07

1092 Kata
Jason berdiri di tengah ruang tamu sambil menyilangkan tangan, di sampingnya berdiri Emma dengan senyum licik yang terarah padaku. "Ugh, menjijikan," batinku sambil menatapnya jengah. "Adeline, aku memintamu membeli pakaian untuk acara penyambutan. Bukan untuk membuat keributan di luar sana!" seru Jason dengan mata menatap tajam ke arahku. "Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti. Siapa yang membuat keributan. "Jason, jangan seperti itu, mungkin saja Kak Adeline memiliki alasan lain kenapa dia sampai mendorong orang lain di tempat umum," ucap Emma dengan wajah seolah khawatir. Aku teringat dengan kejadian yang tadi aku alami bersama Helen. Perasaanku tidak nyaman, Emma tidak ada di sana saat aku bertengkar dengan perempuan aneh itu, "bagaimana dia bisa tau?" batinku bertanya. "Jangan berkilah, seseorang datang dan memberimu tuntutan karena masalah yang kau buat! Apa kau ingin menghancurkan citraku?" tanya Jason marah. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan. "Merusak apa? Aku tidak melakukan kesalahan. Aku memang bertemu dengan wanita aneh tadi, tapi dia bukan masalah penting. Bukankah sudah biasa ada wanita seperti itu?" tanyaku bingung. Jason terlihat semakin marah mendengar ucapanku, dengan kesal ia membanting sebuah vas bunga di atas meja hingga hancur berkeping-keping. "Arrrggghhh...." Aku dan Emma sama-sama berteriak karena kaget, baru kali ini aku melihat Jason sangat marah, bahkan ia melempar vas itu dekat dengan kakiku sampai aku bisa merasakan kulitku tergores kepingan kaca yang pecah. "Apa kau tau siapa dia? Wanita itu adalah seorang penting dari kota Boston, kau seharusnya tau pengaruh kota itu seperti apa untuk bisnis kita!" seru Jason murka. Aku menundukan kepalaku takut, bagaimanapun juga jika Jason sampai mengusirku aku tidak punya kesempatan lagi untuk merebut hakku kembali. "Jason, tenanglah, jangan seperti itu kau membuat Adeline ketakutan. Jangan khawatir, aku memiliki beberapa koneksi di kota tetangga kita, mungkin mereka bisa membantu untuk membuat Adeline meminta maaf pada Nyonya Louise,"" ucap Emma lembut, namun terdengar seperti sebuah penghinaan bagiku, karena secara tidak langsung ia mengatakan jika aku memang bersalah dan pantas meminta maaf. "Hah, Adeline ... Kenapa kau selalu membuat masalah," ucap Jason kecewa. Hatiku terasa sakit saat mendengar Jason mengucapkan kalimat itu. Dia bahkan tidam bertanya padaku alasan aku berperilaku seperti itu, dia juga tidak membelaku sama sekali. Aku pasti buta karena mencintai pria seperti dirinya. "Jason, lebih baik kita bersiap untuk makan malam, aku memasakan sesuatu yang enak untukmu dan Anderson," ucap Emma mengalihkan perhatian. Jason mengangguk dan pergi meninggalkanku di ruang tamu sendirian. Aku hanya bisa menatap dari jauh seperti seorang kriminal. Jason bahkan tidak menghiraukan luka di kakiku akibat ulahnya, aku mulai mempertanyakan kehadiranku di rumah ini. Ini rumahku, Jason membeli rumah ini saat kita menikah. Ia mengatakan jika aku adalah nyonya di sini. Tapi sepertinya itu hanyalah masalalu. Nyonya yang asli adalah Emma. Jason mencintainya sejak dulu, tapi dia menutup hatinya dan berpura-pura mencintaiku. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar, tidak perduli dengan luka gores yang ada. Hatiku lebih perih sekarang ini. Emma, perempuan itu seolah ingin memperlihatkan jika aku bukan siapa-siapa di sini dan hanya seorang pengganggu. Brak.... Aku membanting pintu kamarku dengan sangat keras dan segera melampiaskan rasa kesal dan juga kecewaku yang tadi aku tahan dengan rasa emosi yang meluap aku mengambil vas bunga kaca yang terletak di atas meja nakas kemudian melemparnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Sial!" makiku entah pada siapa. Airmataku tumpah dan menganak sungai, tapi rasa sakitku sudah membentuk danau. Aku melempar apa saja yang berada di dalam kamar untuk meluapkan rasa marahku. Tok ... Tok ... Tok .... Sebuah ketukan terdengar di luar pintu kamarku, disusul dengan suara Helen yang terdengar cemas. "Nyonya Adeline, apa Anda baik-baik saja? Jika Anda butuh sesuatu katakan saja Nyonya," ucap Helen di luar kamar. "Tinggalkan aku sendiri, jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja," balasku dengan suara parau.  Aku tidak mendengar langkah kaki Helen menjauh, itu artinya Helen masih berdiri di luar pintu. Aku tidak menghiraukannya dan melanjutkan tangisanku. Hingga beberapa saat berlalu sampai tak terasa kalau aku sudah melewatkan makan malam. Aku ingin memanggil Helen yang mungkin saja masih berdiri di luar pintu kamarku namun saat aku hendak membuka pintu aku terdiam. "Adeline," suara Jason terdengar jelas di luar sana. Aku mengurungkan niatku untuk membuka pintu dan memilih berdiri diam dan menunggu Jason pergi dengan sendirinya. "Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu, tolong buka pintunya," ucap Jason di luar sana. Aku masih bergeming. Tidak perduli seperti apa dia memohon aku tidak akan membukakan pintu untuknya, lagipula dari nada bicaranya ia terdengar tidak merasa bersalah sama sekali. "Kalau kau tidak mau membuka pintunya, aku akan memaksa masuk!" seru Jason di luar kamar. Aku tau dia pasti tidak main-main dengan ucapannya. Percuma saja jika aku terus berdiam diri di sini, Jason akan tetap memaksa masuk. Dengan malas aku membuka pintu kamarku. Terlihat Jason berdiri tegap di depanku dengan pandangan yang sulit di artikan, dia tampak berbeda dengan Jason yang tadi membentakku. "Ada apa?" tanyaku dengan nada ketus. Walaupun nada suaraku masih terdengar mendengung karena habis menangis. Jason menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar. Yah, sebenarnya ini juga kamarnya. Aku sampai lupa jika Jason juga berada di kamar ini. "Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?" tanya Jason begitu melihat ruangan kamar yang sangat berantakan dan pecahan kaca dimana-mana. Raut wajahnya berubah keruh. Dia tampak sangat marah. "Mengacaukan kamar ini," balasku enteng. Walaupun sebenarnya aku merasa takut dalam hatiku, tidak tau bagaimana reaksi Jason selanjutnya. Dia bukan lagi Jasonku yang dulu, dimana akan bersikap lembut dan memaafkan apapun yang aku lakukan. Raut wajah Jason semakin menakutkan saat aku menjawab perkataannya, dia seperti orang lain saja sekarang. Jason berjalan cepat ke arahku dan menarik pergelangan tanganku dengan sekali hentak sampai aku hampir jatuh menimpa pecahan-pecahan kaca di bawahku jika aku tak berpegangan pada gagang pintu. "Jason, apa yang kau lakukan!" seruku mencoba melepaskan cengkraman tangannya padaku. "Adeline, kau membuat kesabaranku habis. Seharusnya kau merenungi kesalahanmu dan mencoba memperbaikinya, tapi apa yang aku lihat ini?" tanya Jason dengan wajah merah karena marah. Aku hanya bisa terpaku di tempatku berdiri, tidak berani mengatakan sepatah katapun untuk membela diriku sendiri. "Sekarang kau bisa menikmati kamar ini sendirian, aku akan tidur di tempat lain!" seru Jason padaku, setelah itu dia mulai meminta para pelayan untuk membereskan kamar ini dan mengemasi semua pakaiannya untuk pindah ke kamar lain. Aku hanya bisa diam membisu di sudut ruangan sambil menatap para pelayan yang saling berlalu lalang membersihkan kamar. Bahkan rasa laparku pun sudah hilang entah kemana. Disaat seperti ini aku justru mendengar suara Emma yang membuatku semakin jengkel. "Adeline yang malang, seharusnya kau menuruti ucapanku selagi Jason masih baik padamu," ucap Emma sambil berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan ia berdiri di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN