Pov Emma

1054 Kata
Adeline bertanya sambil melotot padaku. Aku tidak boleh kalah darinya atau aku tidak akan bisa mencapai tujuanku sama sekali, aku sudah sejauh ini jadi tidak boleh mundur. "Jason memintaku untuk melakukan ini jika kau membuat ulah," kataku padanya. Raut wajahnya langsung berubah lagi. Ia memandangku seperti memandang serangga, dan aku sangat tidak suka dengan pandangan itu. "Oh, jadi sekarang aku bahkan tidak bisa membuat keputusan di rumahku sendiri?" tanyanya sinis. "Jason yang mengatakan untuk tidak membantah ucapannya," balasku lagi. Namun Adeline memuta% bola matanya. Lagi-lagi seperti itu, dia menepis tanganku dan memandang sengit ke arahku. "Jangan ikut campur, kau hanyalah orang luar. Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Jason!" serunya dengan tatapan tajam. Sakit? Tentu saja itu yang kurasakan. Dari dulu hingga sekarang Adeline lah yang memiliki semuanya. Cinta, pernikahan yang sah, uang dan juga nama baik. Sedangkan aku hanya mendapatkan cap sebagai.wanita simpanan, bahkan cinta Jason padaku tidak cukup besar untuk mengalahkan ke egoisannya menikahi Adeline. Aku juga menderita karena mengurus bayiku sendirian, dan setelah anak ku lahir dengan susah payah aku membesarkannya sendiri. Jason datang padaku dan meminta anakku begitu saja. Tidak semudah itu, aku tidak akan memberikannya dengan mudah. "Adeline, sebaiknya kau menurut. Jason bisa saja mengusirmu kalau kau bertindak terlalu arogan," ucapku dengan seringai. Aku tidak main-main. "Tujuanku kemari bukan untuk menghancurkanmu namun kau jelas terkena dapaknya karena kalian suami istri," cibirku dalam hati. Adeline masih tidak bergeming, dia masih menatapku dengan tatapan tajam, seolah aku adalah musuh yang harus ia lenyapkan. "Pergilah dan jangan menggangguku, aku tidak tau apa yang kau rencanakan, tapi aku tau kau memiliki rahasia," ucap Adeline tanpa ekspresi. Aku terdiam begitu mendengar kalimatnya, dan dia berjalan santai begitu saja melewatiku. Rahasia? Apa dia tau apa yang aku rencanakan? Apa insiden di toko itu adalah ulahnya? Tidak, Adeline tidak mengenal Gerald. Ia juga tidak pernah bertemu Gerald. Tidak mungkin ia mengetahui rencanaku. Aku masih diam di tempat. "Nyonya sudah waktunya menjemput Anderson," ucap Rion mengingatkan. Aku tersadar dari lamunanku. "Iya," jawabku pendek. Rion hanya mengangguk kemudian berjalan menuju garasi. Aku dengan cepat mengejarnya. Aku butuh ruang sendiri. "Rion, tunggu! Jangan mengantarku, aku akan pergi sendiri," ucapku. "Tapi Nyonya," "Aku akan mengatakan sendiri pada Jason, jangan khawatir," kataku meyakinkan. Rion hanya mengangguk kemudian segera pergi. Aku segera pergi ke kamarku untuk mengambil tas tanganku, aku harus menemui Gerald. Aku tidak melihat Adeline, mungkin ia kembali ke tempat tidurnya. Siapa perduli dengan apa yang ia lakukan, lagipula itu lebih baik karena aku bisa leluasa bergerak di rumah ini. Setelah mengambil tas aku bergegas ke garasi dan mengambil mobilku. Jason memberikan mobil kecil untukku, padahal Adeline memiliki mobil Roll Royce, namun dia hanya memberikan mobil murahan untukku, jelas sekali perbedaannya. Bahkan sampai sekarang pun Jason masih bersikap seperti itu. Aku mengendarai mobilku menuju sekolah Anderson, putraku. Dia masih berdaptasi dengan ayah baru yang tiba-tiba muncul di kehidupannya. Aku takut Anderson tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Apalagi belakangan ini ia sering mengeluh tentang suasana rumah Jason yang sangat membuatnya tidak nyaman. Begitu sampai di sekolah Anderson aku melihat jagoan kecilku sedang duduk sendirian dengan wajah murung, bajuyang ia kenakan terlihat kusut dan ada luka di pipinya. Hatiku langsung sakit ketika melihat pemandangan ini. Aku buru-buru mendekatinya, di sampingnya berdiri seorang wanita muda berpakaian formal. Aku yakin ia seorang guru. "And, ada apa?" tanyaku padanya. Namun Anderson terlihat sangat murung dan langsung menangis saat menatapku. "Mam, apa aku harus bersekolah di sini?" tanyanya dengan isakan kecil. "Jangan menangis sayang, Mama ada di sini," kataku menenangkannya. Mataku melirik sinis ke arah guru wanita di samping Anderson. Guru itu terlihat salah tingkah, namun sepertinya ia mengerti arti tatapan matalu padanya. "Nyonya Emma, bisa kita bicara sebentar," pintanya sopan. Aku mengangguk, kemudian menatap Anderson yang masih terlihat murung. "And, kau bisa menungguku di mobil, atau kau mau menunggu saja di sini," ucapku lembut. "Tidakpapa Mam, aku akan menunggu di sini," ucapnya. Aku mengelus puncak kepalanya sayang. Dari dulu ia memang penurut. "Mari," ucap sang Guru. Aku mengikuti langkahnya menuju sebuah ruangan. Dalam hati aku menyesal tidak menyuruh Anderson untuk masuk ke mobil terlebih dahulu. Guru itu mempersilahkan aku untuk duduk di atas sofa dan berhadapan dengannya. Ia tampak menimbang-nimbang sebelum mengatakan padaku. "Dengan sangat menyesal aku harus mengatakan ini Nyonya. Tapi Anderson akan di skors untuk dua hari kedepan," ucapnya. "Memang apa kesalahan putraku?" tanyaku tidak terima. Jason memindahkan Anderson ke sekolah elite dan aku kira itu akan bagus untuknya. Tapi sepertinya aku salah menilai. "Putra anda berkelahi dengan beberapa temannya, dan membuat salah seorang temannya sampai cedera ringan, jadi kami mohon maaf Nyonya ini sudah keterlaluan," jawabnya. "Keterlaluan? Apa anda memang benar seorang guru? Putraku sendirian melawan benerapa orang anak dan anda menghukum putraku sampai seperti ini? Anda yakin tidak ada yang salah dengan penilaian anda?" tanyaku sinis. Guru itu hanya diam. Karena tidak mendapatkan jawaban aku melanjutkan kalimatku. "Anderson tidak pernah sekalipun berkelahi dengan temannya di sekolah yang lama, namun baru beberapa hari aku menyekolahkannya di sini ia mendapatkan masalah, aku yakin ini ulah murid lain dan putraku hanyalah korban," ucapku membela. "Maaf Nyonya tetapi bukti sudah sangat jelas, putra anda melukai salah seorang temannya jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena orang tua murid meminta ganti rugi atas insiden ini," jawabnya sambil menunduk. "Sungguh mengecewakan. Aku pastikan kalian mendapatkan ulasan buruk dariku, jangan khawatir aku akan membayar biaya ganti ruginya," cibirku kemudian segera pergi meninggalkan ruangan itu. Percuma saja bersekolah di tempat elit namun tidak memiliki moral yang bagus. Bagaimana bisa mereka menilai secara sepihak dan tidak menerima pembelaan dari pihak lainnya. "Ayo pulang!" seruku pada Anderson yang masih duduk di tempatnya tadi. Bocah itu langsung berdiri dan mengikuti langkahku menuju mobil. "Mama akan memindahkanmu ke sekolah lain," ucapku pada Anderson. Aku tidak ingin ia bersekolah di tempat seperti itu. "Aku ingin kembali ke sekolah lamaku Mam," jawabnya sambil menunduk. Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Aku berencana mengajak Anderson jalan-jalan agar suasana hatinya membaik. Lagipula aku juga memiliki urusan yang harus segera aku selesaikan. "Sekolahmu berada di luar Kota sayang, kita tidak mungkin kembali ke sana," jawabku menyesal. Ini semua karena ke egoisan Jason dan juga aku. Jika Jason tidak muncul dalam kehidupanku lagi mungkin sekaramg aku masih menjalani kehidupan yang tenang dengan putraku, dan Anderson tidak perlu mengalami kejadian tidak menyenangkan seperti ini. "Apa kita tidak bisa kembali ke rumah lama kita?" tanya Anderson polos. "Maafkan Mama ya,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN