Clarisa berjalan keluar dari lift yang membawanya ke lantai dua puluh dengan sebuah paperbag bermerek makanana khas jepang di tangan kanannya. Kesukaan Savalas, Bento.
Melihat kedatangan Perempuan yang sudah terlihat jauh berbeda dengan yang di temuinya saat pernikahan bosnya itu di gelar membuat Lora sedikit mengerutkan keningnya.
Isteri bosanya itu terlihat sangat berubah bahkan cara berjalannya juga terlihat berbeda membuat Lora berpikir apa memang karena tidak bertemu dalam waktu yang lama membuat perempuan itu menjadi sangat berbeda dan telah mengalami perubahan yang begitu pesat. Kulitnya yang kecokelatan dan rambutnya yang di pirangkan cokelat menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan pakaian Clarisa yang menganut sebagai isteri dari Savalas, terbilang sangat jauh berbeda dengan layaknya perempuan yang bekerja sebagai perawat itu.
Clarisa memang memakai sebuah dress merah bertali spageti membuatnya hanya menutupi bagian atas tubuhnya yang terekspos itu dengan jacket denim. Lalu mengikat satu rambut cokelat bergelombang miliknya hingga menampakan jenjangan lehernya yang mulus. Simpel tetapi, terlihat menggoda untuk di cicipi.
"Dengan ibu Clarinda ?" Tanga Liora memastikan, membuat perempuan di depannya hanya tersenyum manis padanya dengan menganggukan kepalanya. "Ibu udah berubah benget ya fashionnya. Jadi, lebih wow gitu." Sambung Liora lagi hingga Clarisa menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang tidak memegang apapun.
"Mungkin karena tinggal terlalu lama di luar negeri kali ya, Liora." Jawab Clarisa melirik name tag sekertaris dari Savalas pada bagian d**a kirinya yang terpasang. "Suami saya ada di dalamkan ? Saya masuk dulu ya." Dan Liora hanya menganggukan kepalanya sebelum dengan cepat bergerak membukakan pintu ruangan Direktur marketing untuk isteri bosnya itu tanpa curiga.
Bahkan Liora yakin jika ada terlalu banyak perubahan pada isteri Savalas, membuatnya sedikit keheranan sebelum dengan cepat menggelengkan kepalanya dan kembali pada mejanya. Liora juga tidak tahu bila Isteri Savalas ternyata tinggal di luar negeri dikarenakan bosnya itu tidak pernah bertingkah seolah di timggalkan sang isteri untuk berlibur, bukan berarti sebagai sekertaris Liora meminta untuk di bagikan semua cerita hanya saja bosnya itu terlihat selalu menolak makan malam di luar saat lembur seperti dari sebulan lalu.
Savalas selalu berkata jika isterinya sudah ada di rumah dan dirinya akan pulang menyantap makan malamnya bersama sang isteri.
Tetapi, saat Liora kembali tersadar lagi bahwa urusan rumah tangga Savalas itu bukan urusannya jadinya, dirinya hanya kembali fokus pada komputer untuk kembali mengurus jadwal dari Savalas begitupula dengan janji temu yang sudah berderet meminta waktu.
***
Perasaan Savalas sudah tidak enak saat terdengar langkah sepatu berhak tinggi yang masuk kedalam ruangannya itu tanpa ketukan, membuatnya bisa menebak dengan mudah siapa pemilik langkah lancang tersebut.
"Honey, I'm here" suara manis itu langsung saja menyapu pendengaran Savalas sesaat setelah pintu yang membatasinya dengan sekertarisnya itu telah di titup dari luar.
Melihat keceriaan Clarisa yang langsung saja melepas jacket denimnya untuk memperlihatkan gaun tipis selutut yang di pakainya itu dengan menaruh paperbag ke atas meja di ujung sana membuat savalas menutup laptopnya, menghentikan pekerjaanya.
Baru saja Savalas ingin bangkit dari duduknya untuk memberikan sambutan, dirinya sudah kedahuluan oleh adik iparnya yang datang dan langsung saja duduk di atas pangkuannya, membuat kedua manik mata tajam Savalas spontan melihat kearah pintu. Pintua ruang kerjanya itu tidak di kunci jadi, bisa saja sewaktu - waktu sekertarisnya datang dan membukanya.
Meskipun jika mereka kedapatan dan sekertarisnya itu sudah berasumsi bahwa Clarisa adalah isteri sahnya dan bukan selingkuhannya, tetap saja itu merisaukannya.
