12

1010 Kata
Raut wajah Anderson terlihat murung ketika mendengar jawabanku. "Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain dan bertemu Paman Gerald?" tawarku padanya. "Mam tidak bohong?" tanyanya dengan wajah polos. "Tentu saja," kataku sambil masih fokus menyetir. Anderson adalah segalanya bagiku. Setelah Jason membuangku aku hanya memikirkan bagaimana cara membesarkan putraku dengan benar. Aku mengemudikan mobilku menuju sebuah taman hiburan anak-anak. Anderson terlihat sangat senang dan langsung melompat keluar ketika mobil berhenti di area parkir. "Tunggu sebentar ya, Mam akan menelfon Paman Gerald dulu," kataku pada Anderson. Bocah itu terlihat mengerucutkan bibirnya yang mungil. Namun ia tetap menuruti perkataanku dan diam di tempatnya berdiri. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Gerald, Anderson pasti senang bertemu dengannya. Lagipula mereka sudah dekat sejak Anderson masih bayi. (Kau dimana?) (Aku menunggumu di taman bermain anak-anak) (Anderson terlihat murung jadi aku ingin menghiburnya) (Baiklah aku akan menunggu) Sambungan telfon pun terputus. Aku berbalik dan melihat Anderson yang menungguku dengan tidak sabar. "Ayo!" ajak ku sambil menggandeng telapak tangannya yang mungil. Hari ini aku membiarkan Anderson menaiki berbagaimacam wahana yang ia sukai. Wajah murungnya sudah berganti dengan senyum keceriaan. "Jason lihat, aku bisa membesarkannya sendiri dengan caraku, bahkan dia tidak membutuhkanmu sama sekali," batinku sambil menatap ke arah Anderson yang tersenyum bahagia sambil menaiki wahana comedy putar kesukaannya. Aku menatapnya dari kejauhan, pemandangan seperti ini adalah hal yang selalu aku sukai. Sejak kehadiran Anderson aku mulai melupakan masalaluku yang menyedihkan dan berusaha menata kembali kehidupanku hanya dengan Anderson. Tapu siapa sangka Jason akan kembali mencariku setelah tujuh tahun dia meninggalkanku. Aku masih mengingat saat ia menikah dengan Adeline. Aku memang mendatangi pernikahan mereka melihat Adeline dan Jason saling mengucapkan ikrar pernikahan yang sakral di depan pendeta. Semua ingatan itu masih tergambar jelas dalam kepalaku seperti baru terjadi kemarin. Hatiku hancur, dan aku mulai kehilangan semangatku untuk hidup. "Maaf menunggu lama," ucap Gerald yang baru saja tiba. Aku menatap Gerald sambil mengerucutkan bibir. Pria itu selalu datang seperti hantu, dan dialah orang yang menolongku saat aku benar-benar jatuh sampai ke dasar, dimana tidak ada orang yang mau menerimaku, namun dia hadir dan mengulurkan tangan padaku, memberiku pekerjaan dan tempat bernaung. Bahkan menjagaku ketika aku berjuang melahirkan Anderson. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Gerald santai. "Kau selalu saja datang seperti hantu," ucapku masih cemberut. "Dimana jagoanku?" tanya Gerald sambil melirik kesana kemari. Aku ingin memukul kepalanya itu karena gemas. Jelas sekal] dia hanya bercanda, padahal Anderson tepan berada di depannya sambil menaiki wahana. "Tunggu saja, sebentar lagi dia akan kembali," kataku sambil tersenyum. Gerald sangat menyayangi Anderson. Bahkan sejak Anderson masih bayi Gerald sering memberikan hadiah kecil untuknya. Kebaikan Gerald yang seperti itulah yang tidak bisa aku balas, bahkan untuk sekedar membalas perasaannya aku merasa tidak pantas. Anderson segera berlari turun dari wahana begitu wahana yang ia tumpangi berhenti. Rupanaya ia juga sudah mengetahui kedatangan Gerald. "Paman...." Anderson berlari kegirangan dan segera memeluk Gerald erat. Mereka berdua terlihat sepwrti sepasang anak dan ayah sungguhan. Bahkan Jason tidak pernah mendapatkan perlakuan hangat seperti itu dari Anderson. "Wah ... Paman dengan jagoan kecil paman sedang sedih, memangnya kenapa hm?" tanya Gerald sambil mengacak rambut Anderson yang ikal. Wajah Anderson kembali murung ketika mendengar pertanyaan Gerald. "Aku tidak suka bersekolah di sana paman, anak-anak itu selalu mengejekku dan mengatakan kalau aku anak dari wanita simpanan," ucap Anderson mengadu. Aku dan Gerald saling pandang mendengar ucapannya. Bagaimana bisa seorang anak mendapatkan perlakuan seperti itu? Lagipula aku sudah menyembunyikan identitas Anderson dan selalu berhati-hati. Tidak mungkin orang tua murid lain mengetahui latar belakang Anderson dengan mudah. Hanya satu orang yang ada di kepalaku yang tega melakukan hal seperti itu pada seorang anak kecil. Adeline, perempuan itu rupanya sudah mulai bergerak. Aku tidak menyangka dia akan menargetkan putraku terlebih dulu. Bukankah itu tindakan seorang pengecut. Hatiku serasa terbakar ketika mengingat ucapan Anderson yang baru saja ia katakan. "Kalau begitu, bagaimana kalau Anderson bersekolah di tempat lain?" tawar Gerald. "Tidak, jika kita memindahkan Anderson tanpa sepengetahuan Jason. Aku bisa dicurigai," ucapku cepat. Gerald terlihat tidak senang dengan perkataanku. "Lalu kau akan membiarkan Anderson dihina oleh orang lain?" tanya Gerald dengan nada marah. "Tidak Gerald, tentu saja tidak seperti itu. Aku punya rencana yang bagus," kataku sambil tersenyum licik. "Sayang jangan sedih ya, Mam pastikan kau akan mendapatkan sekolah baru dengan lingkungan yang lebih baik," kataku menghibur Anderson. Gerald hanya menatapku tanpa berkomentar apapun, ia tidak menanyakan apapun karna aku yakin ia juga sudah mengerti cara apa yang akan aku pakai untuk melawan perempuan itu. "Mam, aku menyayangimu," ucap Anderson senang. "Baiklah, karena Paman sudah ada di sini apa kau mau naik ke pundak Paman Gerald?" tawar Gerald mencairkan suasanya yang tadinya canggung. "Tentu saja," jawab Anderson cepat. Gerald segera berjongkok dan membiarkan Anderson untuk naik ke atas pundaknya. "Siyap ... Go ...." Gerald dan Anderson berlari bersama menuju kerumunan orang. Aku merasakan perasaan hangat di dalam hatiku saat melihat mereka bersama seperti ayah dan anak. Namun sekelebat bayangan Jason membuyarkan perasaan bahagiaku. Benar, pria itu harus merasakan dulu bagaimana rasanya di campakkan oleh orang yang dicintai, baru aku bisa tenang dan tertawa di atas rasa sengsaranya, seperti yang pernah ia lakukan padaku dulu. Jika dulu Aku hanyalan wanita bodoh, kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. "Jason tunggu saja, detik-detik kehancuran rumah tanggamu dengan Adeline akan segera datang," batinku. *** Aku menatap Anderson yang tertidur pulas di kursi belakang mobil. Dia terlihat damai dan juga sangat lucu. Tidak kusangka akan memakan waktu selama ini di taman bermain, bahkan Anderson sampai tertidur saking lelahnya bermain. Untunglah Gerald tidak keberatan menemaninya sama sekali. Pria itu, aku tidak tau bagaimana harus berterimakasih. Mobil yang aku kendarai berjalan memasuki pekarangan keluarga Simpson. Aku yakin Jason akan bertanya-tanya kemana seharian aku pergi. Dia dari dulu memang orang yang terlalu posesif dan menyebalkan. Aku menghentikan mobil dan segera menggendong Anderson untuk turun, dia sudah besar dan semakin berat. Sudah lama aku tidak menggendongnya seperti ini. Barusaja aku memasuki rumah, namun Jason sudah menungguku dengan pandanganya yang dingin itu. Aku harus menyesuaikan sikapku. "Adeline, kali ini aku akan membalasmu," batinku sambil tertawa dalam hati. "Darimana saja kau?" tanya Jason dengan suara dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN