Aku mengacak rambutku frustasi. Selama aku menikah dengan Jason aku tak pernah tau tentang perkembangan bisnis dan lain-lain. Aku selalu percaya padanya dan mengandalkannya untuk mengelola itu semua, tapi pada akhirnya Jason menghianatiku. Aku tidak menyangka akan tiba hari dimana aku menyesal dan ingin mengambil aset milikku kembali. "Tapi bagaimana caranya ya, apa Jason tidak memiliki celah atau kelemahan?" tanyaku pelan.
Tok ... Tok ....
"Permisi Nyonya Adeline, hari ini Tuan meminta Nyonya pergi untuk memesan gaun baru." ketika mendengar suara pelayan di luar kamarku aku langsung teringat ucapan paman tentang mata-mata yang ia sisipkan.
Benar, cara yang tepat untuk mengetahui kelemahan Jason adalah dengan bertanya pada musuhnya. Aku buru-buru membuka pintu dan menarik pelayan bernama Helen itu masuk ke dalam kamarku.
"Helen, aku ingin kau yang menemaniku mencari gaun, apa kau tidak keberatan?" tanyaku padanya begitu aku menutup pintu.
"Tidak Nyonya," jawabnya dengan wajah bingung.
"Bagus, cepat ganti pakaianmu, kita akan pergi setelah ini," ucapku bersemangat. Aku segera pergi mengganti pakaianku, setelah itu menyambar tas merk apapun yang aku temukan, lagipula aku memiliki banyak tas yang tidak aku gunakan. Jason sering membelikan barang-barang bagus, yang sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya. Kalau dipikir-pikir, selama ini dia selalu memberikan barang yang tidak perlu hanya untuk menyenangkanku saja.
Aku menunggu dengan santai di atas mobil Rolls Royce Phantom yang biasa aku gunakan kemana-mana. Mataku langsung berbinar tidak sabar saat melihat helen muncul dengan pakaian biasa dan bukan seragam pelayan.
"Maaf, aku agak lama Nyonya," ucapnya sambil menunduk ke arahku.
"Tidak masalah, lagipula aku tidak terlalu terburu-buru," ucapku sambil melempar senyum ke arahnya. Helen hanya mengangguk dan segera ikut masuk ke dalam mobil. Helen hanya diam di sampingku, seperti tak berniat mengajak bicara atau semacamnya. Selama perjalanan aku terus menahan diri agar tidak mengatakan suatu hal bodoh, karena aku yakin supirku juga orang Jason, jadi aku tidak bisa berbicara dengan leluasa.
"Helen, sudah berapa lama kau bekerja untukku?" tanyaku memecah keheningan.
"Sudah tiga tahun Nyonya," jawabnya pelan. Aku mengamatinya dengan lebih detail. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan pelayan yang bekerja padaku. Sejak aku menikah dengan Jason aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri, entah itu keluar dengan teman-temanku atau hanya sibuk melukis di galeriku sambil menunggu Jason pulang. Aku selalu hidup dalam rutinitas itu sampai tidak tau hal apa yang sedang terjadi dalam keluargaku. Bahkan Jason sampai berubah seperti ini, mungkin juga kesalahanku. Aku tidak kunjung memiliki buah hati, sementara aku yakin Jason sangat menginginkannya.
"Sudah lama ya, aku bahkan tidak begitu ingat wajahmu," ucapku menerawang
"Nyonya kita sudah sampai," ucap supir pribadiku. Aku hanya mengangguk mengerti meskipun dia tidak akan tau kalau aku mengangguk. Aku segera turun dari mobil disusul Helen, dia ternyata lumayan tinggi.
"Tinggalkan saja aku, karna aku ingin jalan-jalan sebentar untuk mencari hadiah, akan aku telfon jika aku membutuhkanmu," kataku pada supir. Aku tidak ingin dia menunggu dan mengawasiku.
"Baik," jawabnya pendek, setelah itu segera pergi meninggalkan kami berdua.
Setelah mobil itu menghilang dari pandanganku, aku segera menggandeng tangan Helen begitu saja, dia kelihatan terkejut namun tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti langkahku. Aku membawanya ke sebuah cafe tak jauh dari sana, beruntungnya aku karna sering pergi keluar untuk bermain jadi aku sudah paham cafe mana saja yang menyediakan ruang VIP untuk tamunya.
Begitu masuk para pelayan segera menyambutku, mereka pasti sudah akrab dengan wajahku karena aku pernah mengunjungi tempat ini beberapa kali.
"Nyonya Simpson, senang melihat Anda datang, ada yang bisa Saya bantu?" tanya pelayan cafe itu sopan.
"Terimakasih, aku membutuhkan satu ruang VIP yang berkaca gelap, dan menghadap di depan toko gaun itu," ucapku menunjuk toko tempat supir menurunkan aku dan juga Helen.
"Maaf Nyonya, tapi tempat seperti itu sudah di pesan oleh orang lain, jika Anda mau kami bisa membwrikan tempat lain," jawab Pelayan itu.
"Batalkan saja, katakan itu sudah di pesan sebelumnya, aku akan membayar tiga kali lipat dan juga sekalian dendanya," kataku tegas pada Pelayan itu. Aku yakin dia tidak akan mampu menolakku bukan?
"Baik, mari ikuti saya." Pelayan itu segera mengantarku ke sebuah ruangan di lantai dua, dan ruangannya tepat berhadapan dengan toko baju tadi, bahkan kacanya juga gelap seperti yang aku harapkan.
Helen masih diam dan hanya mengikuti apa yang aku lakukan, aku yakin dia sedang bingung sekarang, atau mungkin Paman Lee sudah memberi tahunya terlebih dahulu. Aku hanya melihat ekspresinya yang kadang bingung dan kadang biasa saja.
"Bawakan saja aku menu yang santai untuk mengobrol," kataku pada Pelayan itu.
"Baik," jawabnya sopan, setelah itu ia pergi meninggalkan kami berdua.
Aku meminta Helen untuk segera duduk, waktu ku tidak banyak sampai acara penyambutan itu. Aku yakin Jason sudah merencanakan yang terbaik untuk Anderson.
"Helen, aku tau kau punya hubungan baik dengan Pamanku," ucapku memancing. Aku melihat ekspresinya yang masih biasa, ia tak terlihat kaget sama sekali.
"Ya, seperti yang Nyonya katakan, sepertinya Tuan Lee sudah memberitahu Nyonya," jawabnya santai. Bahkan terkesan biasa.
"Kau tidak terkejut sama sekali?" tanyaku.
"Tentu tidak Nyonya, Tuan Lee selama ini meminta saya untuk mengawasi Nyonya dan Tuan Jason. Beliau sudah memberitahuku saat Nyonya kembali dari kediamannya," jawabnya tenang.
Oh, Tuhan. Paman sangat tanggap dan langsung bergerak. Tidak sepertiku yang mudah terperangkap dalam kebohongan Jason selama ini.
"Kalau begitu tolong aku. Sebentar lagi acara penyambutan Anderson, dan aku yakin Jason akan segera mendepakku dan menggantikanku dengan Emma," ucapku memelas. Aku tidak peduli tentang statusku sekarang yang memohon padanya seperti ini. Yang jelas aku harus mengambil hak ku sebelu Jason mengusirku keluar.
"Tentu saja aku akan senang hati menolong, bukankah kita ada di perahu yang sama," jawab Helen sambil tersenyum ke arahku. Aku menatapnya penuh syukur. Sepertinya aku akan bisa melewati ini.
"Ini nomorku, aku ingin kau melaporkan padaku tentan Emma dan juga Jason, aku yakin mereka sedang mengejar sesuatu yang berbeda, entah kenapa aku merasa seperti itu," ucapku padanya.
Helen mengangguk dan segera mengambil nomor ponsel yang aku berikan.
"Maafkan Kami Nyonya Brown, tapi tenpat ini sudah di pesan,"
"Maaf katamu? Aku sudah membayar tempat ini kemarin, dan sekarang kenapa ada orang lain yang memakainya? Kalian meremehkanku?"
"Tidak Nyonya, ini hanya sebuah kesalah pahaman, sebenarnya Kami salah mencatat ruang VIP Nyonya kemarin, seharusnya itu ruang lima dan bukan tiga,"
Aku dan Helen saling pandang ketika mendengarkan keributan di luar pintu. Itu jelas suara Emma, sedang apa dia di sini? Bukankah seharusnya dia menemani putranya ke sekolah? Kenapa dia malah berkeliaran dan membuat keributan di tempat ini.
"Helen, kau tunggu saja di sini, aku akan mengurus perempuan itu terlebih dahulu, bisa gawat kalau Emma melihat kita mengobrol di sini," perintahku padanya. Helen mengangguk mengerti. Aku segera keluar untuk melihat situasi.