16

1066 Kata
"Lebih baik aku tanyakan ketika nanti sudah sampai di rumah. Mungkin Jason sudah pulang jadi lenih baik membicarakan ini dengannya," pikirku. Mobil yang ku kendarai sampai di kediaman Simpson. Aku melihat mobil Jason sudah berada di garasi. Sepertinya dia memang sudah pulang. Aku turun dari mobil disusul Anderson, dia masih kelihatan sedih. Aku menggandengnya memasuki rumah. "Anderson, segera ganti bajumu, setelah itu kita makan," perintahku padanya. Dia tidak menjawab dan segera pergi meninggalkanku ke lantai dua. Aku hanya menatapnya dengan pandangan sendu. "Kau sudah pulang?" Jason berdiri di bawah tangga. Aku memasang senyum dan menghampirinya. Jason menatapku tanpa berkedip, aku tidak yakin kenapa dia menatapku seperti itu, apa dia mengetahui tentang supir itu atau dia mencoba menggodaku seperti dulu? Sayangnya itu tidak akan berhasil padaku. "Aku barusaja menjemput Anderson, sepertinya dia sedang murung, dia bahkan berkelahi di sekolah tapi tidak ada yang menelfon kemari. Aku merasa kecewa dengan sekolah itu," kataku dengan nada sedih. "Kita bahas sambil makan siang, aku yakin kau belum makan," jawab Jason dengan nada lembut. "Baiklah," balasku. Dia berjalan melewatiku dan pergi menuju ruang makan. Di sana sudah tertata menu makan siang yang lezat. Jason mempersilahkan aku duduk terlebih dahulu kemudian baru dia. Aku melihat menu makanan yang tersaji, sepertinya terlalu mewah. Bahkan Jason sampai menghidangkan jamur trufle dan juga kaviar. "Kenapa?" tanya Jason ketika melihatku belum menyentuh makanan sama sekali. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa ini sangat mewah, apa kau sedang merayakan sesuatu?" tanyaku penasaran. "Tidak," jawab Jason pendek. "Kalau begitu terimakasih," balasku. Jason hanya terdiam entah apa yang ia pikirkan. Aku tidak ingin menebaknya. Beberapa saat kemudian Anderson tiba di ruang makan dan terlihat takjub dengan menu makanan lezat yang dihidangkan. Bocah itu langsung mengambil posisi duduk dan bersiap makan. Aku senang dia terlihat jauh lebih ceria. Aku kira dia akan terus memasang wajah murung. Jason menatap Anderaon sambil tersenyum kemudian mengusap kepalanya pelan, saat aku menatap mereka berdua bayangan Gerald muncul dikepalaku. Dulu kami juga sering makan bertiga seperti ini. Meskipun di tempat biasa dan tidak dengan makanan mewah, namun terasa hangat dan menyenangkan. Aku entah kenapa merindukan saat-saat itu. "Emma ...." Suara Jason mengagetkanku, dia menatapku dengan pandangan bingung. Aku segera memperbaiki ekspresi wajahku dan tersenyum ke arahnya. "Maaf aku melamun," "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jason penasaran. "Tidak ada, aku hanya memikirkan sekolah Anderson besok. Apa dia boleh izin?" tanyaku mengalihkan topik. "Untuk apa?" tanya Jason. "Aku tidak nyaman membiarkan Anderson berada di sana. Hari ini dia pulang dengan keadaan kacau. Apa kau tau dia sampai mimisan? Lihat pipinya bahkan terlihat agak bengkak," kataku menjelaskan. Sebenarnya aku sangat jengkel karena Jason tak menyadarinya sama sekali. Padahal sekali lihat saja aku sudah mengetahuinya. Jason menoleh dan mengamati Anderson, baru setelah itu ia menyadari tentang luka Anderson. "Sungguh payah," batinku. "Apa yang terjadi di sekolah?" tanya Jason dengan wajah serius. Anderson hanya diam dan menunduk, ia bahkan tidak berani menatap wajah Jason. "Jangan menatapnya begitu, dia jadi ketakutan," kataku mengoreksi Jason. "Maafkan Ayah," ucap Jason lembut. Rupanya dia menuruti perkataanku. Anderson memberanikan dirinya untuk menatap Ayahnya lagi. Jason menunggu jawaban Anderson dengan sabar sampai anak itu berani bicara. "Ayah, apa benar jika aku anak yang tidak sah?" tanya Anderson dengan nada sedih. Aku dan Jason saling pandamg. Ternyata memnag itu permasalahannya. Aku tidak percaya ada orang yang ingin membuat masalah denganku. Apa Adeline berulah lagi? Apa dia ingin membuat putraku sedih? Dia sudah keterlaluan. Aku mengepalkan tanganku menahan amarah, Jason sendiri hanya terdiam. "Aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan, tetapi jika benar Adeline yang memulai ini semua maka aku juga akan mengurus perempuan itu. Seharusnya ia diam saja dan menerima kekalahan, kenapa dia masih saja membuat ulah? Aku harus bertanya pada Gerald nanti," batinku. "Apa anak lain mengatakannya?" tanya Jason dengan nada lembut. Aku agak terkejut mendengarnya, biasanya Jason akan langsung marah dan mungkin meminta Anderson menunjukan siapa anak itu. Tapi sepertinya dia lebih sabar dan menahan diri. Apa mungkin ia masih menyimpan rasa pada Adeline? Jika jawabannya iya, maka aku harus bertindak lebih cepat. "Iya, mereka mengatakan hal yang buruk tentang Mam, bahkan mereka merusak buku dan juga peralatan tulisku, aku tidak suka jadi aku memukul mereka semua," cerita Anderson sambil menunduk. "Jangan hiraukan mereka, Ayah dan Mam sudah memiliki rencana untuk memindahkanmu ke sekolah lain yang lebih bagus," ucap Jason menenangkan. Wajah Anderson langsung berubah cerah, ia menatap Jason dengan wajah berbinar. Aku jadi ikut merasa senang. Jason tidak tau jika sekolah yang aku pilih adalah milik Gerald. Lagipula Jason juga tidak mengenalnya, jadi itu bukan masalah besar. "Aku senang sekali, terimakasih ayah," ucap Anderson senang. "Oh iya Emma, mungkin bulan depan aku akan menggelar acara dan akan memperkenalkan Anderson pada kerabat yang lain, tapi aku harap kau tidak hadir. Adeline masih berstatus sebagai istri sah jadi dia yang akan hadir di acara itu," ucap Jason padaku. "Bai...." "Aku tidak mau!" seru Anderson cepat memotong ucapanku. Aku meliriknya dan melihat raut wajahnya yang tidak senang. "Kenapa?" tanya Jason sambil menaikan alis. "Aku tidak dekat dengan Bibi Adeline, dan dia sepertinya tidak menyukaiku. Jika aku berada di sana dengannya pasti aku merasa tidak nyaman, bahkan mungkin Bibi Adeline akan bersikap dingin padaku seperti biasanya," jawab Anderson. "Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Jason lagi. "Apa tidak bisa Mam saja yang menghadiri acara itu? Bukankah kalian adalah pasangan? Kenapa Mam tidak bisa hadir sedangkan Bibi Adeline boleh menghadirinya?" tanya Anderson polos. Aku tertegun mendengar ucapan putraku sendiri. Dia baru berusia tujuh tahun tapi dia sangat pintar. Sekarang Jason, apa yang akan kau katakan pada putramu sendiri tentang itu. Aku diam menunggu Jawaban Jason. Dia sepertinya sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Anderson. "And, Mam tidak bisa hadir karena mereka semua belum mengenal Mam, dan aku yakin Mam tidak suka dengan keramaian seperti itu, iya 'kan?" tanya Jason sambil menatap ke arahku. "Tentu saja," kataku. Sepertinya cara ini tidak akan berhasil, karena yang kutau Anderson tidak puas. "Kalau begitu aku juga tidak bisa hadir di acara itu. Aku tidak bisa kalau tanpa Mam," jawab Anderson kecewa. Dalam hati aku tertawa gembira. Bagaimana bisa aku lupa jika putraku sangat cerdas. Jason pasti kebingungan jika seperti ini. Dia harus memilih antara aku dan Adeline sekali lagi. Jika ia memang menyukaiku dia akan memilihku, namun jika Adeline dia akan membujuk Anderson agar mau mengalah. "Baiklah kalau begitu, Aku ada urusan, kita bahas ini lain kali saja," ucap Jason sambil beranjak pergi. Aku memegang sendokku kuat-kuat. Jason, ternyata dia masih sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN