17

1048 Kata
Setelah Jason pergi aku menatap Anderson yang terlihat murung dan tidak berselera makan sama sekali. Aku yalin dia kecewa dengan jawaban Jason. Aku ingat saat Jason tiba-tiba mendatangiku di Boston. Saat itu aku masih bekerja di sebuah toko coffe milik Gerald, dan ketika aku pulang Jason sudah menungguku di rumah bersama Anderson yang kebingungan. Saat itu Anderson sama sekali tak mengenalnya dan memanggilnya dengan sebutan paman meskipun sudah aku katakan jika itu adalah Ayahnya. "Mam, apa Mam suka ayah?" tanya Anderson tiba-tiba, membuyarkan lamunanku tentang masa itu dan menarik kembali diriku di masa sekarang. Anderson menatapku dengan tatapan seperti kasihan. "Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanyaku padanya. "Aku merasa jika Ayah tak menyukaimu Mam," ucap Anderson dengan wajah sendu. Aku tertegun, dia benar. Bahkan anak kecil seusianya bisa mengetahui itu. Jason masih sangat menyukai Adeline, dia bersikap seperti ini karena hanya ingin mengambil putraku. "Ayah sangat mencintai Mam Anderson, jangan bicara yang tidak-tidak. Kau cukup belajar saja yang rajin, tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa," kataku menasehati. Anderson mengangguk patuh, kemudian kembali menyantap makanannya sampai habis. Setelah selesai makan aku meminta pelayan untuk mengajak Anderson bermain sementara aku akan mencari Jason untuk membicarakan tentang pesta itu. Rumah Jason tidak lah besar, namun memiliki tiga lantai, lantai bawah untuk ruang tamu, ruang keluarga, ruang wine, dapur dan garasi, sementara lantai dua untuk beberapa kamar dan juga balkon. Sementara lantai ketiga adalah ruangan luas untuk kepentingan Jason, ruang kerjanya, dan juga kamar Adeline dulu. Dari dapur aku memutari lantai satu dan belum menemukannya, aku mencarinya lagi di lantai dua namun juga sama. Akhirnya aku pergi ke lantai tiga dan mencarinya di ruang kerja miliknya. Ternyata dia memang ada di sana. Duduk sambil menatap berkas-berkas di mejanya. Dia terlihat sangat serius. "Ada apa?" tanya Jason langsung. Ketika melihat aku memasuki ruang kerjanya. "Kita harus bicara," kataku pada Jason, kemudian menutup pintu. Aku duduk di atas meja kerjanya, menatapnya dengan pandangan ingin tau. Jason berhenti melihat kertas-kertas itu dan menatapku serius. "Apa ini tentang acara itu?" tanyanya dengan nada datar. "Ya," balasku pendek. "Bisakah kau duduk di kursi itu? Aku tidak nyaman melihatmu duduk di sini," kata Jason sambil menunjuk kursi di sisi lain ruangan ini. Aku mengangguk, dia berubah dingin seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi, pikirku. Aku duduk sesuai keinginannya. "Jadi apa yang ingin kau katakan?" tanya Jason lagi. "Apa kau ingin Adeline kembali ke mari?" tanyaku. Jason mentap tajam ke arahku, "sebenarnya apa yang kau rencanakan?" tanyaku dalam hati. "Emma, apa kau cemburu?" "Tidak," "Lalu kenapa kau menanyakan itu?" "Jason, aku butuh jawaban. Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang lain," "Emma, bukankah sudah lu katakan untuk bersabar. Adeline masihlah istri sahku, bagaimana pendapat keluargaku jika aku mengenalkanmu sebagai calon istriku di perkumpulan keluarga? Jangan lupa jika disana juga ada keluarga Adeline," Aku meremas ujung gaunku, aku yakin itu hanyalah alasan yang dibuat Jason. Sudah kuduga ia tidak akan mengeluarkanku di acara itu, tapi aku harus hadir di acara itu bagaimanapun caranya. "Baiklah aku mengerti, tapi bagaimana dengan Anderson? Dia bilang tidak akan hadir jika aku tidak ada, sebaiknya jangan melukai hatinya atau aku tidak akan mengijinkanmu membawa putraku lagi," kataku tegas. Jason masih tidak bergeming, namun aku tau tatapan matanya itu seolah menghinaku. Meski hanya sesaat kemudian ia mengubah ekspresinya lagi menjadi biasa lagi. Tapi aku sudha melihatnya dengan jelas. "Begini saja, aku akan mengijinkanmu hadir, tapi aku ingin kau menjaga sikapmu, jangan bwrbicara dengan orang lain dan tetap ada di dekat Anderson," kata Jason memberi jalan tengah. "Jason meremehkanku. Dia mengira aku masih mencintainya seperti dulu dan berpikir kalau aku mudah di manfaatkan. Saat aku mulai terlena dia akan mengambil putraku dan membuangku lagi seperti barang bekas, Jason iblis apa sebenarnya kau," kataku dalam hati. Aku masih belum memberikan jawaban. "Bagaimana?" tanya Jason sekali lagi. "Tidak," kataku tegas. Maaf tapi aku tidak ingin dianggap pengasuh oleh keluargamu. "Emma," desis Jason padaku. Aku tau dia pasti sangat kesal. Tapi aku juga tidak bodoh. "Ceraikan Adeline dan menikahiku, atau aku akan pergi meninggalkanmu. Aku tidak ingin bersama suami wanita lain," kataku tegas. Jason menunduk, menyembunyikan raut wajahnya dariku. Aku yakin dia sedang kebingungan. Sejak awal Jason memang tidak berniat mengajakku menikah ataupun kembali padaku. Aku tau ia hanya menginginkan Anderson dan berpura-pura menyesal, mengatakan ingin kembali padaku. Namun meskipun aku tau, aku masih bersedia tinggal bersamanya. Semua ini karna aku ingin melihat dengan mata kupalaku sendiri tentang keaungguhan ucapannya. Awalnya aku sempat tertipu dan mengira Jason memang ingin menikah denganku sampai malam itu. Aku menemukan Jason sednag mabuk di dapur, ia bahkan sampai meciumku tanpa permisi, jika saja saat itu aku tak melihat Adeline yang sedang bersembunyi di kolong meja, aku mungkin sudah menamparnya berulang kali. Lagipula ia mabuk jadi tidak mungkin akan ingat. Aku sengaja memba2anya masuk ke dalam kamarku dan memutar suara orang yang sedang bercinta. Aku yakin Adeline tidak akan mengira jika itu hanyalah rekaman suara. Saat itu aku mengira Jason memang ingin bersamaku lagi. Namun pria itu malah menggumamkan nama Adeline sambil meneteskan airmata. "Adeline, maaf...." itulah kalimat yang ia ucapkan terus menerus saat mabuk. Ketika mendengar permintaan maaf itu aku yakin Jason hanya mempermainkan aku lagi. Aku berterimakasih karena Tuhan masih menyayangiku dan memberitahu tentang perasaanmu yang sebenarnya. Sekarang giliran aku yang mempermainkanmu. Jason apa jawabnmu? Aku tidak sabar mendengarnya. "Baiklah, aku akan bercerai," jawab Jason padaku. Aku membulatkan mata, menatapnya tak percaya. Benarkah Jason mengatakan hal itu. "Kau, kau serius?" tanyaku mengulang pertanyaan. Jason mengangguk. Aku masih diam di tempat, masih menyesuaikan diri dengan rasa keterkejutanku. "Aku tidak akan mengulangi kata-kataku Emma, aku akan menceraikan Adeline dan menikah denganmu, tetapi tentu saja tidak sekarang." Mendengar kalimat terakhirnya membuatku terhempas kembali ke kenyataan. Tidak mungkin Jason akan menikahiku semudah itu. "Baiklah, tapi kapan itu?" tanyaku lagi. "Aku tidak ingin menunggu hal yang tidak pasti, aku ingin menjadi Nyonya rumah sebelum acara keluargamu dimulai," kataku. "Emma, itu tidak mungkin," jawab Jason. "Kalau begitu aku akan pergi, aku tidak ingin tinggal di tempatmu lagi," kataku dengan nada kecewa. Aku bangkit dari kursiku dan berjalan dengan kecewa menuju pintu keluar. Namun saat aku akan membuka pintu. Jason segera berlari dan menahan agar pintu itu tetap tertutup rapat. "Apalagi?" tanyaku penasaran. Raut wajah Jason yang kebingungan sungguh sangat lucu, dia terlihat putus asa. Aku sangat senang sampai bersusah payah untuk menyembunyikan senyum kemenanganku. "Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN