Oz 5

1955 Kata
Ozil 5 Dunia tidak seramah yang mereka pikirkan. Bahkan saat dia berharap pada satu keadaan, nyatanya apa yang mereka percaya tidak pernah seperti yang selama ini mereka kira. Hanya dijadikan sebagai kambing hitam dan umpan untuk pijakan yang lebih tinggi lagi. Lubis menyadari keburukan itu sejak dia masih kecil. Bahkan kedua orang tuanya menjadi korban dari kekejian tuan kota yang hanya memanfaatkan keadaan, menumbalkan sebagian orang untuk kepentingan mereka dan keselamatan mereka sendiri. Padahal, orang-orang itu jelas tidak bersalam, Lubis adalah anak yang perah dibuang oleh tuan kota, lalu terlantar karena tidak memiliki tujuan saat dirinya sudah menjadi bahan Uci coba dari obat-obatan yang mereka buat. Mereka menyebutnya produk gagal dan hanya sampah dari gagalnya seorang prajurit yang harusnya lahir dari obat-obatan yang mereka buat, lalu mereka menuduh jika Lubis sudah terinfeksi Ozil dan mengharuskan dirinya di buang. Malam dingin dan gelap dia lalui, tanpa ada kekuatan dan dengan tubuh lemah, Ozil yang dia temui untuk pertama kali adalah Ozil dalam bentuk serigala yang haus akan darah, dia mengejarnya hingga dirinya terpojok, namun siapa sangka saat dirinya dalam keadaan genting dan memasrahkan hidupnya. Ternyata apa yang mereka tanam di dalam dirinya malah menjadi senjata yang ampuh, dia yang sudah termakan oleh Ozil serigala tadi masih bisa melihat dan memiliki kesadaran untuk melihat secara langsung perubahan dari Ozil yang sudah mendapatkan darahnya. Ozil serigala yang berubah menjadi bawahan pertamanya, dia Rex, nama yang Lubis berikan untuk serigala yang kini berjanji setia dengannya. Sayangnya, hanya beberapa Ozil saja yang mampu menyerap kekuatan dari darahnya, sedangkan Ozil yang tidak memiliki tekad dan perjuangan untuk hidup ataupun sembuh, mereka akan hancur saat darahnya menyentuh organ dalam mereka. Lubis memiliki satu kekuatan yang sungguh luar biasa, semua hanya karena semasa dirinya menjadi manusia, dia menerima serangkaian uji coba untuk obat yang manusia ciptakan dan untuk membangun tentara setengah Ozil yang mampu melindungi tuan kota dan raja. Banyak teman yang gugur karena gagal menahan semua obat itu. Hanya Lubis satu-satunya orang yang berhasil menerima obat-obatan itu hanya saja perkembangan buang lambat membuat dirinya dianggap gagal dan di buang. "Tuan!" Kail berteriak saat melihat lengan kanan Lubis terpotong. Dia saat ini tengah berburu, mencari kesenangan dan menyelamatkan beberapa orang yang di buang oleh bangsawan biadab, tidak ada ampun untuk mereka dan para Ozil yang sudah menyentuh tubuh manusia tak berdosa, yang kini tengah menangis di hadapannya. Emosi Kail yang tak tertahankan lagi meluap, dia meraih dua pedang yang ada di punggungnya, lalu dengan gerakan cepat Kail menebas satu Ozil yang sudah mencuri kesempatan untuk menyerang Lubis. Serangan itu mampu di tahan oleh Ozil yang ternyata memiliki kecerdasan tingkat dua, dimana perkembangan yang luar biasa untuk Ozil yang baru saja memakan daging manusia itu. Kail bertahan sebisa mungkin. Dia masih menunggu perintah langsung dari lubis untuk menggunakan kekuatannya agar bisa menghabisi Ozil ini, tapi saat melihat sang tuan yang tak ada pergerakan di sana, Kail tak bisa berbuat banyak selain bertahan dan terus bertahan dari serangan Ozil yang kini menyerangnya dengan kekuatan yang luar biasa. Lubis terdiam. Dia fokus untuk menumbuhkan lengannya, sayang kekuatan regenerasi yang dia miliki tidak bisa dia gunakan sekarang. Terlebih ada syarat yang harus dia lakukan untuk menumbuhkan lengannya lagi. Dia menatap sosok wanita yang tengah melindungi anaknya di hadapannya, dua sosok yang baru saja dia lindungi tadi. Karena dia sosok ini juga Lubis harus merelakan lengannya. Bagaimanapun juga melihat bagaimana seorang ibu melindungi anak adalah sesuatu yang sangat menyentuh untuk Lubis. Dia akan melindungi sisa saja yang ada di tempat ini. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Lubis dengan suara berat dan membuat wanita itu bergetar. "Ti-tidak apa-apa tuan." Ucap wanita itu dengan mata terpejam. "Te-terima kasih...." Syukurlah, Lubis bisa bernapas lega sekarang. Sesuatu yang seharusnya dia lindungi bisa dia lindungi dengan tangannya sendiri. "Tuan!" Kail yang kian terpojok berteriak dengan kuat meminta izin secara langsung dari Lubis. Tapi pria itu diam saja. Jika dia mengeluarkan kekuatannya sekarang maka dia yakin, para manusia di sini akan takut akan keberadaan dirinya. Dia juga tidak bisa memerintahkan Kail untuk berubah di depan semua orang. Lubis beranjak, dia memejamkan matanya lalu berteriak dengan suara sedikit nyaring. "Rex, Will kemarilah!" Kail mengerutkan keningnya seolah tidak terima saat tuannya memanggil dua bawahan lainnya. "Tuan aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Izinkan aku menggunakan kekuatanku!" "Diam!" Kail terdiam seketika, apalagi saat Lubis bergerak dengan cepat dan membawa tubuh kail menjauh dari Ozil yang terus mendesaknya, lalu tak lama setelahnya Rex dan Will datang secepat yang mereka bisa. Dengan wujud yang semestinya. Mereka langsung menyerang Ozil yang memojokkan kail tadi. Dengan mudah Rex mematahkan segala serangan Ozil. Pun dengan Will, anak yang baru saja mendapatkan kekuatannya itu sudah mulai bisa mengendalikan kekuatan yang dia miliki. Bahkan sekarang pergerakan anak itu terlihat lebih terkendali dari yang terakhir kali Lubis lihat. "Tuan kenapa kau memanggil mereka! Aku bisa melakukan ini sendiri." Gumang Kail yang masih tak terima saat kesenangannya terganggu. Dia merasa sanggup menghabisi Ozil itu dengan tangannya sendiri dari pada harus sudah payah memanggil dua bawahannya itu. "Kau masih tidak mengerti maksudku?" Tanya Lubis dengan suara berat yang membuat Kail menelan ludahnya dengan kasar. Tatapan dan suara belum lagi tekanan dari Lubis membuat dirinya tak bisa berkutik saat itu juga. "Aku hanya ingin kau aman dari ketakutan para warga, dan menyelamatkan mereka tanpa ada ancaman yang mereka rasakan. Lalu aku juga ingin melihat sampai mana perkembangan Will saat ini." "Tua-" "Bisa kah kau tak membantah semua perintah ku Kail?" Tanya Lubis dengan suara berat. "Ma-maaf tuan." Jawab Kail sembari menundukkan wajahnya. "Lupakan. Lebih baik kau amankan para warga dan biar semua yang di sini ditangani oleh Will dan juga Rex." "Baiklah baiklah, seperti apa yang tuan perintahkan." Halah Kail yang segera melaksanakan perintah sang tuan, dia dengan segera mengevakuasi para korban dari serangan Ozil kali ini, menggunakan kendaraan yang masih bisa beroperasi mereka pergi dari saja, tentu saja dengan Kail yang menjaga mereka. Sedangkan Lubis, dia masih berdiri memperhatikan Will yang terus saja menyerang dan Rex yang seolah memberi bimbingan untuk Will, anak itu berkembang dengan pesat, bahkan cakarnya saja sudah lebih tajam dan kuat dari sebelumnya. Pergerakan anak itu juga lebih cepat dari yang terakhir dia lihat. "Mundur." Ucap Lubis saat melihat Ozil tingkat dua itu mulai melemah. Will dan juga Rex mengikuti perintah sang tuan, lalu dengan sangat cepat Lubis sudah berpindah di depan Ozil yang sekarat, tapi masih mencoba untuk menyerang. Lubis mencekik manusia rubah itu dengan tangannya, matanya berubah merah nyalang dengan aura membunuh yang luar biasa, lalu dia gerakkan lengan yang patah tadi dan meneteskan darahnya pada mulut Ozil tadi. Setelahnya Ozil itu terdiam, matanya memutih dengan mulut yang terbuka. Tidak ada harapan lagi. Lubis bergerak menjauh, dia berdiri di hadapan Wil dan juga Rex yang langsung berlutut di hadapannya. "Tuan!" Ucap mereka bersamaan. "Berdirilah." Rex dan juga Will mereka berdiri serentak, lalu mata Will membelai seketika saat melihat lengan Lubis yang putus. "Tuan, lenganmu...." Belum selesai Will mengucapkan kalimatnya, dia menoleh cepat kearah Rex saat mendengar suara robekan daging dan tulang yang patah. Rex memutuskan lengannya laku berlutut di hadapan Lubis. "Aku harap lenganku bisa berguna untuk menumbuhkan kembali lenganmu tuan." Sungguh. Sesuatu yang baru kali ini Will lihat. Sebuah kesetiaan yang tak pernah dia lihat sebelumnya, bahkan Rex rela mengorbankan anggota tubuhnya sendiri untuk sang tuan. Sedangkan dirinya. Will ikut berlutut tepat di sebelah Rex. "Maafkan aku yang tidak menyadari apa yang harus aku lakukan tuan." Lubis terkekeh pelan. "Lupakan. Hal ini hanya berlaku untuk Rex, aku tau kau ingin melakukan hal yang sama, tapi kau tidak memiliki kemampuan regenerasi yang bisa membuat bagian tubuhnya tumbuh saat mendapatkan darahku, jadi jangan sekali-kali kau melakukan apa yang Rex lakukan untukku." Sejujurnya Will iri, bagaimana bisa dia mengabdi jika melakukan hal seperti ini saja dia tidak mampu. Kenapa dia tidak memiliki kekuatan seperti Rex, dia harimau. Harusnya dia memiliki apa yang Rex miliki. Dia hanya diam, apalagi saat Lubis menyerap lengan Rex, mengubah daging itu menjadikan kekuatan untuk menumbuhkan tangannya. Kemampuan regenerasinya akan berkerja saat ada timbal yang dia berikan untuk pertukaran tubuhnya. Lalu saat lengan Lubis muncul, dia menggerakkan pelan, sebelum melukai jari telunjuknya dengan kuku hingga membuat darah segar keluar dari sana. "Buka mulutmu Rex!" Tanpa diperintah dua kali. Rex langsung membuka mulutnya, menerima satu tetes dari darah milik Lubis, sumber kekuatan dan nutrisi yang bisa dia gunakan untuk meningkatkan kekuatan dan mempercepat regenerasi dalam tubuhnya dan menumbuhkan kembali lengan yang sudah dia korbankan tadi. Pertukaran yang sungguh luar biasa, tidak ada yang dirugikan dari semua hal ini. Lubis seolah menjadi pemimpin yang luar biasa untuk mereka. "Will." Wil menoleh cepat dan menunduk saat Lubis menyebut namanya. "Kau sudah banyak berkembang setelah di beri arahan dari Rex, tapi masih banyak kekurangan yang kau miliki, aku ingin kau lebih cepat lagi untuk menyerap kekuatan yang aku berikan. Untuk itu." Lagi, Lubis melukai jari telunjuknya dan memberikan satu tetes darah itu untuk Will. "Aku akan memberimu sedikit nutrisi untuk membantumu berkembang." "Terima kasih tuanku." Will mendongak menerima satu tetes darah itu dan menelannya dengan cepat. Merasakan aliran kekuatan yang seolah meledak dalam dirinya, sensasi ini sensasi yang dia rasakan untuk pertama kalinya saat tubuhnya berubah menjadi harimau yang memiliki kekuatan luar biasa. Will merasakannya lagi. Sesuatu yang sangat dahsyat seolah akan meledak dalam dirinya. Sungguh, tidak ada yang lebih indah dari semua yang dia terima dari Lubis. Tuan yang selalu memikirkan mereka para bawahannya. "Oh...." Lubis menyeringai saat merasakan hawa baru beredar di sekitarnya, aroma nikmat sebuah kebangkitan yang selalu dia rindukan. Lubis tersenyum lalu menoleh menatap Ozil rubah yang tadi. Dia menatap nyalang. Lalu berjalan mendekat kearah rubah tadi. "Ku kira kau akan mati." Ucap Lubis saat melihat cahaya merah itu keluar dari tubuh Ozil tingkat dua tadi. "Ternyata kau memiliki tekad untuk bangkit. Seperti yang aku duga sebelumnya." Dia berdiri. Menunggu lahirnya bagian dari dirinya. Seperti Rex, Kail dan Will, mereka akan mendapat anggota keluarga baru yang mungkin akan berguna untuk keluarga mereka. "Rex!" Panggil Lubis dengan seringai yang luar biasa, seperti yang dia lakukan saat berhasil membangkitkan satu makhluk Ozil baru. "Ya tuanku." "Kau lihat. Betapa cantiknya dia, terlepas dari kesalahan yang dia lakukan sebelumnya, kini dia akan mengabdi dan melindungi para warga dari Ozil yang lain." Ucap Lubis dengan raut bahagia, dia berdiri merentangkan tangannya saat Ozil tadi mengapung ke udara, daging gempal yang menutupi tubuhnya tadi perlahan memudar membentuk satu sosok yang terlihat begitu indah di mata Lubis. "Kail mendapat saudara baru untuknya." Ucap Lubis dengan tawa membahana, apalagi saat sosok itu sudah berada dalam dekapannya. Lubis menunggu hingga mata bulu mata lentik berwarna putih itu bergerak perlahan dan membuka matanya, terlihat bola mata berwarna putih, dan surai putih yang menghiasi kepalanya, sungguh indah rubah di tangannya ini. "Tu-tuan...." Ucap serigala itu dengan suara terbata. "Selamat datang Birain, selamat bergabung dengan pasukanku." "Aku akan melayani mu tuan." Ucap serigala yang di beri nama Birain oleh Lubis. Dia bergerak turun, tak peduli dengan tubuh polos yang tak tertutup sehelai benangpun di sana. Dia berlutut di hadapan Lubis dengan sisa kekuatan dan kesadaran yang dia miliki. "Aku menantikan janji Setiani Birain." Lubis tersenyum puas. Saat menyaksikan bagaimana makhluk kuat ini terlahir di hadapannya. Sungguh sesuatu yang sangat cantik dan indah. Lubis menoleh menatap Rex yang masih berlutut di sana. Tepat di sebelah Will berlutut. "Tugasmu adalah menjala mereka berdua Rex. Mereka menjadi tanggung jawabmu mulai sekarang." "Seperti permintaan mu tuan, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka." "Aku menantikan itu darimu." Lalu tak lama setelahnya Lubis menghilang dari sana meninggalkan Rex dan Will bersamaan dengan Birain, membiarkan mereka melanjutkan latihannya, karena Lubis memiliki urusannya yang harus segera dia selesaikan. Dia harus memanggil delapan dewan untuk membicarakan langkah selanjutnya yang akan dia lakukan. Penyerangan harus segera dia lakukan atau, dia akan terlambat dan kehilangan banyak warga yang bersalah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN