Aku menatap Jalanan kota Torrance yang ramai, dulu aku kira aku tidak akan pernah kesini lagi, tapi ternyata aku berubah pikiran. Rasa sakit hati selalu membayangiku, bahkan saat menatap Anderson yang berwajah mirip dengan Jason. Semakin membuatku tidak bisa lupa akan apa yang telah ia lakukan.
Aku selalu bertanya-tanya kenapa hanya aku yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ini, bahkan aku harus menghidupi anak sendiri. Apa Jason sama sekali tak mendapatkan balasan apapun? Apa Tuhan tidak adil padaku? Atau ini semua memang kesalahanku yang membuatku menjadi seperti ini.
Aku teringat masa-masa dulu, dimana aku kembali menghubungi Gerald dan memohon bantuannya. Aku tidak memiliki siapapun lagi untuk membantuku. Aku sampek Harus meminta pada orang yang Baru aku kenal.
Ketika mengingat itu hanya membuatku sedih dan sakit hati, tetapi juga bersyukur, karena Gerald adalah pria yang sangat baik.
Mataku menangkap sebuat toko kue di kejauhan, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Hari ini adalah Hari ulang tahun Gerald.
"Bisa kau turunkan aku di toko kue," pintaku pada Supir.
"Baik, Nyonya," ucapnya patuh, kemudian menurunkanku di depan sebuah toko kue yang aku maksud. Aku segera melompat turun ketika mobil berhenti, dan mengatakan pada supir untuk meninggalkanku di sana.
"Kalau Jason bertanya, katakan saja aku sedang ada keperluan," ucapku padanya, Supir itu hanya mengangguk kemudian melanjukan mobilnya pergi.
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam toko kue itu, di etalasenya banyak sekali kue yang dipajang, bahkan banyak juga makanan ringan seperti Donut dan Wafle yang di sediakan, dengan harga bervariasi.
Aku mencari kue ulang tahun yang biasa di pajang di dalam lemari pendingin. Di sana banyak model kue ulang tahun. Aku bingung mencari kue yang cocok. Aku sama sekali tidak tau selera Gerald.
"Sedang mencari apa Nona?" sapa seorang pelayan toko.
"Aku sedang mencari kue ulang tahun, tapi aku tidak pandai memilih," ucapku sambil tersenyum malu.
"Apa ini untuk kekasih anda?" tanyanya sambil menampilkan senyum miliknya.
Aku terkekeh, tentu saja bukan. Aku tidak memiliki kekasih, bahkan Jason juga bukan kekasihku.
"Aku ingin memberi untuk orang terdekat," jawabku sopan. " Dia seorang Pria dan berhati hangat," lanjutku lagi.
Pelayan itu mengangguk mengerti dan memilihkan sebuah kue dengan dekorasi minimalis namun terlihat mewah, seleranya sungguh bagus.
"Sepertinya ini cocok Nona,"
"Pilihanmu sangat bagus, tapi bisakah bungkuskan aku dua yang seperti ini. Aku juga ingin memberi untuk yang lainnya,"
"Tentu saja, dengan senang hati." Pelayan itu pun pergi sambil membawa kue yang aku pilih
aku menunggu di sebuah kursi panjang yang tersedia di toko tersebut. Menatap berbagai macam kue yang membuatku lapar. Aku harap Gerald menyukainya. Selama aku mengenalnya ia jarang sekali merayakan hari ulang tahunnya, bahkan banyak orang yang tidak mengetahuinya.
Aku membuka ponsel dan mencari kontak Gerald. Setelah menemukannya, aku segera membuat panggilan telfon.
"Ada apa Em?" tanya Gerald dengan nada suara lembut seperti biasa.
"Tidak ada apa-apa, apa kau ada waktu? Aku ingin makan siang bersamamu,"
"Tentu saja, dimana kita bertemu?"
"Jalan X di Cafe Note, seperti biasa," jawabku.
"Aku segera ke sana," balas Gerald kemudian mematikan telfon.
"Nona, kuenya sudah siap," ucap pelayan tadi. Rupanya ia sudah kembali dengan dua box besar berisi kue yang aku pesan.
"Terimakasih," balasku kemudian segera membayar.
Setelah membawa kue itu aku memesan jasa pengiriman online dan memintanya untuk mengirimkan salah satu kue pada Jason. Ia akan bertanya-tanya untuk apa aku membeli kue nantinya. Jadi lebih baik aku membuat kejutan yang masuk akal.
Setelah menyerahkan kue itu pada kurir, aku segera mencegat taxi dan pergi ke restoran tempat aku membuat janji dengan Gerald.
Setelah sampai di restoran aku menanyakan ruang VIP yang di pesan atas nama Gerald. Seorang pelayan menuntunku menuju ruang yang di pesan Gerald. Ketika aku membuka pintu aku melihat Gerald sedang duduk sambil menungguku.
"Maaf membuatmu menunggu," ucapku padanya.
"Tidak apa-apa, duduklah. Aku sudah memsan makanan untuk kita," balas Gerald.
Aku duduk di sampingnya kemudian meletakkan kue yang aku beli untuknya di atas meja. Aku tau ini tidak terlihat seperti kejutan, namun aku tidak pandai membuat rencana seperti itu.
"Selamat ulang tahun Gerald," ucapku sambil membuka kotak kue yang ku bawa.
"Wah, trimakasih Emma, aku tidak tau kalau kau akan ingat dengan hari ulang tahunku," ucap Gerald sambil tersenyum lebar.
Aku sangat senang melihat Gerald bahagia, bagiku ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan bantuan yang sudah ia berikan padaku. Bahkan sampai kapanpun mungkin aku masih belum bisa menggantinya.
Aku mengambil lilin yang aku simpan di dalam tas, aku membelinya saat masih di jalan, untung saja aku ingat jika belum membeli lilin untuk kue ulang tahun. Aku meletakkan lilin itu dan menyalakannya.
"Nah sekarang ucapkan dulu permohonanmu Gerald, pejamkan mata dan bayangkan apa yang kau inginkan, lalu tiup lilin itu," ucapku memberi interupsi. Meski terdengar kekanakan tapi entah kenapa aku ingin mengucapkannya, andai Anderson ada di sini ia pasti ikut senang. Sayangnya ia harus sekolah.
"Baiklah," ucap Gerald kemudian mulai memejamkan mata, dalam hati aku ikut berdo'a agar apapun keinginan Gerald bisa terwujud, maka aku akan menjadi orang pertama yang memeluknya dan ikut bahagia bersamannya.
Ketika Gerald membuka mata, ia menatapku sambil tersenyum, barulah setelah itu ia meniup lilinnya hingga padam.
"Apa yang kau harapkan?" tanyaku penasaran.
Gerald terlihat tersipu, namun ia sepertinya tak ingin memberitahuku apa keinginannya. Membuatku sangat ingin mencubitnya karena gemas.
"Tentu saja rahasia," ucap Gerald ketika melihat wajahku yang berubah cemberut.
"Dasar kau," cibirku kesal. Namun tetap tersenyum.
"Ayo kita makan ini dulu," ajak Gerald sambil memotong kue itu dengan garpu, membuatku tersadar kalau aku lupa membeli pisau pemotong kue. "Dasar bodoh," keluhku dalam hati.
"Jangan khawatir, kuenya tidak akan menangis hanya karena kau lupa membeli pisau," cibir Gerald padaku, seolah ia tau apa yang sedang aku pikirkan hanya dengan melihat ekspresi wajah yang aku buat.
"Maaf," kataku menyesal. Namun Gerald terlihat seolah tidak peduli. Ia dengan telaten memotong kue dan membagi kue itu denganku.
"Jangan dipikirkan, makan saja kuenya, kau pintar memilih kue, ini enak," ucap Gerald sembari mencicipi kue yang aku beli.
"Jangan memujiku," kataku malu. " Aku meminta pelayan toko untuk memilihnya, aku tidak pandai memilih," lanjutku berkata jujur. Aku tidak ingin membohongi Gerald, meakipun itu hanya hal kecil. Rasanya tidak nyaman kalau aku melakukan itu.
"Tidak, kau pandai memilih toko kue dan pelayan," ucap Gelard menggodaku.
Aku reflek mencubit pinggangnya gemas. Wajahku pasti merah karena malu, dia memang pandai bicara.
"Aw...." Gerald mengaduh kesakitan, sementara aku hanya tertawa mengejek. Biarlah, dia memang pantas mendapatkannya.
Setelah itu kami mengobrol banyak hal, karena sudah lama aku tidak mengobrol dengan Gerald semenjak aku tinggal di rumah Jason. Pria itu terus saja mengawasiku sepanjang hari sampai membuatku ingin meninju wajahnya jika aku bisa.
Sekarang aku senang karena Jason tidak lagi terlalu curiga, dan aku menjadi lebih bebas. Dari yang dikatakan Gerald, Adeline sekarang tinggal dengan sang paman dan sepertinya Adeline sangat dekat dengan pamannya itu.