dia menunjukan berkas yang tadi sudah dia perlihatkan kepada Resepsionis. Pria itu meraih berkas milik Starla dan melihatnya sekilas. Pendidikan bagus, nilai tinggi, kepribadian baik, keterampilan okey, IQ cukup, pengalaman lumayan. Dia pikir gadis ini.. cocok. "Meski menurut saya, kamu kompeten dan kooperatif, tapi bawa berkasnya dan tunjukan sendiri pada Tuan Aero. Biar Tuan Aero yang menilainya sendiri. Dia agak susah di atasi." Pria itu menyerahkan berkas itu kembali kepada pemilik aslinya. "Baiklah." Starla tau kalau ini bukan hal yang mudah. Tapi, meskipun begitu, dia tetap berharap kalau Tuan Aero tidak seburuk dalam bayangannya. Setidaknya.. mereka berasal dari ras, suku, budaya dan tanah air yang sama, jadi dia berharap Bos Besar RC bukanlah seorang alien yang suka menindas dan menyulitkan seseorang. "Oh iya, perkenalkan, nama saya Ivo, Asisten Tuan Aero." Ivo mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Starla. "Saya Starla. Senang bertemu dengan anda." Starla membalas uluran tangan seseorang yang mengaku bernama Ivo dengan senyum palsu yang mengembang. Pahitnya, kalau dia tidak di terima kerja di sini, dia akan melamar kerja di perusahaan lain saja. "Mari ikut saya untuk bertemu Tuan Aero." Ivo yang sudah menarik tangannya kembali, segera meminta Starla untuk mengikutinya. Manaiki lift khusus eksekutif ke lantai teratas, Ivo menjelaskan tentang pengetahuan dasar untuk seorang Sekretaris yang baik dan benar di mata seorang Tuan Aero yang selalu membudayakan kesempurnaan. Starla mendengarkannya dengan serius. Yang harus Starla lakukan untuk langkah pertamanya adalah memberikan kesan yang baik di depan Tuan Aero, tidak perlu berlebihan dan cukup menjadi diri sendiri. Kira kira itu yang Ivo maksud agar dia tidak menyinggung pemimpin RC yang maha hebat. "Ingat, jangan pamerkan apapun, cukup tunjukkan kalau kamu mampu, kalau kamu bisa. Tuan Aero tidak menyukai orang yang banyak omong." Adalah petuah terakhir dari Ivo untuk Starla. Starla mengerti. Dia paham betul dengan karakter seperti itu. Karena dia sendiri juga begitu. Tidak suka saat orang banyak bicara namun pada akhirnya hanya menjadi hembusan angin yang lewat begitu saja. Dan itu sangat menjengkelkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN