08

1028 Kata
Aku menatap Emma dengan tajam. Sedang apa perempuan ini di kamarku? Sejak kapan aku mengijinkannya masuk ke dalam kamarku. "Maaf, aku masuk tanpa izin, tapi aku ingin membuat tawaran untukmu," ucap Emma dengan nada serius. Aku masih tidak mengerti dengan wanita ini, saat sedang ada Jason ia terlihat seolah sedang berusaha menyingkirkanku dan merebut Jason dari sisiku. Namun ketika Jason tidak bersamanya, dia seolah tidak menginginkan Jason. "Kau memang tidak punya malu, jadi aku tidak heran kalau kau menerobos masuk kemari," cibirku padanya. Namun Emma sama sekali tidak menanggapi cibiranku. Ia terlihat cuek dan malah duduk santai di atas sofa milikku. "Adeline, kau pasti sakit hati kan dengan Jason? Apa kau menyesal menikah dengannya?" tanya Emma sambil tersenyum aneh ke arahku. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya tentang apa yang sedang ia rencanakan selanjutnya. Apa dia ingin menjebakku? Pikirku tidak mengerti. "Adeline, kalau kau sudah bosan dengan Jason kau bisa memberikannya padaku dan kau bisa pergi dari sini," ucap Emma lagi. Tangan putihnya mengambil sebuah bunga yang tergeletak di atas sofa. Bunga itu pasti terlempar saat aku membanting vasnya. Emma mencium wangi bunga itu sambil tersenyum ke arahku. Mendengar ucapan Emma hatiku semakin bergemuruh karena kesal. Tanpa mengatakan apapun aku berdiri dan menarik Emma keluar dengan paksa. Kemudian menutup pintu dengan keras. Wanita itu hanya membuatku sakit kepala. "Nyonya sebaiknya istirahat saja, tidak perlu memperdulikannya," ucap salah seorang pelayanku. Rupanya mereka juga sudah selesai membereskan kamarku yang tadinya berantakan. Aku sampai tidak memperhatikan karena sibuk meladeni Emma. "Bawakan saja aku cemilan, aku tidak ingin makan," kataku pada mereka. Setelah para pelayan pergi aku merebahkan diriku di atas kasur sambil memikirkan langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya. Semakin aku memikirkannya semakin membuat kepalaku pusing, pernikahan yang sudah bertahun-tahun aku jalani sekarang mulai berada di ujung tanduk karena adanya perempuan itu. Bahkan Jason tidak berpihak padaku yang sudah jelas-jelas istrinya, meskipun sebenarnya aku kecewa, namun aku masih menyimpan harapan jika akhirnya ia mau kembali. Rasanya sangat berat saat mengingat semua kejadian dan kenangan yang selama ini kulalui dengan Jason. "Tuhan, apa yang harus aku perbuat. Apa aku harus meninggalkan Jason dan mengambil kembali uang dan juga asetku kemudian membiarkannya hancur dengan Emma ataukah aku mencoba menutup mata dengan mempertahankan pernikahanku dan menghianati Paman Lee?" tanyaku bingung. Kepalaku serasa ingin pecah. Saat itu aku ingat kembali dengan perkataan Jason tentang permintaan maafku pada wanita berpengaruh itu. Aku bahkan tidak mengenal dan tidak tau namanya siapa? Namun aku harus merendahkan harga diriku untuk meminta maaf atas kesalahan yang bukan salahku? Ini sangat konyol. "Nyonya, saya mengantarkan camilan," teriak seorang pelayan di depan pintu kamarku. Aku menghentikan lamunanku dan membuka pintu kamar. Mengambil cemailan, kemudian berterimakasih pada pelayan itu dan menutup pintu kembali. Melihat kotak biskuit coklat di tanganku, rasa laparku kembali lagi. Aku belum makan apapun sejak tadi sore. Aku harap tidak bertemu dengan Jason atau aku akan merasa malas lagi untuk makan. Sambil membawa kotak biskuit itu aku keluar dari kamarku berjalan pelan menuruni anak tangga untuk sampai ke lantai dua dimana dapur berada. Kamarku memang terletak di lantai tiga sementara kamar Emma dan putranya berada di lantai dua. Sementara Jason, aku tidak tau dia menempati kamar yang mana, lagipula banyak kamar kosong di rumah ini. Kami tidak kekurangan kamar sama sekali. Ketika aku sampai di bawah tangga aku mendengar suara Emma sedang asyik berbicara lewat telfon dengan seseorang. Emma berdiri di balkon lantai dua yang letaknya berada di bawah tangga. Sepertinya dia sangat fokus menelfon sampai tak menyadari kehadiranku. Bahkan ketukan sepatuku pun sepertinya ia tidak mendengarnya. Karena penasaran aku kembali menaiki beberapa anak tangga kemudian menajamkan pendengaranku. Aku yakin Emma juga menyembunyikan rahasia yang Jason tidak tau. "Semuanya berjalan sesuai rencana sayang, jangan khawatirkan aku. Aku sudah hafal dan mengenal Jason dengan sangat jelas," ucap Emma dengan nada lembut. Aku semakin menajamkan pendengaranku. Apa Emma sedang berbicara dengan seorang pria? Nada suaranya sangat lembut seperti sedang berbicara dengan orang yang disukai, kemudian suara Emma terdengar mulai menjauh. Secara reflek aku bergerak semakin naik agar tak terlihat untunglah Aku melihat Emma berjalan ke arah kamarnya dan masuk begitu saja tanpa menoleh ke arah belakang. "Sepertinya Emma memang memiliki rahasia lain dan tentu saja itu bukan sesuatu yang baik. Emma pasti menginginkan sesuatu, itulah mengapa ia kembali merayu Jason padahal mereka sudah lama berpisah," batinku. Kruk.... Suara perutku terdengar nyaring. "Ugh ... Sebaiknya aku makan dulu," gumamku. Aku segera menuruni anak tangga dan berlari ke dapur. Sesampainya aku di dapur aku segera membuat pancake dan memakannya sampai habis, untunglah aku sama sekali tak melihat Jason sepanjang aku kemari. Sepertinya ia sedang keluar atau mungkin ia sudah tidur di kamarnya. "Sadar Adeline, kenapa kau malah memikirkan pria yang bahkan tidak memikirkan perasaanmu," ucapku sambil menepuk pipiku sendiri. Aku menatap jam dinding yang tertempel di dapur. Ternyata sudah pukul sepuluh malam. Pantas saja aku tak melihat seorang pelayanpun dari tadi, mungkin itu yang membuat Emma dengan santai menelfon orang lain. Karena ia mengira tak akan ada yang mendengar percakapannya. "Sayang sekali, tapi kali ini kau tidak beruntung," gumamku sambil menyeringai. Aku bangkit dari meja makan dan membereskan alat makanku, aku mematikan lampu dapur dan akan kembali ke kamarku, namun aku terdiam saat mendengar suara langkah kaki yang menuju ke dapur. "Gawat, apa Jason kemari? Ataukah Emma?" tanyaku membatin. Dengan panik aku bersembunyi di bawah meja makan. Berharap Jason ataupun Emma tak memergokiku, selama lampunya mati aku akan aman berada di sini. Langkah kaki itu semakin mendekat, dan berhenti tepat di samping meja makan dimana aku bersembunyi. Dari bawah sini aku bisa melihat jika itu sepatu milik Jason. "Darimana dia malam-malam begini baru kembali?" tanyaku membatin. Aku tak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Jason dengan santai membuka kulkas dan mengambil air dingin tanpa menyalakan lampu sama sekali. Aku merasa lega, karena itu artinya aku tidak akan ketahuan sama sekali. Hanya perlu menunggu Jason pergi dan aku akan segera kembali ke kamarku. "Jason? Darimana saja kau?" tanya sebuah suara dari arah pintu dapur. Deg, jantungku berdetak lebih cepat saat mendengar suara ini. Emma, sejak kapan ia kemari? Aku sama sekali tak mendengar langkah kakinya. "Emma," ucap Jason. Kemudian berjalam mendekati Emma. Langkah Jason terlihat sempoyongan. Aku rasa ia mabuk. Itulah kenapa ia tidak menyalakan lampu sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN