Aku memasang wajah sedih dan kecewa, kitalihat bagaimana reaksi Jason selanjutnya, jika dia masih menyukaiku dia pasti akan merasa bersalah apalagi Anderson masih tertidur dalam gendonganku.
"Ada apa?" tanya Jason padaku dengan suara melembut.
"Benar begitu Jason, bersikaplah seperti itu," batinku senang.
"Putra kita dibully Jason dan kau tidak tau sama sekali!" seruku dengan nada kecewa. Tak lupa juga mengeluarkan beberapa tetes airmata agar dia semakin merasa bersalah.
"Apa?" tanyanya kaget. Wajahnya menunjukan keterkejutan seperti yang kuharapkan.
"Guru di sekolahnya tidak membantu sama sekali, sekolah apa yang kau berikan pada putramu!" seruku padanya.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi," pinta Jason dengan wajah serius.
"Bagus, dia sudah mulai masuk ke dalam perangkapku," batinku saat melihat reaksinya.
"Saat aku menjemput Anderson dia babak belur karena berkelahi dengan anak dari keluarga lain, mereka bahkan menghina Anderson sebagai anak dari simpanan. Bagaimana bisa putraku bersekolah di tempat mengerikan itu!" seruku marah.
"Emma, maaf karena aku tidak tau. Bagaimana dengan Anderson? Apa dia baik-baik saja sekarang? Kenapa dia tertidur seperti itu?" tanya Jason terlihat khawatir.
Dalam hati aku sangat puas melihat wajahnya yang menyedihkan seperti itu. Seharusnya wajah itu yang selalu ia perlihatkan padaku. Aku sangat senang.
"Aku yakin pasti ada orang yang menceritakan tentang latar belakang Anderson pada orang-orang," kataku mulai memancing.
"Siapa orang bodoh yang berani membuat keributan denganku?" tanya Jason emosi. Ini saat yang tepat bagiku untuk mengomporinya lagi.
"Menurutmu siapa lagi orang yang tau tentang latar belakang Anderson di rumah ini? Bahkan pesta penyambutan Anderson saja belum di publikasikan, bagaimana orang-orang itu bisa tau?" tanyaku memancing.
Wajah Jason terlihat sangat marah setelah aku mengatakan hal itu. Ia langsung bergegas naik ke lantai tiga, bahkan tanpa mengatakan apapun lagi. Sayang sekali aku harus melewatkan pertengkaran mereka berdua. Aku harus menidurkan Anderson terlebih dahulu. Dia pasti lelah setelah bermain seharian.
Aku menaiki anak tangga menuju lantai dua, kemudian menidurkan Anderson di kamarnya, membuka sepatu dan menyelimutinya dengan rapat.
"Sayang, maafkan Mama, karena sudah memanfaatkanmu demi rasa egois Mama. Tapi Ayahmu memang pantas mendapatkannya," kataku pelan sambil mengelus puncak kepala Anderson.
Setelah itu aku meninggalkannya untuk beristirahat. Sementara aku akan melihat tontonan yang menarik.
"Adeline, jangan kelewatan!" seru Jason marah. Suaranya bahkan sampai terdengar keluar. Aku yakin dia sangat marah.
"Jason kenapa kau tidak percaya padaku? Wanita munafik itu menfitnahku! Bukan aku yang melakukan itu, untuk apa aku menyerang anak kecil!" seru Adeline membela diri.
"Jangan beralasan. Kau ingin mengatakan kalau Emma sendiri yang menyebarkan rumor sampai melukai putranya? Aku rasa kau sudah gila," balas Jason sengit.
Aku sangat penasaran ingin melihat raut wajah Adeline yang tersakiti itu, bahkan ingin sekali melihat Jason mencaci maki Adeline yang dulu sangat dipujanya sampai tega meninggalkanku. Tapi bukan saat yang tepat jika aku muncul sekarang. Setidaknya aku akan menunggu sampai Jason memberikan hukuman untuk istri tercintanya itu.
"Jason apa kau lebih percaya pada perempuan sial itu daripada aku yang istrimu? Sepertinya kau lah yang kehilangan akal!" balas Adeline tidak mau kalah.
"Jangan menyebut Emma seperti itu! Kenapa kau malah mengalihkan pembicaraan?" tanya Jason emosi.
"Kau memang benar-benar sudah tergila-gila dengan wanita itu ya, sampai kau membelanya seperyi itu," ucap Adeline kecewa.
Aku mendengarkan semua pembicaraan mereka dengan suka cita. Aku penasaran bagaimana akhirnya.
"Kalau kau terus membuat masalah lebih baik kau keluar saja dari rumahku!" seru Jason dengan wajah dingin.
Keluar? Dia mau mengusir Adeline? Ini terlalu cepat. Aku harus meredakan situasi. Aku bergegas masuk setelah Jason mengucapkan kata-kata itu. Tidak aku sangka dia sangat tegas. Sudah jauh berubah rupanya.
"Jason? Apa yang aku dengar itu? Apa kau serius akan mengusir Adeline keluar?" tanyaku cepat. Aku bwrusaha mengeluarkan ekspreai sedih agar terlihat aku bersimpati dengan Adeline.
"Ya, apa kau tidak setuju?" tanyanya tegas.
"Jason, jangan mengatakan hal aneh. Adeline adalah nyonya di rumah ini, bagaimana bisa kau mengusirnya semudah itu?" tanyaku padanya.
"Itu karena dia berani melawanku, aku tidak membutuhkan orang seperti itu. Sekarang aku mulai mempertanyakan kenapa dulu aku bisa memilihnya daripada kau Emma," ucap Jason dwngan wajah menyesal.
"Hah? Kau mau aku percaya semua itu Jason? Semua ucapanmu hanyalah omong kosong, bahkan mungkin di masa depan kau akan membuangku lagi. Tidak ada yang bisa menjamin ucapanmu," kataku dalam hati.
"Jason, tolong pertimbangkan lagi," ucapku memohon.
"Aku akan pergi!" seru Adeline tiba-tiba. Jason menatapnya dengan wajah benci. Aku sangat senang melihat kejadian ini. Jika saja ini drama di dalam film mungkin aku sudah melompat kegirangan di luar sana. Tatapan mata itu, tatapan mata yang dulu pernah ia berikan padaku, dan sekarang tatapan mata itu diberikan pada Adeline. Orang yang dulu ia perjuangkan.
"Silahkan kemasi barangmu," ucap Jason dingin kemudian pergi begitu saja. Bahkan tanpa menoleh ke arah Adeline sama sekali.
Aku hanya terdiam di tempat sambil melihat Adeline yang sekarang terlihat menyedihkan. Dia barusaja sembuh dari penyakitnya tapi sudah di usir keluar. Sungguh malang. Sekarang bagaimana rasanya kau tinggal di jalanan Adeline? Aku dulu bahkan harus membawa Anderson dalam perutku. Bukankah kau beruntung karena tidak membawa apapun kecuali dirimu.
"Kau senang kan sekarang?" tanya Adeline dengan derai airmata. Aku sama sekali tidak berniat menghibur ataupun membantunya. Aku hanya meliriknya sekilas kemudian berbalik dan pergi. Drama suami istri itu sudah berakhir.
Sekarang saatnya melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jason. Dia pasti sedih karena harus mengusir istrinya sendiri keluar dari rumahnya. Aku berjalan menuruni tangga, kemudian melihat Jason sedang berdiri di balkon lantai dua. Wajahnya terlihat muram. Aku yakin dia menyesal sekarang. Dia memang tipe orang seperti itu.
"Jason," ucapku sambil mendekatinya. Ia menoleh dan tersenyum ke arahku. Senyum yang dipaksakan. Aku berdiri di sampingnya sambil memasang wajah bersalah dan sedih.
"Maaf aku membuatmu bertengkar dengan Adeline, sebenarnya masalah ini tidak perlu sampai seperti ini. Aku rasa kau terlalu berlebihan," ucapku.
Wajah Jason berubah masam, ia merangkulku kemudian mencium keningku begitu saja, seolah aku adalah perempuan yang paling ia cintai. Sungguh memuakkan.
"Jangan merasa bersalah, aku minta maaf karena tindakan Adeline membuat Anderson terluka. Lain kali aku akan lebih memperhatikannya. Jangan perdulikan Adeline, aku yakin ia sudah memiliki tempat tinggal lain. Lagipula ia memang salah," ucap Jason lembut sambil mengelus puncak kepalaku.
"Apa sebaiknya kita memindahkannya ke sekolah lain yang lebih kompeten," usulku padanya. Lagipula memang itu tujuanku. Memindahkan Anderson ke sekolah lain.
"Akan aku usahakan," kata Jason sambil tersenyum. Jika itu Jason delapan tahun yang lalu, mungkin aku akan jatuh cinta dengannya seperti saat itu. Tapi aku sekarang sudah berbeda. Segala rasa sakitku pada saat itu terus saja menghantuiku seperti bayangan. Dan sekarang aku merasa bisa menghapus bayangan itu.