"Nyonya, Tuan meminta anda sarapan bersama," seorang pelayan datang mengunjungiku di pagi hari, dan memintaku untuk ikut sarapan bersama. Aku benar-benar tidak habis pikir, mau sampai kapan Jason menyakitiku terus seperti ini.
"Aku akan turun dan sarapan," jawabku pendek. Aku tidak ingin membuat keributan lagi, lagipula aku harus keluar dari rumah ini agar bisa mencapai tujuanku. Jika aku terkurung seperti ini hanya karena hal sepele maka tidak menutup kemungkinan Jason akan berbuat lebih jauh demi perempuan itu.
Setelah bersiap aku turun dengan pakaian sederhana, aku tidak ingin Jason berasumsi macam-macam, lagipula itu akan membuatku semakin terpojok karena dia hanya akan berpihak pada Emma. Sepenting itukah wanita itu di mata Jason sekarang? Sungguh sangat konyol aku dulu pernah memaafkannya karena berselingkuh.
"Adeline, duduk dan makanlah bersama kami," ucap Jason ketika melihatku sudah di ujung tangga. Kami? Apa dia lupa aku adalah nyonya rumah ini, sementara wanita itu bukan siapa-siapa, bahkan aku ragu jika itu anak Jason.
Aku duduk agak berjauhan dengan Jason. Meja makan ini berbentuk persegi panjang, dan Jason duduk di sisi paling ujung, sementara Emma. Perempuan itu memilih kursi di sebelah Jason. Sebenarnya tidak masalah karena aku bisa duduk di kursi sebelahnya yang kosong, tapi aku tidak ingin. Aku memilih duduk di kursi yang paling ujung, dimana itu tepat berseberangan dengan Jason. Di sini kami bisa saling memperhatikan tapi juga saling berjauhan.
"Nyonya Simpson, kenapa anda duduk di sana, bukankah itu terlalu jauh?" tanya Emma dengan wajah bingung.
"Tidak apa-apa Emma, aku biasa duduk dimana saja," jawabku singkat. Raut wajahnya langsung berubah, seolah ia tidak senang dengan jawabanku barusan. Aku yakin dia sengaja duduk di sisi kanan yang dekat dengan kursi Jason agar bisa memancing emosiku seperti tadi malam, tapi maaf. Aku tidak akan seperti itu lagi.
"Adeline, aku dengar kau mengunjungi Paman Lee kemarin?" tanya Jason dengan nada biasa. Tapi sorot matanya seolah memperingatkan.
"Ah, Aku kemarin hanya ingin menenangkan diri, jadi ingin mengunjunginya, lagipula ia orang yang dekat dengan ayah, jadi aku sudah menganggapnya seperti ayahku sekarang," jawabku berbohong.
"Baiklah, kalau begitu, aku harap kau tidak sering mengunjunginya, mungkin saja dia terganggu dengan kedatanganmu yang tiba-tiba," ucap Jason
"Aku akan berusaha. Tapi bagaimana kau tau aku mengunjungi rumah paman?" tanyaku dengan wajah penasaran. Jason menghentikan aktifitas makannya sejenak. Aku menunggu dengan gugup, kira-kira apa yang akan dia ucapkan. Setelah beberapa detik ia mulai meletakkan sendoknya dengan rapi. Lalu menatapku dengan wajah datar seperti biasanya.
"Adeline, lebih baik kau habiskan saja makananmu, jangan memikirkan hal yang tidak perlu. dua minggu lagi aku akan membuat pesta perayaan untuk menyambut Enderson. Aku ingin mengumumkan calon pewaris keluarga Simpson pada saat perayaan itu,"
"Apa katamu?" tanyaku terkejut. Justru ucapannya ini seolah sebuah tamparan untukku. Dia ingin memamerkan anak diluar nikahnya dan mengatakan jika itu adalah anakku, atau justru ia akan mengumumkan jika akan menikah lagi dengan perempuan lain? Luar biasa Jason. Aku tidak pernah bertu dengan orang yang sangat tidak tau malu seperti dirimu.
"Sebaiknya kau mempersiapkan diri karena kau adalah Nyonya rumah," lanjut Jason sambil melanjutkan acara makannya.
"Tunggu, Sa ... Maksudku Jason, lalu bagaimana denganku? Apa aku harus bersembunyi?" tanya Emma dengan wajah gugup. Aku menatapnya heran, rupanya dia juga tidak tau apapun. Entah kenapa aku sedikit merasa senang, karena artinya Jason belum berniat menggantikan posisi Nyonya rumah saat perayaan itu.
"Emma, aku tau ini tidak nyaman, tapi aku ingin kau berada di kamarmu selama acara berlangsung, aku tidak ingin membuat keributan di tengah hari yang baik,"
"Tapi ...."
"Emma," kalimat Jason yang singkat itu sukses membuatnya terdiam. Aku menyaksikannya sambil menahan tawa. Ia kira bisa semudah itu mendepakku dari rumahku sendiri. Dia tidak tau apapun, bahkan Jason sendiri tidak akan mampu mengusirku dari rumah ini. Karena hartaku dan Jason bercampur, dan harta warisan orang tuaku tidak akan bisa digunakan tanpa seizinku. Bahkan jika aku ingin keluar dari rumah ini pun aku sanggup. Tapi aku tidak ingin Jason lepas begitu saja. Bahkan setelah aku tau semua yang telah ia lakukan, aku harus membuatnya menyesal.
Emma melirikku dengan pandangan sinis, aku tidak tau apa malsudnya. Tapi aku mencoba mengabaikan itu.
"Bibi, Apa Bibi bisa mengambilkan s**u untukku?" tanya sebuah suara kecil di sampingku. Ketika aku menoleh aku menatap wajah mungil yang polos itu. Anderson, putra Emma dan Jason yang akan diangkat menjadi pewaris dalam keluarga ini. Aku hampir melupakan jika anak itu juga berada di sini.
"Sayang, kalau kau ingin s**u, katakan saja pada pelayan atau mama, aku akan mengambilkannya untukmu," ucap Emma lembut.
"Ehem, ini." Aku menuangkan s**u ke dalam gelasnya sesuai yang ia inginkan. Bocal kecil itu tersenyum senang dan mengucapkan terimakasih yang tulus. Dia baik sekali, berbeda dengan ayah dan ibunya yang terlihat seperti iblis di mataku.
"Terimakasih," ucap Emma canggung.
"Tidak masalah," jawabku santai. Lagipula itu hanya segelas s**u. Aku melihat Emma yang sedang membersihkan sisa makanan di bibir Anderson. Tak kusangka dia ternyata sangat menyayangi putranya. Aku kira dia hanya menjadikan Anderson sebuah alat untuk merebut hati Jason dan mencari harta kekayaan. Tapi sepertinya tidak. Aku tidak mengerti kenapa perempuan itu mau repot-repot berseteru denganku sementara dia terlihat baik-baik saja walau tanpa Jason. Sepertinya aku harus mencari tau tujuan aslinya datang ke mari.
Setelah selesai sarapan Jason pergi ke kantor, sementara Emma dan Anderson pergi ke sekolah, ini adalah kesempatanku untuk mencari tau apa yang sebenarnya di inginkan oleh Jason dan Emma. Bisa jadi tujuan mereka berbeda.
Pertama aku harus memeriksa kamar Emma, aku dengar dulu ia adalah teman kerja Jason ketika masih berada di restoran, aku yakin dia bukan orang kaya dan keluarganya juga tidak menyukainya. Jadi bagaimana dia membesarkan putranya selama ini, aku harus mencari tau.
Aku memeriksa setiap sudut kamar dan juga lemari pakaian, bahkan laci juga sudah aku periksa, tapi aku tidak menemukan apapun, bahkan surat berharga saja tidak ada. Lalu bagaimana Emma melewati masa sulit dengan keadaan hamil sendirian, ia tidak mungkin bisa bekerja dengan keadaan seperti itu. Ini tidak masuk akal.
Setelah lama mencari akhirnya aku tetap tidak menemukan apapun.
"Hah, usaha yang sia-sia," gumamku kesal. Aku melihat jam yang tergantung di dinding kamar Emma. Rupanya sudah hampir jam sebelas, sebentar lagi Emma dan Anderson akan kembali, aku harus merapikan semua ini sebelum mereka tiba.
Setelah membereskan semua kekacauan aku kembali ke kamarku tanpa hasil.
"Haruskan aku menyewa detektif untuk memeriksanya?" tanyaku pada diri sendiri. Lagipula aku tidak mengenal Emma sama sekali, bahkan aku hanya mendengar dari Jason tentang latar belakang Emma.