"Clarisa. Turun dari sini." Perintah Savalas yang hanya di abaikan oleh Clarisa sendiri dengan semakin memeluk kencang leher suami kakaknya tersebut. "Ih nggak mau. Aku kangen sama kamu. Ada banyak banget yang pengen aku omongin."
"Makanya kmu turun dulu baru kita bicarain." Savalas berusaha menyingkirkan Clarisa dengan pelan tanpa banyak menyakiti tubuh perempuan tersebut. Membuatnya semakin terbelit saja dengan tubuh padat model LA tersebut.
Clarisa menggelengkan kepalanya dengan kuat menolak saran dari Savals yang menyuruhnya untuk menjauh itu. "Kalo kita gini kenapa sih, honey ? Biasanya kamu suka - suka aja." Tempel Clarisa semakin memapatkan tubuhnya dengan pria yang tertindis di bawahnya mulai pasrah dengan kekerasan kepalanya atau mungkin sudah tergoda, dikarenakan tangn Savalas sudah mulai balas memeluknya dan mengelus punggung nya yang terekspos dengan lembut.
"Nahkan. Kalo ginikan enak. Aku bisa puas - puas meluk kamu. I miss you." Ucap Clarisa bermanja - manja bahkan mulai mengecup - ngecup singkat kulit kekasihnya tersebut yang dapat di jangkau oleh dirinya. Tanpa sadar perlakuan itu mampu semakin memancing pelukan erat Savalas di pingganganya dan mulai mengelus paha Clarisa dengan sebelah tangannya.
"Oh iya mau makan yang aku bawa nggak ?" Pancing Clarisa tetapi hanya di gelengkan oleh Savalas, terlalu berat melepaskan tubuh kenyal itu darinya. "Nggak usah. Katanya mau ngomong, ngomong sekarang."
Saat Clarisa tertawa kecil di bagian leher Savalas langsung saja bulu kuduk miliknya naik mendengar tawa halus menggida serak itu. Hingga kerutan di dahinya muncul saat dengan lesu adik iparnya membuka suara. "Waktu kamu pulang sama kak Clarinda, entah kenapa mama jadi marah - marah sama aku."
"Loh kenapa ? Kamu lakuin salah apa ?" Tanya Savalas tetapi, tidak kunjung menghentikan belaian tangannya pada paha perempuannya.
"Nggak tahu honey, mama bahkan ngambil ponsel aku dan ngecek. Untung aja mama udah kudet jadi, nggak kedapatan foto liburan dan chat kamu." Jelas Clarisa lagi berhasil membuat tangan Savalas berhenti membelah pahanya yang sudah sampai di bagian dalam paha miliknya. "Dia bahkan nanya - nanya hubungan aku sama kamu gimana ? Pernah nggak kita ketemua secara mandiri ? Aneh nggak sih mama ?"
Kebingungan jelas terasa padanya. Bahkan mama mertuanya itu bukan tipe yang suka mengecek ponsel anaknya, dia memberikan kelonggaran yang lebih besar pada puteri - puterinya yang sudah dewasa, itu yang di dengarnya dari Clarinda isterinya. Itu juga terlihat jelas olehnya sendiri.
"Terus kamu jawab apa ?" Tanya Savalas cepat, takut bilamana ternyata perempuan itu dengan bodohnya memberi jawaban salah pada mertuanya. "Ya aku ngomong nggak pernah lah. Orang kamu juga di tahunya nggak pernah ke LA."
Akhirnya dengan sedikit kasar di lepaskannya pelukan Clarisa padanya sebelum beralih serius menatap pada adik iparnya tersebut. "Mama udah curiga Clarisa." Jelas Savalas membuat kali ini kerutan berada beralih pada kening milik selingkuhannya.
Dengan tertawa pelan di gelengkannya kepala sebelum kembali mencoba memeluk Savalas yang kembali menahan tubuhnya itu. "Nggak mungkin mama curiga sama kita. Kamu tahukan kalo ma—"
"Kamu jangan menggampangkan semuanya ! Waktu itu sudah aku bilang jangan deket - deket sama aku dulu kalo kita di rumah orang tua kamu !" Gusar Savalas membuat Clarisa menatapnya dengan kesal tetapi, tak kunjung turun dari pangkuan selingkuhannya itu.
Benar. Mama mertuanya waktu itu yang turun lebih dahulu jadi ada kemungkinan bila Santi melihat kelakuan mereka. Bahkan tatapan ibu mertuanya pada dirinya itu baru mulai mengusiknya saat ini setelah memikirkannya kembali.
"Kamu kok jadi marah - marah sama aku ?! Kalo aku tahu kamu bakal gini. Nggak baka aku ceritain, nyesel aku !"
Mendengarnya membuat Savalas langsung mendongakan kepalanya menatap wajah Clarisa yang tengah memasang raut wajah cemberut dan meminta di bujuk itu. Sayangnya Savala tidak sedang ingin memberikan rayuan - rayuan manis pada adik iparnya.
"Kamu harus bisa mengkondisikan diri. Kalo mama ternyata bener - bener curiga waktu itu. Kita bakal habis. Tinggal nunggu waktu ketangkep basahnya !"
Clarisa hanya menghela nafas sebelum mencoba mengelus wajah dari Savalas yang sangat ketakutan. Membuatnya berpikir jika kekasihnya itu ketakutan kenapa tidak dari dulu sebelum mereka memulai hubungan untuk selingkuh dengannya dan memikirkan segala konsekuensinya. "Honey, kita nggak bakal kedapatan. Emang kak Clarinda yang tinggal serumah bareng kamu aja tahu ? Nggak kan. Begitu juga dengan mama yang udah berumur."
Mendengarnya membuat Savalas menatap tajam Clarisa yang memasang senyuman untuk mempercayai dirinya itu "Kalau benar ternyata mama curiga gimana ?"
"Yah gimana lagi, kita harus nanggung konsekuensinya. Simpel sih. Masa sih pacar aku ini sekarang takut, waktu dulu malah berapi - api banget." Ejek Clarisa mengangkat kedua bahunya dengan sebelah tangannya yang terus mengelus pipi dari Savalas. "Kamu tinggal cerain kak Clarinda terus nikahin aku. Selesai."
Saat mendengar itu spontan saja Savalas langsung berdiri dari duduknya membuat Clarisa yang berada dalam pangkuannya sedikit panik sebelum berpegang pada bagian meja untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh kelantai. "Cerai ? Kamu suruh aku cerai dari Clrinda ? Kamu gila ?!"
"Ya terus gimana ?! Kita nggak mungkin gini terus Savalas. Aku juga mau di akuin sebagai isteri kamu!." Kesal Clarisa meninggikan suranya saat terus menahan kesabarannya yang sedari tadi sudah menggumpal sejak kekasih gelapnya itu membentaknya.
"Kalau kamu udah berani selingkuh dari Clarinda seharusnya kamu mikir konsekuensi yang bakal kamu tanggung setelahnya apa !"
"Aku nggak pernah janjiin hubungan resmi ya sama kamu !" Bentak Savalas marah mengundang tatapan tak percaya dari Clarisa sendiri. "Gila ya kamu ! Setelah seenaknya kamu tidurin aku, kamu nggak mau bertanggung jawab."
Savalas langsung saja mencengkram dengan kuat lengan Clarisa membuat perempuan itu sedikit merintih kesakitan. "Kamu yang goda aku ! Jangan terlalu berharap Clarisa, aku nggak mungkin cerain Clarinda cuman demi kamu seorang." Desisnya sebelum melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Clarisa yang sudah memerah.
"Kalau kamu beneran sayang sama isteri kamu, seharusnya kamu nggak tergoda waktu aku memang goda kamu ! Hanya karena kamu lihat belahan d**a sama paha mulus kamu udah ileran kayak anjing !" Bentak Clarisa tanpa sadar hingga kali ini Savalas benar - benar menatapnya dengan murka.
Menyadari hal tersebut membuat Clarisa segera berlalu dari hadapan Savalas, sebelum terjadi sesuatu pada dirinya setelah mendapatkan tatapan murka tersebut. "Aku pulang, aku batal lunch sama kamu."
Saat melihat kepergian Clarisa yang langsung menarik jacketnya dan hanya meninggalkan paperbag berisi lunch mereka, Savalas tak mencoba untuk menghentikannya.
***
Disaat bersamaan Clarinda yang baru turun dari Taxi yang membawanya terheran saat melihat adiknya tertangkap dalam indera penglihatannya berjalan keluar dari kantor tempat Savalas bekerja.
Ya. Clarinda sekarang tepat berada di depan kantor milik Savalas. Suaminya itu tidak mengangkat teleponnya setelah di telepon beberapa kali olehnya itu, membuat Clarinda memilih untuk mengunjungi saja Savalas di waktu istrahat jam makan siangnya.
Sebenarnya, Clarinda tidak ingin bertemu dengan suaminya sekarang terlebih saat Savalas masih berada di kantor. Tetapi, kejadian pagi tadi membuatnya merasa tidak enak dengan tawaran kurang ajar yang di berikan padanya. Clarinda berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak mungkin suaminya berselingkuh jadi, dirinya tidak akan menerima tawaran bersifat melecehkan itu pada dirinya.
Lalu, entah kenapa setelah melihat kehadiran Clarinda di tempat kerja Savalas, malah kembali rasa gelisah mulai mengganggunya. Baru saja. Clarinda ingin mengejar Clarisa adiknya itu, untuk meminta penjelasan tersengar sura yang memanggilnya dari belakang.
"Mba Clarinda ?" Hal itu spontan membuat langkah Clarinda berhenti dan kemudian berbalik menatap seorang karyawan perempuan lainnya tengah menatapnya seolah matanya itu berkata bahwa ini bukan halusinasi dari dirinya sendiri.
Clarinda sendiri terlihat keheranan melihat perempuan itu. Tidak mengenalinya sebelum perempuan itu menjulurkan tangannya seolah mengajaknya bersalaman. Mau tidak mau Clarinda kemudian menerima uluran tangan itu dengan tersenyum canggung.
"Siapa ya ?" Tanya Clarinda kebingungan masih meneliti wajah perempuan tersebut bahkan melirik pakaian kantor yang melekat pada tubuhnya hingga mata Clarinda mendapati sebuah name tag bertuliskan nama Lora. Sepertinya nama itu tidak asing bagi dirinya. Tapi, entah di mana mereka bertemu atau dirinya mengenali nama itu.
"Mbak Clarinda isteri pak Savasla kan ?" Ucap perempuan itu masih menatapnya bahkan terang - terangan menatap seluruh tubuh Clarinda yang berbalutkan baju perwat putih bersih dan di tutupi dengan jacket, hingga pakaian yang mewakili kerjaanya tersebut hanya memperlihatkan bagian depan dan rok putihnya. Berbeda dengan sanggulan rambutnya yang di biarkannya masih berada pada tempatnya tetapi, tidak dengan topi perawatnya.
Lagipula Clarinda memang hanya mencuri waktu makan siang saja dan akan kembali ke rumah sakit nanti, ingin berada jauh dati Antaka. "Eh iya. Saya bener isterinya pak Savalas. Mbak siapa ya ?"
Keterkejutan di mata perempuan itu terlihat jelas padanya. "Saya sekertarisnya pak Savalas bu. Kita pernah ketemu dua kali." Akhirnya Lora memperkenalkan diri membuat Clarinda mengingat - ingat dan akhirnya mendapatkan ingatannya tersebut.
Benar dirinya pernah bertemu denagn perempuan bernama Lora itu. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu jadi, dia tidak terlalu mengenalinya sekarang.
"Oh iya maaf ya Lora, ha—" tatapan mata Lora yang tertuju padanya dan berkesan horor itu berhasil menghentikan permintaan maaf yang akan di ucapkannya.
"Kalau ibu disini lalu yang tadi mengaku sebagai isteri pak Savalas siapa ?"
"Ya ? Bagaimana Lora ?" Tanyanya bingung mendengar ucapan perempuan itu yang terlihat sangat kebingungan.
"Eh begini bu. Ada perempuan yang wajahnya mirip sama ibu cuman fashion ibu sangat berbeda bahkan warna kulit nya juga beda jauh, dia cokelat eksotis dan ibu berkulit putih gini. Saya jadi bingung abis liat dia malah ketemu ibu yang asli."
"Maksud kamu gimana ya Lora ? Saya dari dulu bukannya memang begini ya ?"
Terlihat Lora yang juga sedikit kebingungan menjelaskannya bahkan mulai menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Tadi ada perempuan yang datang ke kantor mengaku sebagai isteri pak Savalas. Saya pikir itu ibu abisnya wajahnya sama, saya kira fashion ibu aja yang emang berubah."
Tidak ada tanggapan dari Clarinda yang diam membeku. Tidak menjawab, rasanya tenggorokannya kering bahkan paperbag yang di pegangnya sudah terjatuh di jalanan membuat Lora kaget dan langsung saja memungut paperbag makanan itu. "Ibu ? Ibu nggak papa ?"
Tetapi, pertanyaan itu hanya di abaikan oleh Clarinda sendiri sebelum jatuh terduduk di atas aspal, tubuhnya melemas dan itu bukan hanya menarik perhatian Lora saja melainkan hampir semua orang yang berada disana.
Suaminya sepertinya benar - benar memiliki simpanan. Kata - kata itu menghantam dirinya.