15

1057 Kata
Setelah memutuskan sambungan telfon aku mulai bersiap-siap. Hari ini aku akan mengunjungi beberapa sekolah yang sudah aku pilih. Aku tidak ingin putraku bersekolah disana lebih lama lagi. "Nyonya, apa Anda yakin akan mengemudi sendiri?" tanya Andy selaku supir pribadiku. "Tidak perlu, aku bisa sendiri," kataku sambil memberi senyum ramah. Jason memberikan supir pribadi beberapa waktu lalu, namun aku tak membutuhkannya. Lagipula aku bisa menyetir sendiri. "Tapi Tuan Jason mengatakan untuk tetap bersama Nyonya," jawab supir itu bersikeras. Membuatku tidak nyaman. "Andy, aku punya tawaran yang menarik, kau bisa menuruti perkataanku atau enyah dari sini," kataku sambil menyeringai. "I ... Itu ...." "Ayo pilih!" seruku sambil menatapnya tajam. "Nyonya mohon jangan seperti ini. Tuan Jason pasti akan memecat saya jika tidak menjalankan tugas dengan benar," "Kalau begitu baiklah, kau bisa berhenti bekerja dan aku akan mencari sulir yang lain," kataku cuek. Supir itu terlihat cemas dan berkeringat dingin. Reaksinya sungguh berlebihan, mungkin Jason juga sedang memikirkan sesuatu, apa dia ingin memata-matai aku? Jika memang benar. Maka aku akan tunjukan sesuatu yang menarik. Supir itu terlihat enggan, namun tetap menuruti ucapanku, sepertinya dia bukan ancaman yang serius. Tapi aku bukan orang bodo Jason. Aku bukan Adeline dan Emma lugu yang akan terjebak dalam bujuk rayu ataupun sangkar emas yang kau buat. Kau tidak akan bisa mengendalikan aku. Aku mengemudikan mobilku sendiri, menuju sebuah sekolah asrama yang menjadi pilihan pertamaku. Sesampainya di sana aku segera memarkirkan mobilku dan pergi ke bagian administrasi. "Permisi, saya sudah ada janji dengan Nona Alea, apa beliau ada?" tanyaku ramah pada petugas. "Tentu saja ada, silahkan menunggu di ruangan Nona Alea, saya akan memanggilnya," balas petugas itu ramah. Aku lega tidak ada yang perlu aku khawatirkan mengenai orang-orang disini. Beberapa saat aku menunggu namun Nona Alea belum datang. " Apa dia sedang sibuk ya?" tanyaku membatin. Padahal aku sengaja membuat janji agar tidak terjadi hal tunggu menunggu seperti ini. Sepertinya aku salah perhitungan. Pintu ruangan terbuka dan petugas itu muncul dwngan raut wajah masam. Sepertinya ada sesuatu. "Maaf Nyonya tapi Nona Alea sedang mengikuti rapat komite," ucap petugas itu dengan nada kecewa. "Baiklah aku tidak masalah menunggunya," balasku. "Kalau begitu apa Anda ingin berkeliling melihat sekolah?" tanya petugas itu. "Itu ide bagus," Akhirnya kami berkeliling sebentar melihat-lihat bagaimana suasana sekolah ini. Aku juga berkesempatan melihat cara mengajar mereka. Sangat mengesankan. Seperti sekolah pada umumnya sekolah ini bersih dan lingkungannya bagus. Tidak salah aku memilihnya. Pengajarnya juga terlihat kompeten dan bisa diandalkan. "Nyonya, sepertinya Nona Alea sudah selesai mengikuti rapat. Kita bisa kembali ke ruangan beliau," "Aku juga sudah selesai melihat-lihat. Sepertinya aku sudah membuat keputusan," Petugas itu tersenyum senang mendengar ucapanku. Kami kembali ke ruangan awal dan di sana sudah menunggu seorang perempuan muda berkacamata dengan pakaian blouse dan juga rok span yang rapi. Sepatunya hitam mengkilap dan tatapan matanya tegas. "Maaf membuatmu menunggu Nyonya Brown," sapanya ketika melihatku. "Aku juga minta maaf karena pergi melihat-lihat dulu," balasku ramah. "Silahkan duduk Nyonya," ucapnya sopan, kemudian ia meminta petugas tadi untuk pergi. Sekarang hanya ada kami berdua di ruangan ini. "Jadi apa Tuan Gerald sudah mengatakannya padamu?" tanyaku langsung pada intinya. "Iya, Beliau sudah mengatakan jika Nyonya Brown akan datang ke mari, tapi aku tidak menyangka jika Nyonya akan mengunjungi sekolah ini terlebih dahulu," "Aku tidak suka membuang waktu, untuk sekolah lain yang akan aku kunjungi itu hanyalah formalitas. Aku dengar putra dari Daniel Owen juga bersekolah di sini?" "Iya, itu benar. Apa Anda ingin melihatnya?" "Tidak, tidak perlu. Aku ingin kau segera menyiapkan berkas-berkasnya agar putraku bisa segera pindah ke sini." Perbincanganku dan Nona Alea sangat menyenangkan. Seperti yang diharapkan, Gerald memang pandai mencari pegawai. Setelah aku mengunjungi sekolah itu aku pergi ke sekolah lainnya. Tentu saja hanya kunjungan biasa. Aku hanya perlu mencari kelemahannya dan mengatakan kalau aku tidak menyukai sekolah itu karena hal tersebut. Setelah selesai mengunjungi semua sekolah itu aku kembali ke rumah Jason, tapi sepertinya dia belum pulang. Aku langsung pergi menuju kamarku dan merebahkan diri di atas kasur. Hari ini sangat melelahkan. Aku harus berbasa-basi dengan orang-orang itu. Mereka mengatakan hal yang sama dan hanya menginginkan aku menyekolahkan putraku di sekolah mereka tanpa perduli latar belakang putraku. Tapi setelah Anderson masuk mereka akan memusuhinya juga. Seperti guru wanita itu. Dia dulu juga sangat menyanjung saat Jason dan aku mengatakan akan menyekolahkan Anderson di sana, namun pada akhirnya dia tidak membela putraku sama sekali dan malah mengatakan omong kosong yang memuakkan. Jika saja dulu Jason menikahiku dan bukan Adeline, mungkin putraku tidak akan mendapatkan perlakuan seperti itu. Para pelayan di sini terlihat sangat tidak menyukaiku, itu juga membuatku tidak nyaman, tetapi aku tidak bisa memecat mereka tanpa alasan Jason pasti tidak setuju. Aku melirik Jam dinding, ternyata sudah mau pukul satu siang. Astaga! aku melewatkan makan siang dan juga lupa menjemput Anderson. Dia pasti sedang menungguku. Aku bergegas keluar dari kamar dan pergi keluar lagi, memacu mobilku dengan kecepatan lumayan agar bisa cepat sampai di sekolah Anderson. Begitu aku sampai Anderson sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolah. Setelah menepikan mobil aku segera melompat turun. "Maaf Mom terlambat sayang," sapaku dengan nada menyesal. Anderson mendongak dan menatapku dengan wajah sedih. Pakaiannya juga acak-acakan bahkan pipinya lebam dan ada tisyu yang menyumpal lubang hidungnya. Melihat itu aku bertambah khawatir. "Mam," panggilnya dengan mata berkaca-kaca. Ia segera berhambur memelukku dengan sangat erat. "Kenapa sayang? Apa kau berkelahi lagi? Ayo masuk, kita bicarakan di rumah," kataku khawatir. Aku menuntun Anderson masuk ke dalam mobil. Setelah itu aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan sedang. Aku melirik ke arah Anderson, dia terlihat kacau, pasti terjadi sesuatu selama di sekolah. Aku menggigit gigiku menahan kesal. Bagaimana bisa pihak sekolah tak memberitahuku apapun tentang kejadian ini. Apa mereka diam saja dan tutup mulut? Tidak masuk akal. Pasti ada orang dibalik ini semua. "Mam ...." Anderson menepuk lenganku pelan. Aku menoleh, kemudian kembali fokus melihat jalanan. "Ada apa sayang?" tamyaku sambil fokus menyetir. "Tidak ada, hanya saja Mam terlihat menyeramkan," ucap Anderson dengan nada cemas. "Oh, apa Mam terlihat seperti itu? Maaf membuau takut, Mam hanya sedang memikirkan hal yang rumit," jawabku dengan tawa. "Syukurlah, aku kira Mam akan marah padaku," balas Anderson sambil menunduk. Aku tertegun mendengar ucapan Anderson, apa terjadi sesuatu padanya di sekolah? Tidak biasanya dia seperti ini. "Sayang, kenapa berpikir begitu? Justru Mam sedih karena kau jadi seperti ini, apa teman-temanmu membuatmu kesulitan?" tanyaku lembut. Wajah Anderson berubah sendu. Aku penasaran apa yang sedang ia pikirkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN