Ketika aku membuka pintu, yang kulihat adalah Emma dan Pelayan tadi yang saling beradu argumen. Apa pantas calon nyonya bertingkah seperti itu, sungguh memalukan.
"Ada apa ini?" tanyaku mengagetkan mereka berdua.
"Ah, maaf Nyonya Simpson, ini hanyalah sebuah kesalah pahaman," ucap pelayan itu menunduk.
"Kesalahpahaman?" tanya Emma tidak terima. Dia menatap Pelayan itu dengan tajam, kemudian beralih menatapku dengan tatapan yang sama.
Aku tidak peduli dengan tatapan Emma yang mengarah padaku, justru sekarang dia terlihat seperti gadis kampung yang tidak tau malu.
"Emma, bukankah kau seharusnya mengantar Anderson sekolah? Lalu kenapa kau malah membuat masalah di sini?" tanyaku dengan sinis.
"Itu bukan urusanmu, seharusnya aku yang bertanya padamu, bukankah kau seharusnya membeli gaun?" balasnya dengan pertanyaan serupa.
"Itu juga bukan urusanmu, kalau kau ingin menjadi ratu, kau harus bersikap seperti ratu, jangan membuat kekacauan seperti ini, bukankah Pelayan itu sudah mengatakan alasannya, lalu kenapa kau masih ingin merebut tempat orang lain? Yah tidak heran, kau kan memang suka mengambil milik orang lain," kataku menyindir. Emma terlihat tidak terima, namun aku tidak perduli. Bisa menghinanya seperti ini adalah sesuatu yang menyenangkan.
"Jangan asal menuduh, aku sudah jelas-jelas memesan tenpat ini dan sesuai dengan nota yang aku terima, bukankah kalimat tukang rebut itu harusnya di sematkan padamu," cibir Emma.
"Tapi kau lihat sendiri kan, aku yang menempati tempat ini, jadi itu bukan kesalahanku," jawabku enteng.
"Maaf Nyonya Brown, ini semua kesalahan kami, kami memberi Anda nota yang keliru, ruangan Anda seharusnya berada di sisi yang lain," ucap Pelayan itu meminta maaf.
"Kalian ini bersekongkol ya," cibir Emma geram.
"Sudah jangan mengucapkan omong kosong, lebih baik kau segera pergi ke ruanganmu sendiri, daripada kau membuang waktumu percuma," kataku mengusir. Emma menatapku tajam, namun tidak mengatakan apapun, ia segera berbalik dan pergi ke ruangan lain seperti yang dikatakan oleh Pelayan tadi.
Huh, untung saja Emma tidak bertingkah lebih jauh, tapi kenapa dia ada di sini? Lalu kemapa Anderson? Apa dia meninggalkannya di rumah sendirian? Sungguh bukan Ibu yang baik.
Sebelum aku masuk ke ruanganku aku seperti melihat seorang pria masuk ke ruangan VIP Emma, ketika aku melihatnya lagi, lorong itu kosong dan puntu VIP Emma masih tertutup rapat, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku segera masuk dan menemui Helen. Dia masih duduk santai di tempat yang sama.
Helen terlihat seperti orang yang bisa dipercaya. Aku yakin pilihan Paman Lee tidak mungkin salah. Sebenarnya aku juga memiliki pelayan setia, namun Jason mengatakan kalau pelayanku itu mengundurkan diri. Aku yakin ia yang memecatnya, karna tidak mungkin Gisel akan meninggalkanku begitu saja. Kira-kira apa yang sedang dilakukan Gisek sekarang?
"Nyonya," ucap Helen membuyarkan lamunanku.
"Ya," jawabku malu. Bisa-bisanya aku melamun di situasi seperti ini.
"Lebih baik kita segera membeli gaun, dan juga hadian untuk Tuan Muda Anderson," ucap Helen padaku. Yah, benar. Sekarang aku memang sedang di kejar waktu.
"Baiklah, ayo," kataku sambil berdiri, aku meninggalkan beberapa lembar uang dolar di atas meja, aku yakin itu sudah cukup untuk membayar makananku.
Helen keluar lebih dulu dan menungguku di lantai bawah, setelah itu baru aku keluar dan turun dengan buru-buru, aku tidak ingin Emma melihatku. Sayangnya aku tidak hati-hati dan hampir saja jatuh dari tangga kalau saja tak ada orang yang menarikku agar tidak jatuh.
"Hati-hati Nyonya," ucapnya sopan. Aku merasa sangat malu, aku merapikan bajuku dan menatapnya untuk berterimakasih. Ternyata dia seorang pria yang tampan.
"Terimakasih, aku kurang hati-hati," balasku.
"Tidak apa-apa, senang membantumu. Lain kali perhatikan jalanmu Nyonya," ucapnya menasehati. Aku hanya tersenyum kemudian segera berbalik pergi. Helen pasti sudah menungguku. Aku sempat melihat ke belakang, namun pria itu sudah tidak terlihat lagi, mungkin dia sudah pergi.
Sesampainya di bawah Helen segera menyambutku, kemudian kami segera pergi ke toko baju di seberang jalan. Sesampainya di dalam, aku meminta Helen yang mencarikan gaun untukku, lagipula aku sedang tidak ingin berbelanja. Aku masih memikirkan tentang pria tadi. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.
"Nyonya ingin mencari gaun seperti apa?" tanya Helen sambil melihat-lihat gaun yang di pajang.
"Carikan saja yang menurutmu terlihat bagus, aku tidak terlalu pilih-pilih," kataku padanya.
"Nyonya sepertinya sedang memikirkan sesuatu," ucap Helen menebak. Dia ternyata sangat peka sama seperti Gisel.
"Tidak apa-apa, itu bukan sesuatu yang penting," kataku menenangkan. Setelah itu Helen segera pergi untuk mencari gaun lain di lantai atas. Aku menunggunya sambil duduk di ruang tunggu.
"Aku yakin Jason tidak akan menyangka,"
Deg ....
Aku terdiam ketika mendengar suara Emma untuk yang ke dua kali setelah di cafe tadi. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat Emma sedang berbicara dengan seseorang, namun aku tidak tau pasti karena orang itu membelakangiku. Apa dia sedang bersama Jason? Pikirku penasaran, tapi tentu saja tidak mungkin, aku barusaja mendengar ia menyebutkan nama Jason dengan sangat jelas. Lagipula perawakan orang itu tidak seperti Jason. Jelas itu orang lain.
Aku beringsut mundur, mencari tempat teraman agar tidak terlihat oleh mereka. Aku yakin Emma menyembunyikan sesuatu.
"Gerald bagaimana menurutmu?" tanya Emma dengan senyum lebar. Gerald? Siapa itu? Apa Emma memiliki pria lain selain Jason? Waw, sungguh luar biasa.
"Kurasa itu kurang pas untukmu, sebaiknya kau mencari warana yang lebih kalem," ucap pria itu. Aku seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya. Bukankah ini seperti suara pria yang menolongku tadi, apa dia ada hubungannya dengan Emma? Kalau dipikir-pikir tempatnya berdiri tadi dekat dengan pintu ruangan VIP milik Emma.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan mencari warna lain, kau bisa tunggu di sini," ucap Emma, kemudian segera pergi ke lantai dua. Astaga, Helen sedang berada di lantai dua, bagaimana jika mereka bertemu. Aku segera menyelinap dan akan pergi ke lantai dua tapi sepertinya terlambat karena Helen sudah bertemu dangan Emma lebih dulu.
"Helen, sedang apa disini?" tanya Emma terkejut. Aku segera pergi menjauh dan memberikan isyarat dari kejauhan. Beruntung posisi Emma sedang akan naik tangga sementara Helen sudah akan turun, jadi aku bisa memberikan interupsi tanpa ketahuan.
"Nyona Adeline memintaku membeli gaun untuknya," jawab Helen sesuai interupsiku.
"Oh, lalu dimana dia?" tanya Emma lagi.
"Nyonya sedang menunggu di Cafe," jawab Helen tenang.
"Oh, pantas saja dia tidak mencari gaun dan malah merebut tempat VIP milikku, ternyata dia menyuruhmu ya," balas Emma dengan nada kesal.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan saya permisi," ucap Helen, kemudian segera pergi. Aku beruntung karena Emma terlihat tidak akan membuat ulah, aku yakin alasannya karena ia sedang bersama pria itu.
"Emma tenang saja, aku tidak tau apa yang kau rencanakan tapi, aku akan diam dan membiarkan Jason menyesal karena sudah menghianatiku," gumamku sambil menyeringai ke arahnya.