"Huft.." Starla menghela nafas lega setelah Ivo membawa dirinya keluar dari ruang Presdir yang udaranya terasa mencekik leher.
"Ada apa? Apa kamu baik baik saja?" Melihat wajah pucat Starla, Ivo tidak bisa tidak bertanya. Kalau tebakannya benar, seharusnya itu karena Aero.
Ivo tau kalau berbicara dengan orang seperti Aero memang sulit, kalau dia bisa memilih, dia sendiri bahkan akan memilih untuk berbicara dengan dinding dari pada harus berbincang dengan pria dingin seperti Aero. Dia bisa tertekan secara batin dan mental.
"Aku baik baik saja." Starla menutupi tangannya yang gemetar. Tidak tau bagian mana yang membuat Starla takut, namun secara keseluruhan, semua membuat dirinya tertekan.
"Tidak perlu di pikirkan, Aero memang sudah seperti itu sejak lahir." Ivo meski tidak menyukai karakter Aero yang berubah ubah, namun dia tidak mau mengajak orang lain untuk memprovokasi Aero. Dia tidak sepicik itu.
"Aku juga tidak memikirkannya." Starla mengulas senyum tipis.
Berjalan bersisian dengan Ivo yang tampan dan banyak bicara, Starla merasa nyaman. Ketegangan yang tadi sempat tercipta, perlahan mengendur. Berganti dengan rasa tenang saat mendengar lelucon lelucon yang Ivo lontarkan untuk menghangatkan suasana.
Mereka mengeksplor lantai teratas. Ruang Presdir, Starla sudah tau, jadi mereka berjalan sebentar untuk melihat pantry.
Ivo membuka pintu, memperlihatkan pantry kantor gaya modern dengan tatanan rapi dan bersih. Wallpapernya berwarna cokelat kayu dengan sentuhan warna putih yang membuat pantry terasa nyaman dan hangat.
"Ini adalah pantry kita." Ivo masuk ke dalam, di susul Starla yang mengikuti di belakangnya. "Aero suka minum kopi jenis espresso." Ivo menunjukan sebuah mesin kopi yang sering di pakainya untuk membuatkan espresso untuk Aero.
Starla menganggukan kepala. Namun sayangnya dia tidak tertarik untuk obrolan semacam ini. Kesukaan Aero, ini.. itu bla bla bla.. pembicaraan itu membuatnya muak dan bosan.
"Sepertinya kamu cukup dekat dengan Aero?" Starla yang sudah sangat penasaran saat melihat perbincangan Aero dan Ivo yang santai, tidak bisa tidak bertanya. Dia lebih suka pembicaraan yang seperti ini, bukan pembicaraan tentang aktifitas Aero, kebiasaan Aero, kesukaan Aero, f**k. Dia lebih suka mengorek informasi tentang Ivo yang bisa menarik hati, bisa menaklukan, bisa menjinakkan seekor Scooby Doo.
Atau.. jangan jangan.. dugaannya tentang Aero yang gay adalah benar? Buktinya.. Ivo bisa akrab dengan Aero, kalau tidak ada hubungan khusus, tidak ada ketertarikan, tidak ada perasaan cinta, apa mungkin orang seperti Aero bisa bersahabat dengan orang lain?
Di lihat dari sudut pandang Starla, Ivo adalah seorang pria berwajah tampan, berpostur tinggi, dan memiliki tubuh yang kekar serta berotot. Pembawaan Ivo yang humoris dan banyak bicara, bahkan mampu mengakrabkan hubungan mereka yang baru bertemu beberapa menit yang lalu.
Ivo pandai menciptakan suasana yang menyenangkan dan mengasyikan. Tidak membuat orang merasa bosan, tidak membuat orang merasa suntuk, tidak membuat orang merasa penat, dan tidak membuat orang merasa tidak nyaman. Untuk masalah komunikasi, berbicara dengan Ivo adalah pilihan yang tepat.
Mungkin karena asumsinya yang seperti itu tentang Ivo sampai dia berpikir kalau hubungan ga-y antara Ivo dan Aero masuk akal. Tapi.. apa orang seperti Ivo bisa berbuat seperti itu? Apa mungkin Ivo tidak normal? Apa mungkin Ivo penganut LGBT? Apa mungkin.. apa mungkin.. apa mungkin.. apa mungkin Ivo lebih menyukai yang berbatang dari pada yang berlubang?
Astaga! Pemikiran Starla benar benar kacau dan menyeramkan.
"Kami kuliah di Universitas yang sama." Ivo yang mencium bau bau prasangka buruk dari Starla, segera menjelaskan. Dia tidak tau apa yang ada di dalam pikiran Starla, tapi dia merasa itu adalah sesuatu yang sangat menjijikan.
Starla tersenyum canggung. Apa prasangka buruknya sudah salah alamat? Entahlah.. hanya Tuhan yang tau. Tapi, meskipun begitu, itu bukan berarti tidak ada apa apa, dan itu tidak akan menyurutkan niatnya untuk menggali lebih dalam lagi tentang gangguan mental, penyimpangan sosial, penyimpangan sek-sual, atau apapun itu.
"Apa Aero memiliki semacam penyakit?" Starla bertanya dengan wajah ingin tau.
Ivo mengerutkan kening. "Penyakit?" Ivo berpikir sebentar. "Penyakit kronis.. rasanya tidak."
"Bagaimana dengan penyakit mental?"
"Tidak juga. Aku pernah menemaninya menemui Psikiater, dan Psikiater mengatakan kalau dia baik baik saja." Ivo tidak yakin dengan apa yang Starla tanyakan. Penyakit mental? Mana ada.
Starla memutar bola matanya. Tidak ada penyakit kronis, tidak ada penyakit mental, berarti kemungkinannya adalah.. Aero menderita penyimpangan seksual.
"Kalau penyimpangan sek-sual, apa mungkin?"
Ivo tercengang. Penyimpangan sek-sual? Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya dia tertawa terbahak bahak. Seperti mendengar humor yang seru, tawanya bertahan sangat lama sampai dia memegang perut karena terasa sakit.
"Kenapa kamu tertawa?" Starla merasa yang mengalami gangguan kejiwaan di sini adalah Ivo.
"Hei! Beraninya kamu bertanya seperti itu?" Selesai tertawa, Ivo berteriak kencang kepada Starla dan memarahinya. Dia mendekat ke arah Starla lalu menjepit leher gadis itu menggunakan lengannya.
"Lepaskan! Dasar gil-a!" Starla meronta sekuat tenaga agar Ivo melepaskan dirinya.
"Kamu yang sudah mencari mati!" Ivo tidak gentar, dia masih setia menjepit leher Starla. "Kalau orang itu mendengar apa yang tadi kamu katakan, kita berdua bisa mati."
"b******n! Kamu yang akan mati sendiri karena aku yang akan membunuhmu!" Starla masih berjuang untuk melepaskan diri.
"Aku akan melepasmu kalau kamu berjanji tidak akan mengatakannya lagi, bagaimana?" Ivo tidak ingin menanggung resiko. Nyawanya terlalu berharga untuk mati hari ini.
"Baik, aku janji tidak akan mengatakannya lagi, tapi kamu harus memberi tahu alasannya. Setidaknya katakan agar aku bisa mati dengan tenang di tanganmu."
Ivo menyeringai. "Terserah, pilihan ada di tanganmu. Mau mati, baik, akan aku kabulkan!"
"Tidak! Aku tidak mau mati." Di sudutkan seperti ini, Starla hanya bisa mengibarkan bendera putih, menyerah. "Baiklah, kalau begitu, aku janji."
"Janji apa?"
"Janji tidak akan mengatakannya lagi, atau mencoba mencari tau sesuatu."
"Bagus." Ivo melepaskan Starla. Dia merapikan pakaiannya setelah bergulat cukup lama dengan wanita nakal yang satu ini.
"Dasar gil-a!" Starla mengumpat kesal sembari memegang lehernya yang sakit. "Haish." Starla hampir saja mengambil nampan dan memukul kepala Ivo, melihat wajah Ivo membuat dirinya sangat kesal.
"Ehm." Ivo berdehem. "Apa kamu bisa menggunakan mesin seperti ini untuk membuat kopi?" Kembali ke topik utama, Ivo bertanya seolah semua baik baik saja, seakan tidak pernah terjadi apapun. Seperti perkataan Starla hanya angin lalu.
"Kalau ada kesempatan, aku benar benar akan membunuhmu." Starla masih sangat kesal. Dia merapikan kerah kemeja dan rambutnya yang berantakan.
"Masalah besar yang seringkali terjadi biasanya bermula dari masalah kecil. Contohnya secangkir kopi, kalau Aero tidak puas, dia bisa memotong gajimu."
"Benarkah?" Rasa jengkel Starla kepada Ivo menguar begitu saja saat mendengar ini. "Hanya secangkir kopi dan orang itu memotong gaji?" Benar benar iblis. Uang yang tidak seberapapun masih di potong. Dasar orang kikir.
"Aku tidak menggertak, aku juga tidak berbohong, semua yang aku katakan adalah benar." Ivo mengatakan yang sebenarnya. Kenapa dia tau adalah karena dia sudah sering di potong gaji karena hal ini, tapi.. itu dulu.
"Wah.. bosmu itu benar benar belum pernah merasakan panasnya api neraka." Starla mengepalkan tangan.
"Memangnya kamu pernah merasakannya?"
"Apa?"
"Panasnya api neraka."
"Mana ada? Mana aku tau seperti apa rasanya? Dasar i***t!" Starla sudah mengulurkan tangan akan memukul kepala Ivo.
Tapi jangan panggil dirinya Ivo kalau dia tidak bisa mengelak dari pukulan Starla. "Haish." Ivo mendesis. "Kamu wanita yang sangat galak."
"Hwek." Starla menjulurkan lidah. Mau di kata galak, mau di kata ganas, mau di kata liar, mau di kata brutal, dia tidak peduli.
"Sudah, lupakan!" Ivo mengibaskan tangan. Dia tidak ingin membahas masalah ini lagi. Anggap Starla tidak mengucapkan apapun dan anggap dia tidak mendengar apapun.
"Lalu? Aku harus bagaimana agar aman? Agar tidak di potong gaji dan agar aku tidak di pecat?" Starla mulai risau. Kalau di potong gaji, bagaimana dia bisa bertahan hidup di negara yang keras seperti Jerman?
"Buat kopi yang enak dan jangan membuat Aero marah. Sesimpel itu." Jawaban Ivo sangat sederhana. Mungkin jatuhnya bukan sederhana, tapi lebih ke pelit kata. "Jadi.. kamu pernah menggunakan alat pembuat kopi atau tidak?" Ivo mengulang pertanyaan yang sebenarnya tadi sudah dia tanyakan. Hanya saja, tadi Starla tidak memberikan jawaban, jadi dia terpaksa mengulang pertanyaan yang sama.
"Dulu.. aku pernah mencobanya, tapi mesin pembuat kopinya tidak seperti ini." Starla melangkah lebih dekat ke arah Ivo yang akan menggunakan mesin kopi untuk membuat espresso.
"Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus bisa menggunakannya. Aero selalu minum kopi setiap jam sepuluh pagi dan jam dua siang, dan sebagai pendampingnya, biasanya adalah tiga keping cookies buatan Patissier ternama bernama Michael Kempf." Ivo menjelaskan sedikit tentang pengetahuan dasar yang wajib di ketahui.
Michael Kempf? Starla mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar nama itu.
"Michael Kempf adalah salah satu koki muda top Jerman yang sekarang menjadi chef de cuisine di Berlin's FACIL, sebuah paviliun kaca di taman atap lantai lima, dengan langit-langit dan tempat duduk teras yang dapat ditarik." Ivo yang cerdas bisa membaca isi pikiran Starla dengan mudah.
"Oh.. begitu." Ivo benar benar hebat. Starla tidak mengatakan apapun, namun Ivo memberikan jawaban yang memuaskan.
"Baiklah, kalau kamu sudah mengerti, sekarang aku akan mengajarimu cara membuat espresso. Pertama, kamu harus memasukkan biji kopi ke dalam mesin, lalu diberi air, dan dialirkan dengan tekanan tinggi. Kopi akan keluar melalui lubang kecil di bawah mesin." Ivo mencotohkan dengan cekatan step by stepnya.
"Untuk membuat minuman seperti ini, biji kopi sisa yang masih ada di dalam mesin harus dibuang. Kalau tidak dibuang, maka kopi berikutnya akan terasa aneh dan rasanya tak seenak menggunakan biji kopi baru." Cangkir yang sudah terisi oleh kopi, Ivo segera mengambil dan memberikannya kepada Starla. "Cobalah!" Ivo menambahkan.
Starla menyesap kopi pemberian Ivo. Rasa pahit yang mengalir melewati tenggorokan, membuat Starla tau alasan kenapa espresso jenis ini di sajikan dengan cangkir kecil. Yaitu karena ekstrak biji kopi adalah murni tanpa campuran.
"Satu lagi, saat melakukan proses penyeduhan, bukan hanya biji kopi yang harus diperhatikan, tapi air yang dipakai juga harus air mineral yang bersih. Bubuk kopi yang dihasilkan harus sangat halus. Sedangkan untuk suhunya, yang paling pas untuk espresso adalah 96 derajat celsius. Sebenarnya ini sangat mudah, dan kamu harus mencoba membuatnya." Ivo menyingkir, mempersilahkan Starla untuk mempraktekkan apa yang sudah dia ajarkan.
Starla meletakan cangkir kopinya dan siap dengan mesin kopi di hadapan. Dia mencoba satu persatu langkah yang sudah Ivo ajarkan, setelah empat kali gagal, yang kelima adalah yang paling sempurna dan tidak belepotan.
"Ini sudah lumayan." Ivo memuji kopi ke lima yang Starla buat.
"Sungguh?"
Ivo mengangguk. "Perlu di ingat, setiap Aero datang, tanyakan ingin sarapan atau tidak, tanyakan juga ingin makan siang dengan menu apa."
Starla mencatat semua yang Ivo katakan di dalam otak. Otaknya cukup luas untuk menampung bermacam macam pengetahuan dan ilmu baru yang bisa dia pelajari, jadi dia tidak perlu mencatatnya di buku catatan.