Ozil 3
Saat sang Surya bersembunyi di sisi bumi lain, saat itu kegelapan datang, tempat dan suatu hal yang paling si sukai Ozil. Monster mutasi genetik yang tak terkendali, mereka haus darah dan terus saja memangsa apa saja yang mereka temui. Menularkan wabah penyakit dan virus yang menyebabkan otak mereka mati, sehingga hanya sisi liar yang akan bangkit setelahnya, tubuh manusia yang terjangkit virus itupun perlahan akan berubah menjadi sosok yang menyeramkan, bagai mayat hidup berjalan dan terus menularkan semua penyakit. Hingga banyak manusia yang ketakutan dan lari demi bisa menghindari serangan para Ozil.
Bukan hanya manusia saja, bahkan hewan dan tumbuhan sudar berevolusi menjadi sosok monster yang mengerikan. Seperti halnya Will yang sekarang. Dia berevolusi menjadi sorang monster yang memiliki kekuatan dahsyat. Hanya saja saat dalam mode ini, Will masih bisa mengendalikan tubuhnya, hanya saja untuk mengendalikan kekuatan yang baru saja dia dapatkan.
Beberapa kali Will menabrak pohon mati dan membuat pepohonan itu rubuh seketika. Kecepatan dan kekuatan tubuhnya sama sekali tak bisa dia kendalikan. Terlebih sebelum ini dia hanyalah seorang anak kecil yang di buang dari kota.
Membayangkan itu saja sudah membuat kemarahan dalam diri Will memuncak. Namu , baru saja dia merasakan kemarahan itu, ada suara yang masuk ke dalam kepalanya.
"Aku tahu kau selamat dari ancaman itu." Suara itu seolah berdenging dengan nyaring, hingg membuat Will berlutut sembari menunduk, tekanan yang sangat kuat dia rasakan, dia tahu, dari hawa keberadaanya, sosok itu adalah tuan yang baru saja memberikan dirinya kekuatan, kekuatan yang sungguh luar biasa.
"Dari aura yang kau pancarkan, aku sedikit tahu apa yang sudah kau dapatkan kali ini." Dia terkekeh pelan, sampai saat ini Will masih belum tahu siapa sosok sebenarnya dari tuan barunya ini. "Kau boleh senang. Tapi jangan melupakan tentang tugas pertamamu, aku sudah terlalu lama menunggu!"
Setelahnya dia mendengar suara berdenging di kepalanya. "Akh!" Will memekik kesakitan, kepalanya seolah terhantam sesuatu yang benar-benar membuat dia tak bisa berkutik.
Dia terengah dengan rasa sakit yang luar biasa dashyat. Setelahnya dia berdiri, mencoba menenangkan diri sebelum berdiri dan menopang tubuhnya, dia harus mendapatkan benda itu, atau dia benar-benar akan hancur sekarang.
Dia menoleh mencoba mencari tahu di mana lokasi gua yang tadi dia tinggalkan. Lalu sepasang matanya seolah menemukannya padahal jarak pandang yang dia lihat sangat jauh, sungguh penglihatan yang luar biasa. Semua Indra dalam dirinya seolah meningkat dengan pesat, hal ini sangat memudahkan dirinya untuk mencari sesuatu.
Setelah menemukan lokasi gue itu, Will segera berlari, dengan kecepatan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bahkan beberapa pohon menjadi bahan pijakan dirinya untuk terus melangkah. Will tak ingin membuang waktunya, perlahan dia bisa menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya.
Hanya butuh waktu untuk bisa mengendalikan kekuatan yang terasa mengalir dalam dirinya, sungguh luar biasa. Semua terasa sangat cepat, pergerakan tubuhnya, tarikan napasnya, dan juga tiap pengamatan yang sangat jeli di sana, sekitar terlihat melambat saat dirinya berjalan dengan cepat. Inilah, inilah kekuatan yang sangat dia dambakan sebelum ini.
Hingga saat sampai di depan mulut gua, dia menghentikan pergerakannya, hidungnya berhasil mencium sesuatu yang sangat menyengat, busuk dan membuat emosinya seolah meletup marah. Dia ingat aroma ini, aroma yang sudah membuat hidupnya berakhir. Tidak ada lagi sisi manusia yang dia dapat setelah dianggap sebagai Ozil.
Giginya mengerat dengan hebat lalu ditatapnya tiga makhluk Nyang ada di hadapannya kini. Makhluk yang terus bergerak dengan sangat lambat kearahnya. Emosi Will sudah tak tertahan lagi, dia langsung berlari menerjang makhluk yang terlihat sangat lamban itu, lalu dengan cakarnya dan mencabik, melukai Ozil dengan tangannya. Satu Ozil tumbang dengan jantung yang dia tusuk dengan kukunya, hingga membuat Ozil tak bisa beregenerasi.
Will sudah tahu di mana kelemahan para Ozil yang terkenal dengan keabadiannya, tak bisa di lukai jika tidak menggunakan air suci dan titanium yang sudah dimurnikan, tapi kelemahan yang mencolok adalah, jantung yang dikelilingi tulang yang tak bisa di tembus hanya dengan senjata api saja. Namum dengan kekuatannya, Will bisa.membunih Ozil. Dengan sangat mudah.
Will menatap dua Ozil lainnya dengan mata nyalang, satu gugur dan tersisa dua lainnya.
Setelahnya dia berlari. Menerjang satu Ozil dengan tendangan hingga membuat Ozil itu terpental beberapa meter kebelakang. Lalu dia memberikan cakaran pada Ozil yang berusaha menyerang dirinya dari samping. Membuat luka sayat menganga di dadanya, lalu saat dia akan menyerang jantung Ozil itu. Ozil yang terpental tadi berjari menerjang dirinya. Hal itu membuat Will sangat marah. Dia menghantam Ozil itu dengan sikunya, lalu menendang dan menghempaskan Ozil itu kelantai, kecepatan Will yang luar biasa membuat dirinya mudah untuk menyerang para Ozil.
Saat Ozil itu terbanting, Wil langsung menyerang dengan cakar yang dia miliki, menusuk bagian jantung hingga setelahnya Ozil itu terkapar tak berdaya. Menyusut perlahan hingga benar-benar lenyap, menyisakan tulang belulang saja.
"Napas will terengah, dia melirik Ozil yang tersisa, ozil itu bergerak mundur, seolah takut saat melihat bagaimana keganasan dari Will.
Hal itu tak membuat Will menunggu. Dia langsung menyerang Ozil itu dengan ganas, menerjang dan menjadikan monster itu menjadi mainnya sebentar sebelum menyerang dengan cakar dan mengakhiri hidup Ozil itu.
Will berdiri. Menatap cakar tajam yang berhasil menghabisi tiga Ozil yang sebelumnya sangat dia takuti. Kini dia bisa membalaskan dendamnya tak ada yang bisa mencegah dirinya saat ini. Namun saat dia ingat ada hal yang harus dia lakukan sekarang. Will tak ingin membuang waktunya lagi.
Segera saja dia berlari ke arah dalam gue di mana ada cahaya merah redup menyala di sana. Dia menerjang dengan kuat hingga membuat dinding gue itu runtuh. Dan saat itu dia bisa melihat, ada sebuah liontin yang mengambang di sana, cahaya yang datang pun terasa menyakitkan matanya, Will sampai di buat mundur karenanya, tapi dia bukanlah orang yang lemah, ada hal yang harus dia tunjukkan sekarang.
Dengan segera Will meraih liontin itu, tekanan yang keluar dari liontin itu hampir saja membuat dirinya terpental, tapi Will mempertahankan posisi, dia terus bergerak untuk mengambil benda yang seharunya menjadi milik tuannya. Hingga kekuatan dalam dirinya seolah mendorong dia untuk bisa mendapatkan liontin itu. Dia berhasil menekan kekuatan liontin dalam dirinya dan menyimpan benda itu.
Tugas pertama sudah dia selesaikan, sekarang tinggal bagaiman dia pulang.
"Sepertinya kau sudah berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku suka cara kerjamu, sekarang pulanglah, ikuti kemana nalurinya pergi dan kau akan bertemu denganku.'"
Lagi suara itu menggema di dalam kepalanya. Membuat Will merasa pusing bukan main. Dia belum terbiasa dengan suara kejutan seperti itu. Mengabaikan suara itu, Will segeran beranjak, dia berlari sekencang yang dia bisa, menembus hutan lebat, menerjang pepohonan yang ada di hadapannya, dan terus bergerak dengan cepat, dia harus segera sampai. Nalurinya mengatakan dia harus berlari ke dalam hutan larangan, di mana dia bisa bertemu dengan tuannya.
Dia terus berlari, berhenti sejenak untuk mengendus dan melihat sekitar, lalu setelahnya dia berlari lagi dan lagi, mengabaikan Ozil yang menghalangi jalannya, dan menerjang semua hal yang menggangu dirinya.
Hingga dia harus menghentikan langkahnya saat menemukan sebuah pintu besar di tengah-tengah hutan larangan. Dia bisa melihat suasana aura yang begitu kuat dari gerbang ini, aura yang terasa seperi milik tuan, Will bergerak mendekat, dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pintu, tapi sebuah penghalang membuat dirinya terpental sangat jauh. Penghalang yang sungguh luar biasa kuat, Will bahkan hampir kehilangan kesadarannya karena kekuatan itu.
"Hahaha bodoh!"
Will berusaha untuk berdiri. Lalu mendongak untuk melihat siapa sosok yang sudah menertawakan dirinya. Dia melihat seorang perempuan dewasa dengan pakaian minim bersandar di atas gerbang. Bersandar pada sebuah kayu dengan tatapan tajam menyorot dirinya.
"Inikah yang membuat tuan menyuruhku untuk menyambut tamu penting? Ku kira kau hebat, tapi melewati batas penghalang saja kau tak mampu." Wanita itu berdecih lalu melompat turun, daei tatapannya Will bisa melihat jika sosok oti sangatlah kuat, lebih kuat dari Ozil yang dia temui bersama tuannya tadi.
"Kau lemah!" Ucap wanita itu sembari melipat tangan di dadanya, membuat dua bola itu menyembul sangat sempurna. Namun sayangnya Will tetaplah anak kecil yang belum tahu menahu apa itu keindahan seorang wanita.
Will mengerang, apalagi saat wanita itu berani mengejek dirinya, tangannya mengepal kuat, lali dia berlari dengan kuat dan berniat menerjang wanita itu, tapi sayangnya, dia lupa dengan penghalang kuat yang ada di sana, hingga membuat tubuhnya kembali terpental.
Will terbatuk setelahnya, dia menatap nanar pada wanita yang kini menertawakan dirinya.
"Kau benar-benar bodoh!" Desisi wanita itu sembari menatap tajam kearah Will. "Kau hanya akan mati jika memaksa masuk kedalam penggalang ini dengan penampilan seperi itu bodoh!" Wanita itu berjalan keluar. Melewati perisai penghalang dengan sangat mudah, seolah tidak pernah ada halangan di sana.
"Ini adalah perisai buatan tuan. Hanya manusia yang bisa melewati dinding penghalang ini, dan kau, mau sampai mati pun tidak akan bisa masuk dengan penampilan seperti itu."
Will baru ingat, sekarang dia bukanlah manusia, tapi sudah menyerupai Ozil dan binatang buas, bodohnya dia tidak menyadari hal itu.
Lalu setelah sadar, Will melempar liontin yang dia simpan tadi kearah wanita itu. "Itu misi pertamaku dari taun, karena aku tak bisa masuk, tolong berikan benda yang di minta tuan." Ucap Will lalu berjalan mundur dan memilih duduk di bawah pohon besar, dia bersandar di sana.
"Siapa kau berani memerintah ku. Jika kau yang di minta tuan untuk menyerahkan benda ini, serahkan saja sendiri!" Ucap sang wanita melempar benda itu hingga mengenai kepala Will. "Aku bukan wanita yang bisa dengan mudah kau suruh, mengerti!"
Wil mlemunduk, dia tak tahu lagi harus berkata apa, dia sendiri tidak bisa masuk kebalik tembok itu, dia bukanlah seorang manusia sekarang, dan sampai kapanpun dia tak akan pernah bisa masuk dan bertemu dengan tuan. "Kau lihat sendiri aku bukan lagi manusia, lalu harus dengan apa agar aku bisa masuk ke dalam."
"Berubahlah menjadi manusia dan kau akan bisa masuk untuk menemui tuan."
Will mendongak, melihat sepasang mata yang terlihat menyala itu. "Mana bisa, kau lihat sendiri aku tak.lebih dari seorang Ozil!"
"Bodoh!" Desis wanita itu, dia kembali melipat kedua tangannya di depan d**a. "kau pikir aku ini apa?" Tanyanya lagi. Lalu tak lama setelahnya Will bisa merasakan kekuatan yang sangat dahsyat keluar dari wanita itu, sangat kuat hingga membuat tubuh Will bergetar.
Tak lama setelahnya, wanita cantik dengan tubuh indah itu berubah menjadi Ozil seperti dirinya, hanya saja jika Will menyerupai harimau, maka perubahan sosok wanita itu adalah kelinci purba dengan lekuk tubuh indah dan menggairahkan, tidak pantas jika di sebut sebagai Ozil kotor, karena perubahan wanita itu malah lebih menyerupai boneka yang sangat menggemaskan.
"Aku adalah Ozil yang sudah bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku adalah salah satu pelayan tuan dan mendapat kehormatan bisa meminum darah langsung dari tuan." Ucap wanita itu menjelaskan. "Dan kau!" Dia mengangkat jari telunjuk kearahnya.
"Tidak pantas untuk seorang lemah seperti mu bisa melayani tuan secara langsung, kau lebih baik mati dari pada hanya menjadi beban untuk tuan." Sungguh pedas kalimat yang wanita ini ucapkan, congkak dan sangat sombong. "Berubah menjadi manusia saja kau belum mampu, apalagi mengendalikan kekuatan mu."
Cukup sudah, Will tak tahan lagi mendengar hinaan demi hinaan dari wanita ini, dia tidak Mau harga dirinya diinjak-injak, bagaimana pun dia juga sudah memiliki kekuatan untuk melawan. Dia akan membuktikan jika dirinya pantas, sangat pantas untuk menjadi pelayang tuannya. Kekuatan ini tidak akan pernah dia sia-siakan.
Will berlari, menggunakan batang pohon yang dia sandari tadi sebagai ancang-ancang, lalu segera mungkin dia menerjang, mengeluarkan cakar panjang dari kedua tangannya yang merupakan senjata utama miliknya.
Terjangan tangannya mampu ditepis begitu saja, lalu saat Will menyerang wanita kelinci dengan cakar miliknya, dengan mudah wanita itu menangkap kuku will dengan kaki kelinci yang terasa sangat kuat, bahkan jika mau wanita itu bisa mematahkan kuku will dengan sangat mudah.
Dia tersenyum mengejek. "Hanya ini kemampuanmu?" Tanya wanita itu dengan nada congkak, lalu pergerakan berikutnya sangat cepat hingga tak mampu Will halau. Saat dia sadar dia sudah berada di antara kedua kaki dan s**********n wanita itu, menjepit leher dengan kedua kakinya. Terasa sangat kuat hingga membuat Will tak berani gegabah untuk bergerak.
"Sungguh menyedihkan." Ucap wanita tadi sembari menopang dadu dengan tangan kanannya, dia menatap malas pada sosok Will yang masih berusaha mencari cara untuk melepaskan diri dari wanita ini.
Cekikkan di lehernya terasa sangat kuat hingga membuat dirinya tak bisa bernapas. Will hampir menyerah di sana hingga sekuat tenaga dia berusaha untuk lepas. Dia menggigit paha wanita itu dengan gigi taringnya, bulu tebal yang ada di saja seolah tak mampu dia tembus, tapi rahang kuat milik Will sangat berguna untuk saat seperti ini, dia berhasil menembus bulu-bulu itu dan menancapkan gigi runcing di sana, hingga membuat wanita itu memekik dan menghantam kepala Will dengan kuat agar Will mau melepaskan gigitannya.
"Lepaskan b******k!" Sentak wanita itu dengan kuat, dia terus menghajar Will tanpa ampun, tapi bagi Will itu bukanlah hal yang berguna, dia masih bertahan menancapkan gigi taringnya di sana. Bahkan dia berusaha untuk menembus dan merobek paha wanita itu agar lilitan di lehernya melepas.
Usahanya berhasil, saat wanita itu melepaskan lilitan di lehernya. Will langsung melompat mundur.
"Kau!" Sentak wanita itu dengan geram saat melihat apa yang sudah Will lakukan padanya, paha indah dan mulus terluka hanya karena kecerobohannya.
Wil terkekeh pelan. Dia memandang wanita itu sembari mengusap leher yang terasa hampir patah tadi. "Kau lupa, kelinci hanyalah mangsa dari seorang harimau. Dan lagi, aku menyukai tekstur daging mu." Ejek Will. Dia berusaha membuat wanita itu marah, tanpa dia tahu jika wanita itu sudah mengamuk, maka tamatlah untuk Will.
"Kau!" Wanita itu mendesis tajam, auranya terasa sangat kuat hingga membuat Will mundur beberapa langkah, tatapan dan wujud dari kelinci itu berubah mengerikan. Will tidak pernah tahu, jika wanita ini marah maka semua akan berakhir.
"Beraninya kau melukai kulit mulus ku!" Desis wanita tadi menatap Will dengan tatapan tajam yang membuat tubuh Will bergetar hebat. Tekanan yang keluar dari wanita itu sungguh tak bisa dia tahan lagi. Will hanyalah seonggok sampah di hadapannya dan dia baru sadar perbedaan antara kekuatan dirinya dan juga wanita ini.
"Kubunuh kau!" Jerit wanita itu yang langsung bergerak cepat kearahnya. Will tak bisa mengelak, segalanya berakhir sekarang, dia yakin lehernya akan patah dengan sangat mudah di tangan wanita itu.