Aku hanya bisa berharap semoga mereka berdua tidak menyadari jika aku bersembunyi di bawah meja. Akan sangat memalukan jika mereka berdua mengetahui kalau aku ada disini.
"Jason kau mabuk ya?" tanya Emma pada Jason. Meskipun ruangan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat Emma yang menggenggam lengan Jason, menahannya agar tidak jatuh. Sepertinya Jason memang sedang mabuk berat.
"Dimana Adeline?" tanya Jason dengan suara serak.
"Untuk apa kau mencari Adeline? Dia pasti tidak suka kalau kau mabuk begini," ucap Emma dengan nada lembut yang memuakkan. Aku hanya bisa diam sambil menahan geram.
"Dasar wanita bermuka dua, dia menggunakan nada lembut pada Jason tapi juga menggunakan nada seperti itu pada pria yang lain," kataku dalam hati.
"Emma, aku menginginkanmu," gumam Jason.
Hatiku memanas mendengar ucapannya. "Apa dia tidak puas hanya denganku? Beraninya dia menginginkan wanita lain padahal aku juga berada di rumah ini." batinku lagi. Aku masih tidak berani keluar dari tempat persembunyianku dan memilih mendengarkan percakapan mereka lebih jauh lagi.
Beberapa menit berlalu namun mereka masih belum meninggalkan ruangan ini, bahkan tak terdengar percakapan diantara mereka. Karena aku penasaran aku mencoba mengintip apa yang sedang mereka lakukan dibelakangku.
Astaga! Hampir saja aku terjungkal karena keterkejutanku. Jason dan Emma sedang bermesraan tepat di depan mataku, bahkan mereka tidak menyadari jika aku berada di sini. Mengawasi dengan air mata yang mulai mengalir deras.
Aku mencoba menahan isakanku, pemandangan menyakitkan seperti ini. Bagaimana mungkin aku melewatkannya sedetikpun, Mereka berdua terlihat sangat menikmati suasana romantis mereka. Sampai akhirnya Emma menuntun Jason memasuki kamarnya. Setelah mereka berdua pergi dengan gemetar aku merangkak keluar dari bawah meja. Menatap nanar tempat dimana Jason mencium Emma dengan sangat panas. Bahkan tangan Jason dengan terampil menjalar kemana-mana, aku sampai jijik sendiri ketika mengingat kejadian tadi.
Perlahan aku duduk kembali di kursi meja makan. Merenungkan kembali tentang pernikahan yang sedang aku jalani. Hadirnya Emma membuat semua impianku luluh lanta, bahkan bayangan memiliki anak dengan Jason seperti sebuah dongeng belaka. Bagaimana bisa aku memiliki anak dengan pria sepertinya, aku berayukur Tuhan belum memberikan anak untukku, mungkin ini memang adalah rencananya. Memperlihatkan bagaimana sifat asli Jason yang ternyata tidak setia.
"Emma, aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan, tapi aku akan membuat rencanamu berhasil dengan mulus," gumamku dengan airmata yang masih menetes. Sudah aku putuskan untuk meninggalkan Jason, meskipun menyakitkan namun masih lebih baik karena aku tak memiliki anak dengannya.
Aku masih duduk di dapur, rasanya tidak nyaman ketika harus melewati kamar Emma yang tentu saja sudah berisik dengan teriakan dan desahan memuakan yang terdengar keluar. Aku masih bisa mendengarnya walaupun hanya seperti hembusan angin. Luar biasa bukan? Bahkan aku sang nyonya rumah seperti tidak ada wujudnya di sini.
Aku menunggu hingga suasana menjadi tenang dan sunyi, barulah aku bergegas kembali ke kamarku. Berjalan dengan sangat pelan seolah takut membangunkan tuan rumah dan simpanannya. Sesampainya di bawah tangga aku melirik ke arah kamar Emma. Pintu kamar itu tertutup rapat, tetapi mataku seolah bisa melihat masuk ke dalamnya. Bagaimana Jason dan Emma saling berbagi tempat tidur bahkan bagaimana Jason dan Emma saling memuaskan satu sama lain. Bayangan-bayangan itu muncul begitu saja di kepalaku seperti sebuah kaset. Rasa mual kembali ku rasakan. Aku buru-buru menaiki tangga menuju lantai tiga dan segera memasuki kamarku, mengunci pintunya rapat-rapat dan merebahkan diriku di atas kasur Queen size milikku. Aku ingin istirahat dan menenangkan pikiranku untuk sekarang.
Ke esokan paginya aku terbangun dengan rasa pusing yang menyerang kepalaku, bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja aku tidak mampu. Aku mencoba melawan rasa pusingku, bagaimanapun aku memiliki janji dengan Paman Lee siang ini. Aku harus berdiskusi dengannya tentang aset milikku. Saat sedang berusaha berdiri, aku mendengar ketukan di pintu kamarku. Tok ... Tok ... Tok ...
"Nyonya Adeline, Tuan Jason meminta Nyonya ikut sarapan," ucap seorang pelayan. Aku mengenali suara ini. Helen, rupanya dia yang datang kemari. Bagus, aku bisa meminta tolong padanya.
"Masuklah," perintahku dengan susah payah. Aku membuka kunci pintu kamarku dan mempersilahkan Helen untuk segera masuk.
"Nyonya, Anda terlihat pucat, apa Anda baik-baik saja?" tanya Helen terlihat khawatir dengan keadaanku sekarang.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, aku ingin meminta bantuanmu. Tolong ambilkan aku obat demam dan juga bawakan aku madu," pintaku padanya.
"Aku akan mengatakan pada Tuan kalau Nyonya tidak ikut sarapan," jawab Helen padaku. Aku helanya menganggukkan kepala sambil kembali merebahkan diriku di atas tempat tidur. Rasanya kepalaku sangat pusing dan berputar-putar. Tenggorokanku juga sakit. Dan aku merasa ingin muntah. Aku memejamkan mataku kembali, mencoba untuk beristirahat.
Beberapa saat berlalu, sepertinya aku kehilangan kesadaranku. Saat aku membuka mata aku melihat pergelangan tanganku sudah di infus dan Jason sedang duduk di sampingku.
"Kau sudah sadar?" tanya Jason dengan nada khawatir. Aku hanya mengangguk. Tidak tau harus mengatakan apa, setiap kali aku melihatnya aku terus mengingat kejadian malam itu. Dimana Jason dan Emma saling menggoda satu sama lain. Meskipun Jason mabuk aku yakin ia masih memiliki kewarasan untuk mencariku kalau memang ia memperdulikan aku.
"Aku dengar kau sakit. Adeline kau harus beristirahat selama beberapa hari. Dokter mengatakan kalau kau terkena kolera," ucap Jason padaku. Aku tidak menanggapi perkataannya. Yang kupedulikan sekarang adalah perutku terasa sakit, sepertinya aku butuh ke kamar mandi.
"Jason, bisa kau keluar dari sini," kataku cuek. Aku merasa risih berada jika ia terus berada di sini mengawasiku.
"Kenapa kau mengusirku?" tanya Jason sambil menaikan satu alisnya. Aku memeutar bola mataku. Serasa malas membalas ucapannya.
"Aku hanya membutuhkan ruang untuk diriku," jawabku sekenanya sambil menahan sakit perut yang mulai menjadi-jadi.
"Apa kau ingin ke toilet?" tanya Jason padaku. "Dokter mengatakan kau akan sering pergi ke toilet," lanjut Jason lagi.
"Astaga, bagaimana pria itu tau apa yang sedang aku inginkan?" kataku dalam hati. Malu sekali kalau Jason masih tetap berada di sini.
"Tidak, aku tidak sedang ingin ke toilet," ucapku berbohong. Jason melirikku dengan mata yang aneh, aku tidak tau apa yang sedang ia rencanakan. Namun Jason tidak ingin pergi, dia tetap berdiri di samping tempat tidurku sambil menatapku dengan intens.
"Kalau begitu aku akan tetap di sini menemanimu," ucap Jason dengan enteng. Aku mencengkram selimutku kuat-kuat rasa mulas dalam perutku sepertinya sudah sampai di ujung, aku tidak bisa menahannya lagi. Namun Jason terlihat tidak ingin meninggalkanku walaupun aku mengusirnya.
Keringat dingin mulai mengucur dari keningku, aku yakin raut wajahku terlihat aneh sekarang. Aku masih mencengkram ujung selimutku kuat-kuat. Berharap perutku bisa menahannya sebentar lagi. Namun takdir berkata lain. Terdengar suara melengking kecil dari tubuhku.
"Kau buang angin?"