Aku segera menyelinap keluar tanpa di ketahui oleh Emma dan pria yang dipanggil Gerald tadi. Untunglah aku tidak ketahuan. Aku menunggu Helen di luar toko, aku tidak jadi membeli gaun apalagi satu toko dengan perempuan itu.
"Kita cari toko lain saja, jangan hubungi supir. Kita naik taksi ke sana," ucapku pada Helen. Aku lebih baik membuang uang untuk naik taksi daripada harus mencari masalah lain. Bisa gawat kalau sampai sopir itu melihat Emma ada di sini. Emma, aku rasa kau berhutang padaku tentang ini.
Helen segera menghentikan taksi yang lewat, kita pergi ke toko lain sekalian membeli hadian untuk Anderson. Bocah itu kelihatan sangat lucu, Emma seharusnya bersyukur karena melahirkan putra seperti itu dan hidup dengan baik, bukannya kembali ke masalalu dan menghancurkan rumah tangga orang lain.
Setelah sampai di toko aku meminta Helen untuk mencari gaun yang pas untukku, sementara aku akam pergi mencari hadiah untuk Anderson, aku yakin Helen sudah mengetahui ukuran bajuku, mengingat ia bekerja untukku sudah tiga tahun.
Aku agak bingung menentukan hadiah apa yang akan aku berikan, lagipula aku tidak terlalu mengenal bocah itu. Emma selalu bersamanya setiap saat, jadi aku tidak punya kesempatan dekat dengannya. Aku tidak membencinya lagipula dia hanya bocah kecil yang tidak tau apa-apa. Hanya saja orang tuanya membuatku muak.
Aku melihat-lihat pakaian anak-anak, kalau dipikir-pikir pakaian Anderson bukanlah pakaian murahan, bahkan aku sempat melihatnya menggunakan jam tangan mahal tadi pagi. Apa Jason yang membelikannya ya? Pikiranku terus berputar-putar tentang Anderson sampai tak sadar aku melangkah ke bagian sepatu.
"Ivory, ukuran itu kurang pas untuk anak kita," terdengar suara pria yang aku kenal. Aku mengedarkan pandanganku melihat sekeliling, Kak Daniel. Rupanya dia sedang berbelanja juga.
"Sayang anak-anak itu cepat besar, kalau kita membeli ukuran yang pas, mungkin taun depan Jimie tidak akan muat memakainya," balas seorang perempuan yang aku yakin itu adalah istrinya.
Aku melangkahkan kakiku mendekat. Mereka terlalu sibuk berdebat sampai tak menyadarai kalau aku sudah berada di dekat mereka.
"Kak Daniel, apa kabar," sapaku padanya. Ia langsung berbalik dan terlihat terkejut saat melihatku.
"Oh, Adeline senang bertemu denganmu," balas Kak Daniel setelah menetralkan mimik wajahnya.
Sudah lama sejak aku bertemu dengan Kak Daniel di acara pernikahanku waktu itu, Aku tidak mengerti kenapa Kak Daniel tiba-tiba menghilang begitu saja, padahal dulu Jason dan Kak Daniel begitu akrab, bahkan Kak Daniel menemani Jason bekerja di restoran. Ah, benar. Aku hampir saja melupakan fakta itu. Jika Kak Daniel bekerja di restoran itu juga, mungkin dia tau sesuatu tentang Emma.
"Lama tidak jumpa, Kak Daniel sekarang tinggal dimana?" tanyaku ramah. Kak Daniel terlihat bingung. Tapi dia berusaha menyembunyikan raut wajahnya itu. Tapi sayang sekali, aku lebih dulu mengetahuinya walau hanya sekilas.
"Tidak nyaman berbicara di sini, bagaimana kalau kita bicara di restoran itu," ucap Kak Daniel sambil menunjuk sebuah restoran cepat saji. Aku menatap jam tangan di pergelangan tanganku.
"Sayang sekali waktunya tidak tepat, aku harus kembali karena Jason mungkin sudah pulang ke rumah," kataku menyesal.
"Kalau begitu mungkin lain kali kau bisa berkunjung ke rumah baru kami, ini alamatnya. Kau bisa datang kapanpun kau mau," kata Kak Ivory sambil memberikan secarik kertas berisi alamat.
"Terimakasih, aku pasti akan datang berkunjung bersama Jason," kataku sambil menyimpan catatan berisi alamat itu.
"Sampai jumpa Adeline," ucap Kak Daniel padaku. Aku hanya tersenyum sekilas kemudian berjalan meninggalkan mereka. Sepertinya aku akan membeli kadonya lain kali saja, lagipula aku masih memiliki banyak waktu.
Aku mencari Helen untuk mengajaknya pulang, hari sudah mulai sore. Padahal aku hanya berjalan-jalan sebentar. Tapi sepertinya waktu benar-benar cepat berlalu.
"Helen...." aku berteriak agak keras saat melihat Helen di kejauhan. Sepertinya gadis itu sudah membeli gaun yang pas untukku.
"Hei lihat, bukankah itu Nyonya Simpson? Ternyata dia sangat cantik ya, baru kali ini aku melihatnya dari dekat."
Sepertinya aku terlalu kencang berteriak sampai beberapa orang menatapku tanpa sadar. Mereka pasti sudah sangat mengenalku karena Jason sekarang adalah pengusaha sukses terkaya di kota Torrance.
"Nyonya, apa Anda tidak menemukan kado untuk Tuan Anderson?" tanya Helen bingung ketika melihat aku tidak membawa apapun selain tas milikku.
"Tidak, ayo kita kembali. Jason akan mencariku nanti," ajakku cepat. Namun baru saja aku melangkah seseorang dengan sengaja berjalan menabrakku dan menumpahkan minuman yang ia bawa dengan sengaja.
"Astaga! Apa kau tidak punya mata!" seru wanita itu marah. Aku hanya bisa melongo mendengar bentakannya yang sangat keras sehingga membuat orang yang tadi sudah mulai mengabaikanku kini kembali menatapku dengan pandangan ingin tau.
"Maaf, tapi Anda yang menabrak. Seharusnya Anda yang meminta maaf," kataku berusaha sopan. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin menamparnya, tapi aku sadar aku sedang berada di depan umum dan banyak pasang mata yang melihat ke arahku.
"Apa kau buta? Bukankah kau tadi yang tiba-tiba saja menabrakku!" seru wanita itu lagi keras kepala.
"Maaf Nona, Tapi Nyonya Adeline tidak menabrak Anda," ucap Helen mencoba membelaku, namun wanita itu justru semakin menjadi-jadi.
"Siapa kau berani mengatakan omong kosong padaku? Bukankah kau hanya pelayan! Berani sekali mengoreksi ucapanku!" seru Wanita itu tidak terima, dan ingin menampar Helen. Aku dengan sigap menangkap tangannya sebelum berhasil mendaratkan tamparannya di pipi mulus Helen.
"Lepaskan tanganku!" serunya marah.
"Maaf Anda seharusnya tidak berperilaku seperti itu," ucapku tegas.
"Siapa kau berani menantangku?"
"Aku Adeline Simpson, bukankah seharusnya kau mengalah saja,"
"Oh, rupanya kau seorang konglomerat ya, pantad kau begitu tidak sopan sampai tidak mau meminta maaf ketika menabrak orang lain."
"Jaga ucapanmu, jangan memfitnah tanpa bukti!"
"Fitnah? Bukankah semua orang di sini melihat kau tadi akan berjalan dan tiba-tiba saja menabrakku!" seru wanita itu percaya diri. Aku menatap jam yang melingkar di pergelangan tanganku. "Ugh, aku tidak ada waktu meladeninya," batinku.
"Hei kalian semua melihatnya kan? Istri seorang Presdir tersohor bahkan begitu sombong sampai tidak mau meminta maaf," ucap Wanita itu mual membual. Aku menatap sekeliling dan melihat semua orang terlihat berbisik sambil melirik ke arahku. "Ya Tuhan apalagi ini," batinku. Aku terlalu lelah untuk meladeni lalat seperti dia. Dengan kesal aku mengambil beberapa ribu dolar dari dalam tasku dan melemparkan dolar itu ke wajahnya.
"Ini, cukup untuk mengganti kerugianmu!" seruku kesal. "Ayo Helen kita kembali," ajakku pada Helen.
"Hei, apa maksudmu?" tanya Wanita itu tidak terima dan ingin menjambak rambutku, namun aku dengan sigap mendorongnya sampai jatuh ke lantai dengan menyedihkan.
"Astaga! Tolong aku, Wanita itu Nyonya Simpson yang terhormat mencoba menganiaya aku!" teriaknya keras hingga beberapa orang datang dan menolongnya. Aku dan Helen memanfaatkan situasi ketika mereka sibuk membantu wanita itu dan segera pergi meninggalkan kerumunan itu daripada muncul masalah lain nantinya. Aku tidak ingin ada masalah lain.
"Aku takut sekali tadi," ucap Helen yang berjalan di sisiku.
"Kau baru kali ini mengalaminya ya," ucapku bergumam. Aku sudah sering mengalami hal semacam ini, dan kebanyakan terjadi karena pesaing bisnis Jason ada dimana-mana," kataku menerawang. Selama ini aku selalu menghadapinya sendirian namun aku merasa lega kali ini, karena ada Helen di sisiku.
Kami segera pulang dengan menggunakan taksi, aku harap Jason lembur atau semacamnya karena aku sudah sangat terlambat untuk pulang. Ketika sampai aku segera masuk ke dalam rumah karena tidak ingin membuang waktu.
"Darimana saja kau!"
Aku langsung membeku ketika mendengar suara dingin itu.