FORELSKET~04

1818 Kata
"Sudah mau pulang ya suster Clarinda ?" Pergerakan tubuh Clarinda terhenti saat mendengar suara tersebut tepat di belakangnya. Ya. Antaka tepat berada di belakang tubuhnya sekarang. Mengabaikan ucapan basa - basi tersebut membuat Clarinda kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengunci laci mejanya sebelum mengambil tas jenjang miliknya dan mulai memakainya. Lalu berbalik dan sedikit terkejut saat pria tersebut ternyata mengambil satu langkah yang tepat di saat dirinya berbalik, hingga menyisakan jarak yang kecil di antara mereka berdua dengan posisi tubuh milik Clarinda yang hanya sebatas bibir Antaka.  Antaka sedikit tersenyum kecil saat tubuh perempuan di depannya membeku dengan pergerakan yang di ambil oleh dirinya. Clarinda tidak berpikir bahwa pria yang berstatus sebagai Dokter anak ini bisa selancang ini pada perempuan yang sudah memiliki suami atau berstatus isteri orang .  Sehingga dengan tatapan yang marah dirinya kembali mendongakkan kepalanya ke atas, mendongak naik menatap pemilik dari kedua bola mata cokelat yang juga ternyata menunduk untuk  berbalik menatap bola mata hitam dari perempuan di depannya. "Dokter, anda be--" "Clarinda apa kamu sudah mau pulang ?" bisik Antaka kecil tepat di depan wajah Clarinda yang diselanya tadi saat ingin kembali memarahinya atas tingkah lakunya. Bahkan hembusan nafasnya terasa. Pria di depannya benar - benar gila. Clarinda yakin itu, di saat seorang pria seharusnya menjaga jarak darinya karena telah memiliki seorang suami pria di depannya justru terlihat ingin menggodanya. Dengan kasar dan tatapan yang di lemparkannya masih sama yaitu, marah di dorongnya d**a dari Antaka yang langsung mundur teratur tetapi dengan senyuman berlesung pipit di kedua pipinya itu. "Anda benar - benar tidak punya sopan santun ! Tidak tahu malu mengganggu perempuan yang sudah bersuami ! Saya sudah bilang sebaiknya jaga etika anda selama saya bekerjasama dengan anda !." Bentaknya lalu kembali berjalan meninggalkan Antaka yang masih saja tersenyum bodoh padanya.  "Ayolah Clarinda, kalau suami kamu bisa berselingkuh dengan perempuan lain kenapa kamu tidak bisa ? Hubungan yang disebut dengan perselingkuhan itu terasa nikmat loh. Kalau tidak, suami kamu tidak akan tertarik untuk melakukannya." Ucap Antaka membuat Clarinda berhenti berjalan dengan kedua tangannya mengepal. "Suami saya orang yang sangat menghormati sebuah hubungan !. Terlebih ini adalah hubungan pernikahan tidak seperti seorang pria yang saya kenal, Tidak tahu batasan sopan santun !." Tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran pria di belakangnya tersebut, masih saja terus berkoar - koar mengenai hal yang tidak mungkin di lakukan oleh Savalas, suaminya itu. Bahkan setelah Clarinda telah memberikannya dua kali tamparan karena ucapan yang tidak sopannya.  "Clarinda pernikahan itu masih saja sebuah hubungan di atas kertas saja. Hanya kertas yang mengikat kalian. Komitmen ? Kami pria tidak bermain dengan hal tersebut."  "KARENA ANDA BUKAN SEORANG PRIA !" Kali ini Clarinda mulai membentak dengan sangat keras hingga terjadi keheningan di antara mereka dengan koridor Rumah Sakit yang mulai sepi, banyak karyawan yang pergi mengganti pakaian. "Anda tidak akan tahu hal yang di sebut pernikahan saat anda masih belum bisa mengerti batasan dari sopan santun, hal paling dasar." Senyuman Antaka mulai memudar dari kedua bibirnya dan mulai membentuk datar begitu juga dengan sinar geli di kedua bola mata cokelat miliknya digantikan dengan bola matanya yang menajam saat kefrustasian Clarinda kini meledak. "Kalau begitu katakan padaku. Apa yang membuat kau yakin hubungan pernikahanmu akan bertahan lebih lama selain dari komitmen dan kertas ? Anak ? Kalian belum mempunyainya. Kau tidak bisa mempunyainya." Sarkasristik Antaka cepat membuat rona marah disekitar wajah Clarinda memudar secara perlahan.  Benar. Anak, mereka belum mempunyainya sampai sekarang membuat dirinya berasumsi bahwa ada masalah dari dirinya sendiri dan bukan Savalas yang diketahui tingkat kesehatan dan kebugaran dari suaminya itu. Clarinda seharusnya marah dengan pernyataan yang membuatnya terlihat tidak sempurna sebagai seorang isteri dan perempuan, tetapi semua itu terasa justru menghantamnya dengan keras saat tahu bahwa ucapan itu benar. "Saat kau tidak bisa melakukan hal paling dasar dalam pernikahan sebagai seorang isteri. Kau bisa di buang Clarinda." sambungnya membuat Clarinda membuang wajah nya lalu kembli berbalik berjalan. Tidak ingin kembali menanggapi Antaka yang mungkin kali ini akan kembali membuat dirinya melayangkan tamparan lainnya atau sebuah pukulan lain membuatnya hanya menggeram marah sebelum kembali melangkah. "Dasar Dokter gila."  Clarinda sepertinya harus benar - benar melapor kebagian manajemen Rumah Sakit untuk segera memindahkan tempat tugasnya sebelum keinginan untuk membunuh pria tersebut karena mulutnya muncul kepermurkaan. *** Savalas melirik isterinya yang sedari tadi diam saat dirinya mulai menjemputnya di Rumah Sakit, terlihat sangat muram dengan beban pikiran di kepala kecilnya itu. Bahkan terus memandang keluar jendela mobil yang tengah membelah jalanan kota besar di sore hari ini.  "Sayang." Panggil Savalas untuk ketiga kalinya dengan menyentuh lembut bahu Clarinda yang langsung terlonjak dan segera berbalik menatapnya. "Ya ?"  "Kamu kenapa ? Ada masalah di rumah sakit ya ?" tanya Savalas lagi dengan kembali melirik pada jalanan di depannya dan kembali membagi fokusnya untuk menatap isterinya yang duduk tepat di sampingnya itu.  Dengan lembut Clarinda meraih tangan suaminya yang menyentuh bahunya lalu menggeleng lemah sebelum kembali menghela nafas panjang. "Yang. aku mikir bagaimana kalau sebaiknya kita," sedikit ragu bagi Clarinda untuk melanjutkannya membuatnya kembali merenung menatap tangan Savalas yang di lingkupi oleh kedua tangan mungil miliknya dengan berbagai pikiran di dalam kepalanya. "Ya ? Sebaiknya kita apa ?" Savalas kembali menyadarkan Clarinda yang lagi - lagi berhasil menarik kesadaran isterinya dan kini menatapnya sedikit ragu tetapi, kedua tangan mungilnya semakin erat menggenggam kuat sebelah tangan Savalas.  "Ke Dokter Kandungan. Aku rasa kita harus check up kesana."  Mobil berhenti berjalan secara spontan di tengah jalan raya besar dengan Savalas yang berbalik menatapnya marah sebelum, suara klakson dari mobil yang di belakang berbunyi dengan keras karena hampir menabrak mereka yang tiba - tiba berhenti berhasil mengalihkan tatapan Savalas dari Clarinda lalu kembali menjalankan mobil.  Tiba - tiba saja suasana dari dalam mobil terasa dingin dan penuh keheingan berbeda dengan suasana sebelumnya di antara pasangan suami isteri tersebut. Inilah kenapa Clarinda selalu menahan diri untuk membahas pembahasan mengenai anak di anatara mereka.  "Yang." Panggilnya lagi, sedikit berhati - hati dalam memanggil suaminya karena mulai terlihat tidak bersahabat bahkan tatapan hangat itu kini telah berubah menjadi tatapan yang tajam dan kedua alis berkerut tidak suka. "Aku rasa nggak ada salahnya kita kesana dulu. Mencoba aja, supaya kita tahu apa yang salah di antara kita sampai kita belum--" "Apanya yang salah ! Maksud kamu aku yang bermasalah disini sampai sekarang kita nggak punya anak ?!" Nada Svalas mulai melonjak naik,Clarinda sangat mengenal sosok suaminya yang sangat jarang menaikan nada suaranya pada didirnya itu tetapi, akhir - akhir ini jika mereka membahas mengenai anak pasti suaminya itu akan mulai kehilangan kendali sosok dirinya yang dikenalnya.  "Aku nggak bilang begitu. Kamu tenang dulu yang." Clarinda mencoba mengelus bahu Savalas bermaksud untuk menenangkannya tetapi, suaminya itu justru menghindari tangannya dengan kasar bahkan menepisnya melalui bahu.  "Kamu itu bisa nggak sih berhenti bicara soal anak ! Aku muak dengarnya ! Kalau kita belum dikasih ya kesalahan itu bukan di aku ! Tapi, di kamu sebagai seorang perempuan !." Hardik Savalas keras membuat Clarind terdiam mematung.  Saat Antaka menuduhnya dengan perkataan yang memiliki inti sama Clarinda masih bisa meminitlisir rasa sakit yang di rasanya tetapi, saat seolah - olah semua perkatan itu benar adanya dengan di tegaskannya Savalas padanya rasanya Clarinda mulai tidak ingin bernapas. Tidak ada jawaban dari Clarinda membuat Savalas berpikir bahwa isterinya itu hanya diam mendengarkan dirinya bukannya menangis karena ucapan yang di keluarkannya telah menyakiti perasaan dari Clarinda sendiri.  "Clarinda tolonglah ngertiin posisi aku. Aku juga kemana - mana selalu di tanyain kenapa masih belum punya anak, mereka berpikirnya aku nggak mampu sebagai seorang pria. Disini aku hanya mencoba menutupi semua kekurangan dalam rumah tangga kita, karena itu tugas aku sebagai suami untuk menutupi kekurangan dari segala bentuk isteri aku." Sambung Savalas dengan lirih penuh memelas,sekali - kali kembali melirik isterinya yang kembali menghadap kearah keluar jendela mobil, membelakanginya.  "Tolong jangan tambah beban aku Clarinda. Ini udah berat banget buat aku semenjak kita nikah."  Dan tepat dengan ucapan terakhir yang di lontarkan oleh Savalas sebelum mobil kembali hening berhasil membuat tangisan diam - diam Clarinda yang sedaritadi di coba hentikannya, justru tidak berhenti hingga mereka sampai di kediaman orang tua Clarinda sendiri atau mertua dari Savalas.  *** Santi tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat kedatangan dari puterinya bersama Savalas menantunya untuk makan malam di rumah mereka malam ini. Kembali berkumpul terlebih dengan kembalinya Clarisa dari LA. Santi yang sudah berumur 58 tahun itu langsung saja berlari keluar dari rumah meninggalkan Reiko, suaminya itu di belakang untuk menyambut Clarinda dan Savalas yang baru saja turun dari mobil dan menghampiri sepasang orang tuanya yang telah kedeluan oleh Santi sendiri karena terlalu bersemangat.  Dipeluknya tubuh mungil dari puterinya yang belum juga banyak berubah dari dulu dengan erat membuat Clarinda membalas pelukan dari ibunya tak kalah eratnya juga. "Mama kangen banget sama kamu loh kak. Udah mau sebulan kamu nggak tengokin mama sama papa."  Ucapan cemberut dari ibunya itu hanya di tanggapi oleh Clarinda dengan tertawa kecil sebelum membuka suaranya "Maaf ya Ma. Sibuk banget abisnya."  Kali ini Santi beralih pada Savalas, menantu pertamanya dalam keluarganya, memberikan pelukan yang sama pada pria jangkug yang berhasil mengambil salah satu puterinya dari tangannya dan suaminya itu. "Savalas, puteri mama yang satu ini jangan terlalu di monopoli sendiri dong. Jangan sering - sering di sibukin. Mamakan kangen." Ucap Santi setelah melepaskan pelukannya pada menantunya tersebut.  Dengan kalemnya Savalas menajawab tetap sopan pada ibu mertuanya itu lalu menyerahkan tiga buah paperbag berbeda  beda ukuran pada sosok perempuan paruh baya di depannya "Iya Ma. Maaf ya. Kedepannya aku sama Clarinda bakal sering - sering berkunjung."  "Ah kamu jangan cuman bisa ngasih sogokan lagi ya kalau nggak bisa netapin janji." tawa Santi saat menerima ketiga paper bag dari menantu laki - lakinya yang hanya tersenyum padanya.  Sementara Savalas sibuk berbincang - bincang dengan ibunya hingga akhirnya terlihatlah Reiko, ayahnya bersama adik kembarannya Clarisa.  "Kak Clarinda." Panggil adiknya itu bersemangat lalu beralih memeluknya erat membuat Clarinda membalas pelukan kasih sayang pada adik nya yang  masih saja manja padanya. "Padahal kita baru aja ketemu kemarin loh. Kok kamu kayak baru hari ini aja kita ketemu. Manja."  "Apanya yang baru ketemu kemarin Clarinda ? Adikmu ini baru tiba dari LA tadi pagi. Nggak ngawur kamu." Suara Reiko yang mengintrupsi pembicaraan kedua puterinya itu membuat Clarinda mengerutkan keningnya bingung.  Yang diketahui Clarinda hanyalah bahwa Clarisa sudah tiba dari LA kemarin bahkan dirinya bersama Savalas yang menjemputnya di bandara dan suaminya sendiri yang juga mengantarkan adik kembarnya itu ke kediaman orang tua mereka, Lalu kenapa adiknya ini baru tiba pagi tadi di rumah yang membesarkan mereka berdua ?  Saat Clarinda ingin membuka suara dengan menatap Savalas yang juga terdiam mematung menatapnya hal itu dihentikan saat Reiko, ayahnya memeluknya.  "Kamu ini udah lupa sama ayah dan mama kamu yah ? Kenapa baru datang kamunya ? Padahal kita masih tinggal dalam satu kota sama." tanya ayahnya yang lagi - lagi hanya di balas Clarinda dengan senyuman manis, melupakan kejadian aneh tadi.  Membiarkan dua orang terdektanya berhasil menghela nafas lega di antara keluarga mereka dengan topeng kepalsuan nya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN