Blush, wajahku berubah merah padam menahan malu. Jason masih berdiri sambil mengamatiku dari tempatnya berdiri.
"Kau barusan buang angin kan?" tanya Jason dengan wajah biasa. Rasanya aku ingin menutupi diriku dengan selimut, atau menghilang saja. Kenapa Jason mengatakan hal yang memalukan seperti itu? Aku menggigit bibirku, tidak berani menjawab ucapan Jason. Namun sakit perutku tak kunjung mereda, malah semakin menjadi-jadi.
"Aku ... Aku ... Ingin ke toilet," kataku akhirnya. Sudahlah percuma juga menahannya, lagipula Jason tak berniat pergi.
"Kalau kau mau ke toilet kenapa tidak mengatakan dari tadi, aku akan keluar." Jason segera berjalan ke luar dari kamarku setelah mengucapkan kalimat itu. Aku hanya bisa menatap punggungnya sambil menahan kesal.
Begitu Jason pergi aku segera berlari sambil membawa botol infus yang tergantung di samping tempat tidurku.
"Jason sialan itu, awas saja," cibirku sambil duduk di atas kloset.
Beberapa jam berlalu namun aku masih merasa sakit perut dan mual.
"Ugh, perutku melilit sekali sampai aku merasa cairan tubuhku terkuras semua. Bagaimana bisa aku terkena penyakit kolera secara tiba-tiba begini. Padahal aku kemarin masih baik-baik saja." aku hanya bisa mengoceh sendirian mengingat Jason pergi entah kemana setelah membuatku malu, mungkin dia pergi berkencan dengan Emma atau mungkin pergi bekerja.
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, sudah lima belas kali aku kembali ke kamar mandi. Entah itu untuk muntah ataupun buang air. Setelah aku sembuh akan aku balas perlakuan Jason padaku.
Aku melihat ponsel milikku tergeletak di atas meja, kemudian teringat dengan Helen. Daritadi aku sama sekali tak melihatnya. Padahal biasanya ia akan kemari menyiapkan makan siang atau sekedar membersihkan kamarku.
Aku mengambil ponselku dan mencari nama Helen dalam daftar kontak. Namun sepertinya aku tidak menemukan nama Helen sama sekali.
"Aneh, padahal aku jelas-jelas sudah menyimpan nomornya kemarin. Bagaimana bisa hilang begitu saja?" tanyaku bingung.
Aku mencarinya sekali lagi dengan nama lain, namun tidak menemukan kontak Helen. Aku meletakkan ponselku kembali dan mencoba berdiri. Lebih baik aku mencarinya sendiri. Persetan dengan Jason dan Emma, aku sedang membutuhkan orang yang bisa aku aja bicara.
Aku membuka pintu kamarku pelan. Aku tak melihat siapapun di luar kamarku, padahal aku biasanya menemukan setidaknya seorang pelayan yang sedang membersihkan dinding lorong. Namun sekarang sepi dan seperti tidak ada siapapun. Aku berjalan menuruni anak tangga ke lantai dua. Berharap bisa menemukan pelayan lain yang sedang bekerja, namun tetap saja nihil, tidak ada siapapun.
Begitu sampai di lantai dua semuanya masih terlihat sepi, "apa ada sesuatu yang terjadi?" batinku.
"Kalau kau mencari pekayan mungkin mereka sedang berada di taman belakang," ucap Emma yang tiba-tiba saja muncul.
"Kenapa kau ada di sini?" tanyaku.
"Tentu saja aku berada di sini. Bukankah aku tinggal di sini," jawab Emma. Raut wajahnya terlihat sangat jelas sedang mengejekku.
"Apa kau bangga berada di sini? Akan bagus jika kau menjadi Nyonya rumah di sini. Tapi sayang sekali, kau hanyalah simpanan," cibirku sebal.
"Kau!" seru Emma terlihat marah. Namun aku tidak perduli, lagipula yang aku katakan memang benar. Dia dengan tidak tau malu masuk ke dalam rumah orang lain dan mencuri seperti tikus.
"Kenapa? Apa kau ingin memukulku? Apa kau kesal? Marah? Seharusnya kau berkaca dulu sebelum mengatakan hal memalukan itu," balasku sengit.
"Aku tentu saja bukan wanita lemah yang bisa kau injak-injak," lanjutku lagi.
Emma menatap tajam ke arahku. Aku yakin dia ingin sekali menamparku, benar lakukan saja Emma, luapkan amarahmu dan segera menyingkir dari rumahku. Aku menunggu reaksi Emma selanjutnya, namun ia masih diam. Entah apa yang ada dalam benaknya, detik berikutnya ia tersenyum ke arahku, seperti tidak terjadi pertengkaran diantara kami.
"Adeline, maaf sepertinya kau salah paham dengan ucapanku. Lebih baik kau lihat ke halaman belakang, bukankah kau mencari para pelayan? Mungkin di sana ada salah satu pelayan yang kau cari," ucap Emma sambil tersenyum tipis ke arahku.
Aku merinding mendengar ucapannya, "apa dia paranormal, bagaimana bisa ia tau aku sedang mencari seseorang," batinku. Ataukah Jason mengetahui tentang kedekatanku dengan Helen? Aku tidak boleh berfikir macam-macam dulu. Jika Jason tau maka posisi Paman Lee juga pasti akan terancam.
"Dimana Jason?" tanyaku padanya. Aku ingin memastikan dulu jika firasatku ini tidak benar.
"Mungkin sedang pergi menyelesaikan urusan," jawab Emma tenang. Namun ketenangannya itu semakin membuatku gelisah. Aku tidak ingin membuang waktu. Jika aku ingin meninggalkan Jason maka aku tidak boleh kehilangan Helen ataupun Paman Lee. Aku tidak boleh kalah sebelum berperang.
Aku berjalan meninggalkan Emma yang masih berdiri di lorong lantai dua. Aku malas berbicara lama dengannya, lagipula aku memang berencana membuat Emma dan Jason bersama dalam kehancuran. Aku berjalan menuruni anak tangga menuju lantai satu, lalu segera pergi ke taman belakang untuk memastikan perkataan Emma.
Begitu aku sampai aku terkejut melihat para pelayan sudah berkumpul dan berbaris seperti sedang dihukum. Mereka berdiri di bawah teriknya sinar matahari yang mulai memuncak.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanyaku membatin. Di sudut taman aku melihat 'Rion' orang kepercayaan Jason sedang duduk di atas kursi kayu sambil memandangai para pelayan yang kepanasan. Aku penasaran dengan kejadian ini. Memangnya ada apa sampai semua pelayan dikumpulkan dan dihukum seperti ini, aku berjalan mendekati Rion.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku tanpa basa-basi. Rion segera berdiri dan membungkuk padaku seperti biasa.
"Ini karena mereka tidak ada yang mau mengaku Nyonya, Tuan Jason mengatakan untuk menjemur mereka sampai mereka mau mengaku siapa yang membuat Nyonya sakit, juga sepertinya ada mata-mata menurut Nyonya Emma," jawab Rion.
Nyonya Emma? Hah, sejak kapan perempuan itu mulai di sebut nyonya disini. Aku melirik Rion yang sepertinya tak mengerti dengan ucapannya barusan.
"Jangan berbuat begitu pada mereka, penyakitku tidak ada hubungannya dengan mereka jadi bubarkan saja, biarkan mereka beristirahat," ucapku pada Rion.
"Tapi ini perintah Tuan Jason," jawab Rion membantah.
"Bukankah aku juga atasanmu?" tanyaku padanya. Rion hanya mengangguk ragu, namun ia akhirnya mematuhi perintahku.
"Kalian semua bubar!" serunya lantang.
Para pelayan terlihat senang. Mereka mulai membubarkan diri. Aku merasa sedikit lega. Jason memang terlalu menekan mereka, padahal mereka tidak bersalah. Aku yakin Emma yang menjadi dalang semua ini. Meskipun aku tidak memiliki bukti, namun siapa lagi yang bisa melakukan semua ini kalau bukan Emma.
Barusaja aku ingin pergi namun Emma tiba-tiba muncul entah darimana dan menghadang jalanku.
"Kenapa kau membubarkan mereka?" tanyanya dengan nada tidak senang.
"Bukan urusanmu," balasku cuek. Aku tidak ingin meladeninya dan menjatuhkan martabatku dengan bertengkar. Aku berjalan melewatinya namun Emma dengan kuat menahan lenganku.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku sambil melotot padanya.