Oz 7

1953 Kata
Ozil 7. Selama hidupnya Lubis hanya berpikir bagaimana bisa lolos dari bayangan kerajaan, lepas dari belenggu dan siksaan yang tiada batas, yang dia rasakan hanyalah dendam dalam diri dan ingin melampiaskan segala hal yang ada di dalam dirinya, apalagi saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang ibu di korbankan untuk bahan percobaan yang membuat wanita yang telah melahirkan dirinya itu binasa saat itu juga. Dendam dalam diri Lubis semakin menjadi, apa lagi saat dirinya di buang dan menyadari saat dirinya memiliki kekuatan baru, dia berjanji akan membalaskan dendam yang selama ini dia pendam. "Argh!" Lubis Tersenyum miring menatap Ozil yang saat ini ada dalam genggaman tangannya. Dia mencekiknya dengan kuat dan mengangkat Ozil tingkat tiga yang memiliki wujud mendekati manusia. Lalu dengan sangat mudah, Lubis menggerakkan tangannya dan membuat leher Ozil itu patah dengan mudah. Dia tersenyum, lalu melempar makhluk sialan yang sudah membinasakan banyak tempat di setiap desa. Pelaku yang selalu menghancurkan segala hal yang dia temui. "Jangan menyimpan dendam padaku, aku hanya membebaskanmu dari belenggu kesakitan yang kau rasakan selama ini." Dia melangkah, sembari merapal mantra, dan setelahnya Ozil yang mati tadi terbungkus api hitam dan bangkit menjadi pasukan bayangannya. Lubis harus mengumpulkan banyak pasukan untuk peperangan yang akan datang. "Sherin, bagaimana situasinya?" Tanya Lubis melangkah mendekat kearah wanita rubah yang saat ini tengah bersenang-senang dengan dua Ozil tingkat tiga lainnya. "Aku sedang bersemangat tuan." Yah, seperti itulah seharinya bawahan yang paling bisa dia andalkan, walau tubuhnya sudah penuh dengan luka goresan dan sayatan dari cakaran para Ozil, dia tetap bersemangat. Sayangnya kemampuan regenerasi dari Sherin memiliki batasan untuk digunakan, tidak selamanya dia bisa menggunakan kekuatan itu dengan mudah. Lubis tak menjawab, dia hanya memperhatikan bagaimana Sherin mengayunkan pedangnya dengan sangat keras. Menghunus benda tajam itu ke arah tangan Ozil yang menyerangnya hingga menembus tangan itu dengan sangat mudah. Sherin melompat untuk menghindari serangan lain. Lalu berdiri tepat di pundak Ozil dan menusuk leher Ozil itu dengan sangat mudah. Satu tarikan pedang dan setelahnya kepala Ozil itu terlepas dari tempatnya. Sayangnya serangan itu sama sekali belum cukup. Dia harus menusuk gumpalan daging lemak di bagian d**a Ozil dengan pedang titanium buatan Tasya, si mekanik handal kepercayaannya. Sherin harus berusaha untuk menembus pertahanan dari Ozil tanpa kepala itu. Nyatanya walau tanpa kepala yang menempel di sana, Ozil itu masih bisa bergerak dengan mudah. Belum lagi Ozil yang satu lagi semakin gencar menyerang Sherin tanpa memberi jeda untuk bernapas. Sayangnya. Seiring pergerakan yang Sherin berikan, bukannya semakin melambat pergerakan Sherin malah semakin bertambah cepat. Setiap pertarungan yang dia alami malah semakin menambah kemampuan yang dia miliki. Sherin termasuk bawahan Lubis uang bisa berkembang dengan cepat saat berada di pertarungan secara langsung, alasan kenapa Lubis selalu membawa bersamanya adalah karena hal itu, belum lagi Sherin memiliki kebiasaan buruk, saat dirinya terlalu lama bertarung dan kemampuannya semakin meningkat. Biasanya wanita itu akan lepas kendali dan tak bisa mengontrol kekuatannya, hanya Lubis satu-satunya orang yang bisa dengan mudah menghentikan kegilaan Sherin. Lubis masih melihat semuanya dalam diam, dia membiarkan Sherin terus menyerang tanpa henti, menyerang dan menebas apa yang ada di hadapannya. Ozil tanpa kepala sudah tergel tak tak berdaya saat jantungnya tertembus pedang milik Sherin beberapa waktu lalu. Kini Sherin bisa lebih fokus dalam serangannya. Menyerang Ozil berwujud beruang tanpa mengenal ampun. Tidak peduli seberapa kuat dan tebal daging Ozil itu. Sherin terus saja menghunuskan pedangnya. Serangan tak berarah tapi be hasil menorehkan luka gores dan sayatan yang cukup dalam di sana, dia menyeringai kegirangan. Inilah yang dia inginkan selama ini. Sensasi ketakutan dan kepuasan seolah saling berpacu dalam dirinya. Menciptakan sebuah debar yang membuat dirinya lupa akan kegilaan yang ada, wanita itu terus menyerang, bahkan tak peduli saat Ozil beruang itu berhasil memutuskan lengan sebelah kirinya. Sherin tidak memikirkan rasa sakit itu, sensasi bertarung yang luar biasa membuat dia lupa akan rasa sakit yang dia rasakan. Jangan pedulikan hal sepele macam itu karena beberapa saat lagi lengan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Seringai buang Sherin berikan semakin buas, pergerakannya semakin cepat dan membabi buta. Hingga tak lama setelahnya dia berhasil menghunuskan pedangnya menusuk bagian d**a Ozil beruang. Awalnya hanya menancap saja, lalu Ozil bergerak mundur dan melempar tubuh Sherin jauh ke depan, ada jeda serangan yang Sherin berikan saat dirinya terlempar. Dia menatap dengan sorot tajam saat dirinya sudah berlutut di atas tanah, mencari ancang-ancang sebelum berlari dengan cepat dan memberi tendangan pada pedang yang menancap di sana. Satu tendangan berhasil menghabisi Ozil yang tadi. Dia menyeringai. Menarik pedang dan terus menebas tubuh Ozil itu tanpa peduli pada kenyataan jika Ozil itu sudah mati. Dia terus saja mengayunkan pedangnya, dan saat itu Lubis sadar jika Sherin sudah tak terkendali lagi. Dia berjalan dengan santai, memancarkan aura kegelapan yang sungguh mencekam, keberadaan Lubis tentu saja membuat Sherin menoleh dengan cepat. Sorot mata yang tajam seolah makhluk buas tak bertuan. Dia menatap Lubis seolah pria itu adalah mangsa selanjutnya, melupakan jika Lubis adalah tuannya sendiri. Lalu tanpa menunggu lagi. Sherin bergerak dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang. Menyerang Lubis tanpa aba-aba, sayangnya kekuatan Sherin bukanlah apa-apa di hadapan Lubis. Tebasan pedang Sherin dengan mudah Lubis tangkar. Lalu dengan satu gerakan kecil Lubis berhasil membuat Sherin tak sadarkan diri dan menangkap wanita itu. Sudah saatnya Sherin beristirahat setelah pertarungan panjang tadi, pengalaman dan perkembangan yang Sherin berikan sangat berguna untuk dirinya di kemudian hari. Lubis menoleh, menatap dua Ozil yang sudah tak bernyawa itu dengan tatapan gelap, dia kembali merapal mantra dan setelahnya dia sosok itu berubah menjadi pasukan bayangan yang lain. Yah sepertinya hari ini cukup sampai di sini untuk berburu Ozil dan membuat pasukan baru untuk, waktunya beristirahat dan membawa Sherin untuk menenangkannya. --- "Rex, kemana kita akan pergi?" Kail berjalan di belakang tubuh Rex yang kini memimpin dengan pergerakan cepat. Mereka menuju