18

1059 Kata
Jason mengatakan itu dengan sangat jelas. Aku memasang wajah senang kemudian memeluknya erat. "Jason, terimakasih aku tau kau pasti menyukaiku kan, kau pasti lebih memilihku," kataku dengan nada lembut. "Tentu saja A ... Emma," ucap Jason sambil membalas pelukanku. Beberapa detik kemudian aku melepaskan pelukan dan menatap Jason dengan pandangan berbinar. "Jason untuk merayakan kebersamaan kita aku akan membawakan teh dan kopi hangat," "Kita minum wine saja," usul Jason. Aku dengan cepat menggeleng. Jason menatapku dengan pandangan bingung. "Tidak Jason, jangan meminum yang seperti itu, tidak bagus untuk kesehatan. Aku dulu mungkin suka minuman itu, tapi sekarang aku sudah banyak berubah," kataku sambil tersenyum lebar. "Juga sifatku Jason, aku sudah banyak berubah," lanjutku dalam hati. Jason tertegun sebentar kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kenapa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti. "Tidak apa-apa. Kalau begitu kau ambilkan aku cappucino dan cemilan manis," ucap Jason tanpa memandang ke arahku. Alu tersenyum menyeringai ke arahnya, Jason tak menyadarinya sama sekali. Aku berbalik dan berjalan pergi. Setelah keluar dari ruang kerja Jason aku turun ke lantai bawah dan meminta pelayan untuk membuatkan minuman dan makanan kesukaan Jason, lalu membawanya ke lantai tiga. Ketika aku kembali ke ruang kerja Jason, pria itu sedang berdiri sambil menatap ke arah jendela. Wajahnya terlihat dingin seperti biasa, tanpa ekspresi yang berarti. "Letakkan saja di meja," ucap Jason tanpa menoleh ke arahku. Aku meletakkan makanan dan minuman itu sesuai perintahnya. "Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan?" tanyaku dalam hati. Aku berjalan mendekat ke arahnya memegang pundaknya dan memeluknya dari belakang. Jason diam saja dan tidak bereaksi apa-apa. Aku dapat mendengar detak jantungnya yang teratur. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyaku dengan nada lembut seprti biasa. "Bukan apa-apa," jawab Jason pendek. Ia melepaskan pelukanku, dan berjalan mendekati sofa di sisi meja. Ia memberi isyarat padaku untuk ikut duduk bersamanya. Aku hanya menurut. Jason menyeruput cappucino dulu sebelum menatapku dengan pandangan serius. Aku menunggu dengan tidak sabar apa yang akan dikatakan oleh pria ini. "Emma, aku akan menceraikan Adeline," ucap Jason. Tetapi sorot matanya tak terlihat senang sama sekali. Aku mengulum senyum. "Kalau begitu kapan kita menikah?" tanyaku tidak sabar. "Aku tidak bisa langsung menikah denganmu setelah bercerai, jadi biarkan aku tenang dulu," balas Jason. "Kenapa begitu?" tanyaku sambil cemberut. "Berikan aku waktu," Aku hanya bisa memasang wajah cemberut seolah sedang merajuk padanya, walau sebenarnya aku tidak perduli tentang pernikahan itu. Yang terpenting adalah aku bisa menyingkirkan Adeline dan mendapatkan Jason. Aku mendekat ke arah Jason dan duduk di atas pangkuannya dengan manja, seperti sedang menggodanya. "Baiklah, tapi aku ingin sesuatu," kataku sambil tersenyum manis. Jason menatap ke arahku. Ia menaikan alisnya penasaran. "Aku ingin memiliki saham di perusahaanmu, bagaimana bisa aku sebagai ibu dari anakmu tapi tidak memiliki apapun untuk mendukung Anderson, kau tau kan Adeline tidak menyukai putraku, ia bahkan mengganggunya di sekolah, apa kau ingin putraku di injak oleh perempuan itu? Atau kau memang ingin Anderson diperlakukan buruk oleh istrimu itu? Aku tau seharusnya aku tidak meminta hal sulit ini, tapi aku masih tidak percaya denganmu dan juga Adeline, terutama Adeline tentu saja," ucapku manja. Aku meminum cappucino di meja dengan cara sensual, aku yakin Jason akan terprovokasi. Dia memang mudah di jinakkan. Tapi sangat sulit untuk dimiliki. Jason menatapku tanpa berkedip, aku sudah sangat paham akan tabiatnya, namun aku sudah membuat rencana tentu saja. Aku hanya tersenyum menanggapi tatapannya, dan tak berapa lama ia jatuh pingsan di atas lantai. Setelah Jason pingsan aku pergi dan meminta pelayan di luar untuk membawa Jason ke kamarku. Jason pasti takenyadari jika aku sudah menyusupkan beberapa orang ke dalam rumahnya. Ia pasti tidak menyangka siapa yang membuat Adeline sakit kemarin. "Jangan sampai terlihat oleh yang lain," kataku tegas. Pelayan itu mengangguk patuh, kemudian meletakkan Jasom di bawah meja troli yang biasa digunakan untuk mengantar makanan. Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Gerald, aku tidak sabar memberikan kabar baik ini padanya. "Hai," sapaku ketika Gerald mengangkat panggilan telfon milikku. "Ada apa Emma?" tanya Gerald. "Aku sudah berhasil meminta Jason untuk menikah denganku," ucapku senang. Aku bahkan hampir melompat karena senang. Aku menunggu reaksi Gerald, namun hingga beberapa detik ia masih belum membalas ucapanku. "Gerald? Kau masih di sana?" tanyaku memastikan. "Iya, aku masih di sini, maaf aku membuatmu khawatir, selamat atas pencapaianmu aku harap kau bisa bahagia seperti yang kau inginkan," balas Gerald. Aku merasa aneh ketika mendengar ucapannya, dari nada bicaranya ia terdengar sedih. Namun aku tidak ingin merusak momen kesenanganku, mungkin saja Gerald sedang memiliki masalah yang aku tidak tau. "Gerald bagaimana kalau kita makan malam untuk merayakan ini?" tanyaku menawarkan. "Bukan ide yang buruk," balasnya. Aku senang mendengar persetujuannya. Aku yakin Gerald akan senang. "Bawalah juga And bersamamu, aku merindukannya," ucap Gerald lagi. "Tentu saja," balasku cepat. Aku yakin Anderson juga pasti akan senang dengan berita ini. "Nanti kita bicara lagi ya, dan tolong sampaikan pada Bibi Louise aku sangat berterimakasih atas bantuannya tempo hari," "Tentu saja Emma, kami senang membantumu," balas Gerald di ujung telfon. Setelah itu aku meutuskan sambungan telfon dan pergi ke kamarku. Di sana sudah ada Jason yang tak sadarkam diri di atas ranjang. Pakaiamnya sudah tidak terlihat rapi dan acak-acakan. Aku memang meminta pelayan melakukan hal itu agar Jason merasa ia sudah melakukan hubungan denganku tanpa ia sadari. Aku memandangnya sinis, dulu dia adalah pria yang sangat aku cintai dan rela kuberikan apapun yang ia minta. Namun pada akhirnya ia sama sekali tak memperdulikan aku dan membuangku seperti barang bekas. "Sekarang lihat Jason, orang yang dulu kau buang dan anggap remeh ini kini menjadi duri dalam daging, bahkan bisa menghancurkan pernikahanmu yang indah itu," gumamku pada Jason yang masih terlelap. Aku mengalihkan pandanganku dan pergi ke sisi lain kamar untuk berganti pakaian, setelah itu aku pergi ke kamar Anderson. "Sebaiknya aku tidur di sana saja," batinku. Setelah berganti pakaian aku keluar kamar dan membuka pintu kamar Anderson. Aku terdiam di ambang pintu sambil melihat putraku yang tengah tertidur pulas. Dia adalah segalanya bagiku. Aku membesarkannya dengan airmata, dan aku tidak akan membiarkan Jason mendapatkan Anderson. Aku berharap Anderson tidak menyukai Jason, dan ingin menjauh darinya. Lagipula Jason bukan ayah yang pantas untuknya. Aku berjalan pelan agar tidak membangunkan Anderson, kemudian membuka selimut dengan hati-hati dan mulai berbaring di sampingnya. Wajah Anderson ketika tidur sangat damai, ia terlihat begitu tampan dan juga tenang, seperti sebuah malaikat kecil. "Selamat malam sayang, Mam akan terus berada di sampingmu," bisikku pada Anderson, kemudian mencium keningnya dan mulai memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN