02

1063 Kata
Aku baru menyadari bahwa selama ini Jason memanipulasiku dengan cinta dan kasih sayang palsu yang ia berikan. Aku sungguh buta. "Paman Lee, aku minta maaf karena sudah mengabaikan peringatan ayah," ucapku penuh rasa bersalah. "Linie, sekarang bukan waktunya untuk terpuruk, aku tau kau perempuan yang kuat dan tangguh. Kita masih memiliki harapan," "Apa Paman serius?" tanyaku penasaran. Wajah Paman terlihat tidak bercada, namun aku masih ingin memastikannya. "Ya, tentu Paman tidak bercanda. Paman selama ini diam hanya karena menunggumu untuk segera bergerak, tapi tidak ku sangka akan memakan waktu selama ini,"  "Maaf," kataku menyesal. Namun reaksi Paman malah membuatku terkejut. "Hahaha ... Tidak perlu meminta maaf Linie, Paman tau kau juga berada dalam situasi yang tidak menyenangkan sekarang," "Apa yang lucu?" tanyaku bingung. " Apa Paman juga tau tentang wanita itu?" tanyaku lagi. Aku tau aku seharusnya tidak bertanya seperti ini, bagaimanapun masalah keluarga adalah hal yang kurang pantas jika dibicarakan dengan orang lain, namun aku tidak biaa menahan diriku untuk tidak bertanya. "Tentu saja, apa kau meremehkan keluarga kita Linie sayang?" tanya Paman dengan wajah misterius. "Selama ini aku meletakkan mata-mataku di sana, jika aku tidak salah ingat, kau merekrut seorang pelayan setelah orangtuamu meninggal bukan? Apa kau tidak curiga pada pelayan itu? Dia orang asing yang entah darimana dengan pakaian lusuh yang tiba-tiba meminta sebuah pekerjaan padamu. Jika itu kau aku yakin kau akan memberikan pekerjaan padanya. Tapi berbeda jika itu Jason, dia akan mengawasi orang itu terlebih dahulu dengan cara diam-diam. Menyelidiki asal-usulnya lalu menimbang apa akan menerimanya atau tidak, jika tidak membahayakan mungkin dia akan membuarkannya dan menjadikannya pengikut," ucap Paman dengan sangat percaya diri. Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku, aku bahkan tidak menyangka jika pelayan setia itu adalah mata-mata Paman. "Paman aku merasa sangat malu dengan kebodohanku ini," ucapku terus terang. "Paman tau kau ingin meninggalkan Jason bukan, dan mengambil kembali harta warisan yang seharusnya menjadi milikmu?" "Paman pasti sudah menebaknya ya," "Tentu saja, keluarga besar dan terhormat seperti kita tunduk pada keluarga kecil seperti simpson, Paman tidak mungkin membiarkan hal semacam ini terlalu lama dibiarkan." Setelah diskusi panjang lebar dengan Paman Lee aku memutuskan untuk pulang. Lagipula akan ada masalah jika nyonya rumah tidak kembali saat makan malam, perempuan itu mungkin mengira jika aku kabur karena sakit hati. "Terimakasih Paman, karna masih mau mendukungku," ucapku berpamitan. "Ya, tentu saja, lagipula kau adalah keponakanku yang berharga," Setelah menaiki mobil dan meninggalkan rumah Paman Lee aku menjadi agak lega. Sekarang aku memiliki pendukung yang tidak di ketahui Jason. Aku senang. "Tolong percepat mobilnya, jangan sampai aku terlambat makan malam," "Ya, Nyonya," Mobil berjalan sedikit lebih cepat, aku penasaran ekspresi apa yang akan diberikan Jason padaku? Selama ini aku hanya diam di rumah dan menjadi Nyonya yang baik dan penurut. Dia tidak akan menyangka akan ada waktunya aku berubah. Ketika sampai di rumah aku segera masuk seperti biasa. Rumah ini adalah rumah yang diberikan Jason untukku saat kami menikah, dia ... Benar-benar memuakkan. "Jason, aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan dengan memintaku tinggal bersamamu, tapi apa kau sudah lupa dulu kau pernah membuangku dan anak kita?" Langkah kakiku terhenti ketika mendengar ucapan itu, dari kejauhan aku bisa melihat mereka berdua. Jason dan perempuan itu sedang duduk seperti sepasang kekasih. Lucu sekali, ucapan dan perilakunya sangat bertolak belakang. Apa dia sengaja mengatakan itu agar mendapatkan simpati Jason? Hahaha ... Mereka berdua ternyata sama saja. "Emma, aku tau jika dulu aku bersalah karena membuangmu, bahkan aku mengucapkan kalimat yang menyakitkan, tapi sekarang aku sadar kalau aku sebenarnya mencintaimu dan anak kita," "Lalu bagaimana dengan Adeline? Bukankah kau dari dulu selalu ingin bersama dengannya, kau bahkan tega menelantarkan aku bukan?" tanya Emma dengan wajah melas. Aku menatap dari sini saja sudah tau jika ia hanya bersandiwara menjadi orang baik. Bagaimana bisa perempuan yang hamil dengan tunangan orang lain di sebut wanita baik. Sungguh meragukan. "Emma, kau bisa berteman dengannya, aku yakin Adeline akan mengerti keinginanku," jawab Jason dengan wajah penuh keyakinan. Seolah dia tau apa yang aku rasakan dan mengatakan omong kosong seperti itu. Aku sudah tidak tahan lagi melihat drama melankolis mereka. Aku melangkahkan kakiku yang sempat terhenti dengan keras, meskipun aku melakukannya dengan sengaja tetapi mereka tetap terlihat terkejut ketika melihatku datang. "Adeline, sejak kapan kau datang?" tanya Jason bersikap biasa. Tapi sikapnya yang seperti itu justru menyakitiku, bagaimana bisa dia bersikap biasa padahal di sampingnya sedang duduk perempuan lain yang merupakan masalalunya. "Apa kau sudah makan? Kalau belum ayo makan malam bersama," ajak Emma. Perempuan itu terlihat tidak tau malu di depanku, dia tersenyum tapi matanya seoalah menyembunyikan sesuatu. "Maaf, aku sudah makan malam, apa kalian menungguku? Aku jadi tidak enak, padahal Emma baru saja datang tadi pagi dan membuat kehebohan," ucapku biasa saja, tapi nyatanya aku ingin sekali memukul mereka berdua. Suasa berubah dingin dan canggung. Aku tau ini karena ucapanku. Mereka seolah melupakan peristiwa tadi pagi dimana Jason hampir membuatku tidak waras dengan membawa perempuan lain ke dalam rumah, lalu pada malam hari mereka berdua bersikap seolah tak terjadi apapun. "Adeline, aku sudah mengatakan padamu kan, aku membutuhkan pewaris, dan Kau tidak bisa memberikannya. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain membawa putraku kemari," "Jason, berapa kali sudah aku katakan untuk bersabar, tapi kau tak pernah mendengarkan ucapanku, apa kesabaran itu sangat sulit bagimu? Bukan salahku jika aku tidak kunjung hamil, tapi kau malah membawa perempuan ini bersamamu, itu adalah kesalahan." Jason memelototkan matanya padaku, setelah aku mengucapkan kalimat itu. Benar, dulu dia tidak pernah memandangku dengan pandangan mengerikan itu, tapi sekarang berubah. Entah sejak kapan tapi aku merasa Jason sudah bukan Jason yang kukenal. "Adeline, masuk ke dalam kamarmu dan berpikirlah, jangan harap kau bisa keluar dari kamar itu meskipun seujung kuku," ucap Jason marah. Aku bisa merasakan kemarahan yang meluap, padahal aku tidak mengatakan sesuatu yang salah. "Adeline, aku minta maaf, seharusnya kau tidak perlu mengalami ini," ucap Emma dengan wajah penuh rasa bersalah. "Aku tidak butuh simpati dari wanita sepertimu," ucapku dingin. Setelah mengatakan itu beberapa pelayan menuntunku masuk ke dalam kamar. Aku tidak tau ekspresi apa yang di perlihatkan Emma, yang jelas ia pasti sedang tertawa di atas penderitaanku. Setelah pintu kamarku di tutup mereka menguncinya dari luar, tepat seperti ucapan Jason. Aku tidak di izinkan untuk keluar, bahkan makananku juga di kirimkan ke sini. Aku hanya duduk di atas tempat tidur tanpa berniat memakannya sama sekali. "Ayah, seandainya kau masih hidup apa kau akan kecewa padaku?" tanyaku pada udara kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN