Ozil 6.
Ruangan yang hanya memiliki satu meja bundar dan sembilan kursi di sana terlihat sudah terisi dengan beberapa sosok yang duduk di tempat mereka masing-masing, sesuai kekuatan dan jika kemampuan serta tingkatan yang mereka capai, bukan hanya sosok berupa manusia, bahkan sejenis Ozil dengan tingkatan yang bukan lagi seperti Ozil lainnya.
Mereka adalah delapan dewan yang terkumpul dan menjadi pasukan elit yang memimpin beberapa pasukan di bawah mereka, kesepakan orang yang terdiri dari berbagai fondasi yang di bentuk secara acak oleh Lubis. Mereka adalah sosok yang terpilih untuk menduduki tahta tertinggi dan memerintah seluruh pasukan, memiliki misi dan pekerjaan mereka sesuai bidang yang di tentukan.
Lubis memang mengembangkan tugas yang tidak main-main kepada mereka, sesuatu yang tak bisa dianggap sebagai hal remeh, apalagi kerajaan semakin gencar melakukan penyerangan pada mereka, sesuatu yang sudah sangat lama tak terjadi. Belakang ini kerajaan mengirim pasukan bersenjata lengkap dengan keterampilan yang luar biasa untuk membasmi mereka yang dianggap berbagai pengacau.
Padahal jika dipikir kerajaan lah yang harusnya menanggung semua beban dan rasa malu itu sendiri. Mereka yang sudah menciptakan makhluk tak normal bermunculan, merubah beberapa jenis makhluk hidup bermutasi membentuk sebuah gen baru dan menciptakan kekuatan yang menghancurkan, semua terjadi hanya karena keegoisan suatu wilayah untuk merebutkan kekuasaan dan akhirnya mereka berlomba-lomba untuk menciptakan sebuah senjata yang menakutkan.
Bukan hanya nuklir, mereka juga menciptakan pasukan perang yang sudah di modifikasi menurut sains yang akhirnya berhasil menciptakan monster terkuat dengan kemampuan yang tak bisa di kalahkan oleh manusia biasa.
Sungguh miris, bahkan sampai sekarang. Setelah perang berakhir dan dunia mulai mencapai titik sebuah kehancuran. Mereka masih saja berlomba untuk menciptakan kekuatan baru dan juga kekuatan tiada batas. Seolah ingin melampaui akal sehat manusia dan menyentuh ke titik kekuasaan tertinggi yang mereka yakini. Dewa. Mereka ingin menjadi dewa di dunia mereka sendiri dan mengendalikan semua dalam genggaman mereka.
Tanpa mereka sadari. Mereka hanyalah seonggok manusia yang hanya memiliki kemampuan dan batasan dalam setiap pergerakan. Lalu kemunculan para Ozil malah membuat mereka semakin berambisi untuk menjadi mutasi gen dalam level paling tinggi. Menciptakan serangkaian formula untuk mengembangkan kekuatan agar kekuatan tempur mereka meningkat. Lalu setelah semua itu terjadi, siapa yang menjadi korban?
Tentu saja rakyat tak berdosa yang akan menjadi korban atas keamanan dari senjata mematikan itu. Mereka jelas tidak peduli, jika raja sudah mengeluarkan titahnya maka tentara yang setia akan melakukannya dengan senang hati tanpa ada sebuah keterpaksaan. Mereka akan dengan sangat setia melayani sang raja.
Ruangan itu selalu hening tiap kali tuan mereka menyuruh mereka untuk berkumpul. Tak ada yang berani bergerak atau mengucap sepatah katapun sebelum tuan memerintahkan mereka untuk mengatakan hal itu.
Lubis baru saja tiba, pintu utama terbuka secara tiba-tiba setelah dirinya tiba. Hawa keberadaan dan langkah tanpa suara selalu saja membuat delapan dewan harus menahan napas untuk beberapa detik saat hawa membunuh dari sang tuan menguar dengan sangat kuat, membuat mereka terdiam dan terpesona atas kekuatan maha dahsyat yang sudah Lubis dapatkan.
Untuk mendapatkan posisi tinggi ini jelas butuh sebuah pengalaman yang luar biasa atau malah kerja keras tanpa henti. Bahkan Lubis nyaris benar-benar merangkak untuk mendapatkan semua yang dia butuhkan.
Dan sekarang setelah semua sudah ada di dalam genggamannya. Dia akan memulai segalanya, menyingkirkan para manusia kotor yang sudah menyakiti dirinya dan juga ibunya dulu. Tidak ada ampun bagi mereka, apapun akan Lubis lakukan.
Dia memilih duduk di kursi singgasananya, menopang kepala dengan tangan kanan dan menatap tujuh sosok di sana, karena Rex tidak hadir dengan kesibukannya. Mereka tidak akan ada yang protes saat Rex tidak hadir karena mereka tahu siapa Rex sesungguhnya.
Mereka terdiam dalam hening, menunggu Lubis angkat suara, hingga sampai saat pria itu mengangkat tangan sebelah kirinya dan menunjuk salah satu sosok yang ada di sana.
"Aku ingin mendengar laporan darimu dulu Sun." Ucap Lubis dengan nada berat dan pelan.
Sun, manusia Ozil dengan mutasi monyet itu berdiri dengan segera, dia menunduk sebentar sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap Lubis.
"Seperti permintaan anda tuan, saya sudah member akan sisi timur, menyelamatkan warga di sana dan mengevakuasi yang selamat. Beberapa Ozil sudah saya hancurkan dan untuk Ozil tingkat dua bahkan sampai tingkat empat sudah saya berikan ke bagian penelitian. Hanya saja ada masalah yang menghambat tindakan kita, para tentara kerajaan mulai menyadari pergerakan kita dan mulai mengincar posisi saya, untuk saat ini semua bisa saya atasi, tapi untuk selanjutnya saya tidak yakin. Kita kekurangan jumlah pasukan tuan."
Lubis terdiam, dia tahu kerajaan pasti akan bergerak, dengan pasukan tentara yang sudah di perkuat dan senjata yang sudah mereka perbarui tentu saja menghambat tujuan Lubis. Dia harus mengatur ulang rencananya dan mencari celah untuk bisa meruntuhkan gerbang sisi timur, menyelamatkan semua yang tersisa di sana dan menghancurkan tuan kota yang semakin hari semakin tamak, bahkan mereka sudah tidak memikirkan Ozil lagi. Mereka hanya memikirkan hidup mereka tanpa peduli para warga yang semakin kelaparan.
Lubis menghela napasnya pelan, dia menoleh kearah wanita yang duduk tepat di sebelahnya, Diantika, Ozil rakun yang menjadi dewan ke tiga. Dia terlihat santai dengan keadaan ini dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Sun terlalu bodoh untuk mengatur serangan, aku yakin, jika kita tetap memberinya banyak pasukan. Dia tetap akan mengacaukan rencana yang tuan buat." Ucap Diantika lalu berdiri dari tempatnya.
"Tuan. Saya ingin mengajukan saran untuk mengatur ulang formasi, saya akan langsung menggantikan posisi sun, dan biarkan dia yang memburu beberapa Ozil untuk tambahan kekuatan kita, jika kita mengandalkan kera bodoh itu, maka tidak akan ada lagi kesempatan yang ada. Kita akan kehilangan segalanya."
Lubis setuju dengan hal itu, hanya saja dia tidak ingin menurunkan langsung Diantika untuk penyerangan. Dia jelas membutuhkan kekuatan Diantika untuk membawa Ozil kuat yang akan menjadi tambahan pasukannya nanti. Hanya dia yang bisa mencari bibit unggul untuk di kembangkan lagi.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkan itu, kau tuai di posisimu, hanya saja kau akan di bantu oleh Sun.
Lubis harus mencari siapa yang menjadi tombak kekuatannya, dia tidak bisa tinggal diam saja di saat seperti ini.
Bahkan semua dewan sudah memiliki tugasnya masing-masing, dia tidak ingin semua kacau hanya karena dia begitu gegabah.
"Rex!" Lubis hanya bisa berharap banyak dengan nama itu. Satu anggota dewan yang bisa dia percaya untuk mengemban tugas menggantikan sun.
"Rex menghadap tuan." Seperti namanya, dia adalah anggota dewan pertama, dengan kekuatan yang tak bisa di bandingin oleh kekuatan dewan lainnya. Rex adalah orang kepercayaan Lubis, dan akan mengemban tugas yang selalu dia berikan.
"Bagaimana perkembangan Will?"
"Anak itu berkembang dengan pesat tuan. Bahkan kekuatannya hampir mencapai titik yang bisa mengalahkan Sun dan Gery, saat ini."
"Apa dia bisa dikendalikan?"
"Tentu saja tuan. Kesetiaan dan dendam dalam dirinya memberi dorongan kuat untuk dia terus berkembang dan meningkatkan kekuatannya, dia hanya butuh pengalaman bertarung untuk bisa menjadi sosok yang mampu melayani tuan dengan kekuatannya."
Tentu saja seperti yang Lubis harapkan, dia tidak pernah salah dengan instingnya, Will adalah orang yang memiliki tekat kuat dan mampu mengembangkan potensi yang ada, sebentar lagi dia akan menjadi tangan kanannya dan orang yang akan dia percaya untuk bisa menjadi kekuatan tempur yang luar biasa.
Lubis tersenyum puas, dia hanya menatap sebagian anggota dewan dengan tatapan gelapnya. "Bawa Will, Kail dan beberapa pasukan dan bergeraklah ke sisi timur. Gantikan tugas sun dan hancurkan tuan kota di sana. Pikirkan rencana terbaik yang kau punya, aku percaya pada kekuatanmu."
"Seperti yang ada perintahkan tuanku."
"Pergilah!"
Saat itu juga Rex pergi tanpa suara dan bayangan. Sosok serigala terkuat yang tak pernah bisa dia di kalahkan oleh anggota dewan yang lain.
Semua masih terdiam. Tak ada yang berani mengucapkan sepatah kata sebelum mendapat perintah langsung dari Lubis, mereka takut dan tunduk akan kekuatan pria itu.
"Rolan, bagaimana dengan penghianat itu?" Kali ini Lubis melarikan tatapannya pada dewan yang memiliki wujud setengah tulang. Manusia yang pernah dibangkitkan oleh Lubis dengan kekuatan yang cukup menguras tenaganya. Dewan yang menduduki kursi nomor dua tepat di bawah Rex, dengan kekuatan yang sangat mengerikan. Dia bisa diandalkan untuk memburu atau mencari seseorang yang sulit untuk di temukan.
"Pasukan sudah berhasil menangkap pengkhianat itu tuan. Sekarang sudah berada dalam sel tahanan."
"Tahan dan tunggu perintahku selanjutnya."
Diantara makhluk setia pasti ada makhluk yang berhasil terhasut dan menjadi penghianat, bahkan sampai berhasil menggagalkan sebuah rencana. Daya yang Lubis tanamkan tidak sekuat seperti para dewan, mereka memiliki tingkat kesadaran yang nyatanya berhasil lepas kendali jika mereka terlalu jauh dari Lubis.
Hasutan kerajaan memang sungguh mengeringkan. Belum lagi mata-mata yang ditanamkan oleh pihak kerajaan dan membuat segala rencananya kacau.
Lubis terlalu peduli dengan rakyat yang terbuang. Hak itulah yang membuka celah dan menjadi sebuah kelemahan untuk Lubis, dia terlalu mengedepankan rasa empati dan kasihan hingga membuat dirinya selalu saja kecolongan dan membuat mata-mata semakin mudah masuk ke arena perlindungannya.
"Tasya. Bagaimana kekuatan senjata terbaru yang kau kembangkan?"
"Masih dalam percobaan tuan." Jawab Anastasya Dean ke lima yang memiliki rupa ular, memiliki kepintaran dalam seni senjata dan pernah menjadi teknisi handal di kerajaan, sayangnya sifat gilanya membuat dirinya terperangkap dan malah berubah menjadi Ozil, saat Lubis menemukan dirinya. Anastasya masih dalam tahap perubahan dan dalam keadaan sekarang. Beruntung saat Lubis memberinya kekuatan, dia masih menyimpan ingatannya dengan jelas. Dan hal itu tentu saja digunakan dengan sempurna oleh Lubis.
"Terus kembangkan, aku tidak ingin ada kegagalan lagi setelah ini, akan ada perang yang kita lakukan sebelum mendapatkan kedamaian yang aku inginkan! Dan yang lain, ku harap kalian menyelesaikan tugas kalian masing-masing."
"Siap laksanakan tuan!"
Lubis beranjak. Dia me ada bosan dengan segala hal yang menyangkut kepemimpinan, dia ingin berburu dan mencari kesenangan untuk menghancurkan para Ozil yang sudah tak terkendali lagi.
Dia rindu dengan suasana keributan yang tercipta karena kekuatannya.
"Sherin!"
"Saya tuan."
"Siapkan armor mu dan kita akan bersenang-senang malam ini."
"Seperti keinginan mu tuan!"
Sosok manusia rubah itu pergi dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Lubis berdiri sebentar. Lalu mengangkat tangan kirinya yang sudah menyerupai monster. Dia menggenggam erat tangan itu. Berjanji dalam dirinya. Dia akan mengakhiri semua ini dan membersihkan kekacauan yang ada. Dia akan menciptakan dunia baru tanpa ada ketakutan dan keresahan. Semua akan dia kendalikan di bawah tangannya.
Raja. Tujuan utamanya adalah mengakhiri masa kepemimpinan raja yang terus saja membuat rakyat menderita, dia butuh kekuatan tambahan, dan dia butuh dukungan. Maka dari itu. Dia akan bergerak sendiri dan menyusup dari berbagai sisi, mengumpulkan informasi dan kekuatan. Jika dia diam di tempat ini maka selamanya dia tidak akan berkembang, dia akan terus di diam tanpa ada pergerakan yang pasti.
Sepertinya dia harus turun tangan mulai dari sekarang.
Tapi dia butuh sedikit waktu lagi. Kekuatan dalam dirinya belum sepenuhnya bangkit. Dia harus memperkuat kekuatannya untuk menduduki puncak tertinggi di kerajaan ini.
Lubis menggerakkan tangannya, laku sebuah bayangan hitam menyerupai lorong Hitam muncul di sana. Dia melangkah masuk, dan seketika tubuhnya sudah berada di tempat lain, di tengah hutan tempat di mana para Ozil tingkat tiga berkumpul. Dia akan mengamuk sesuka hatinya. Dan mengumpul Ozil yang mampu bertahan untuk menjadi sebagian dari dirinya.
"Shadow of darkness!" Ucap Lubis mengaktifkan mantra sihir yang membuat beberapa tukang bayangan muncul dari dalam tanah, lalu tak lama setelahnya Sherin datang dengan armor dan pedang di tangannya, dia adalah makhluk pelayan paling spesial yang dimiliki Ozil. Kemampuan wanita ini tak bisa di bandingkan dengan Rex, walau daya tahannya rendah, tapi kekuatan dalam diri dan kemampuan regenerasi yang dia miliki sangat cepat, sungguh ciptaan yang sangat sempurna.
"Aarggg!" Teriakan para Ozil yang merasa terganggu mulai terdengar keras dan memekakkan telinga. Lubis tersenyum kaku mengangkat tangan kirinya dan saat itu pasukan bayangan berlari menyerang tanpa ampun. Begitu juga Sherin, kemampuan berperang wanita itu sungguh luar biasa. Dia tidak memiliki rasa sakit yang membuat dirinya gentar.
Beberapa pukulan yang dia dapatkan nyatanya tidak dia pedulikan sama sekali. Dia terus menyerang tanpa ampun. Mengabaikan goresan yang para ozil berikan, dia tetao mengayunkan pedang minta dan mengotak tiap bagian tubuh dari Ozil.
Saat tubuhnya terluka. Maka dalam hitungan detik Sherin akan mendapatkan tubuh baru, kemampuan yang sungguh lua biasa, bahkan Rex saja tidak memiliki kekuatan itu.
Lubis tersenyum, inilah indah yang dia maksudnya, membantai puluhan Ozil tingkat tiga dengan tangannya sendiri. Melihat begitu banyak teriakan kesakitan dan beberapa makhluk Ozil yang sudah berkembang ambruk satu persatu. Sungguh sesuatu yang sangat indah di matanya.
Dia menyeringai. Tatapannya berubah menjadi gelap, dan saat itu dengan a berhasil merapal mantra mengambil satu bangkai Ozil intim dia bangkitkan menjadi pasukan bayangannya. Dia butuh lebih banyak Ozil tingkat tinggi untuk menambah pasukan terkuatnya.