Ozil 4
Kekuatan itu sangat luar biasa, bahkan pergerakannya saja tak bisa dilihat oleh mata Will. Dia hanya melebarkan mata, bahkan saat wanita itu sudah mendekat dan hampir mengarahkan tangan besarnya kearah lehernya.
"Mati kau!" Seru wanita itu dengan amarah yang luar biasa, tekanan dari wanita itu tak bisa di tahan lago Leh Will, kekuatan yang sungguh luar biasa, Will menginginkan kekuatan seperti itu, andai dia memiliki kesempatan untuk kemudian hari, dia yakin akan mendapatkan kekuatan itu untuk dirinya dan untuk bisa melayani tuannya.
Tapi, apa mau di kata, sepertinya ini sudah menjadi akhir untuk hidupnya, amarah dari wanita itu benar-benar tak bisa dicegah oleh Will, dia sudah berada di penghujung nyawa.
Will memejamkan matanya saat wanita itu benar-benar sudah dekat dengan dirinya. Lalu beberapa saat kemudian dia tidak merasakan apa-apa, hingga Will berani membuka matanya perlahan. Dia melihat wanita itu mengambang tepat di depan lehernya, hanya beberapa sentimeter saja dari sana.
Will bergerak mundur dan ambruk dan terduduk sana. Wanita itu sama sekali tak bisa bergerak entah karena apa, dia mencoba keras untuk membuka suaranya, tapi tetap saja tubuhnya tak bisa dia gerakkan. Entah apa yang terjadi, Will hanya bisa melihat kejadian itu, hingga saat pundaknya ditepuk dengan pelan membuat Will menoleh dengan cepat.
"Tuan!" Wil langsung berlutut di hadapannya, hawa keberadaan sosok ini sama sekali tak bisa dia rasakan, kekuatan yang mengalir dalam dirinya pun sama sekali tidak bisa dia rasakan, berbeda dengan wanita tadi, Will sungguh mengagumi kekuatan sang tuan.
"Apa yang terjadi di sini, aku baru saja keluar dan kau sudah membuat masalah lagi, Kail!" Ucap sosok itu sembari berdiri menatap kearah wanita kelinci tadi. "Sudah berapa kali ku peringatan, sambut anggota baru kita dengan ramah, bukan seperti ini caranya." Dengkus sosok itu tanpa melepaskan kekuatan pengendali pada sosok wanita kelinci yang bernama Kail.
Sosok pria tadi berjalan mendekati Will yang masih saja menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap sosok yang membuat darahnya mendidih tiap kali berada di dekatnya. Kekuatan tuannya itu selalu berhasil membuat dirinya tak bisa berkata-kata lagi.
"Angkat kepalamu dan bersikaplah biasa saja, aku bukan orang yang gila pangkat seperti orang yang pernah kau temui sebelumnya, jadi anggap biasa saja."
"Tapi tu-" Will mengatupkan mulutnya saat merasakan aura yang benar-benar membuat dirinya tak bisa berkutik lagi, dia menunduk semakin dalam.
"Apa kau tak dengar apa yang aku katakan? Angkat kepalamu dan bersikaplah biasa saja."
"Ba-baik tuan." Ucap Will mengangkat wajahnya, lalu berdiri tegak menghadap sang tuan yang masih saja menatap kearahnya.
"Oh ya aku belum mengenalkan diriku sebelumnya, namaku Fath Lubis Aizen, kau bisa memanggilku Lubis, aku adalah salah satu anak yang memiliki nasib sama seperti mu, di buang oleh tuan kota dan terlantar hingga sekarang, alasan kenapa aku menyelamatkan mu karena aku merasa kau memiliki tujuan dan tekad kuat sepertiku." Lubis menatap bawahannya untuk pertama kali, seorang yang mengingatkan dirinya pada masa kelam yang pernah dia lalui sebelumnya.
"Mulai sekarang, kau bisa mengandalkan kekuatanmu untuk melakukan apa saja yang kau suka, menghabisi tuan kota, ataupun Ozil dan yang lain, aku tak akan melarang, tapi sampai kau melukai orang yang tak bersalah sedikitpun, maka aku tak akan pernah memaafkan mu!"
Sungguh aura yang sangat mengerikan, Will bahkan tak bisa menjawab dan hanya bisa mendengarkan ucapan dari Lubis, sosok yang teramat kuat hingga mampu membuat bulu-bulunya meremang.
"Aku akan mengizinkan mu masuk setelah kau berhasil mengendalikan kekuatanmu dan mendapatkan sosok manusiawi lagi. Sebelum itu aku akan memberimu seseorang yang akan melatih kekuatanmu. Aku mau kau berkembang dan selalu setia untukku."
"Baik tuan!" Jawab Will dengan tegas, tidak ada yang akan bisa membuat dirinya berpikir untuk berkhianat, dia akan selalu setia pada sosok yang sudah memberinya kekuatan untuk dirinya.
"Rex!" Panggil Lubis dengan suara tegas, tak lama setelahnya sebuah sosok muncul begitu saja dan berlutut di hadapan Lubis.
"Tuan memanggil saya."
"Bantu Will untuk mengendalikan kekuatanmu, aku akan memberi tanggung jawab penuh atas dirinya, dan aku mau kau bisa mengembangkan kekuatannya."
"Seperti perintah anda tuan."
Lubis menoleh, menatap Will dengan senyum kecil di sana. "Kau dengar itu, dia akan menjadi mentor mu, dan mulai saat ini kau akan berada di bawah bimbingannya."
"Terima kasih tuan!"
Lubis mengangguk, lalu mengangkat sebelah tangannya ke udara. "Pergilah!"
"Ma-maaf tuan, sebelum itu, sa-saya membawakan liontin seperti yang anda perintahkan malam tadi." Ucap Will sembari berlutut dan menunduk. Lalu mengangkat tinggi tangannya di atas kepala dengan liontin yang dia dapat di sana.
Lubis tersenyum kecil, dia tahu Will akan memberikan itu kepadanya, tapi dari awal benda itu memang sengaja Lubis ambil hanya untuk alsan saja, tapi tetap saja benda itu masih berguna untuk perkembangan kekuatannya.
"Kau lebih membutuhkan dari pada aku, gunakan itu, dan Rex akan memberitahumu apa yang akan kau lakukan nanti."
"Baik tuan! Terima kasih sudah mempercayakan benda sekuat ini untuk saya!" Will tidak tahu lagi harus berkata apa, membantah pun tidak ada gunanya.
"Pergilah, segera kuasai kekuatanmu, karena aku membutuhkan kekuatan itu."
"Baik tuan!"
Rex yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik langsung mendatangi Will, meraih pinggang anak itu dan membawanya pergi dari sana secepat mungkin.
Tinggalkanlah sekarang Lubis dan juga Kail yang masih saja bertahan dengan kondisinya.
"Thuuann!" Pekik Kail kesulitan, dia sama sekali tak bisa bergerak atas belenggu kekuatan pengendali milik Lubis, kekuatan yang sangat dahsyat bahkan mampu mengendalikan Ozil tingkat tinggi yang memiliki pemikiran selayaknya manusia.
"Haha, aku melupakanmu Kail!" Tawa Lubis membahana. Lalu setelah dia mengangkat tangan kirinya ke udara, tubuh Kail bisa di gerakkan seperti sedia kala.
"Tuan jahat!" Rengek Kail lalu melompat kearah Lubis dengan manja. "Kenapa tuan tega melakukan itu pada ku?" Tanya wanita yang kini sudah merubah wujudnya menjadi manusia lagi, dia masih bergelayut manja di lengan kanan Lubis yang hanya terkekeh di sama.
"Itu peringatan untukmu yang selalu saja membuat keributan tiap kali aku membawa anak baru untuk kita."
Kail mengerucut bibinya. "Aku hanya ingin tahu sampai mana kekuatan dari anak itu, anak yang kata tuan memiliki potensi untuk mengalahkan Rex si serigala kepercayaan tuan."
"lalu bagaimana menurutmu?"
"Dia payah, dia lemah, dan bodoh, bahkan dia mengabaikan kekuatan sebesar itu tanpa tahu cara mengendalikannya, jika dia bertemu Ozil tingkat dua aku yakin dia akan mati dengan sangat mudah."
"Aku tidak menanyakan pengalamannya, Kail. Yang aku tanyakan bagaimana kekuatan yang ada dalam dirinya."
Kail terdiam sesaat, dia seolah menimbang apakah kekuatan dari Will sehebat itu. Seperti yang tuannya katakan sebelum mereka bertemu. Bahkan Lubis sangat membanggakan Will saat pertemuan keluarga beberapa waktu lalu, mengatakan jika sebentar lagi ada anak yang luar biasa bergabung ke dalam keluarganya. Hal itu tentu saja membuat Kail merasa penasaran dengan ucapan Lubis dan sengaja menyambut anak itu sendirian.
"Dia memiliki pontensi, seperti yang tuan katakan, hanya saja dia belum bisa menggunakan kekuatannya, jika dia bisa berkembang apalagi bisa menyerap kekuatan dari liontin itu, aku yakin dia akan menjadi prajurit yang tanggung dan pantas berada di sisi tuan."
Lubis tertawa. Seperti yang dia harapkan dari seorang anak yang mampu menyerap darah murni dari dirinya, sangat berbeda dari Kail Rex dan yang lain, manusia yang sudah bermutasi menjadi Ozil dan Lubis beri kesempatan untuk hidupnya kembali. Lalu dari sebagian mereka menjadi setengah Ozil yang mampu menggunakan kekuatannya dan mengendalikan dirinya dengan pemikiran selayaknya manusia normal.
Will adalah anak yang masih murni dalam wujud manusia dan mampu menyerap darah murnini dari dirinya secara langsung, tidak ada manusia yang bisa menyerap darah murninya.
"Aku tahu itu, kenapa aku mempercayakan anak itu pada Rex, karena aku yakin dia bisa membangkitkan kekuatan sebenarnya dari Will."
"Lalu, apa tujuan tuan setelahnya?" Masih banyak hal yang tidak pernah Kail tahu dari tuannya, dia memiliki sisi yang sulit di tebak, apapun pergerakan dari Lubis tak pernah dia tahu, bahkan tujuh dewan sekalipun tidak ada yang tahu. Lubis adalah orang yang bergerak dengan keinginannya sendiri.
"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati apa yang ada, bersenang-senang dan mendapatkan semua formula yang ada." Lubis menoleh pada Kail dengan mata menyipit, wanita itu masih saja bergelayut manja di tangannya, tanpa peduli siapa Lubis sebenarnya.
"Aku hampir lupa, apa tugasmu selama ini sudah kau jalankan?" Tanya Lubis setelahnya.
"Tentu saja, aku dan Rex sudah mulai bergerak untuk memberi peringatan dan mengeksekusi tiap petinggi tanpa mereka ketahui. Kamu bergerak seperti yang tuan perintahkan."
"Dan hasilnya?"
"Kota Edelos sudah mulai kondusif, para petinggi yang korup dan sering menyebar fitnah mengatasnamakan warga tak bersalah sudah kami eksekusi langsung, sekarang kita itu berjalan seperti sedia kala, aku dan Rex juga sudah meninggalkan anak buah di sana, jadi semua sudah dalam kendalio kita."
Will mengangguk, tujuan dia hidup adalah untuk menyingkirkan para bangsawan yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan kekayaannya sendiri. Mengabaikan bagaimana menderitanya rakyat dan seolah tidak peduli dengan keadaan ini, dia benar-benar muak di buatnya. Sekarang tak ada lagi yang bisa menghentikan kegilaannya, siapapun yang menghalanginya akan dia habisi.
Dia hanya ingin menciptakan kondisi di mana manusia bisa hidup dengan damai tanpa ada Ozil yang mencoba memangsa manusia dan membuat kehancuran manusia itu sendiri, Lubis sudah berjanji pada dirinya sendiri. Kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi.
"Aku akan memberimu Hadian atas kerja kerasmu ini, aku tidak akan pernah mengabaikan semua bawahan ku yang sudah bekerja keras untukku." Ucap Lubis dengan pelan.
Kail merasa beruntung, dia tersenyum puas, lalu menggerakkan jari lentik miliknya di d**a Lubis saat mereka berjalan masuk ke tengah-tengah kota, banyak orang-orang yang tinggal di sana dan di bawah perlindungan dari Lubis langsung, mereka menghormati Lubis sosok yang sudah menolong dan memberikan kesempatan mereka hidup.
Bahkan mereka semua langsung membungkuk saat Lubis berjalan melewati mereka. "Tuan!"
"Selamat datang tuan!"
"Tuhan memberkatimu tuan!"
"Sehat selalu untuk tuan!"
Dan masih banyak lagi pujian yang mereka berikan pada Lubis. Mereka benar-benar terbantu karena kehadiran Lubis yang mau memberinya tempat bernaung dan berlindung dari para Ozil.
Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang dengan kejam dibuang oleh tuan kota karena menganggap mereka sama sekali tak berguna. Dan pantas untuk di buang.
Kail dan Rex adalah kaki tangan Lubis dalam urusan mencari dan membawa para orang-orang terbuang untuk datang ke tempatnya.
"Apa aku boleh meminta itu tuan?" Tanya Kail dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin membuat Lubis marah apalagi salah paham dengan keinginannya.
"Apapun untuk kalian, tapi untuk kau, aku akan memperhitungkan lagi, kau hampir saja membunuh tamu berhargaku. Jadi aku memiliki hukuman untukmu nanti!"
"Tuan...." Rengek Kail saat merasa Lubis mempermainkan dirinya. "Kau sudah berjanji akan memberi hadiah untukku." Kail mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada, aku akan menghukum mu karena tindakan ceroboh mu itu!" Desis Lubis, sebisa mungkin dia bersikap adil dan tegas dengan segala tindakan yang bawahnya perbuat, tidak ada pilih kasih di antara mereka. Siapapun yang bersalah maka akan dengan tegas dia hukum. Apalagi sudah mengabaikan perintah darinya.
"Temui Diablo dan katakan aku menunggunya di ruangan ku!" Ucap Lubis setelahnya, dia menghilang tanpa suara, bergerak dengan sangat cepat bahkan sebelum Kail melihatnya.
"Tuan!" Teriak Kail merasa kesal karena tingkah Lubis yang selalu saja seenaknya. Padahal dia tahu, Kail sangat membenci Diablo, penyihir kurang ajar yang memiliki sifat m***m dan selalu saja menjahili dirinya dengan segala trik yang dia miliki.
"Penyihir m***m, awas saja kau nanti!" Gumang kail denhan wajah penuh dendam, dia akan melampiaskan kemarahannya pada Diablo, dewan tiga yang selalu saja bertindak seenaknya sendiri. Musuh bebuyutan kail semenjak dirinya datang dan bergabung dalam Perserikatan dewan.