ke sebuah wilayah yang tidak di ketahui oleh Kail. Dia Will dan juga Rex, mereka semua bergerak menuju satu lokasi yang sangat asing di mata Kail. "Ke sisi timur. Tuan memberi perintah untuk kita membereskan sisi timur." "Sisi timur?" Tanya Kail berusaha untuk mengingat sesuatu. Dia seolah pernah mendengar sisi timur di sebuah kota kecil yang di pimpin oleh tuan kita utusan raja. Yang kail ketahui sisi timur memiliki sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan banyak orang yang mati sia-sia di sana karena mencoba menerobos masuk pintu gerbang hanya untuk meminta perlindungan. "Bukankah sisi timur sudah dalam kendali, Sun, kenapa harus kita yang turun tangan?" "Tuan memerintah secara langsung. Menggantikan Sun yang sepertinya tidak berhasil untuk melakukan tugasnya." "Berapa orang yang kau bawa?" Tanya Kail. Dia melirik kearah Will. Anak itu sedari tadi diam saja. Dia lebih banyak diam dari terakhir kali mereka bertemu. Dan sekarang, Kail merasa jika Will sudah berkembang sangat pesat. Latihan macam apa yang sudah dia lalui hingga membuat anak itu bisa memiliki kekuatan seperti ini. "Tiga ratus pasukan bayangan." "Sebanyak itu?" "Ya." "Apa kau yakin? Apa jumlah itu tidak terlalu banyak?" "Setidaknya kita bisa berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan." "Lalu apa rencananya?" Tanya Kail, ini bukan pertama kali mereka melakukan tugas bersama. Kail malah lebih sering melakukan penyerangan bersama dengan Rex, mereka adalah pasangan yang luar biasa dan menjadi duo yang ditakuti oleh para dewan. Hanya saja Kail tak terlalu suka dengan urusan dewan hingga membuat dirinya memilih berada di bagian bawah dan lebih bebas melakukan apapun yang dia suka. "Seperti yang biasa kita lakukan, awasi sergap dan hancurkan." "Apa tidak ada ide lain. Kau selalu saja melakukan dengan cara yang sama, aku sampai bosan melakukannya." "Karena hanya cara itu yang membuat misi kita berjalan dengan lancar." "Lalu siapa target kita kali ini." "Tuan kita dan penasehat yang selalu mengendalikan tuan kota dengan kata-kata busuknya. Aku sudah mendengar beberapa informasi tentang mereka dari beberapa orang yang sudah aku sebar di kota itu. Jadi kita tinggal masuk dengan tenang. Bergerak perlahan dan langsung menyergap dua orang itu." "Lalu pasukannya? Ku dengar sisi timur memiliki pasukan kuat yang tak bisa di anggap remeh." "Tenang saja, aku sudah menguasai rute perjalanan kita kali ini. Kau hanya tinggal mengikuti apa yang aku katakan." Kail memilih diam. Selama ini dia memang hanya mendengar kata Rex saja. Apapun yang manusia serigala itu katakan selalu berhasil membawa dirinya ke gerbang keberhasilan. Tak ada lagi yang dia ragukan, hanya saja kali ini Kail meragukan sesuatu. "Lalu anak ini?" Ya siapa lagi kalau bukan Will, anak yang baru mendapat kebangkitannya kemarin sudah ikut dalam misi penyerangan? Apakah ini semacam lelucon yang di buat oleh Rex, ataukah ini memang perintah langsung dari tuan Lubis? "Kau tenang saja, dia tidak akan mengganggumu misi kita. Malah kita sangat membutuhkan kekuatan dari anak ini." "Apa ini juga perintah dari tuan?" "Ya." Jika sudah seperti ini kail bisa apa. Dia hanya bisa membiarkan Will ikut dalam penyerangan, terlebih dia tidak perlu susah payah untuk mengawasi Will, karena bagaimanapun juga anak ini adalah tanggung jawab Rex. Mereka terlur berlari melewati sisi hutan dalam senyap, tak ada langkah yang terdengar, lalu saat Rex melirik Will, anak itu seolah paham. Dia mulai bertindak, mencoba menekan hawa keberadaanya seperti yang Rex ajarkan beberapa waktu lalu. Sungguh pencapaian yang luar biasa, Kail bahkan sampai tercengang, hanya dalam waktu beberapa jam saja. Will sudah berhasil menunjukkan bakatnya, apakah ini yang namanya istimewa sejak bangkit. Ah... melihat hal itu membuat Kail merasa iri. "Kail!" "Ah maaf!" Kail sadar, jika dia harus segera menyembunyikan hawa keberadaanya. Mereka harus bergerak dengan perlahan dan benar-benar bersih, jangan sampai keberadaan mereka di ketahui oleh anjing kerajaan yang memiliki penciuman setajam Ozil. Dasar kerajaan sialan. Kenapa mereka seolah memiliki kekuatannya tak terbatas, bahkan senjata mereka lebih canggih dari apa yang mereka pikirkan. Rex membawa dua bawahannya itu ke sebuah bukti, mereka berhenti di sana. Rex ada di bagian depan, sedangkan Will dan Kail ada tepat di belakang Rex. Kail mengedarkan pandangannya, mencoba melihat sekitar dan mempelajari lokasinya saat ini. Dia harus mengingat tiap sudut yang mungkin bisa menguntungkan untuk dirinya. Jangan sampai dia kehilangan momen karena ceroboh tanpa mempelajari keadaan sekitar. "Apa ini tempat pertemuannya?" Tanya Kail yang sudah berhasil mempelajari keadaan sekitar, penglihatan yang tajam tentu saja mempermudah dirinya untuk melihat segala hal dalam satu kali tatapan, belum lagi ingatan yang tajam membuat dirinya bisa mengingat dan merancang sebuah rencana hanya dengan satu kali lihat. "Kita akan bertemu beberapa orang ku di sini." "Sejak kapan kau mengerahkan mereka?" "Sejak aku merasa Sun tidak bisa diandalkan." "Ck! Kau selalu saja seperti itu, pantas tuan selalu bangga denganmu." "Jangan menggerutu!" Desis Rex, mereka berjalan dengan pelan ke sebuah semak yang ada di sisi bukit, lalu Rex menggunakan kekuatan dalam dirinya untuk membuka sebuah tuas yang ada di sisi tebing yang ada di balik semak itu. Pintu kecil terbuka, dan mereka berjalan masuk. "Cerdik seperti yang aku banggakan dari mu Rex." "Jangan terlalu memujiku, kita akan segera mengetahui semua informasi yang di kumpulkan oleh orang-orang ku, dan kau segera susun rencana setelah kau mengetahui tiap sudut kota. Aku tak ingin serangan kita kali ini gagal hanya karena kecerobohan mu seperti bulan lalu." Kail meringis kecil. Sepertinya Rex akan terus mengungkit kegagalannya dalam penyerangan bulan lalu, padahal saat itu Kail hanya sedikit ceroboh dan tidak memprediksi penyergapan yang membuat misi mereka hampir gagak jika Rex tidak bertindak lebih dulu. "Jangan ingatkan aku tentang kejadian yang membuatku kesal hanya karena mengingatnya saja!" "Kau harus sering mengingat kejadian itu agar kau tidak mengulangi kesalahan yang sama." "Ya ya ya. Mengoceh saja kau seperti kakek tua, Rex. Aku sampai muak mendengar celotehan mu itu!" Rex mendengkus, Kail memang seperti itu. Selalu menggampangkan segala hal dan membuat rencana mereka hampir saja berantakan karena tingkah santainya itu. Jika saja Rex tidak peduli dengan teman seperjuangannya, mungkin Rex sudah melaporkan tingkah Kail yang selalu semaunya sendiri itu. Sudahlah. Setidaknya Kail bisa berguna di dalam misi kali ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN