FORELSKET~09

1263 Kata
Ketukan pada pintu ruang kerjanya membuat Savalas mendongak naik dari komputernya dan melihat ke arah pintu yang masih berbunyi ketukan dari seseorang. "Masuk." Saat Savalas telah mempersilahkan, pintu berwarna hitam tersebut akhirnya terdorong kedalam dengan seorang perempuan yang berstatus sebagai sekertarisnya, berpakaian kantor yang cukup kasual dengan rambut hitamnya yang di sanggul sederhana. "Permisi pak, ada yang menelpone katanya isteri bapak ingin bicara." Lapor sekertarisnya yang bernama Lora itu. Mendengar penuturan dari Lora membuat Savalas langsung saja menganggukan kepalanya tanpa menunggu lama lagi. "Sambungkan segera ke saya." Ucapa Savalas dan langsung saja di anggukan oleh perempuan itu sebelum berlalu keluar untuk melakukan perintah dari bosnya. Savalas menduduki jabatan sebagai seorang Direktur marketing dalam pemasaran impor dan ekspor elektronik untuk menghubungkan barang - barang yang mereka produksi ke negara - negara maju. Saat deringan pertama telah berbunyi dari intercom telepon yang berada di atas mejanya langsung saja Savalas menyapa isterinya tersebut. "Hallo Clarinda ?." "Honey ?" Suara seseorang yang menyahuti sapaanya tersebut berhasil membuat kerutan di kening Savalas muncul saat mengenali suara dari perempuan lain yang di kenalnya bukan sebagai isterinya itu, melainkan adik iparnya sendiri. Dengan menghela nafas Savalas kembali membuka suaranya, sedikit enggan untuk berbicara pada kekasih gelapnya tersebut "Clarisa. Kamu kenapa ngomong ke sekertaris aku kalo kamu itu isteri aku ?" Dan hanya suara tawa kecil dari adik iparnya yang terdengar menanngapi kegusarannya. Suara dari Clarinda dan Clarisa memang tergolong sama juga begitupula dengan wajah mereka, hanya saja yang membedakan ialah saat Clarisa berbicara perempuan itu memiliki aksen barat yang sangat kental bahkan saat menggunakan bahasa indonesia, padahal baru setahun sejak kepindahan iparnya tersebut. Berbeda dengan Clarinda yang memang sangat berlidah indonesia. Jadi, wajar bila sekertarisnya itu tidak terlalu mengenal suara dari isterinya yang sebenarnya dan selingkuhannya. Bahkan Lora baru bertemu dengan Clarinda sebanyak dua kali saja, pertama saat mereka menikah dan Kedua saat Clarinda pernah datang berkunjung ke kantor Savalas bekerja itupun sudah hampir setahun lalu. Clarinda memang tipe isteri yang tidak ingin berkunjung dan jatuhnya hanya mengganggu pekerjaan suaminya itu. Baginya kantor adalah tempat bekerja jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. "Sekertaris kamu percaya - percaya aja tuh kalo aku ngaku sebagai isteri kamu. Kak Clarinda nggak pernah ketemu ya sama sekertaris kamu ?" Tembak Clarisa, karena memang dirinya tahu jika saudaranya itu terlalu besar memberi ruang privasi pada Savalas atau mungkin terlalu mempercayainya. Lihat. Bahkan sekarang Clarinda kecolongan mengenai suaminya yang di percayainya itu. "Oh iya honey. Ada yang pengen aku omongin. Aku ke kantor kamu ya ?" "Aku sibuk. Nanti aja." Hindar Savalas. Sebenarnya pekerjaan Savalas tidak terlalu memadat hingga dirinya tidak memiliki waktu luang bahkan proyek sudah selesai, hanya tinggal menunggu keputusan dari CEO nya yang sepertinya masih merevisi persiapannya tersebut sebelum di jalankan. Alasan sebenarnya adalah Savalas sedang tidak ingin bertemu dengan kekasih gelapnya tersebut terlebih dengan pembicaraan mereka sehari lalu. Itu mengganggunya, adik iparnya itu tidak pernah meminta kepastian mengenai hubungan sembunyi mereka selama di LA dan Savalas juga tidak pernah memikirkan hal tersebut. Tetapi, saat Clarisa mulai membicarakannya dirinya mulai terganggu. Berhubungan selama setahun dengan Clarisa membuatnya baru mengenali sosok adik iparnya yang tergolong nekat itu dan bahkan menggampangkan semua hal. Seperti dengan beraninya memancing kecurigaan Clarinda dengan menelponnya bahkan memberikan lingerie merah bekas percinfaan mereka. "Ih nggak usah bohong, aku tahu kamu kangen sama aku." Rajuk Clarisa dengan suaranya yang dimaniskan tetapi, tidak cukup membuat suami kakaknya tersebut luluh dan mengiyakan. "Kantor kamu aman loh buat pertemuan kita. Kak Clarinda juga pasti jarang kesana kan ? Aku bawain makan siang ya honey biar kita bareng - bareng lunchnya." Dan panggilan di tutup. Savalas hanya bisa menghela nafas sebelum kembali menekan intercome nomor satu yang menghubungkannya pada Liora, sekertarisnya. "Liora, keruangan saya sekarang." Perintah Savalas dan langsung di iyakan oleh Liora sendiri. "Iya Pak." Saat Liora telah berada di di depannya langsung saja Savalas memberikan perintah lain. "Nanti kalo yang perempuan yang menelpone tadi sudah datang. Jangan berikan siapapun izin untuk masuk keruangan saya, kecuali ada hal mendesak dengan pekerjaan." Awalnya Liora berpikir siapa yang di maksud dengan perempuan itu yang disebutkan oleh bosnya sebelum kembali mengingat - ingat "Isteri bapak yang nelpone tadi maksudnya ?" Tanya Liora dengan sedikit hati - hati saat Savalas menatapnya dengan tajam. "Iya." *** "Suster Clarinda ?." Jentikan jemari di depan wajah Clarinda berhasil membuat perempuan tersebut tersadar dari lamunanya. Lalu dengan cepat beralih menatap Antaka yang sudah berdiri tepat di depannya dan menatapnya dengan sedikit membungkuk karena jarak tinggi postur tubuh mereka yang berbeda jauh. Hal tersebut lngsung saja membuat Clarinda termundur dari posisinya dengan jantung yang berdetak cepat saat melihat jarak wajah mereka yang sangat dekat. "Dokter jangan kurang ajar ya sekat - dekat sama saya !" Maki Clarinda dengan tatapannya yang menuding marah pada Antaka. Pria tersebut bahkan terlihat sudah biasa saat Clarinda terus saja memakinya selama Antaka sedikit menunjukan dirinya yang melewati batas sebagai rekan kerja. "Suster, jangan melamun selama bekerja ya. Tolong bersikap profesional." "Sayang nggak mel—" "Perselingkuhan suami anda jangan di pikirkan terus, terlebih cara untuk membalasnya. Saya siap untuk jadi pengganti suami suster Clarinda" goda Antaka membuat Clarinda menggigit bibirnya kesal mencoba meredam kekesalannya sendiri. Semakin tidak tahan dengan kelakuan pria tersebut. tidak ada berubahnya bahkan setelah mendapatka dua kali tamparan berturut - turut. Pria berlesung pipit tersebut selalu mengambil kesempatan dengan godaan kotornya pada Clarinda membuat nafanya semakin memburu marah lalu beralih mengalihkan tatapannya kesamping, tidak ingin menatap wajah dati Dokter berlesung pipit. Clarinda sudah mengajukan kemarin surat mutasi bagian tempat kerja hanya saja dirinya mendapatkan pemberitahuan tadi pagi bahwa permohonan mutasinya itu di tolak, dengan alasan akan sulit mencari pengganti perawat yang bisa bekerja bersama dokter Antaka terlebih semua bagian keperawatan sudah penuh. Jadi akan sulit melakukan mutasi dengan keadaan rumah sakit yang memadat dengan pekerja dan pasien. "Bagaimana dengan suami kamu ? Sudah dapat bukti kalo dia selingkuh ?" Langkah Clarinda terhenti saat suara Antaka kembali padanya. "Kalau terlalu sulit untuk mendapatkannya, aku bisa memberikannya padamu." Akhir - akhir ini pria yang selalu menuduh suaminya selingkuh itu selalu berbicara dengan bahasa yang berubah - ubah. Terkadang formal layaknya rekan kantor dan terkadang informal layaknya mereka sudah dekat bahkan menggunakan aku-kamu. Membuat Clarinda berpikir bahwa ada yang salah dengan dokter anak tersebut. "Tapi, bantuan yang aku berikan tidak pernah gratis dan bahkan tergolong mahal, sulit untuk membayarnya." Sambung Antaka lagi dengan menatap serius pada Clarinda yang telah berbalik menatapnya kembali. Dengan kedua tangannya yang melipat di d**a entah kenapa Clarinda merasa gugup saat tatapan pria tersebut berubah menjadi lebih serius padanya di bandingkan tatapan menggoda yang di lemparkan oleh Antaka, seperti sebelumnya. "Kalau begitu katakan pada saya siapa perempuan yang berselingkuh dengan suami saya ? Hingga anda begitu yakin." Clarinda hanya memancing tetapi, entah kenapa detak jantungnya masih saja berpacu di dalam sana. Mendengarnya membuat  Antaka yang sedikit berpikir sebelum, senyuman miring tercetak di bibirnya dengan kilatan pada manik mata birunya. "Apa yang bisa kau imbalkan pada ku, jika aku memberikan yang kau inginkan, Clarinda ?" "Katakan dan aku akan pertimbangkan imbalan apa yang akan aku berikan." Kali inipun Clarinda ikut berbicara informal pada pria tersebut yang kini menggelengkan kepalanya menolak ucapan yang di keluarkannya itu. "Caramu berbisnis cukup buruk. Pengusaha paling kecil saja tahu. Ada imbalan maka ada jasa." Kening Clarinda berkerut, terlihat jelas bahwa pria yang bekerja sebagai dokter tersebut bukan seseorang yang berkekurangan uang. Dilihat dari pakian yang melekat pada dirinya dan barang - barang yang ada pada Antaka, membuat Clarinda tahu jika pria tersebut bukan hanya bekerja sebagai seorang dokter saja. Pekerjaan Dokter Anak saja terlihat hanya bagai pekerjaan sampingan dari pria tersebut. Bukan Pashion utamanya. "Berapa uang ya—" "Tidak dengan uang Clarinda. Aku menginginkan hal lain. Ini hal yang setimpal dengan yang akan kau dapatkan." Antaka mulai berdiri dari duduknya dan menaruh kedua tangannya di atas meja. Terlihat berkuasa. "Berikan aku tubuhmu. Dan aku akan melakukan semua hal untukmu, Clarinda"  ucap Antaka dengan serius dan penuh penekanan di setiap kalimatnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN