PC ~ Rumus Matematika

1473 Kata
Kalau bukan Perjanjian p********n, apa lagi namanya? Peraturan pertama saja tertulis 'harus mematuhi semua perintah atasan', dari situ.. semua peraturan yang tidak terlihat pun menjadi sangat jelas. Belum lagi sederet peraturan konyol dari nomor satu sampai kesekian yang hampir semuanya adalah gila, di luar nalar, tidak masuk akal, tidak logis, tidak manusiawi, tidak berperi kemanusiaan, tidak berperi keadilan dan seenaknya sendiri. Di antara beberapa, peraturan yang menurutnya paling ekstrem adalah.. denda sepuluh kali gaji kalau sampai membocorkan rahasia atasan dan rahasia perusahaan, atau kalau tidak bisa membayar jumlah yang sudah di tentukan, maka harus mempersiapkan diri untuk mengunjungi kantor polisi dan mendekam di sana selama beberapa tahun. Sepuluh kali gaji ini sama saja dengan memaksa orang untuk masuk ke penjara. Bukan hanya nominalnya yang banyak, tapi saat sepuluh kali gaji itu harus di bayarkan untuk denda secara kontan, maka itu amat sangat memberatkan. Pantas, rahasia perusahaan dan rahasia Aero tertutup rapat tanpa ada surat kabar yang pernah menyinggung tentang skandal, hal tidak pantas, hal tidak senonoh, hal tidak lazim, atau hal lain yang kiranya bisa menurunkan kredibilitas perusahaan.Ternyata karena ini. Cara Aero mengikat para pekerja dan membungkam mulut masing masing orang adalah dengan iming iming gaji yang besar, benar benar berhasil. Aero Scooby Doo ini.. bukan manusia. "Starla Brigitta Quenzy." Aero melafalkan nama Starla berikut nama belakangnya. "Bagaimana? Apa ada yang tidak memuaskan hatimu?" Suara dari mulut Aero terdengar seperti bunyi kecoa yang bersembunyi di dalam lemari. Sangat menjengkelkan untuk Starla yang membenci Kecoa. Namun kecoa yang satu ini, mau tidak mau harus berada dalam pandangannya setiap saat. Apakah dia mampu melihat sesuatu yang tidak dia sukai setiap detiknya? Tentu saja Starla harus bisa. Anggaplah dia mata duitan dan dia menerima pekerjaan ini semata mata hanya demi 3000 Euro yang kalau di rupiahkan setara lima puluh juta lebih sedikit. Itu nominal yang lumayan mengingat gajinya saat mengikuti Arka hanya separuhnya. "Tidak! Semua sudah semestinya seperti ini. Ini juga kurang lebih sama dengan Kontrak yang saya tanda tangani saat bekerja dengan Pak Arka." Starla menjawab bijak. Starla tidak mungkin mengatakan kalau dia tidak puas, dia tidak mungkin berkata 'i don't like' atau 'i hate it', tidak mungkin. Dia masih sangat waras untuk tidak menggali lubang kuburnya sendiri. Jadi dia tidak bisa berkata, 'tidak puas', 'kurang puas' atau 'sangat mengecewakan'. Pada akhirnya dia di paksa untuk menjawab, 'tidak masalah, kontrak kerja yang Arka sodorkan terhadapnya kurang lebih juga seperti itu' meski sebenarnya isi Kontraknya berbeda 360 derajat. "Kalau begitu, cepat tanda tangani! Aku tidak suka menunggu!" Aero menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya dan bergoyang ke kanan dan ke kiri. Dia seperti sangat puas karena sudah berhasil mempermainkan orang lain dengan arogansi dan kekuasaannya. "Cepat!" Aero melemparkan sebuah bulpoin yang di ambilnya dari dalam laci ke atas meja. Starla menghela nafas panjang. Melihat sebuah bulpoin mahal dengan desain yang sangat indah tergeletak di atas meja, Starla menyernyit. Adalah sebuah bulpoin yang di sinyalir sebagai Omas Phoenix Platinum Fountain Pen Luxury Limited Edition with diamonds. Adalah kombinasi sempurna dari kemewahan dan bulpoin untuk menulis yang sempurna di dunia. Bulpoin ini terbuat dari platinum yang sangat mahal dan emas 18 karat. Hanya sebuah bulpoin dan itu 18 karat. Betapa kaya rayanya Aero, dan sekarang dia menyadari itu dalam keadaan dirinya yang paling sadar. Tangan Starla bergetar saat meraih bulpoin itu, dia sudah membacanya dengan seksama dan dia tidak memiliki pilihan lain selain harus menandatangani nya. Okey, tidak masalah. Hanya sebuah tanda tangan dan itu bukan perkara besar. Yang sulit di sini adalah tanggung jawab atas isi Perjanjian yang memberatkan dirinya. Terasa berat sebelah karena menurutnya itu bukan suatu kebijakan, tetapi sebuah pemerasan dengan beban kerja yang menumpuk. Meski sebanding dengan 3000 Euro, tapi tetap saja itu.. haish.. bagaimana dia harus mengatakannya ya? Dia tidak memiliki gambaran apapun untuk hal seperti ini. Intinya adalah.. Starla harus melakukan pekerjaan dengan baik, harus disiplin, bekerja keras, gigih, tidak menjalin hubungan asmara dengan sesama pegawai, tidak boleh menindas karyawan lain, tidak boleh menggunakan kekerasan, tidak di izinkan membocorkan rahasia atasan dan rahasia perusahaan, beretika, berattitude baik, beradab, bermoral, melaksanakan perintah atasan tanda kutip di dalam dan di luar jam kerja. Apa? Melaksanakan perintah atasan di dalam dan di luar jam kerja? Starla membulatkan mata. Dia baru menyadari ada peraturan seperti itu di perjanjian yang tadi Aero sodorkan padanya. Melaksanakan perintah atasan di dalam jam kerja sudah jelas apa artinya. Tapi apa maksudnya dengan melaksanakan perintah atasan di luar jam kerja? Apa itu artinya semacam layanan plus plus? Seperti menemani Scooby Doo ini di.. di.. di.. di atas ranjang? Starla tertawa di dalam hati. Itu tidak mungkin. Pria tampan model Aero ini biasanya belok, misalnya seperti tidak menyukai lawan jenis dan sebaliknya justru menyukai sesama jenis. Orang seperti ini biasanya diam diam menjalin hubungan dengan pria dan.. kemudian b******a. Iyuh.. membayangkannya membuat Starla takut. Apa Aero sungguh sungguh gay? Itu tidak menutup kemungkinan karena semua itu bisa saja, kan? Sudahlah! Kalau Aero memang gay, itu justru menjadi lebih baik dan akan mudah untuknya. Starla segera menandatangani nya dengan cepat, lalu menyodorkannya kembali kepada Aero. "Apa kamu membawa Kartu Tanda Penduduk?" Aero meneliti kembali perjanjian kerja yang sudah kembali kepadanya, dan setelah melihat tanda tangan Starla sudah tertempel di sana, dia segera menanyakan sesuatu sebagai persyaratan untuk mengesahkan Surat Perjanjian agar menjadi legal, yaitu Kartu Tanda Penduduk. "Bawa, Pak." "Serahkan kepada saya! Saya akan mengembalikan dalam beberapa hari ke depan. Saya akan menggunakan itu untuk persyaratan agar di sahkan oleh Notaris, jadi kamu akan langsung berurusan dengan aparat kalau kamu sampai tidak becus dalam bekerja." Aero yang menggunakan mode presdir, merasa berhak untuk mengingatkan Starla yang sudah resmi menjadi pekerjanya. What the f**k! Starla mengepalkan tangan. Apa apaan ini? Apa maksudnya Aero mengancam dirinya menggunakan Surat Kontrak yang baru saja dia tanda tangani? Rasa benci Starla seperti di tabur baking powder, semakin lama semakin mengembang. Perasaan benci dirinya kepada Aero adalah 99 persen, sedangkan jarak antara dirinya dan Aero adalah 250 cm, kalau dia mengambil kursi yang berada di sampingnya untuk kemudian di pukulkan kepada Aero, berapa tekanan yang dia butuhkan untuk memukul kepala Aero? Dan berapa presentase Aero gagar otak karena pukulan kursi tersebut? Starla mencoba menghitungnya menggunakan rumus matematika sederhana. Seharusnya dia tidak membutuhkan banyak tenaga dan kemungkinan membuat Aero gagar otak adalah 40 persen. Tapi, kalau dia sampai gagal melakukannya, resikonya menjadi lebih buruk dari pada berenang satu putaran pada kolam yang sudah di isi tiga buaya Afrika. Rasionya adalah 40 banding 60. 40 persen untuk keberhasilan, dan 60 persen untuk kegagalan. Gagal berarti mati. Mati yang di maksudkan di sini adalah mati secara tragis tanpa meninggalkan jazad. Meski kesal karena tidak bisa melakukan apapun saat di tindas orang lain, namun Starla yang kalah dalam berbagai aspek, hanya bisa mengambil dompet, dan mengambil benda yang Aero minta. Mendapatkan apa yang Aero mau, Aero segera menumpuk berkas menjadi satu dan menyelipkan Kartu Kependudukan milik Starla lalu memasukannya ke dalam map dan menyimpannya kembali ke dalam laci. Semua yang Aero lakukan tak luput dari perhatian Starla. "Kamu bisa mulai kerja dari sekarang. Ivo akan menunjukan tempat kerja kamu dan akan memberitahukan apa yang harus kamu kerjakan di setiap harinya." Selesai berkata, Aero menekan intercom, dia meminta Ivo untuk masuk dalam waktu kurang dari lima detik atau tanggung sendiri akibatnya. Terbukti, kurang dari lima detik, Ivo tergopoh masuk. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" "Jangan banyak omong, lakukan apa yang harus kamu lakukan untuk mengajari Sekretaris baru kita." Aero kembali ke bentuk semula, dingin dan datar. "Pastikan kamu mengajari dia dengan benar atau kamu yang akan mendapat hukuman karena ketidakmampuan kamu dalam mengajari karyawan baru yang belum mengetahui sisi lain perusahaan kita." Aero menambahkan dengan nada ancaman. "Wah.. hebat." Ivo bertepuk tangan dengan meriah. Dia menoleh ke arah Starla. "Kamu adalah orang pertama yang mendapat kehormatan untuk mendampingiku melayani Bos galak yang satu ini setelah Nona kembali ke Indonesia." Ivo menaikan ibu jarinya. Dia sangat antusias karena itu berarti pekerjaannya akan di bagi dua dengan Starla. Starla hanya mengangguk kecil. "Jangan senang dulu! Kamu tetap ambil bagian dalam hal ini." Maksud Aero adalah Starla hanya mengambil sebagian kecil dari pekerjaan Ivo yang sebelumnya. Yang paling banyak mengemban tanggung jawab sebagai asisten tetap dan selalu Ivo. "Aku tau." "Kalau kamu sudah tau, pergilah! Ajari Nona ini untuk menjadi sesuatu yang saya inginkan!" Aero tersenyum culas. Kembali ke mode psikopat, dia kembali memandang Starla seolah sedang menghitung hari kematian Starla yang sudah dia tentukan. "Serahkan semuanya padaku! Aku adalah orang kompeten dan profesional, aku pasti akan mengajari Starla dengan baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku di perusahaan ini. Kamu tidak perlu khawatir." Ivo berkata dengan percaya diri. Aero hanya mengangguk dan mengibaskan tangan, meminta agar Starla dan Ivo pergi dari ruangannya. Ivo menoleh ke arah Starla. "Ayo Nona cantik, aku akan mengajakmu berkeliling. Tuan pemarah sedang tidak berada pada mood yang baik. Lebih baik kita menghindar dan pergi sejauh mungkin!" Starla tersenyum tipis. "Baik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN