19

1059 Kata
Ke esokan harinya aku bangun lebih awal dan segera pindah ke kamarku sendiri. Aku yakin sebenatar lagi Jason pasti akan terbangun. Aku mengendap-endap masuk ke dalam kamarku sendiri, kemudian menyelinap ke dalam selimut. Dan tak berapa lama, alu merasakan pergerakan dari kasurku. Aku yakin Jason sudah terbangun. Aku malas berbicara dengannya, jadi aku memilih untuk berpura-pura tidur. Aku merasakan Jason bangun dan meninggalkan kamarku, baru setelah itu aku berani membuka mata. Aku segera bangun dan bersiap-siap. Hari ini adalah hari pertama Anderson berada di sekolah baru. Ketika aku turun, di meja makan sudah ada Anderson dan Jason yang tampak saling diam. Tidak ada yang berbicara diantara mereka. Aku yakin Anderson belum terbiasa bersama Jason, begitu pun sebaliknya. "Selamat pagi," sapaku pada Jason dan Anderson. "Pagi Mam," "Pagi Em," balas mereka berdua kompak. Aku segera ikut sarapan bersama mereka. "Hari ini Anderson akan mengunjungi sekolah barunya," ucapku pada Jason. "Benarkah? Apa kau sudah melihat sekolahnya? Apa bagus?" tanya Jason padaku, namun pandangannya masih tertuju pada makanan di atas piringnya. "Tentu saja, aku bahkan sudah berbicara dengan kepala sekolah dan beberapa staf di sana, mereka sangat ramah," kataku. "Baguslah, aku harap tidak terjadi hal seperti kemarin," balas Jason. "Hal seperti itu tidak akan terjadi kalau kau bisa mengajari istrimu dengan baik," cibirku. Wajah Jason terlihat sangat kaku ketika aku mengucapkan kalimat itu. Aku membuang muka tidak peduli. Suasana menjadi hening, hingga Anderson bersuara. "Mom, sebaiknya kita berangkat sekarang," ajaknya sambil membawa tas punggungnya. "Ayo," jawabku sambil tersenyum. Aku segera mengajaknya pergi meninggalkan ruang makan, dan menggandengnya menuju garasi. Hari in] aku membiarkan supirengantarku, lagipula tidak ada hal yang mencurigakan yang bisa ia laporkan pada Jason. Selama perjalanan wajah Anderson tampak tak bersemangat, aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan, namun sepertinya berhubungan dengan pembicaraanku di meja makan dengan Jason. "And, apa kau ada masalah?" tanyaku dengan lembut. "Tidak ada," jawabnya pendek. Aku merasa sedikit khawatir, karena Anderson adalah anak yang pendiam dan jarang mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya. "Jika kau punya masalah katakan saja pada Mom, dan kita akan mencari solusi bersama-sama," ucapku membujuknya. Namun ia masih bergeming, membuatku semakin penasaran. "Nyonya, kita sudah sampai," ucap sang supir. "Ya," jawabku cepat. Anderson segera melompat turun, ia berjalan lebih dulu. Sepertinya aku harus menanyakannya lain waktu, atau aku bisa meminta Gerald untuk mencari tau. Tetapi tidak enak merepotkannya terus-menerus, lagipula Anderson adalah putraku, lebih baik aku mencari taunya sendiri. Aku turun dan mengejar langkah Anderson. Hari ini adalah hari pertamanya, pasti berat jika aku tidak mendampinginya. "And, tunggu!" teriakku pada Anderson. Bocah kecil itu berhenti dan menungguku. Aku segera menghampirinya. Kemudian menggandeng tangannya yang mungil. "Kita akan menemui Nona Alea," ucapku padanya. "Siapa dia?" tanya Anderson penasaran. "Dia kepala sekolah di sini, dia sangat baik dan sabar. Aku yakin dia akan menjadi teman yang baik untukmu di sini," "Aku harap itu benar," jawab Andersontampak murung. Wajahku seketika berubah sedih melihatnya yang seperti itu. Aku yakin sekolah lamanya pasti sangat tidak menyenangkan. Aku tidak tau jika dampaknya akan seperti ini. Aku berusaha tersenyum dan menggandengnya menuju ruangan kepala sekolah, Nona Alea pasti sudah menunggu. "Permisi," ucapku sambil mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian pintu dibuka, dan terlihat Nona Alea berdiri dengan setelan blouse dan rok span yang rapi. "Dia selalu terlihat cantik," gumamku dalam hati. "Aku sudah menunggumu Nyonya Brown. Oh, ini pasti Anderson," sapanya ramah. "Maaf membuatmu menunggu," ucapku sambil tersenyum. Aku melirik ke arah Anderson. Namun ia seperti sedang menjaga jarak. Sikapnya yang seperti itu membuatku patah hati. "Silahkan masuk," ucap Nona Alea ramah. Aku dan Anderson memasuki ruangan ber-AC itu dan duduk di atas sofa empuk yang tersedia. "Aku akan jelaskan lagi tentang peraturan di sekolah kami Nyonya Brown. Kami tidak memandang status sosial maupun kekayaan individual, karena itu bukan Visi dan Misi kami membangun sekolah ini. Peraturan disini cukup ketat, dan untuk asramanya kami masih perlu waktu untuk mengatur tempatnya. Jadi Anderson masih bisa tinggal dengan anda selama beberapa minggu. Untuk seragam dan atribut sekolah akan kami berikan setelah ini, aku harap Nyonya Brown tidak keberatan," jelas Nona Alea panjang lebar. Ia sangat cakap dan profesional. Aku melirik Anderson, namun ia hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aku sangat senang mendengarnya, aku harap Anda bisa menjaga putraku, dia anak yang baik," kataku sambil menatap Anderson yang masih diam. "Tentu saja Nyonya jangan khawatir, kami akan melakukan yang terbaik semampu kami," ucap Nona Alea. "Baiklah kalau begitu Anderson bisa mulai mengikuti pelajaran hari ini," lanjutnya lagi. Aku sangat lega mendengar perkataannya. Nona Alea kemudian mempersilahkan seorang Guru masuk dan mengenalkan Guru itu padaku dan Anderson, dia seorang wanita muda yang cantik. "Selamat pagi Nyonya dan tentu saja Anderson," sapanya. "Selamat pagi," balasku sambil tersenyum. Aku sudah menyukai Guru ini sejak pertama kali melihatnya. Aku yakin Anderson akan senang sekolah di sini. "Saya adalah Katrine, saya yang akan menjadi wali kelas Anderson, saya harap Nyonya bisa mempercayakan putra Nyonya pada saya," ucap Katrine memperkenalkan diri. "Terimakasih Katrine," balasku. "Kalau begitu Anderson, kau bisa ikut Miss Katrine har ini," ucap Nona Alea. Aku segera menarik lengan Anderson, dan memintanya menyapa wali kelasnya yang baru. Meskipun Anderson terlihat enggan, namun ia menurut dan ikut menyapa Gurunya. Setelah itu Miss Katrine mengajak Anderson untuk pergi ke kelasnya. Anderson tidak banyak bicara, ia juga tidak menolak, jadi aku merasa lega dan tidak terlalu khawatir. Setelah Anderson pergi aku mulai berbicara serius dengan Nona Alea. "Tuan Gerald sudah memberi tahuku situasinya, aku sudah mengatur agar Nyonya bisa bertemu dengan Tuan Daniel sesering mungkin, ini ada sedikit informasi pribadi yang sudah aku dapatkan beberapa hari ini, sepertinya Tuan Daniel sedang memiliki masalah pribadi dengan istrinya," ucap Nona Alea sambil memberikan sebuah map padaku. "Terimakasih Nona Alea, aku sudah banyak merepotkanmu," kataku sambil tersenyum. Aku membuka map itu. Isinya adalah data pribadi seperyi tanggal lahir, aset dan juga latar belakang pernikahan Daniel, bahkan aku mendapatkan kaset berupa rekaman CCTV kapan saja Daniel mengunjungi putranya. Dan bahkan tentang kebiasaan Daniel semua tertera dengan sangat mendetail. "Nona Alea, terimakasih banyak, ini sungguh sangat memuaskan," ucapku kagum. "Tidak perlu sungkan Nyonya Brown, Tuan Gerald sendiri yang meminta agar semuanya ditulis secara detail tanpa terkecuali. Aku tak bisa berkata-kata lagi, Gerald begitu sangat baik, namun aku masih memiliki halangan. Aku tidak bisa menerima pria lain kecuali Jason sudah bisa aku hancurkan. Aku tidak akan berhenti sebelum keinginanku terpenuhi. Aku memeluk Nona Alea erat, kemudian berpamitan untuk pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN