Aku menatap Jason dengan pandangan penuh cinta. Tentu saja semua hanyalah sandiwara, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Jason.
"Emma, di sini dingin. Sebaiknya kau istirahat," ucap Jason. Aku hanya mengangguk, dan akan segera pergi. Lagipula aku memang tidak berniat menemaninya lama-lama.
Saat aku berbalik aku melihat Adeline menuruni tangga sambil membawa koper besar, ia sepertinya akan pergi malam ini juga. Aku penasaran apa dia memiliki tempat tinggal setelah ini ataukah hanya menjadi tunawisma. Jason sama sekali tak memperdulikannya dan malah membuang muka. Adeline segera turun dan tidak mengatakan apapun padaku.
Aku memasuki kamarku dan mencoba untuk tidur. Besok aku akan mengunjungi beberapa sekolah dan mencari sekolah yang pas untuk Anderson. Aku tidak ingin dia bersekolah di tempat seperti itu.
Saat aku ingin memejamkan mata bayangan Adeline muncul di kepalaku. Wajahnya yang tampak sedih sangat menggangguku, aku teringat di saat dulu masih hamil. Aku harus berjalan di tengah udara dingin dan pergi dari satu kota ke kota lain. Apa sekarang Adeline sedang berada di posisiku waktu itu? Rasanya aku seperti melakukan kesalahan besar. Walaupun ini sesuai dengan rencanaku untuk membalas dendam pada Jason, namun hatiku tidak merasa puas sama sekali saat melihat Adeline keluar di malam yang sepi.
"Arg ... Yang benar saja," gumamku kesal. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Gerald. Aku harap ia masih belum tidur.
"Gerald, apa kau sibuk? Aku butuh bantuanmu," ucapku tanpa basa-basi ketika sambungan telfon sudah terhubung.
"Ada apa Emma, aku tidak sibuk," balas Gerald di ujung telfon.
"Tolong kau bantu Adeline. Jason mengusirnya keluar dan aku merasa tidak enak membiarkannya sendirian. Bisa kau awasi dia?" tanyaku padanya.
"Akan aku lakukan, jangan khawatir tidurlah yang nyenyak," balas Gelard lembut. Aku tau dia pria yang sangat baik. Berbanding terbalik dengan Jason yang seperti sampah.
"Terimakasih," balasku.
"Sama-sama,"
"Selamat malam Gerald,"
"Kau juga, Emma,"
Sambungan telfon pun terputus. Sekarang aku bisa tenang tanpa harus memikirkan tentang Adeline. Aku yakin dia memiliki uang untuk menginap di hotel atau sekedar mencari tempat singgah.
Aku mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidur. Aku yakin Jason sudah pergi ke kamarnya. Pria itu sekarang terlihat jauh berbeda dibandingkan dulu. Aku tidak mengerti kenapa sekarang dia lebih kejam dan dingin. Padahal dia sudah menikah dengan kekasih pujaan yang ia inginkan.
Aku tidur dengan posisi menyamping membelakangi pintu. Saat sedang memejamkan mata, rasanya aku merasakan seseorang memasuki kamarku.
"Jason?" tanyaku tanpa membalikan badan. Perlahan orang itu masuk kedalam selimut dan memeluk pinggangku. Deru nafasnya sangat terasa di belakang leherku.
"Maaf aku membangunkanmu," ucapnya lirih. Aku mencium bau alkohol yang sangat menyengat. Ternyata dia sedang mabuk.
"Kau mabuk," kataku sambil mengganti posisiku menjadi duduk. Aku tidak ingin Jason menyentuhku lagi seperti dulu. Aku beruntung karena Jason masih di tempatnya semula, berbaring dengan mata terpejam. Sepertinya ia sudah tertidur karena terlalu mabuk. Karena Adeline tidak di sini aku tidak perlu repot-repot membuat suara aneh yang menijijikan seperti kemarin.
Adeline pasti tidak menyadari jika sebenarnya aku mengetahui kalau ia sedang bersembunyi di bawah meja. Betapa bodohnya dia jika mengira aku tidak melihatnya sama sekali. Jason saat itu mabuk jadi tidak mungkin menyadari keberadaan Adeline, tapi tidak denganku.
"Emma, maafkan aku ...."
Aku mengernyit ketika mendengar Jason mengigau tentangku. Tidak kusangka dia ternyata justru memanggil namaku dan bukannya Adeline.
"Jason, maaf ... Kali ini aku tidak bisa memaafkanmu," kataku pelan kemudian berbalik dan tidur di sofa.
***
Hari ini aku sengaja bangun lebih pagi agar Jason tidak menyadari jika aku tidak tidur dengannya sama sekali. Aku sengaja sibuk membuat sarapan di dapur dan menunggunya turun seperti seorang istri yang patuh.
Aku meminta para pelayan untuk tidak menggangguku. Keberadaan mereka justru membuatku tidak nyaman. Aku heran kenapa Adeline tidak terganggu sama sekali demgan adanya banyak orang yang mengawasi dan menyapanya setiap saat, malah kalau bisa aku ingin memecat mereka semua.
"Selamat pagi Mam," sapa Anderson sambil tersenyum. Bocah kecil itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya, sepertinya ia sudah melupakan kejadian kemarin.
"Pagi sayang," balasku sambil menghidangkan roti isi kesukaannya, tak lupa segelas s**u sebagai pelengkap. Aku mengambil posisi duduk di depan Anderson sambil memakan roti isi milikku. Anderson tampak melihat ke arah lain seperti sedang menunggu seseorang.
"Apa Bibi Adeline tidak ikut makan bersama kita?" tanya Anderson padaku. Wajahnya terlihat bingung.
"Anderson, sejak kapan kau akrab dengan Bibi Adeline?" tanyaku heran. Menurutku selama ini Anderson tak pernah dekat dengan Adeline tapi kenapa tiba-tiba menanyakan tentang wanita itu, apakah Adeline dekat dengan Anderson tanpa sepengetahuanku? Aku harus mencari tau.
"Entahlah, Bibi selalu menatapku dengan wajah dingin setiap kali kami berpapasan. Sebenarnya aku ingin berbicara dengannya hari ini, tapi mungkin lain kali," ucap Anderson murung.
Aku ikut sedih mendengar ucapan Anderson, seprtinya ia ingin akrab dengan Adeline tapi wanita itu tak pernah memeberinya kesempatan untuk dekat sama sekali. Aku yakin karena Anderson adalah putraku dan Jason.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya sebuah suara.
"Tidak ada," balasku spontan. Ternyata Jason sudah bersiap dengan pakaian kantor. Wajahnya sudah lebih segar daripada tadi malam. Aku menampilkan senyum terbaikku dan menyuruhnya bergabung bersama.
Jason mendekatiku dan mencium puncak kepalaku, kemudian duduk di sampingku sambil menikmati roti isi miliknya yang sudah aku sediakan.
"Ini, aku yakin kau membutuhkannya," ucapku sambil memberinya air perasan limun. Aku yakin Jason sakit kepala karena terlalu banyak minum alkohol.
"Terimakasih," kata Jason sambil tersenyum ke arahku. Kini kami terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Jason menatap Anderson yang terlihat murung dengan penasaran. Ia melirik ke arahku mencari penjelasan. Melihat tatapan mata ingin taunya aku tidak punya pilihan lain selain memberitau yang sebenarnya, lagipula tidak ada ruginya juga untukku.
"Anderson sedih karena tidak ada Adeline di sini," kataku berbisik padanya. Aku tidak ingin Anderson mendengar ucapanku. Wajah Jason langsung berubah, aku tidak mengerti ekspresi macam apa yang ia tunjukan. Sangat misterius.
"Aku akan mengantar Anderson ke sekolah, kau tidka keberatan kan berangkat dengan Ayah?" tanya Jason.
Anderson tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya tanda setuju. Aku lega pagi ini tidak terlalu menegangkan. Aku kira dengan perginya Adeline Jason akan kelihatan sedih dan menyesal, tapi sepertinya tidak sama sekali. Pria itu benar-benar tidak memiliki hati.
Setelah melepas kepergian Jason dan Anderson. Aku segera masuk dan menghubungi Gerald. Aku harus tau bagaimana perkembangan tentang Adeline.
"Bagaimana?" tanyaku begitu Gerald mengangkat telfonku.
"Jangan khawatir, sepertinya ia pergi ke kediaman saudaranya, dia baik-baik saja," jawab Gerald di ujung telfon.
"Bagus, terus saja awasi dia. Aku merasa tidak nyaman tentangnya. Menurutku dia tidak mungkin diam saja ketika rumah tangganya akan hancur, ini terlalu mulus," kataku pada Gerald.
"Jangan khawatir, terus lakukan seperti rencana awal," ucap Gerald menenangkan. Hatiku merasa tenang setelah mendengar Gerald mengatakan hal itu, bagaimana pun Gerald adalah orang yang paling menepati janji.